Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dampak Relokasi Pasar Bauntung Banjarbaru terhadap Pendapatan Pedagang Beras Akhmad Raja Shaufi; Kamiliah Wilda; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i2.5889

Abstract

Kegiatan perdagangan erat hubungannya dengan pasar. Dalam perekonomian, pasar memiliki peranan sebagai salah satu prasarana perdagangan. Pentingnya peranan sektor perdagangan pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi menjadi salah satu dasar pemerintah Kota Banjarbaru dalam melaksanakan program terhadap pembangunan sarana ekonomi (Perdagangan) salah satunya yakni dengan melakukan pembangunan pasar dan melaksanakan kebijakan relokasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak relokasi terhadap pendapatan pedagang beras serta permasalahan yang dihadapi pedagang. Penelitian ini dilakukan di Pasar Bauntung Banjarbaru jalan R.O. Ulin (ex Stadion Mini Gawi Sabarataan), Kelurahan Loktabat Selatan, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru. Metode yang digunakan adalah sensus yaitu dengan jumlah sampel 8 pedagang. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis kuantitatif dengan menggunakan uji statistik berupa uji t berpasangan untuk membandingkan pendapatan pedagang sebelum dan sesudah relokasi, dan analisis kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif untuk menjelaskan permasalahan yang dihadapi pedagang beras. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pendapatan pedagang beras sebelum dan sesudah relokasi Pasar Bauntung Banjarbaru yakni terjadi penurunan rata-rata pendapatan pedagang sebesar Rp. 42.360.815 atau sebesar 46,5%. Hal ini menunjukkan bahwa relokasi pasar Bauntung Banjarbaru memberikan dampak negatif terhadap pendapatan pedagang beras.  Selanjutnya permasalahan yang dihadapi pedagang antara lain lokasi pasar, kepastian usaha, retribusi dan waktu kerja.
PERAN SEKTOR PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN SIMULASI EKSTENSIFIKASI LAHAN SAWAH DI KALIMANTAN SELATAN: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Akhmad Raja Shaufi; Hamdani Hamdani; Sadik Ikhsan
WIRATANI Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/wiratani.v9i1.597

Abstract

Abstrak. Ketahanan pangan merupakan isu strategis yang memerlukan peningkatan produksi domestik melalui program ekstensifikasi lahan sawah. Penelitian ini menganalisis peran sektor pertanian tanaman pangan dalam struktur ekonomi Kalimantan Selatan dan mengevaluasi dampak ekonomi program ekstensifikasi menggunakan pendekatan analisis input-output. Data yang digunakan adalah Tabel Input-Output Provinsi Kalimantan Selatan 2016 klasifikasi 52 sektor. Metode analisis meliputi analisis keterkaitan (backward dan forward linkages), indeks daya penyebaran dan derajat kepekaan, multiplier, serta simulasi dampak ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan sektor pertanian tanaman pangan memiliki kontribusi pendapatan (8,97%) empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan kontribusi output (2,53%), mengindikasikan sektor padat karya. Analisis keterkaitan mengidentifikasi 10 sektor unggulan (19,2%). Sektor pertanian tanaman pangan terklasifikasi sebagai sektor dengan daya dorong kuat ke depan (Pd = 0,851; Sd = 1,203), menunjukkan peran strategis sebagai pemasok input industri pengolahan pangan namun bukan leading sector. Paradoks multiplier terjadi dengan output multiplier rendah (1,122) namun income multiplier tinggi (0,534, peringkat 3). Simulasi ekstensifikasi 350.000 hektar dengan investasi Rp 8.798,37 miliar menghasilkan dampak output Rp 12.359,37 miliar, dampak NTB Rp 5.823,85 miliar, dan dampak pendapatan Rp 1.668,77 miliar. Dampak output didominasi konstruksi (55,03%), sedangkan dampak pendapatan didominasi konstruksi (45,65%), jasa pertanian (13,06%), dan perdagangan (12,18%). Aggregate multipliers menunjukkan setiap Rp 1 miliar investasi menghasilkan output Rp 1,405 miliar, NTB Rp 662 juta, dan pendapatan Rp 190 juta. Implikasi kebijakan meliputi strategi diferensiasi sektor, pengembangan industri input pertanian, dan optimalisasi alokasi investasi.
Edukasi Kader Posyandu dan PKK Tentang Pemberian Makanan Pendamping Menggunakan Sayuran Lokal: Educating Posyandu and PKK Cadres on Complementary Feeding Using Locally Vegetables Bella Mardya; Muhammad Helmy Abdillah; Akhmad Raja Shaufi; Malisa Ariani; Raybian Nur; Budi Styawan
J.Abdimas: Community Health Vol. 7 No. 1 (2026): J.Abdimas: Community Health - Mei 2026
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30590/jach.v7n1.385

Abstract

Latar Belakang: Malnutrisi pada anak merupakan permasalahan global yang salah satunya dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan ibu mengenai pemenuhan gizi anak, termasuk dalam pengolahan makanan pendamping ASI berbasis pangan lokal. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu dalam mencegah malnutrisi pada anak melalui demonstrasi pengolahan MP-ASI berbahan dasar pangan lokal yang dikolaborasikan dengan sektor pertanian. Metode: Pendekatan yang dipilih dalam pengabdian masyarakat ini yaitu melalui model Participatory Rural Appraisal. Setelah menyusun rencana aksi, tindakan selanjutnya yakni memberdaya-gunakan aset masyarakat untuk kepentingan kegiatan ini. Pendekatan yang digunakan adalah Asset Based Community Development (ABCD) yang menitikberatkan pada pengelolaan aset mitra sasaran berupa penggunaan lahan pekarangan yang secara sukarela digunakan untuk kegiatan tanam-menanam. Tingkat pengetahuan ibu diukur menggunakan instrument pretest dan post-test yang dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai median serta rentang minimun-maksimum. Hasil dari kegiatan pertanian kemudian diolah menjadi MP-ASI. Proses pembuatan MP-ASI ini disampaikan pada kegiatan demonstrasi pembuatan MP-ASI yang tepat dan adekuat untuk meningkatkan pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu mengenai MP-ASI diukur menggunakan kuesioner untuk menganalisis pengetahuan ibu sebelum dan sesudah demonstrasi dilakukan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu, ditunjukkan oleh nilai median pretest sebesar 15 (12–21) yang meningkat menjadi median post-test sebesar 17 (14–23). Kesimpulan: Kesimpulan yang diperoleh dari pengabdian masyarakat ini yaitu terdapat perubahan median skor pengetahuan ibu tentang pemenuhan nutrisi yang tepat untuk anak. Pemanfaatan metode edukasi gizi dengan metode demonstrasi ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam inovasi edukasi gizi kepada masyarakat berbasis pangan lokal.
Dinamika Daya Saing Ekspor Komoditas Unggulan Perkebunan Indonesia dalam Perspektif Negara-Negara ASEAN: Analisis RCA, RCTA, dan ISP Akhmad Raja Shaufi; Muhammad Helmy Abdillah; Amiratu Zakiah
AGRORADIX : Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 9 No. 2 (2026): Januari-Juli 2026
Publisher : Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Darul 'Ulum (UNISDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/agroteknologi.v9i2.13297

Abstract

Indonesia memimpin beberapa komoditas perkebunan di kawasan ASEAN, namun dinamika keunggulan komparatif dan spesialisasi perdagangannya belum dikaji secara serentak untuk banyak komoditas dalam satu sumber data terstandar. Penelitian ini mengevaluasi daya saing ekspor tujuh komoditas unggulan perkebunan Indonesia (minyak sawit, karet alam, kopi, kakao, lada, cengkeh, dan pala) periode 2010–2023 menggunakan data perdagangan FAOSTAT dan tiga indeks komplementer: Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Comparative Trade Advantage (RCTA), dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP), dengan posisi tiap komoditas diukur relatif terhadap pasar dunia. Arah dan titik patah tren diuji secara statistik menggunakan uji Mann-Kendall, penduga kemiringan Sen, dan uji Pettitt. Minyak sawit, pala, dan cengkeh menempati keunggulan komparatif tertinggi di ASEAN, kopi dan lada tetap kuat, sedangkan karet alam tidak berdaya saing. RCTA mengungkap anomali impor pada cengkeh dan kakao, sementara berdasarkan ISP kakao dan karet alam bergeser menjadi pengimpor neto. Tidak ada titik patah struktural yang bertepatan dengan integrasi MEA (2015) maupun pandemi COVID-19 (2020), sehingga perubahan daya saing lebih bersifat spesifik per komoditas daripada akibat guncangan regional seragam. Temuan ini menyiratkan perlunya strategi peningkatan daya saing yang dirancang berbasis karakteristik masing-masing komoditas.