p-Index From 2021 - 2026
0.778
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Karimah Tauhid
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbandingan Penggunaan Direct Vat Set (DVS) dan Bulk Starter dalam Industri Fermentasi Susu: Literature Review Detya Zalfa; Andita Nurintania M; Rizka Rahmania; Syifa Fauziyah Febriyani; Siti Anisa; Tiara Amanda Lestari; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 6 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i6.24764

Abstract

Fermentasi susu merupakan salah satu teknologi pengolahan pangan yang telah berkembang pesat, khususnya dalam penggunaan kultur starter untuk produksi yogurt, keju, dan produk susu fermentasi lainnya. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk membandingkan secara komprehensif dua sistem starter utama dalam industri fermentasi susu, yaitu Direct Vat Set (DVS) dan bulk starter, dari aspek teknologi produksi, kualitas produk, risiko kontaminasi, keunggulan fungsional, dan pertimbangan ekonomis. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap publikasi ilmiah 10 tahun terakhir (2015–2025). Hasil tinjauan menunjukkan bahwa DVS menawarkan kemudahan penggunaan, konsistensi kualitas produk, dan perlindungan lebih baik terhadap kontaminasi bakteriofag, sementara bulk starter lebih ekonomis pada skala produksi besar dengan infrastruktur memadai. Inovasi teknologi freeze-drying dan optimasi krioprotektan terbukti meningkatkan viabilitas sel DVS secara signifikan. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi industri susu nasional dalam memilih sistem starter yang tepat sesuai kapasitas produksi dan tujuan mutu produk. Kesimpulan tinjauan ini menegaskan bahwa pemilihan jenis starter harus mempertimbangkan skala produksi, kapasitas sumber daya manusia, dan infrastruktur laboratorium yang tersedia.
Inovasi Sosis Ayam Kentang Cipot (Chicken Potato) dengan Penambahan Kemasan kolagen Sapi Arti Hastuti; Mira Afrilia Setiawati; Detya Zalfa; Eva; Angriawan Anggara
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 12 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i12.22093

Abstract

Inovasi produk Sosis Ayam Kentang CIPOT (Chicken Potato) dikembangkan dengan penambahan potongan kentang sebagai bahan pengisi untuk meningkatkan nilai gizi (karbohidrat kompleks dan serat) serta memperbaiki kualitas fisik sosis. Penelitian ini yang mengambil 30 mahasiswa sebagai responden menggunakan uji hedonik dan uji sensori untuk menilai atribut warna, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa semua atribut hedonik valid, dan instrumen yang digunakan reliabel. Sementara itu, pada uji sensori, hanya atribut rasa dan tekstur yang dinyatakan valid, meskipun reliabilitasnya masih kurang memuaskan. Analisis regresi linier sederhana, uji T, dan uji F mengonfirmasi bahwa penilaian sensori berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesukaan konsumen (hedonik), dengan variabel sensori menjelaskan 14,8% variasi kesukaan konsumen.
Diversifikasi Pangan Lokal Melalui Inovasi Pengolahan Jagung (Zea mays L.) sebagai Bahan Pangan Darurat Rizka Rahmania; Detya Zalfa; Adhelya Rahmadhani Suryadi; Aji Jumiono
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 12 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i12.22219

Abstract

Krisis pangan di Indonesia menuntut diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Jagung (Zea mays L.) dengan kandungan karbohidrat tinggi dan protein cukup merupakan bahan lokal potensial sebagai alternatif sumber pangan pokok. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menelaah potensi inovasi pengolahan jagung menjadi beras jagung dan produk turunannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan agribisnis jagung memiliki peluang besar didukung sumber daya alam melimpah dan permintaan pasar tinggi, meskipun masih terkendala modal dan teknologi. Inovasi produk seperti food bar dan beras jagung instan meningkatkan nilai gizi, umur simpan, serta penerimaan konsumen. Teknologi nixtamalisasi dan biofortifikasi terbukti mampu memperkaya kandungan nutrisi serta memperbaiki mutu fungsional jagung. Secara keseluruhan, inovasi pengolahan jagung menjadi beras jagung merupakan strategi efektif dalam diversifikasi pangan lokal untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Kajian Literatur: Potensi Pemanfaatan Protein Tempe Non-Kedelai sebagai Sumber Pangan Protein Nabati di Indonesia Detya Zalfa; Raden Siti Nurlaela; Siti Nurhalimah
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 2 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i2.22919

Abstract

Tempe merupakan sebagian pangan fermentasi tradisional Indonesia yang berperan penting sebagai sumber protein nabati bagi masyarakat. Selama ini, tempe umumnya dibuat dari kedelai, namun ketergantungan terhadap kedelai impor menjadi tantangan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan baku non-kedelai sebagai alternatif pembuatan tempe perlu dikaji lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuka kemungkinan penggunaan protein tempe non-kedelai sebagai sumber protein nabati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur dengan menelaah artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan melalui basis data Google Scholar, Garuda, dan repositori jurnal. Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai legum non-kedelai, seperti kacang hijau, kacang merah, kacang koro, dan kacang tunggak, memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan berpotensi diolah menjadi tempe. Proses fermentasi menggunakan kapang Rhizopus sp. Terbukti meningkatkan daya cerna protein serta menurunkan kandungan senyawa antinutrien pada bahan baku non-kedelai. Dengan demikian, tempe non-kedelai berpotensi dikembangkan sebagai sumber protein nabati alternatif yang mendukung diversifikasi pangan dan ketahanan pangan nasional.