Lucky Mochamad Kharisma
LSPR Institute of Communication and Business

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN BAHASA INGGRIS DASAR PENGEMUDI WISATA DI NUSA PENIDA Lucky Mochamad Kharisma; Ni Nyoman Deni Ariyaningsih; Firlie Lanovia Amir; Komang Shanty Muni Parwati; I Gusti Made Riko Hendrajana
BINA CIPTA Vol 5 No 1 (2026): BINA CIPTA
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/binacipta.v5i1.126

Abstract

Pengemudi wisata di Nusa Penida memiliki peran penting dalam pelayanan pariwisata karena berinteraksi langsung dengan wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai tantangan, terutama keterbatasan kemampuan bahasa Inggris dasar seperti minimnya kosakata, kesulitan menyusun kalimat sederhana, rendahnya kepercayaan diri dalam berbicara, serta ketergantungan pada aplikasi penerjemah. Kondisi tersebut sering menyebabkan terjadinya miskomunikasi dalam penyampaian informasi rute, destinasi wisata, estimasi waktu perjalanan, dan instruksi keselamatan, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas pelayanan wisata. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa Inggris dasar pengemudi wisata melalui pendekatan edukasi interaktif. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Desember 2025 di Nusa Penida, Klungkung, Bali, dengan melibatkan 27 pengemudi wisata sebagai peserta. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi interaktif, latihan praktik, diskusi partisipatif, sesi tanya jawab, serta pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi efektif sebesar 86% dan penguasaan bahasa Inggris dasar sebesar 83,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik interaktif efektif dalam meningkatkan kompetensi komunikasi dan kemampuan bahasa Inggris dasar pengemudi wisata. Kegiatan ini juga mendorong peserta untuk menerapkan komunikasi yang lebih ramah, jelas, dan profesional dalam pelayanan wisata.
Digital Risk Communication in Hydrometeorological Disaster Mitigation in Gili Trawangan Fajar Iqbal Mirza; Muhammad Hidayat; Lucky Mochamad Kharisma; Kadya Aulia Rizki
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 9 No. 2. December (2025): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v9i2.49944

Abstract

Gili Trawangan, a small island tourism destination in North Lombok, Indonesia, faces high vulnerability to hydrometeorological hazards, such as tidal flooding, coastal erosion, and storm surges. In this context, risk communication is critical in disaster mitigation, particularly with the increasing use of digital communication channels. This study examines how hydrometeorological disaster risk communication is implemented across three stages: anticipatory, crisis, and learning, using the Crisis and Emergency Risk Communication (CERC) framework. This research adopts a qualitative descriptive approach. Data was collected through in-depth interviews with key stakeholders, including local government officials (BPBD), civil society organizations, tourism business actors, community leaders, residents, and tourists. Empirical findings were analyzed using the six core principles of CERC (be first, be right, be credible, express empathy, promote action, and show respect) to assess the effectiveness of digital risk communication. The findings indicated that risk communication in Gili Trawangan remains fragmented and uneven across stages. Digital channels support rapid information dissemination during the anticipatory and crisis stages, but they remain limited in inclusivity and multilingual accessibility, particularly for tourists and temporary populations. In the learning stage, the absence of institutionalized digital evaluation mechanisms constrains continuous improvement. This study suggested integrated and inclusive digital risk communication to enhance disaster resilience and support sustainable tourism in small island destinations.