Afif Restu Fauzi
Universitas Palangka Raya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Konstruksi Kritik Sosial dalam Puisi “Kau, Mencatat dengan Puisi” Karya Sosiawan Leak: Analisis Strukturalis Afif Restu Fauzi
Multatuli: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 2 No. 01 (2026): Juni
Publisher : Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/multatuli.v2i01.8973

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis struktur intrinsik dan unsur ekstrinsik puisi “kau, mencatat dengan puisi” karya Sosiawan Leak dalam perspektif strukturalisme; (2) mengkaji mekanisme oposisi biner sebagai pusat pembentukan makna; dan (3) menjelaskan bagaimana amanat lahir sebagai produk relasi struktural. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan teknik close reading. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur tema, perasaan, nada, suasana, dan amanat membentuk kesatuan organis yang koheren melalui jaringan relasi tanda. Diksi konotatif, citraan multisensorik, majas figuratif, versifikasi bebas, dan tipografi reflektif memperkuat struktur kritik sosial dalam teks. Mekanisme oposisi biner—spiritualitas–materialisme, moralitas–kekuasaan, dan idealitas–realitas—menjadi pusat diferensiasi makna yang membangun ketegangan semantik secara sistematis. Repetisi pertanyaan retoris berfungsi sebagai strategi struktural untuk mengintensifkan gugatan moral. Amanat puisi tidak hadir sebagai pesan normatif eksternal, melainkan sebagai konsekuensi inheren dari kohesi dan organisasi relasi antarunsur. Secara teoretis, temuan ini menegaskan bahwa makna puisi lahir dari sistem internal teks, sehingga strukturalisme tetap relevan dalam membaca puisi kritik sosial Indonesia kontemporer.
Pelanggaran Kesantunan Berbahasa Pada Tuturan Penolak dan Pembela Ba’alawy di Kolom Komentar Facebook Reels : Politeness Violations in the Utterances of Ba’alawi’s Supporters and Opponents in Facebook Reels Comment Sections Afif Restu Fauzi; Indah Fikriyyati
CARAKA Vol 12 No 1 (2025): Desember
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/caraka.v12i1.20743

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pelanggaran kesantunan berbahasa pada tuturan penolak dan pembela Ba’alawi di kolom komentar Facebook Reels, serta (2) menjelaskan jenis tuturan pada bidal yang melanggar prinsip kesantunan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan pragmatik dengan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui metode simak dengan teknik sadap, baca, dan catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan pragmatis dengan teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan terjadi pada lima bidal, yaitu ketimbangrasaan, kemurahhatian, kerendahhatian, keperkenanan, dan kesetujuan. Dari 120 tuturan, ditemukan 116 tuturan yang melanggar kesantunan, dengan rincian: 19 tuturan melanggar bidal ketimbangrasaan, 8 bidal kemurahhatian, 27 bidal kerendahhatian, 42 bidal keperkenanan, dan 20 bidal kesetujuan. Bidal yang paling sering dilanggar adalah keperkenanan (42 tuturan atau 36,20%). Jenis tindak tutur yang muncul meliputi komisif, representatif, perlokusi, direktif, lokusi, ilokusi, dan ekspresif, dengan variasi yang dominan pada bidal keperkenanan. Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi kebahasaan di media sosial cenderung melanggar prinsip kesantunan, terutama pada aspek keperkenanan.
Analysis of Early Reading Skills of Lower Grade Elementary School Students in Kahayan Tengah Subdistrict, Pulang Pisau Regency Alifiah Nurachmana; Petrus Poerwadi; Patrisia Cuesdeyeni; Albertus Purwaka; Paul Diman; Afif Restu Fauzi
Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol. 11 No. 1 (2025): Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/tunas.v11i1.10838

Abstract

Background: The low level of literacy and numeracy among primary school students in Indonesia highlights the need for contextual and engaging learning media that reflect local culture. Conventional teaching methods often fail to capture students’ interest and do not integrate local wisdom effectively. Aim: This research aims to develop and test an interactive animation-based learning media using Central Kalimantan folktales to enhance students’ literacy and numeracy skills in primary education. Method: The study employed a research and development (R&D) approach by designing, validating, and testing a digital prototype that combines animation, narration, and interactivity. Expert validation was conducted to refine the prototype, followed by pilot testing in selected partner schools in Central Kalimantan. Data were collected through observations, questionnaires, and learning assessments, and an  alyzed descriptively to evaluate the media’s effectiveness in improving learning outcomes. Results and Discussion: The results indicated that the interactive animation media successfully increased students’ engagement and motivation, leading to higher literacy and numeracy achievement compared to traditional learning tools. Teachers reported that the integration of local folktales provided meaningful and enjoyable learning experiences while reinforcing students’ cultural identity. The discussion emphasizes the potential of culturally grounded digital media to support the thematic learning approach in the Merdeka Curriculum and contribute to the preservation of local culture. Conclusion: The research concludes that the developed interactive animation learning media based on Central Kalimantan folktales is effective in enhancing primary school students’ literacy and numeracy skills. It also demonstrates significant potential for large-scale implementation, commercialization, and collaboration with the creative industry, reaching Technology Readiness Level 5 as a foundation for sustainable dissemination.