Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Pada Siswa Sekolah Dasar: Pembentukan Karakter dan Identitas Nasional di Era Globalisasi Iir Nikmatul Fathonah; Elvani Hertati; Dessy Setyowati
JPPSD: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol 5, No 3 (2026): Januari
Publisher : Universtas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jppsd.v5i3.77205

Abstract

 Pembentukan karakter siswa sekolah dasar di era globalisasi menghadapi tantangan akibat pengaruh budaya asing dan perkembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku siswa serta peran sinergi antara sekolah, guru, dan keluarga dalam penguatan pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila diinternalisasikan melalui pembiasaan spiritual, kepedulian sosial, kerja sama, musyawarah, dan penerapan keadilan di lingkungan sekolah. Keberhasilan pendidikan karakter ditentukan oleh keteladanan guru, konsistensi pembiasaan di lingkungan keluarga, serta pemanfaatan teknologi sebagai pendukung pembelajaran. Disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis Pancasila yang dilakukan secara terpadu mampu memperkuat moralitas dan identitas nasional siswa sekolah dasar.
PENGEMBANGAN E-LKPD INTERAKTIF PADA MATERI SIKAP DAN PERILAKU YANG MENCERMINKAN PENGAMALAN PANCASILA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT KELAS IV SEKOLAH DASAR Indah Suci Oktaviani; Yunika Afryaningsih; Elvani Hertati
Jurnal Pendidikan UNIGA Vol 20 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan UNIGA
Publisher : Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa E-LKPD interaktif pada materi "Sikap dan Perilaku yang Mencerminkan Pengamalan Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat" untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Latar belakang penelitian ini didasari oleh rendahnya pemahaman siswa terhadap nilai-nilai pancasila dan penggunaan media pembelajaran yang kurang menarik serta tidak interaktif. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Produk E-LKPD dikembangkan menggunakan aplikasi Canva, Wordwall, dan CapCut. Hasil validasi pengembangan E-LKPD interaktif yang dikembangkan oleh penulis dikategorikan sangat layak dengan hasil validasi ahli media 91,2% dengan kategori sangat layak, hasil validasi ahli materi 81,6% dengan kategori layak dan ahli bahasa 95% dengan kategori sangat layak. Penggunaan E-LKPD ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa, memperkuat pemahaman nilai-nilai Pancasila, serta mendorong pembelajaran yang aktif, mandiri, dan kontekstual
ANALYSIS OF REGIONAL BATIK MOTIF CHARACTERISTICS AS A BASIS FOR REVITALIZATION AND DEVELOPMENT OF LEARNING MODELS Achmad Nur Kholis; Elvani Hertati
JURNAL IMAJINASI Vol 9, No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/i.v9i2.77771

Abstract

The Indonesian education system currently implements the centralized Merdeka Curriculum, which, despite its intention to provide flexibility in learning, faces significant challenges, particularly in terms of unequal access to educational infrastructure across regions. To address this issue, it is essential to develop adaptive learning models that reflect the diverse local contexts. A strategic approach involves analyzing the sociocultural characteristics of communities in various areas. Batik Nusantara, a cultural heritage rich in symbolic meaning, illustrates these regional distinctions, primarily categorized into coastal and inland batik, each representing different societal values and worldviews. Coastal batik tends to reflect openness, boldness, and external cultural influences, while inland batik is deeply rooted in philosophical and symbolic traditions. These distinctions offer valuable insights for integrating local wisdom into curriculum design. This study adopts a qualitative methodology with a descriptive approach, utilizing literature review techniques from academic journals, articles, catalogs, and other scholarly sources. The analysis of batik motifs provides a foundation for contextualized learning through Problem-Based Learning and Project-Based Learning approaches. Such models have the potential to enhance students’ cultural identity, character development, and engagement by aligning learning experiences with the realities and values of their respective communities.
Elementary School Readiness for Deep Learning Implementation Dessy Setyowati; Elvani Hertati; Yunika Afryaningsih; Iir Nikhmatul Fathonah
Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Bakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/judikdas.v5i1.5792

Abstract

The implementation of deep learning in elementary schools requires school readiness across various aspects that support learning oriented toward understanding, active engagement, and problem solving. This study aimed to analyze the readiness of elementary schools to implement deep learning in Sungai Raya District, Kubu Raya Regency. The study employed a descriptive quantitative approach involving elementary school teachers as respondents. Data were collected using a closed-ended questionnaire with “Appropriate” and “Not Appropriate” response categories and were analyzed using frequencies and percentages. The results indicate that school readiness was multidimensional and uneven across the assessed aspects, with relatively stronger conditions in teachers’ understanding and readiness, curriculum adaptation, active student involvement, project-based and problem-solving learning, and assessment practices. Greater limitations were identified in technological infrastructure and access, technology utilization, the availability of digital learning resources, students’ digital literacy and independent digital learning, as well as perceived technical and financial conditions. These findings indicate that school readiness for implementing deep learning should not be understood simply as “ready” or “not ready,” but as a multidimensional condition that requires gradual strengthening. Such strengthening includes teacher capacity development, improved infrastructure and learning resources, enhanced student digital literacy, and stronger institutional support and collaboration among schools, families, and communities.
Inquiry Based Learning dan Peningkatan Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar Martina; Dessy Setyowati; Elvani Hertati
MEDIA DAN STRATEGI PEMBELAJARAN Vol 3 No 3 (2026): International Journal of Teaching
Publisher : YAYASAN CENDEKIA CITRA GEMILANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/ijt.v3i3.1254

Abstract

Pengajaran Pendidikan Pancasila pada topik hak dan kewajiban di sekolah dasar masih didominasi metode konvensional, sehingga partisipasi dan pemahaman peserta didik tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran Zep Quiz bermuatan nilai Tri Hita Karana pada materi hak dan kewajiban bagi peserta didik kelas V SD, sekaligus menguji tingkat validitas dan kepraktisannya. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE, dibatasi hingga tahap uji validitas dan kepraktisan. Subjek penelitian meliputi dua ahli materi, dua ahli media, dua ahli bahasa, dua guru kelas V, serta sepuluh peserta didik kelas V dari SD Negeri 1 dan SD Negeri 3 Banyuning. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif menggunakan rumus Aiken's V. Hasil penelitian menunjukkan media ini memperoleh koefisien validitas rata-rata sebesar 0,917 (91,7%), tergolong kategori sangat tinggi, dengan rincian aspek materi (0,92), media (0,944), dan bahasa (0,887). Tingkat kepraktisan juga tergolong sangat praktis, dengan capaian rata-rata 93,3% dari guru dan 96,9% dari peserta didik. Temuan ini mengindikasikan bahwa media Zep Quiz berbasis Tri Hita Karana layak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran pada materi hak dan kewajiban di kelas V SD, meski pengujian terhadap dampaknya pada hasil belajar maupun karakter peserta didik masih memerlukan penelitian lanjutan.
Faktor Mengenali Situasi Belajar pada Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar Utin Nabila Riani; Dessy Setyowati; Elvani Hertati
MEDIA DAN STRATEGI PEMBELAJARAN Vol 3 No 3 (2026): International Journal of Teaching
Publisher : YAYASAN CENDEKIA CITRA GEMILANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/ijt.v3i3.1255

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya kemampuan peserta didik kelas V sekolah dasar dalam mengenali situasi belajar pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), yang berdampak pada keterlibatan dan pemahaman mereka di kelas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faktor mengenali situasi belajar melalui dua indikator, yaitu situasi belajar mengajar yang berpusat pada guru dan pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek guru kelas V. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan dominan dalam menyampaikan materi melalui metode ceramah, namun tetap membuka ruang partisipasi peserta didik melalui tanya jawab dan pendekatan personal kepada peserta didik yang pasif. Pembelajaran juga diarahkan pada pemahaman peserta didik secara mendalam melalui kegiatan menjelaskan kembali materi, penilaian berbasis keaktifan, dan variasi kegiatan pembelajaran, bukan sekadar hafalan. Temuan ini mengimplikasikan bahwa dominasi guru dalam pembelajaran tidak selalu menghambat keterlibatan maupun pemahaman peserta didik, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru dan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran IPAS yang lebih partisipatif dan bermakna.