p-Index From 2021 - 2026
1.325
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Budaya Etnika
Yuyun Yuningsih
Prodi Antropologi Budaya ISBI Bandung

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISIS LIMINALITAS PADA UPACARA NYAWEN DAN MAHINUM DI DUSUN SINDANG RANCAKALONG SUMEDANG Febby p Klarissa; I Setytobudi; Y Yuningsih
Jurnal Budaya Etnika Vol 3, No 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i1.1125

Abstract

ABSTRAK Penelitian skripsi dengan judul “Analisis Liminalitas dalam Upacara nyawen dan mahinum di Dusun Sindang Rancakalong Sumedang” bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa ritual nyawen dan mahinum menggunakan teori Liminalitas. Dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan data sesuai fakta-fakta yang ada. Dalam penelitian ini menggunakan teori Liminalitas Victor Turner yang menjadi landasan untuk menganalisis. Data yang dikumpulkan berupa data hasil observasi, wawancara, studi pustaka yang terdiri dari buku, jurnal dan skripsi yang menunjang serta dokumentasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan data mengenai ritual yang dilakukan pada masa kehamilan dan kelahiran yang dilakukan merupakan sarana untuk mendapatkan keselamatan semasa kehamilan hingga kelahiran bayinya. Begitu pula teori yang diajukan terdapat kemiripan sehingga masih relevan dengan studi kasus yang terjadi sekarang ini. Kata kunci: ritual, nyawen, mahinum.  ABSTRACT This research is about “Analysis of nyawen and mahinum ceremony in Sindang village of Rancakalong, Sumedang” was conducted with the aim of describing and analyzing the ritual of nyawen and mahinum using the theory of liminality. The analysis of this research was conducted using qualitative descriptive methods in accordance with the fact. The theory that used for this research is the theory of liminality from Victor Tuner. The data that has been collected by observation, interviews, documentation, and literature studies of related books, journals and thesis. The results of this study tells about the ritual that carried out during pregnancy and birth which are mean to get safety during pregnancy until the birth of her baby. The proposed theory has similarities, so it’s still relevant to the case studies that are happening now. Keywords: rituals, nyawen, mahinum.
Pengetahuan Dukun dan Praktik Pengobatannya (Kampung Kadu Nenggang, Desa Pasirhuni, Kabupaten Bandung) Seni Widianti; Imam Setyobudi; Yuyun Yuningsih
Jurnal Budaya Etnika Vol 5, No 2 (2021): Pandemi Covid-19 & Pengetahuan Dukun: Ritual, Seni, Konsumerisme
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v5i2.1761

Abstract

ABSTRAK Permasalahan penelitian adalah bagaimana pengetahuan seorang dukun terhadap suatu penyakit, mengklasifikasi tipe dan jenis penyakit berikut penanganannya dan bagaimana seorang dukun dapat memperoleh pengetahuannya. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pengetahuan dukun terhadap berbagai klasifikasi jenis dan tipe penyakit sekaligus menjelaskan tentang cara seorang dukun memperoleh pengetahuannya melalui laku ngelmu. Metode penelitian adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara. Populasi penelitian adalah dukun, pegawai kantor desa, ketua dusun, dan warga. Hasil penelitian menemukan adanya sistem ngelmu yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan supranatural. Pengetahuan yang telah digapai dapat menentukan berbagai jenis penyakit seperti pelet, tenung, dan gangguan roh jahat. Sehingga pengobatan dilakukan dengan cara komunikasi transedental kepada makhluk gaib yang dilaksanakan pada suatu ruangan khusus. Simpulan dari penelitian ini adalah seorang dukun dapat mengetahui suatu penyakit non medis yang diderita oleh pasien dengan menggunakan pengetahuanKata Kunci: dukun, pengobatan tradisional, etnosains, ethnohealingABSTRACT The study discussed about a shaman’s knowledge on diseases suffered by a patient, classification of diseases, their treatment and also how a shaman obtained his knowledge through ngelmu. The research objective is to elaborate the knowledge of the shaman on various classifications and types of diseases and how he procured his knowledge through ngelmu practice. The research method is qualitative with data collection techniques through literature study, observation, interviews and documentation. The results of the study found that there is an exist of the ngelmu system which was adopted to acquire supernatural knowledge in an invisible form as an empirical experience. The knowledge that has been acquired can determine various types of diseases that are not caught by the five senses like pelet, tenung, and gangguan roh jahat. This study concludes that shaman can knows non-medical diseases suffered by patients by using the knowledge gained through the process called ngelmu.Keywords: Shaman,traditional medicine, etnosains, etnohealing
Makna Simbolis Upacara Ritual Nadran Empang di Desa Karangsong Kabupaten Indramayu (Kajian Simbol dan Makna) Ameliya Lismawanty; Sriati Dwiatmini; Yuyun Yuningsih
Jurnal Budaya Etnika Vol 5, No 2 (2021): Pandemi Covid-19 & Pengetahuan Dukun: Ritual, Seni, Konsumerisme
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v5i2.1762

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan proses pelaksanaan Upacara ritual Nadran Empang di masyarakat Desa Karangsong, beserta makna dan simbol yang terdapat di dalamnya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dan mengolah data menggunakan teknik triangulasi. Analisis dalam skripsi ini, menekankan pada pemaknaan masyarakat Desa Karangsong terutama para pelaku ritual, terhadap simbol-simbol yang terdapat pada prosesi upacara ritual Nadran Empang. Penelitian ini juga menggunakan teori Clifford Geertz mengenai simbol, yaitu interpretivisme simbolik untuk membedah masalah penelitian. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, Upacara ritual Nadran Empang merupakan ritual yang dilakukan oleh masyakarat Desa Karangsong sebagai bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus harapan agar terhindar dari mara- bahaya. Nadran Empang terbagi ke dalam beberapa aspek pelaksanaan kegiatan yaitu doa bersama, makan bersama, larung Meron dan ruwatan wayang. Di setiap aspek pelaksanaan, terdapat berbagai macam simbol yang dimaknai oleh masyarakat. Secara umum, pemaknaan masyarakat Desa Karangsong terhadap simbol-simbol yang terdapat dalam Upacara ritual Nadran Empang berkaitan dengan kepercayaan, kebersamaan, dan harapan masyarakat Desa Karangsong sendiri.Kata Kunci: Nadran Empang, Karangsong, Makna-SimbolABSTRACT This research is about the process of ceremony Nadran Empang at Karongsong region, then the meaning and symbol in it. The researcher used qualitative method and the design that was used is triangulasi. The analysis of the research concern on society sense especially people who did the ritual towards the symbols which was in the ceremony process of ritual Nadran Empang. And also used Clifford Geertz theory which was about symbol, is interpretivisme symbolic to analyze the research. The result of this research conclude that, Ritual Nadran Empang ceremony is the ritual which was done by the people of Karongsong region as a symbolic to feel the grateful, and also believe to that ritual to avoid from such a disaster. Nadran Empang divided in to several aspect, they are pray, eating together, Larung meron and ruwatan wayang. Each aspect has various kind of symbol which is being sense by the society, society sense of Karongsong region to the symbols which is in the ritual Nadran Empang ceremony related to the belief, togetherness, and society’s hopes.Keywords: Nadran Empang, Karangsong, symbol-sense
SENI BENJANG GULAT SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT UJUNG BERUNG Aprilla Putri Wahyuni; Neneng Yanti Khozanatu Lahpan; Yuyun Yuningsih
Jurnal Budaya Etnika Vol 5, No 1 (2021): Hubungan Imajinasi, Kreativitas, Perubahan, dan Mitos Identitas: Mang Koko, Moti
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v5i1.1590

Abstract

ABSTRAK Artikel ini berisi hasil penelitian mengenai perkembangan Benjang dan struktur keseniannya, pemaknaan masyarakat Ujung Berung terhadap Benjang Gulat, serta analsis terhadap simbol identitas budaya masyarakat Ujung Berung yang terdapat dalam Benjang Gulat. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengolahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis yang dilakukan menekankan identitas budaya sebagai konsep utama, serta teori interpretivisme simbolik sebagai pisau bedah dalam penelitian ini. Hasil penelitian ditinjau menggunakan sudut pandang etik dan emik, menemukan bahwa masyarakat Ujung Berung memaknai Benjang Gulat sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan mereka dan sudah menjadi ciri khas yang melekat dalam kebudayaan masyarakatnya, Benjang Gulat identik dengan masyarakat Ujung Berung, begitupun masyarakat Ujung Berung yang identik dengan keberadaan Benjang Gulat. Oleh karena itu, Benjang Gulat dimaknai sebagai simbol identitas budaya masyarakat Ujung Berung.Kata Kunci: Benjang Gulat, Ujung Berung, Identitas Budaya ABSTRACT This article is about the development of Benjang and a structure of Benjang, the interpretation of Ujung Berung community to Benjang Gulat, and the analysis of the cultural identity symbols of Ujung Berung attached to Benjang Gulat. This study is conducted by using qualitative descriptive method with tabulation of data by using tringulasi technique. The analysis focused on cultural identity as the main concept, with the symbolic interpretivism as a theoritical framework for this study. The results are analyzed in etic and emic perspective. The results are analyzed in etic and emic perspective. The results are, Benjang Gulat is the important symbol for Ujung Berung community, that has been identified in their cultural activities, so it can be concluded that Benjang Gulat means a cultural identity symbols of Ujung Berungcommunity.Keywords: Benjang Gulat, Ujung Berung, Cultural Identity
Ritual Numbal dalam Syukuran Terowongan Kereta Api Sasaksaat di Kampung Cihanjuang Desa Mandalasari Kab. Bandung Barat Rina Rezanti; Imam Setyobudi; Yuyun Yuningsih
Jurnal Budaya Etnika Vol 6, No 1 (2022): Minum Tuak Marga Perbase: Terebang Shalawat Numbal Terowongan Sasaksaat
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v6i1.2079

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini memfokuskan pada permasalahan bagaimana sebuah ritual numbal dalam syukuran Terowongan Kereta Api Sasaksaat dapat memunculkan ketentraman bagi komunitas pekerja Jalan Jembatan Kereta Api Daop 2 Bandung dan masyarakat Kampung Cihanjuang. Tujuan penelitian adalah menjelaskan proses ritual yang dapat memunculkan rasa tentram pada komunitas pekerja JJ dan masyarakat Kampung Cihanjuang dengan analisis teoriliminalitas. Menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan secara menyeluruh dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, wawancara, observasi, serta dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori Liminalitas Victor Turner untuk menganalisis ritual dalam konteks transisional. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat ruang liminalitas pada ritual numbal yang dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat membawa masyarakat pada situasi hidup yang lebih damai. Lewat penyelenggaraan ritual tersebut masyarakat Kampung Cihanjuang dan komunitas pekerja JJ Daop 2 Bandung akan mendapatkan ketentraman dan ketenangan psikologis karena merasa bahwa kekhawatiran yang sebelumnya menghantui mereka telah ternetralisir oleh ritual numbal.Kata kunci: ritual numbal, syukuran terowongan, liminalitas ABSTRACT This study focuses on the problem of how a numbal ritual in the thanksgiving of the Sasaksaat Railway Tunnel can bring peace to the working community of the Daop 2 Bandung Railway Bridge Road and the Cihanjuang Village community. The purpose of this research is to explain the ritual process that can create a sense of peace in the community of JJ workers and the people of Cihanjuang Village community by analyzing the theory of liminality. Using qualitative research methods to describe the problem thoroughly with data collection techniques in the form of literature study, interviews, observations, and documentation. The theory used is Victor Turner's Liminality theory to analyze rituals in a transitional context. The results show that there is a space of liminality in the numbal ritual that can prevent unwanted things from happening and can bring people to a more peaceful life situation. Through the implementation of this ritual, the people of Cihanjuang Village and the working community of JJ Daop 2 Bandung will get peace and psychological calm because they feel that the worries that previously haunted them have been neutralized by the numbal ritualKeywords: numbal ritual, tunnel thanksgiving, liminality
PELAJARAN BAHASA SUNDA DI KABUPATEN CIREBON Kusmanto, Kusmanto; Setyobudi, Imam; Yuningsih, Yuyun
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 2 (2024): ETNOGRAFI BUDAYA DAN SUBBUDAYA DI KOTA-KOTA INDONESIA
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i2.1554

Abstract

ABSTRAK Perda No 5 Tahun 2003 menegaskan bahasa ibu masyarakat jawa barat terdiri dari Sunda, Cirebon dan melayu-betawi. Praktik kebijakan ini di jalankan melalui muatan lokal mata pelajaran bahasa daerah yang diatur dalam dinas pendidikan kabupaten/kota. Bahasa Cirebon menjadi salah satu dari mulok yang wajib diajarkan di wilayah penutur bahasa Cirebon. Adapun dalam praktiknya bahasa Sunda masih ditemukan diajarkan di sekolah-sekolah yang masyarakat sekitarnya tidak berbicara bahasa sunda termasuk di kabupaten Cirebon. Hal ini tentunya menjadi masalah khusunya bagi para siswa yang sejak kecil berbahasa Cirebon. Hasil penelitian menemukan penyelenggaraan pendidikan bahasa daerah  sudah sesuai dengan payung hukum yang dibuat namun dalam praktiknya mengalami berbagai macam kendala. Dampaknya penyelenggaraan kebijakan di tiap sekolah tidak saling bersinergi dan berintegrasi. Faktor-faktor yang memengaruhi adalah anggaran, kurikulum, dan SDM tiap satuan pendidikan yang berbeda-beda. Implikasinya siswa yang mempelajari bahasa Sunda mengalami kesulitan dengan tingkat dan derajat masing-masing. Kata kunci: Kabupaten Cirebon, Bahasa daerah, kebijakan pendidikan   ABSTRACT Regional Regulation No. 5 of 2003 confirms that the mother tongue of the people of West Java consists of Sunda, Cirebon and Malay-Betawi. The practice of this policy is carried out through the local content of regional language subjects regulated in the district/city education office. Cirebon language is one of the mulok that must be taught in Cirebon language-speaking areas. In practice, Sundanese is still found being taught in schools where the surrounding community does not speak Sundanese, including in Cirebon district. This is certainly a problem, especially for students who have spoken Cirebon since childhood. The results of the study found that the implementation of regional language education was in accordance with the legal umbrella made but in practice encountered various kinds of obstacles. The impact is that the implementation of policies in each school does not synergize and integrate with each other. The influencing factors are the different budgets, curriculum, and human resources of each educational unit. The implication is that students who study Sundanese have difficulty with their respective levels and degrees. Keywords: Cirebon Regency, regional language, education policy
KEBIASAAN MINUM BERALKOHOL IMPOR (STUDI ETNOGRAFI KELOMPOK MAHASISWI BERJILBAB CAP DI BANDUNG) Dahyanti, Citri; Setyobudi, Imam; Yuningsih, Yuyun
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 2 (2024): ETNOGRAFI BUDAYA DAN SUBBUDAYA DI KOTA-KOTA INDONESIA
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i2.2024

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang bagaimana para mahasiswi berjilbab memiliki kegemaran minum minuman beralkohol impor yang tergabung pada kelompok CAP di Bandung, serta mengungkapkan bagaimana pengetahuan kelompok mahasiswi berjilbab CAP mengenai minuman beralkohol impor dan makna minum bagi mereka. Metode penelitian yang digunakan yakni metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnosains James Spradley yang berupa etnografi dan narasi personal, data yang dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi serta validasi data yang dilakukan dengan cara mereduksi data dan pengorganisasian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman beralkohol impor bagi kelompok CAP dapat menaikan prestise, dan merasa mendapatkan kepercayaan diri. Kemudian, kelompok CAP memiliki pengetahuan mengenai minuman beralkohol impor yaitu pengetahuan tentang mencampuri minuman beralkohol impor dengan minuman jenis lain, pengetahuan khas yang hanya berlaku di kelompok CAP, serta mereka memaknai minuman beralkohol impor sebagai jembatan dan pengerat tali kasih pertemanan mereka dalam kelompok CAP. Kata kunci: kelompok CAP, kebiasaan, minuman beralkohol impor, etnosains   ABSTRACT This study discusses how the veiled female students have a penchant for drinking imported alcoholic beverages who are members of the CAP group in Bandung, and reveals how the knowledge of the CAP veiled female student group about imported alcoholic beverages and the meaning of drinking for them. The research method used is a qualitative research method with James Spradley's ethnoscience approach in the form of ethnography and personal narrative, data collected through literature study, participatory observation, in-depth interviews, and documentation and data validation by reducing data and organizing data. The results show that imported alcoholic beverages for the CAP group can increase prestige, and feel confident. Then, the CAP group has knowledge about imported alcoholic beverages, namely knowledge about mixing imported alcoholic beverages with other types of drinks, special knowledge that only applies to the CAP group, and they interpret imported alcoholic beverages as a bridge and strengthen their friendship in the CAP group. Keywords: CAP group, habits, imported alcoholic beverages, ethnoscience
MEMANGGIL ACI KE RAGA: BABAK ONTOLOGIS DALAM NGALA PANGACIAN DI SINDANG HURIP Yuyun Yuningsih; Imam Setyobudi; Rifka Rahma Dewi; Silvia Dewi
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.5052

Abstract

Abstrak: Masyarakat Sunda di Sindang Hurip, Sumedang, memahami manusia melalui "Paradoks Manusia", yaitu dualitas raga (badan) dan aci (roh). Saat warga sakit parah hingga rohnya dianggap tercerai-berai, keluarga menyelenggarakan ritual Ngala Pangacian melalui perantara dukun. Penelitian kualitatif berpendekatan Imam Setyobudi ini bertujuan menganalisis kosmologi Sunda tersebut menggunakan teori Peralihan Ontologis (Eduardo Viveiros de Castro), Embodiment (Thomas Csordas), dan Kosmopolitik (Isabelle Stengers & Bruno Latour). Data dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan ritual Ngala Pangacian mengonstruksi roh sebagai realitas ontologis yang valid, bukan sekadar simbol psikologis. Melalui berbagai medium, terjadi peralihan ontologis saat roh merasuki dukun untuk berdialog, dilanjutkan integrasi somatik ke tubuh pasien oleh cucu balita. Lebih jauh, ruang ritus menjadi arena kosmopolitik yang menunda vonis medis modern demi hukum kosmos lokal. Ritual ini menjamin kesempurnaan sirkulasi roh sekaligus membangun ketahanan mental keluarga menghadapi ambang kematian. Kata kunci: Aci, Kosmopolitik, Ngala Pangacian, Babak Ontologis, Sunda. Abstract: The Sundanese community in Sindang Hurip, Sumedang, perceives human existence through the "Human Paradox," a duality between the material physique and the soul (aci). When severe illness scatters the soul, the family conducts the Ngala Pangacian ritual through a shaman. This qualitative study utilizing Imam Setyobudi’s framework analyzes this cosmology by synthesizing three concepts: Ontological Turn (Eduardo Viveiros de Castro), Embodiment Theory (Thomas Csordas), and Cosmopolitics (Isabelle Stengers & Bruno Latour). Data were gathered via participant observation and in-depth interviews. Findings reveal that Ngala Pangacian constructs the soul as a valid ontological reality, not a mere psychological symbol. Through ritual mediums, an ontological turn occurs as the soul possesses the shaman, followed by somatic integration into the patient's body by a toddler grandson. Furthermore, the ritual space functions as a cosmopolitical arena slowing modern medical diagnosis for local cosmic laws, securing soul circulation and family resilience facing death. Keywords: Aci, Cosmopolitics, Ngala Pangacian, Ontological Turn, Sundanese.