Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

INTEGRASI SISTEM PELAYANAN JANTUNG DAN PEMBIAYAAN BPJS KESEHATAN: UPAYA PENINGKATAN EFEKTIVITAS DAN KEBERLANJUTAN LAYANAN KARDIOLOGI Saman Saman; Novica Aryanti Putri; Hasni Hasni
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.11163

Abstract

The high rate of cardiovascular disease in Indonesia places cardiology services as the largest budget absorber in the National Health Insurance program. This catastrophic burden demands regulatory alignment to avoid fragmented operational flows and financial overruns. This study focuses on analyzing the importance of integrating the cardiac care system with the BPJS Kesehatan financing mechanism to improve the effectiveness of cardiology services. A descriptive qualitative approach was applied through a systematic literature review of policy documents and scientific publications published over the past five years. The study findings indicate that synchronizing the tiered referral system, utilizing electronic medical records, and updating the INA-CBGs claims platform can accelerate medical care while significantly reducing operational cost inefficiencies. However, current implementation in the field is considered partial due to unequal distribution of facilities and unequal interoperability of national digital data. The main conclusion emphasizes that comprehensive integration between clinical, digital, and financial aspects is a crucial strategy for maintaining the quality of cardiology services. Policymakers are recommended to strengthen real-time data governance to achieve claims transparency and ensure long-term sustainability of health financing. ABSTRAK Tingginya angka penyakit kardiovaskular di Indonesia menempatkan layanan kardiologi sebagai penyerap anggaran terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Besarnya beban katastropik ini menuntut keselarasan regulasi demi menghindari fragmentasi alur operasional dan pembengkakan finansial. Fokus penelitian ini adalah menganalisis pentingnya integrasi sistem pelayanan jantung dengan mekanisme pembiayaan BPJS Kesehatan guna meningkatkan efektivitas layanan kardiologi. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan melalui studi literatur sistematis terhadap dokumen kebijakan serta publikasi ilmiah terbitan lima tahun terakhir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sinkronisasi sistem rujukan berjenjang, pemanfaatan rekam medis elektronik, dan pembaruan platform klaim INA-CBGs mampu mempercepat penanganan medis sekaligus mereduksi inefisiensi biaya operasional secara signifikan. Namun, implementasi di lapangan saat ini dinilai masih parsial akibat ketimpangan distribusi fasilitas serta belum meratanya interoperabilitas data digital nasional. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi menyeluruh antara aspek klinis, digital, dan finansial merupakan strategi krusial untuk menjaga kualitas pelayanan kardiologi. Pemangku kebijakan direkomendasikan untuk memperkuat tata kelola data waktu nyata (real-time) guna mewujudkan transparansi klaim dan menjamin keberlanjutan pembiayaan kesehatan jangka panjang.  
Edukasi Simulasi Multi-Bencana terhadap Kesiapsiagaan Siswa SMKN 1 Galang Rahmat Kurniawan; Saman Saman; Baharuddin Condeng; Hamsiah Hamsiah; Zainul Zainul; Putri Handayani; Amir Amir; Arifuddin Arifuddin
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 8 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v8i2.1104

Abstract

Disaster preparedness among school students is an important aspect of disaster risk reduction efforts. This community service activity ims to increase the knowledge and attitude of SMKN 1 Galang students regarding disaster preparedness through multi-disaster simulation education. The method used is participatory education through interactive lectures, visual media, and disaster simulations covering earthquakes, floods, landslides, and fires, with a pre-test and post-test design. The activity was carried out in December 2025, involving 40 students as participants. The results showed an increase in students' knowledge and preparedness attitudes, where before the intervention, most respondents were in the “poor” category, while after the intervention, all respondents (100%) were in the “good” category. Multi-disaster simulation education proved effective in increasing student preparedness and is recommended as a school-based disaster education model to build a sustainable disaster preparedness culture.
Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Pelatihan Pengukuran Antropometri dan Penilaian Status Gizi Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Dungingis Kabupaten Tolitoli Sova Evie; Hasni Hasni; Rahmat Kurniawan; Alfrida Semuel Ra’bung; Novica Ariyanti Putri; Saman Saman; Dwi Yogyo Suswinarto; Azwar Azwar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.22705

Abstract

ABSTRAK Masalah gizi pada balita, khususnya stunting dan wasting, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kabupaten Tolitoli termasuk daerah dengan prevalensi stunting cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tolitoli tahun 2023 terdapat 136 (10,54%) kasus stunting dan 8 (0,62%) wasting dari 1.290 balita di wilayah kerja Puskesmas Dungingis. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya keterampilan kader posyandu dalam pengukuran antropometri dan penilaian status gizi anak. Tujuan kegiatan pengabmas ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Dungingis, khususnya Desa Galumpang, dalam melakukan pengukuran antropometri menggunakan metode Z-Score pada balita upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan kepada 20 kader posyandu yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Dungingis. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi keterampilan. Hasil yang didapatkan adalah pengetahuan kader mengenai stunting meningkat dari 45% menjadi 85%. Kader mendapatkan keterampilan dalam melakukan pengukuran antropometri dan interpretasi status gizi dengan metode Z-Score. Produk luaran berupa leaflet edukasi dan banner antropometri berhasil digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan: Pelatihan ini efektif meningkatkan kapasitas kader posyandu dalam melakukan deteksi dini stunting. Program serupa direkomendasikan untuk diterapkan secara berkelanjutan di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Kata Kunci: Kader Posyandu, Antropometri, Status Gizi, Z-Score, Stunting.  ABSTRACT Nutritional problems in toddlers, particularly stunting and wasting, remain a public health challenge in Indonesia. Tolitoli Regency is among the areas with a relatively high prevalence of stunting. According to data from the Tolitoli District Health Office in 2023, there were 136 cases of stunting (10.54%) and 8 cases of wasting (0.62%) out of 1,290 toddlers in the working area of Dungingis Health Center. This condition is exacerbated by the limited skills of posyandu cadres in conducting anthropometric measurements and assessing children’s nutritional status. The purpose of this community service program was to improve the knowledge and skills of posyandu cadres in the Dungingis Health Center working area, particularly in Galumpang Village, in performing anthropometric measurements using the Z-Score method for toddlers as an effort to prevent stunting. The method applied was health education and training provided to 20 posyandu cadres across the Dungingis Health Center area. Evaluation was carried out through pre-test and post-test of knowledge as well as observation of skills. The results showed that cadres’ knowledge about stunting increased from 45% to 85%. They also acquired skills in conducting anthropometric measurements and interpreting nutritional status using the Z-Score method. The program produced educational outputs in the form of a leaflet and an anthropometry banner, which were successfully used as learning media. This training was effective in enhancing the capacity of posyandu cadres in the early detection of stunting. Similar programs are recommended for sustainable implementation in regions with a high prevalence of stunting. Keywords: Posyandu Cadres, Anthropometry, Nutritional Status, Z-Score, Stunting
Pelatihan Kader dan Screening Penyakit Tidak Menular Untuk Deteksi Dini Risiko Kardiovaskular di Kelurahan Nalu Novica Ariyanti Putri; Sova Evie; Hasni Hasni; Saman Saman; Dwi Yogyo Suswinaryo; Azwar Azwar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26114

Abstract

ABSTRAK Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian yang berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes mellitus, obesitas, dan dislipidemia. Rendahnya pengetahuan masyarakat dan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan deteksi dini faktor risiko PTM menyebabkan upaya pencegahan penyakit kardiovaskular di masyarakat belum optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko PTM serta meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan screening PTM sederhana sebagai upaya deteksi dini penyakit kardiovaskular. Kegiatan dilakukan menggunakan metode pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif berupa edukasi kesehatan, pelatihan kader kesehatan, pendampingan, dan screening PTM secara door to door di Kelurahan Nalu Kabupaten Tolitoli. Peserta kegiatan terdiri dari 20 kader kesehatan dan masyarakat usia produktif serta lansia. Edukasi dilakukan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, leaflet, dan lembar balik edukasi. Pelatihan kader meliputi pengukuran tekanan darah, pengukuran tinggi badan, berat badan, dan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader kesehatan mengenai faktor risiko PTM dengan nilai rata-rata meningkat dari 65 menjadi 85 setelah diberikan edukasi. Pelatihan kader kesehatan juga meningkatkan keterampilan kader dalam melakukan pengukuran tekanan darah, pengukuran TB dan BB, serta perhitungan IMT. Kegiatan screening PTM menunjukkan masih ditemukan masyarakat dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi dan obesitas. Edukasi kesehatan, pelatihan kader, dan screening PTM efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan serta mendukung deteksi dini faktor risiko penyakit kardiovaskular di masyarakat Kelurahan Nalu Kabupaten Tolitoli. Kata Kunci: Penyakit Tidak Menular, Kader Kesehatan, Screening PTM, Penyakit Kardiovaskular, Edukasi Kesehatan.     ABSTRACT Non-communicable diseases (NCDs) are a leading cause of death, closely linked to an increased risk of cardiovascular diseases such as hypertension, diabetes mellitus, obesity, and dyslipidemia. Lack of public knowledge and skills of health cadres in early detection of NCD risk factors have resulted in suboptimal efforts to prevent cardiovascular disease in the community. This community service activity aims to increase public knowledge about NCD risk factors and improve the skills of health cadres in conducting simple NCD screenings as an effort to detect cardiovascular disease early. The activity was carried out using a community empowerment method through a promotive and preventive approach in the form of health education, health cadre training, mentoring, and door-to-door NCD screening in Nalu Village, Tolitoli Regency. Participants consisted of 20 health cadres and people of productive age and the elderly. Education was carried out using interactive lectures, discussions, leaflets, and educational flipcharts. Cadre training included blood pressure measurement, height measurement, weight measurement, and Body Mass Index (BMI) calculation. The results of the activity showed an increase in health cadres' knowledge about NCD risk factors, with an average score increasing from 65 to 85 after the education. Health cadre training also improved their skills in blood pressure measurements, height and weight measurements, and BMI calculations. Non-communicable disease (NCD) screening activities revealed that people still exhibited cardiovascular disease risk factors, such as high blood pressure and obesity. Health education, cadre training, and NCD screening effectively improved the knowledge and skills of health cadres and supported early detection of cardiovascular disease risk factors in the Nalu Village community, Tolitoli Regency. Keywords: Non-Communicable Diseases, Health Cadres, NCD Screening, Cardiovascular Disease, Health Education.
Pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa di Desa Buntuna Wilayah Kerja Puskesmas Baolan Kabupaten Toli-Toli Dwi Yogyo Suswinarto; Saman Saman; Eli Saripah; Rahmat Kurniawan; Hasni Sova Evie; Novica Ariyanti Putri; Azwar Azwar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.24278

Abstract

ABSTRAK Saat ini kasus Orang dengan masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang dengan Gangguan jiwa (ODGJ) terus meningkat, Optimalisasi Upaya Kesehatan Jiwa bergeser dari Hospital mental health care mengarah pada Community mental health care. Untuk mendukung upaya berbasis masyarakat maka diperlukan adanya upaya Kesehatan jiwa pada tatanan Desa/Kelurahan. Semakin meningkatnya Kasus Gangguan jiwa, Kasus kekambuhan, kurangnya perhatian masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa di Masyarakat, peran Kader kesehatan jiwa yang  Belum Optimal , dukungan dan perhatian  dari  tokoh masyarakat serta aparat desa masih rendah. Tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk Desa Siaga Sehat jiwa dengan target kegiatan Adanya sosialisasi tentang upaya kesehatan jiwa pada aparat desa dan tokoh masyarakat, Pelatihan Kader,  kader melakukan pendataan dan pembinaan kepada keluarga serta terbentuknya pengurus Desa Siaga Sehat Jiwa. Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan selama 3 Hari dari tanggal 31 Juli s/d 1 Agustus 2025, dengan rincian kegiatan; Sosialisasi Program Kesehatan jiwa didalam termasuk Desa Siaga Sehat Jiwa yang diikuti Tokoh Masyarakat, aparat desa dan Penanggung jawab program keswa Puskesmas, Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa diikuti oleh 18 kader, yang didahulu dengan pre test dan post Test dengan hasil nilai rata-rata Pre test 56 setelah pelatihan post test rata-rata 87, Pelaksanaan Pendataan  Deteksi kesehatan jiwa oleh kader telah didata  87 KK sebanyak 187 Jiwa dengan rincian hasil pendataan 134 sehat jiwa, resiko 54 jiwa dan 1 didapatkan mengalami gagguan jiwa. Serta pembentukan Pengurus Desa Siaga sehat Jiwa. Kesimpulan; Sosialisasi program Keswa pada tokoh masyarakat , pelatihan dan deteksi dini serta Desa siaga sehat jiwa telah terbentuk. Perlu pendampingan untuk kegiatan selanjutnya. Kata Kunci: Desa Siaga, Sehat Jiwa, Program Jiwa, Kesehatan Jiwa.  ABSTRACT Currently, cases of People with Mental Problems (ODMK) and People with Mental Disorders (ODGJ) continue to increase, Optimization of Mental Health Efforts is shifting from Hospital mental health care towards Community mental health care. To support community-based efforts, mental health efforts are needed at the Village/Sub-district level. The increasing cases of mental disorders, relapse cases, lack of public attention to people with mental disorders in the community, the role of mental health cadres is not optimal, support and attention from community leaders and village officials is still low. The purpose of this activity is to form a Mental Health Alert Village with the target of activities There is socialization about mental health efforts to village officials and community leaders, Cadre Training, cadres conduct data collection and guidance to families and the formation of Mental Health Alert Village administrators. The implementation of the activity was carried out for 3 days from July 31 to August 1, 2025, with details of activities; The socialization of the Mental Health Program within the Mental Health Alert Village was attended by Community Leaders, village officials, and the person in charge of the Community Health Center's mental health program. Mental Health Cadre Training was attended by 18 cadres, preceded by a pre-test and post-test with an average pre-test score of 56 after the training and an average post-test score of 87. The implementation of mental health detection data collection by cadres has recorded data on 87 families totaling 187 people with details of the data collection results: 134 mentally healthy, 54 at risk, and 1 found to have a mental disorder. As well as the formation of the Mental Health Alert Village Management. Conclusion: Socialization of the Mental Health Alert Village program to community leaders, training and early detection, and the formation of the Mental Health Alert Village have been completed. Assistance is needed for further activities. Keywords: Alert Village, Healthy Soul , Soul Program, Mental Health.
Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Screening Hipertensi, Pengukuran Antropometri dan Screening PJK Sova Evie; Nurmiaty Nurmiaty; Hasni Hasni; Novica Ariyanti Putri; Saman Saman; Dwi Yogyo Suswinarto; Alfrida Semuel Ra'bung; Rahmat Kurniawan; Yuldensia Avelina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26291

Abstract

ABSTRAK Penyakit Tidak Menular (PTM), khususnya hipertensi dan penyakit jantung koroner (PJK), merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia serta menunjukkan tren peningkatan di masyarakat. Di wilayah kerja Puskesmas Managaisaki, angka kejadian PTM masih tergolong tinggi, kasus hipertensi tahun 2024 sebanyak 3.339 dan tahun 2025 sebanyak 2.293. Kondisi ini memerlukan upaya strategis melalui skrining dini sebagai langkah deteksi awal PTM khususnya hipertensi dan PJK. Salah satu strategi efektif dalam pelaksanaan skrining adalah pemberdayaan kader kesehatan. Kader sebagai bagian dari komunitas memiliki peran strategis dalam menjembatani layanan kesehatan formal dengan masyarakat, terutama di tingkat RT/RW, dusun, dan desa. Kedekatan kader dengan masyarakat menjadikan mereka aktor utama dalam edukasi kesehatan, pelaksanaan skrining sederhana, serta promosi perilaku hidup sehat. Tujuan PkM ini yaitu: 1)Untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan dan masyarakat tentang PTM; 2)Untuk meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan skrining penyakit hipertensi dan PJK; 3)Untuk meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan pengukuran antropometri sebagai bagian dari skrining PJK; 4)Untuk meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan skrining Hipertensi dan PJK. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan kepada 20 kader posyandu yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Managaisaki. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi keterampilan terjadi peningkatan pengetahuan responden rata rata dari 40 Menjadi 90. Dan seluruh kader kesehatan mampumelakukan screening skrining hipertensi dan PJK kepada masyarakat. Kegiatan pengabmas ini berhasil mencapai tujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan tentang screening hipertensi, pengukuran antropometri dan screening factor resiko PJK Kata Kunci: Kader Kesehatan, Screening, Hipertensi, PJK.  ABSTRACT Noncommunicable diseases (NCDs), particularly hypertension and coronary heart disease (CHD), are the leading causes of morbidity and mortality in Indonesia and are on the rise in the general population. In the service area of the Managaisaki Community Health Center (Puskesmas), the incidence of NCDs remains relatively high, with 3,339 cases of hypertension in 2024 and 2,293 cases in 2025. This situation requires strategic efforts through early screening as a step toward the early detection of NCDs, particularly hypertension and CHD. One effective strategy in implementing screening is the empowerment of community health workers. As members of the community, health cadres play a strategic role in bridging the gap between formal health services and the public, particularly at the RT/RW, hamlet, and village levels. Their close ties to the community make them key actors in health education, conducting simple screenings, and promoting healthy lifestyles. The objectives of this Community Service Program (PkM) are: 1) To increase the knowledge of health cadres and the community regarding NCDs; 2) To improve the skills of health cadres in screening for hypertension and CHD; 3) To improve the skills of health cadres in performing anthropometric measurements as part of CHD screening; 4) To improve the skills of health cadres in conducting screening for hypertension and CHD. The methods used included health education and training for 20 Posyandu cadres spread across the Managaisaki Community Health Center’s service area. Evaluation was conducted using a pre-test and The methods used were education and training for 20 posyandu cadres spread across the Managaisaki Community Health Center’s service area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests of knowledge as well as skill observations; there was an increase in the respondents’ average knowledge score from 40 to 90. All health cadres were able to perform hypertension and CHD screenings for the community. This community outreach activity successfully achieved its objective of improving the capacity of health cadres regarding hypertension screening, anthropometric measurements, and screening for CHD risk factors. Keywords: Health Cadres, Screening, Hypertension, CHD.