Rina Sulisthia Arbie
Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Stunting Terhadap Kemandirian Sosial Pada Balita di Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo, Indonesia Rahma Dewi Agustini; Nurhidayah; Rina Sulisthia Arbie
WOMB Midwifery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKes Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/wombmidj.v5i1.852

Abstract

Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia dan berhubungan dengan berbagai gangguan perkembangan anak. Meskipun dampak stunting terhadap perkembangan kognitif dan bahasa telah banyak diteliti, bukti mengenai hubungannya dengan kemandirian sosial pada anak balita di wilayah Indonesia Timur masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara stunting dan kemandirian sosial pada anak usia 6–60 bulan di Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 223 anak usia 6–60 bulan yang dipilih melalui consecutive sampling. Status stunting ditentukan berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) menggunakan standar WHO. Kemandirian sosial dinilai menggunakan domain Kemandirian Sosial pada Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil: Prevalensi stunting sebesar 31.8%. Sebanyak 32.3% anak menunjukkan kemandirian sosial yang tidak sesuai dengan usianya. Terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dan kemandirian sosial (p=0.001). Anak stunting memiliki risiko 2.76 kali lebih tinggi mengalami gangguan kemandirian sosial dibandingkan anak dengan status tinggi badan normal (POR=2.76; 95% CI: 1.524–4.988). Hampir separuh anak stunting (47.9%) menunjukkan kemandirian sosial yang tidak sesuai, sedangkan pada anak normal hanya 25%. Kesimpulan: Stunting berhubungan secara signifikan dengan rendahnya kemandirian sosial pada anak balita. Intervensi yang mengintegrasikan perbaikan gizi dan stimulasi psikososial perlu diperkuat untuk mendukung perkembangan sosial dan kemampuan adaptif anak di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe Sebagai Penentu Risiko Anemia Pada Remaja Putri Di Wilayah Endemis Tilango Ni Made Dewi Anggraeni; Yusni Podungge; Nurhidayah Nurhidayah; Veny Delvia Pombaile; Desak Made Yulianti; Rina Sulisthia Arbie
Health Information : Jurnal Penelitian Vol 18 No 1 (2026): Januari - April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36990/hijp.v18i1.1860

Abstract

Latar belakang: Anemia pada remaja putri di wilayah endemis Tilango masih tinggi (16,4%) akibat rendahnya kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebesar 70%, meskipun suplementasi zat besi direkomendasikan WHO dan Kemenkes RI. Tujuan: menganalisis hubungan kepatuhan konsumsi TTD dengan status anemia pada remaja putri di Kecamatan Tilango. Metode: desain cross-sectional analitik pada 427 remaja putri usia 12–18 tahun menggunakan total sampling; kepatuhan TTD diukur self-report (?80% patuh), status anemia berdasarkan Hb <12 g/dL (HemoCue®), dianalisis Chi-Square dan regresi logistik. Hasil: ketidakpatuhan TTD berhubungan signifikan dengan anemia (OR=4,62; 95% CI:2,15–9,92; p=0,002); multivariat menunjukkan OR=3,98 (p=0,001) dan KEK (OR=2,12; p=0,011). Simpulan: ketidakpatuhan konsumsi TTD merupakan faktor dominan anemia pada remaja putri di Tilango. Saran: tingkatkan kepatuhan >70% melalui distribusi mingguan UKS, aktivasi posyandu remaja, skrining Hb triwulanan