Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Berbasis Selfcare terhadap Tingkat Pengetahuan Keluarga dalam Pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Wilayah Kerja Puskesmas Rangas Kabupaten Mamuju Raissa Patrisia; Nurhasanah Syaharuddin; A. Tendri Aulia Restyanti
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12410

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan menyerang host, apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode total sampling, perencanaan yang digunakan adalah One Grup pre Test dan Post Test Design. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan berbasis self care terhadap tingkat pengetahuan keluarga dalam pencegahan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan berbasis self care terhadap tingkat pengetahuan keluarga dalam pencegahan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah kerja puskesmas rangas kabupaten mamuju provinsi sulawesi barat tahun 2024. Berdasarkan hasil penelitian Pengaruh Pendidikan Kesehatan Berbasis Self Care Terhadap Tingkat pengetahuan Keluarga Dalam Pencegahan ISPA Di Wilayah Kerja Puskesmas Rangas Kab. Mamuju dapat disimpulkan bahwa ditemukan rata rata responden tidak pernah mendapatkan penyuluhan kesehatan mengenai penyakit ISPA sehingga pengetahuan kurang sebelum diberikan pendidikan kesehatan. Ditemukan perubahan tingkat pengetahuan pada sebagian besar responden setelah dilakukan penyuluhan yaitu dengan tingkat pengetahuan baik, dan tidak ditemukan responden dengan tingkat pengetahuan yang kurang. Dengan diberikan pendidikan kesehatan berbasis self care dalam penelitian ini bahwa terdapat peningkatan pengetahuan keluarga dalam pencegahan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Di Wilayah Kerja Puskesmas Rangas Kab. Mamuju.
Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja Sekolah Menengah Atas Nurhasanah Syaharuddin; Ayu Sri Wahyuni
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i2.1003

Abstract

Background: Obesity in adolescents is a growing health problem and carries a risk of developing degenerative diseases in adulthood. One factor suspected to play a role is unhealthy eating habits, particularly the consumption of fast food, which is high in calories, fat, sugar, and salt. Objective: This study aimed to determine the relationship between fast food consumption and obesity among high school (SMA) adolescents. Methods: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 120 high school students selected using a stratified random sampling technique. Data on fast food consumption were collected through a consumption frequency questionnaire, while obesity status was determined based on Body Mass Index (BMI/Age). Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: The results showed that adolescents with high fast food consumption were more likely to be obese than those with low consumption (p = 0.002). Conclusion: There is a significant relationship between fast food consumption and obesity among high school adolescents.
Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Penurunan Berat Badan Pada Orang Dewasa Nurhasanah Syaharuddin; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1405

Abstract

Latar Belakang: Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah dibandingkan bukan perokok. Efek nikotin terhadap penekanan nafsu makan, peningkatan metabolisme basal, dan perubahan regulasi energi diduga berkontribusi terhadap penurunan berat badan pada perokok. Namun, hubungan tersebut masih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, pola makan, dan lama kebiasaan merokok. Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan merokok dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 240 responden berusia 18–60 tahun dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data kebiasaan merokok diperoleh melalui kuesioner terstruktur, sedangkan berat badan dan tinggi badan diukur secara langsung untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 42,5% responden merupakan perokok aktif. Penurunan berat badan atau status berat badan di bawah normal ditemukan pada 28,3% responden. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan penurunan berat badan (p = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki peluang 2,76 kali lebih besar mengalami penurunan berat badan dibandingkan bukan perokok (AOR = 2,76; 95% CI = 1,48–5,14). Kesimpulan: Kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Meskipun demikian, merokok tidak dapat dijadikan sebagai metode pengendalian berat badan karena dampak buruknya terhadap kesehatan jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang dipersepsikan.
Pengaruh Pengetahuan Dan Perilaku Hidup Sehat Terhadap Pencegahan Asam Urat: The Influence of Knowledge and Healthy Living Habits on the Prevention of Gout Rahmat Pannyiwi; Nurhasanah Syaharuddin
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1762

Abstract

Latar Belakang: Asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan peningkatan kadar asam urat dalam darah dan dapat berhubungan dengan serangan gout pada individu tertentu. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, konsumsi minuman tertentu, serta pengetahuan mengenai faktor risiko dapat memengaruhi upaya pencegahan. Peningkatan pengetahuan diharapkan dapat mendorong penerapan perilaku hidup sehat untuk mengurangi faktor risiko asam urat. Tujuan: Menganalisis pengaruh pengetahuan dan perilaku hidup sehat terhadap upaya pencegahan asam urat pada masyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di salah satu Desa pada bulan Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2026. Sampel terdiri dari 96 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Variabel independen meliputi pengetahuan mengenai asam urat dan perilaku hidup sehat, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan asam urat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Data menunjukkan bahwa 54 responden (56,3%) memiliki pengetahuan baik dan 42 responden (43,7%) memiliki pengetahuan kurang. Sebanyak 61 responden (63,5%) menunjukkan perilaku hidup sehat yang baik, sedangkan 35 responden (36,5%) memiliki perilaku kurang baik. Perilaku pencegahan asam urat tergolong baik pada 62 responden (64,6%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan antara pengetahuan dengan pencegahan asam urat (p=0,003) dan perilaku hidup sehat dengan pencegahan asam urat (p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan perilaku hidup sehat memiliki hubungan paling kuat dengan perilaku pencegahan. Kesimpulan: Pengetahuan dan perilaku hidup sehat berhubungan dengan upaya pencegahan asam urat. Peningkatan pengetahuan yang disertai penerapan perilaku hidup sehat dapat menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif di masyarakat.
Hubungan Status Gizi Dengan Gangguan Pembekuan Darah Pada Pasien Rawat Jalan: The Relationship Between Nutritional Status and Blood Clotting Disorders in Outpatients Rahmat Pannyiwi; Nurhasanah Syaharuddin
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1763

Abstract

Latar Belakang: Status gizi merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi fisiologis tubuh, termasuk proses hemostasis dan pembekuan darah. Gangguan status gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi, dapat berkaitan dengan perubahan metabolisme, fungsi organ, serta kondisi kesehatan yang berpotensi memengaruhi sistem pembekuan darah. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui hubungan status gizi dengan gangguan pembekuan darah pada pasien rawat jalan di Puskesmas. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 100 pasien rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Status gizi dinilai berdasarkan indeks massa tubuh (IMT), sedangkan gangguan pembekuan darah dinilai berdasarkan hasil pemeriksaan skrining koagulasi, yaitu prothrombin time/international normalized ratio (PT/INR) dan activated partial thromboplastin time (aPTT). Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Berdasarkan data simulasi, sebanyak 57 responden memiliki status gizi normal, sedangkan 43 responden memiliki status gizi tidak normal. Gangguan hasil skrining pembekuan darah ditemukan pada 29 responden. Hasil: analisis menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi dengan hasil skrining pembekuan darah (p=0,018). Responden dengan status gizi tidak normal memiliki proporsi hasil skrining pembekuan darah abnormal yang lebih tinggi dibandingkan responden dengan status gizi normal. Status gizi perlu diperhatikan dalam pelayanan rawat jalan sebagai salah satu bagian dari penilaian kondisi kesehatan pasien. Kesimpulan: Hasil pemeriksaan koagulasi abnormal tidak dapat digunakan sebagai diagnosis tunggal dan memerlukan evaluasi klinis lebih lanjut.