Amang Fathurrohman
STAI Salahuddin Pasuruan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Spiritual Experience dalam Pendidikan Andragogi: Model "Transfer of Tasawuf" untuk Pembentukan Karakter Santri di Pesantren Muhammad Muhlis; Amang Fathurrohman
Tarbawi : Jurnal Studi Pendidikan Islami Vol. 12 No. 2 (2024): Tarbawi : Jurnal Studi Pendidikan Islami (Oktober)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/tarbawi.v12i2.1110

Abstract

Penelitian ini berangkat dari urgensi untuk mengisi kekosongan literatur (gap of knowledge) mengenai teori praktis andragogi dalam perspektif Islam, yang selama ini masih didominasi oleh konsep pendidikan anak-anak (Tarbiyah al-Awlad). Di tengah kegagalan sistem pendidikan modern yang sering kali memaksakan model pedagogi kepada pembelajar dewasa, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan paradigma baru pendidikan orang dewasa di pesantren melalui integrasi nilai-nilai kisah Al-Qur'an dan pengalaman spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naturalistik dan jenis penelitian studi kasus kolektif di Pesantren Ngalah Pasuruan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi kondensasi, penyajian data (display), serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data diuji melalui kriteria credibility, dependability, dan confirmability. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model pendidikan orang dewasa di Pesantren Ngalah berpusat pada "Transfer of Tasawuf", di mana spiritual experience melalui praktik thariqat menjadi poros utama pembelajaran; (2) Implementasi andragogi disinergikan dengan indikator kedewasaan dalam Al-Qur’an (balagha asyuddahu) yang menekankan kematangan akal, kemandirian, dan kearifan; (3) Strategi internalisasi nilai dilakukan melalui tiga tahap stimulasi: transformasi, transaksi, dan trans-internalisasi dengan figur Guru Mursyid sebagai pusat keteladanan; (4) Output pendidikan ini berhasil membentuk karakter santri yang holistik, yakni sebagai Leader Perfektis dan Ritualis Perfektis yang memiliki jiwa inklusif (Tri Ukhuwah). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan andragogi berbasis spiritual mampu menjawab krisis eksistensial manusia modern sekaligus memperkuat identitas moral santri di era disrupsi.
Peace Education Berbasis Kearifan Lokal: Membaca Peran Perempuan Tengger melalui Lensa Pendidikan Islam Inklusif Amang Fathurrohman; Ida Rochmawati; Imroatul Azizah; Moh. Irmawan Jauhari; Alimul Muniroh
Tarbawi : Jurnal Studi Pendidikan Islami Vol. 13 No. 2 (2025): Tarbawi : Jurnal Studi Pendidikan Islami (Oktober)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/tarbawi.v13i2.1172

Abstract

Purpose: This study aims to explore the strategic role of Tengger women in early conflict detection within religious dynamics in Tosari District, Pasuruan, and to examine how their practices can be understood through the framework of inclusive Islamic peace education. Design/methodology/approach: This research employs a qualitative approach with Miles and Huberman’s interactive analysis model. Data were collected through three months of participatory observation, in-depth interviews with 35 key informants, and focus group discussions (FGDs) with local women's forums, traditional leaders, and religious figures. Research limitations/implications: The study is limited to the Tengger community in Tosari District, East Java. However, the findings provide valuable insights into the development of culturally sensitive and gender-responsive peace education models for multicultural societies and offer practical implications for inclusive Islamic education. Findings: The results reveal how Tengger women activate local wisdom values such as sayan (mutual cooperation) and setuhu (commitment to harmony) as social vigilance mechanisms. Their unique position in traditional social structures enables them to develop effective early warning systems through informal networks and community activities. The study further constructs a critical dialogue between these indigenous practices and Islamic educational principles such as ta'awun (cooperation), ukhuwah (brotherhood), and rahmatan lil 'alamin (mercy to all creation). Originality/value: This research contributes to peace education literature by documenting an organic, community-based model of peace education developed and practiced by indigenous women. It offers a transformative framework for Islamic peace education that integrates cultural wisdom, gender responsiveness, and religious values, providing an alternative model for educational institutions in multicultural contexts