Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Persepsi Klien Tentang Komunikasi Terapeutik Perawat Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan Perawat Rahmat Pannyiwi; Nurhaedah Nurhaedah; Andi Hariati; Rezqiqah Aulia Rahmat
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 2 No. 1 (2021): Volume 2 Nomor 1 Mei 2021
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.02 KB) | DOI: 10.36590/kepo.v2i1.146

Abstract

The therapeutic communication is aimed to change the clients' behavior in reaching an optimal awareness. This research aimed to obtain a client perception view about Nursery Therapeutic Communication in Intensive Surgery Care Unit at Hospital Sidenreng Rappang Regency. The kind of research is descriptive with purposive sampling according to inclusive criteria. The variables are verbal and in-verbal communications. Instrument to collect data is questionnaire, whereas the questionnaires are directly fulfilled by the respondents. From the analysis, the researcher found that the 63,5 % of respondents have a good perception toward nursery verbal therapeutic communication and the non-verbal the researcher found that the 85% of respondents have a good perception toward nursery non-verbal terapeutik. The result shows a great clients' perception about nursery therapeutic communications. As for the suggestion, Hospital Sidenreng Rappang Regency shall give a fresh knowledge or seminars to operasional nurses about nursery therapeutic communications in hospital scope.
PKM Panti Asuhan Nurul Amal Rezqiqah Aulia Rahmat; Rahmat Pannyiwi; Muhammad Syafri; Sahdan M
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2022): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.437 KB) | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v1i1.10

Abstract

Bakti Sosial dengan kunjungan ke panti asuhan merupakan salah satu kegiatan wujud dari rasa kemanusiaan antara sesama manusia. Bakti Sosial merupakan suatu kegiatan dimana dengan adanya kegiatan ini kita dapat merapatkan hubungan kekerabatan kita. Bakti Sosial diadakan dengan tujuan-tujuan tertentu untuk mewujudkan rasa cinta kasih, rasa saling menolong, dan rasa saling peduli kepada masyarakat. Pendampingan tersebut dapat berupa kegiatan Makan bersama, Bernyanyi bersama, Berdoa bersama, Berbincang-bincang dengan para anak - anak yang menetap di Panti Asuhan. Hasil yang kami peroleh dari kegiatan ini adalah kami mendapatkan pengalaman berharga saat mendampingi anak anak kita yang tinggal di Panti Asuhan. Kami berkesempatan mendengarkan kisah dari mereka yang tentunya mendidik dan berarti bagi kehidupan kami di masa yang akan datang. Dari kegiatan ini pula kami disadarkan pada kenyataan bahwa anak - anak merasa kesepian dan membutuhkan perhatian lebih dari pengunjung yang datang.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Merokok di SMA N 1 Liang Kabupaten Banggai Kepulauan Naomi Malaha; Muh Rusdi; Muhammad Syafri; Rahmat Pannyiwi; Yenni Sima; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2022): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4309.074 KB) | DOI: 10.59585/bajik.v1i1.17

Abstract

Merokok merupakan suatu masalah di dalam masyarakat yang dapat menimbulkan banyak kerugian baik dari segi sosial ekonomi maupun kesehatan bahkan kematian. Indonesia merupakan Negara berkembang dengan tingkat penggunaan rokok yang cukup tinggi. Jumlah perokok usia 15 tahun sebanyak 34,8% dengan prevalensi pria 67% dan perempuan 2,7%. Prevalensi perokok remaja di Provinsi Sulawesi Tengah menunjukan bahwa saat ini rokok yang dihisap oleh remaja yaitu sebanyak 24,6%. Di Kabupaten Banggai Kepulauan persentase perokok pada laki-laki sebesar 52,5% dan perempuan sebesar 6,9%. Pada perokok baik laki-laki maupun perempuan, sebagian besar merokok pertama kali pada usia remaja yaitu berkisar antara 15-19 tahun sebanyak 36,1%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku merokok pada remaa di SMA Negeri 1 Liang Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode penelitian ini menggunakan pendektan Cross Sectional. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Liang Kabupaten Banggai Kepulauan. Analisis data menggunakan uji statistic Chi Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang merokok sebanyak 40 responden (38,09%). Variable Independen yaitu pengetahuan dan variable dependen perilaku merokok siswa. Data yang diperoleh dari responden dengan menggunakan kuesioner. Uji statistic menggunakan program SPSS versi 16 dan hasil uji statistic Chi-Square dengan tingkat kepercayaan p < α (0.05) yaitu pengetahuan dengan perilaku merokok remaja (p=0,033). Kesimpulan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku merokok siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Liang Kabupaten Banggai Kepulauan. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan analisa multivariate untuk melihat faktor yang paling mempengaruhi perilaku merokok pada remaja.
Analisis Terjadinya Luka Diabetik Pada Penderita Diabetes Melitus M. Khalid Fredy Saputra; Masdarwati Masdarwati; Nursyamsi Norma Lala; Santalia Banne Tondok; Rahmat Pannyiwi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 12 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v12i1.915

Abstract

Introduction: Diabetes Mellitus is a metabolic disorder caused by various causes and characteristics of chronic hyperglycemia accompanied by impaired carbohydrate, fat and protein metabolism resulting from impaired insulin secretion or insulin action. Purpose: Knowing the influence of diabetic wounds on people with Diabetes Mellitus. Method: Quantitative research with analytical survey design with a cross-sectional study approach. Results: Shows the results of the obesity statistical test p-value: 0.001, diet p-value: 0.000, age p-value: 0.000, physical activity p-value: 0.000. Conclusion: Obesity, diet, age and activity affect the occurrence of diabetic wounds in people with Diabetes Mellitus. Increase public knowledge about diabetes mellitus by providing counselling so the community can avoid the disease.
Analisis Terjadinya Luka Diabetik Pada Penderita Diabetes Melitus M. Khalid Fredy Saputra; Masdarwati Masdarwati; Nursyamsi Norma Lala; Santalia Banne Tondok; Rahmat Pannyiwi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 12 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v12i1.915

Abstract

Introduction: Diabetes Mellitus is a metabolic disorder caused by various causes and characteristics of chronic hyperglycemia accompanied by impaired carbohydrate, fat and protein metabolism resulting from impaired insulin secretion or insulin action. Purpose: Knowing the influence of diabetic wounds on people with Diabetes Mellitus. Method: Quantitative research with analytical survey design with a cross-sectional study approach. Results: Shows the results of the obesity statistical test p-value: 0.001, diet p-value: 0.000, age p-value: 0.000, physical activity p-value: 0.000. Conclusion: Obesity, diet, age and activity affect the occurrence of diabetic wounds in people with Diabetes Mellitus. Increase public knowledge about diabetes mellitus by providing counselling so the community can avoid the disease.
Model Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Meningkatkan Recovery Pasien Skizofrenia: Studi Cross-Sectional Rahmat Pannyiwi; Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat; Maelia Unayah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1504

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memengaruhi fungsi kognitif, emosional, sosial, dan okupasional pasien. Proses pemulihan (recovery) tidak hanya ditentukan oleh pengobatan farmakologis, tetapi juga oleh kualitas hubungan terapeutik antara pasien dan tenaga kesehatan, khususnya perawat. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu intervensi keperawatan yang berperan dalam membangun kepercayaan, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, memperkuat harapan, dan mendukung kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara model komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat recovery pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 80 pasien skizofrenia yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Data komunikasi terapeutik perawat dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi pasien, sedangkan recovery diukur menggunakan instrumen pemulihan psikososial. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik (67,5%). Pasien yang menerima komunikasi terapeutik kategori baik lebih banyak menunjukkan tingkat recovery tinggi dibandingkan pasien yang menilai komunikasi terapeutik kurang baik. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi terapeutik perawat dan recovery pasien skizofrenia (p<0,05). Komunikasi terapeutik yang efektif dapat memperkuat hubungan saling percaya, meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan, dan mendukung proses pemulihan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi komunikasi terapeutik perlu menjadi bagian penting dalam pelayanan keperawatan jiwa.
Membangun Desa Sadar Sehat Melalui Program Edukasi Promosi Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Rahmat Pannyiwi; Rifqi Ferry Balfas; Djunaedi Djunaedi
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1450

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Peningkatan kejadian PTM erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres yang tidak terkelola dengan baik. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko PTM menyebabkan upaya pencegahan dan deteksi dini belum dilakukan secara optimal. Pendekatan promosi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan serta mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali faktor risiko PTM serta menerapkan perilaku hidup sehat melalui program edukasi promosi kesehatan berbasis Desa Sadar Sehat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu desa binaan dengan melibatkan 50 peserta berusia 18–65 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, skrining sederhana faktor risiko PTM, demonstrasi pengukuran tekanan darah dan antropometri, simulasi aktivitas fisik, konseling individu, pembagian booklet edukasi, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 61,8 sebelum intervensi menjadi 93,8 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami faktor risiko PTM, 94,0% memahami pola makan sehat, 92,0% memahami pentingnya aktivitas fisik, 90,0% berkomitmen melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, dan 96,0% menyatakan program sangat bermanfaat. Kesimpulan: Program edukasi promosi kesehatan berbasis Desa Sadar Sehat efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat dalam mencegah penyakit tidak menular. Pendekatan pemberdayaan masyarakat perlu dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat dan menurunkan faktor risiko PTM.
Pemberdayaan Pasien Diabetes Melitus Dalam Pencegahan Ulkus Diabetikum Dan Risiko Infeksi Berulang: Empowerment of Patients with Diabetes Mellitus in the Prevention of Diabetic Ulcers and the Risk of Recurrent Infection Rahmat Pannyiwi; Rezqiqah Aulia Rahmat; Cakrawati R Cakrawati R; Kiki Rizki Dasaryandi; Nurhafizah Nasution
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1586

Abstract

Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi serius diabetes melitus yang dapat menyebabkan infeksi, rawat inap, amputasi, dan penurunan kualitas hidup. Pemberdayaan pasien melalui edukasi terstruktur dan perawatan kaki mandiri penting dilakukan untuk mencegah komplikasi kaki diabetik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberdayaan pasien terhadap pengetahuan, perilaku perawatan kaki mandiri, dan risiko infeksi berulang pada pasien diabetes melitus.Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Responden berjumlah 64 pasien diabetes melitus yang memiliki faktor risiko komplikasi kaki diabetik. Intervensi berupa edukasi terstruktur mengenai pemeriksaan kaki, kebersihan kaki, penggunaan alas kaki yang tepat, pengendalian glukosa darah, pencegahan luka, dan pengenalan tanda awal infeksi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank.Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 20 responden (31,3%) memiliki pengetahuan baik dan 44 responden (68,7%) memiliki pengetahuan cukup atau kurang. Setelah intervensi, sebanyak 51 responden (79,7%) memiliki pengetahuan baik. Perilaku perawatan kaki yang baik meningkat dari 37,5% sebelum intervensi menjadi 76,6% setelah intervensi. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan dan perilaku perawatan kaki sebelum dan sesudah pemberdayaan (p<0,001). Kesimpulan: Pemberdayaan pasien melalui edukasi terstruktur berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku perawatan kaki mandiri serta berpotensi menurunkan risiko ulkus diabetikum dan infeksi berulang.
Edukasi Pencegahan Penyakit Kulit Melalui Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Pada Masyarakat Desa: Education on Skin Disease Prevention through Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) for Rural Communities Rahmat Pannyiwi; Rizky Rahadian Wicaksono; Muhammad Hanif
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1667

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kulit merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat ditemukan di masyarakat dan dapat dipengaruhi oleh kebersihan diri, kebersihan lingkungan, kondisi sanitasi, kepadatan hunian, serta perilaku hidup sehari-hari. Masyarakat desa dapat menghadapi berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan kebersihan personal dan lingkungan. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya promotif dan preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan kulit. Edukasi mengenai kebersihan diri, kebersihan lingkungan, penggunaan barang pribadi, dan pengenalan tanda-tanda penyakit kulit diperlukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan secara mandiri. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa mengenai pencegahan penyakit kulit melalui penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada masyarakat desa dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang. Metode kegiatan meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, demonstrasi praktik kebersihan diri, edukasi kebersihan lingkungan, serta pendampingan. Materi mencakup kebersihan kulit dan tubuh, kebiasaan mencuci tangan, penggunaan pakaian dan perlengkapan pribadi, kebersihan tempat tinggal, pencegahan penularan penyakit kulit, pengenalan tanda dan gejala penyakit kulit, serta pentingnya pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest. Hasil: Rerata skor pengetahuan peserta meningkat dari 59,8 sebelum kegiatan menjadi 85,6 setelah kegiatan. Peningkatan pemahaman terutama terlihat pada aspek kebersihan personal, kebiasaan mencuci tangan, tidak berbagi barang pribadi, menjaga kebersihan lingkungan, serta kemampuan mengenali tanda-tanda penyakit kulit yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Peserta juga menunjukkan peningkatan kesadaran untuk menerapkan PHBS secara konsisten di rumah dan lingkungan sekitar. Kesimpulan: Edukasi mengenai pencegahan penyakit kulit melalui PHBS dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa. Pendidikan kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, kader kesehatan, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan untuk memperkuat praktik kebersihan personal dan lingkungan.