Rahendra Maya
Institut Agama Islam Al-Hidayah Bogor, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Etika Digital Perspektif Al – Qur’an dan Hadits Tarbawi Serta Implementasinya Dalam Kehidupan Choirul Anwar; Lina Marlina; Rahendra Maya
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i1.1040

Abstract

Revolusi digital telah mentransformasi tatanan kehidupan global secara fundamental, namun di sisi lain menghadirkan tantangan etis yang kompleks seperti penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian (hate speech), dan kejahatan siber (cyber crime). Fenomena degradasi moral di ruang siber ini menunjukkan adanya dis-koneksi antara kecakapan teknis dan kesadaran etis pengguna internet, yang diperburuk dengan rendahnya tingkat kesantunan digital di Indonesia menurut Digital Civility Index. Kajian ini bertujuan untuk merumuskan landasan etika digital yang integratif berdasarkan perspektif Al-Qur’an dan Hadits Tarbawi serta mengeksplorasi implementasinya dalam realitas kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Hasil kajian menunjukkan bahwa etika digital dalam Islam bukan sekadar kesepakatan sosial (netiquette), melainkan manifestasi dari akidah dan penyempurnaan iman yang memiliki konsekuensi teologis. Prinsip-prinsip utama etika digital yang ditemukan meliputi: (1) Muraqabatullah, yaitu kesadaran batin akan pengawasan Allah sebagai kontrol internal; (2) Tabayyun, yaitu kewajiban verifikasi informasi untuk mencegah fitnah; (3) Integritas dan Amanah dalam mengelola informasi; serta (4) Pengendalian Lisan dan Tulisan berdasarkan prinsip "berkata baik atau diam" (Al-Kitab kal-Khitab). Implementasi praktis dari kajian ini mencakup panduan etis dalam memproduksi konten yang maslahat, menjaga "hijab digital" atau batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan, sikap selektif terhadap lingkungan pertemanan (circle) dan algoritma media sosial, serta melindungi diri dari maksiat dan kejahatan digital (cyber crime). Kajian ini menyimpulkan bahwa transformasi digital harus diimbangi dengan literasi digital berbasis wahyu agar setiap jejak digital dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
MASYARAKAT ISLAMI DALAM AL-QUR’AN DAN IMPLEMENTASI PEMBENTUKANNYA OLEH HASMI Saparno Saparno; Rahendra Maya
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 2 (2026): Islamic Studies Journal (ISLAM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/8828t198

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep masyarakat Islami dalam Al-Qur'an serta mengkaji implementasi pembentukannya oleh Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami (HASMI). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir maudhu'i (tematik) dan studi kasus. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap Al-Qur'an, hadis, kitab-kitab tafsir, dokumen primer HASMI, serta wawancara mendalam dengan Kepala Bidang Kaderisasi, Kepala Bidang Struktural, dan Kepala Bidang Teknologi Informasi HASMI. Analisis data dilakukan menggunakan content analysis melalui reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan sintesis dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Islami menurut Al-Qur'an dibangun di atas tujuh karakteristik utama, yaitu tauhid, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, penegakan syariat, ukhuwah Islamiyah, amar ma'ruf nahi munkar, keadilan, dan kepedulian sosial. Implementasi pembentukan masyarakat Islami oleh HASMI diwujudkan melalui pembinaan tauhid, pendidikan dan kaderisasi, dakwah media, penguatan struktur organisasi, pelayanan sosial, serta pengembangan dakwah digital. Penelitian ini menemukan bahwa strategi dakwah merupakan unsur integratif yang menghubungkan seluruh implementasi tersebut. HASMI mengembangkan model pembentukan masyarakat Islami melalui transformasi individu dan masyarakat secara bertahap (at-tadarruj) melalui dakwah, pendidikan, kaderisasi, dan pemanfaatan teknologi informasi, bukan melalui pendekatan politik kekuasaan maupun kekerasan. Temuan ini melahirkan model da'wah-based social transformation, yaitu model pembentukan masyarakat Islami yang mengintegrasikan konsep normatif Al-Qur'an dengan implementasi kelembagaan melalui dakwah yang damai, edukatif, dan berkelanjutan.
Pendidikan bagi Disabilitas dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits Tarbawi serta Impelementasinya dalam Pendidikan Islam Lina Marlina; Rahendra Maya; Choirul Anwar
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i5.1044

Abstract

Pendidikan merupakan hak dasar setiap manusia, termasuk penyandang disabilitas. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai hambatan berupa keterbatasan akses, kurangnya fasilitas pendukung, minimnya kompetensi pendidik, serta stigma sosial yang menyebabkan belum terwujudnya pendidikan yang setara dan inklusif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan bagi penyandang disabilitas dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits tarbawi serta menjelaskan implementasi pendidikan inklusif berdasarkan nilai-nilai Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap sumber-sumber normatif Islam, literatur pendidikan, serta regulasi pendidikan inklusif di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam menempatkan seluruh manusia pada kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt., tanpa membedakan kondisi fisik maupun kemampuan individu. Prinsip tersebut tercermin dalam nilai al-‘adl (keadilan), al-rahmah (kasih sayang), dan al-musawah (kesetaraan) yang menjadi landasan pendidikan inklusif. Al-Qur’an dan Hadits memberikan perhatian terhadap penyandang disabilitas melalui prinsip penghormatan terhadap martabat manusia, pemberian akses sesuai kemampuan, serta pengakuan atas hak belajar dan partisipasi sosial. Implementasi pendidikan inklusif dalam perspektif Islam diwujudkan melalui pengembangan kurikulum adaptif, penyediaan fasilitas yang aksesibel, peningkatan kompetensi pendidik, serta penguatan budaya pendidikan yang tidak diskriminatif. Dengan demikian, pendidikan bagi penyandang disabilitas tidak hanya merupakan tuntutan konstitusional, tetapi juga bagian dari implementasi ajaran Islam dalam membangun sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan manusiawi.
Implementation of the Adab Education of the Ayyuhal Walad Book at the Wahdah Islamiyah Cibinong Islamic Boarding School Samsuddin Samsuddin; Abdul Jabar Idharudin; Rahendra Maya; Balkis Nurazizah
Halaqa: Journal of Islamic Education Vol. 2 No. 1 (2026): Halaqa : Journal of Islamic Education
Publisher : PT. Student RIhlah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61630/hjie.v2i1.32

Abstract

This study is important due to the degradation of students’ adab (moral conduct), which has become a serious challenge in contemporary Islamic education, particularly amid the dominance of cognitive achievement and rote memorization. This research aims to analyze the implementation of adab education through the teaching of Ayyuhal Walad by Imam Al-Ghazali at Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong, encompassing the learning process, strategies for internalizing moral values, and its impact on students’ character formation. This study employs a qualitative descriptive approach, with data collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation studies, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis model. The findings indicate that the teaching of Ayyuhal Walad is conducted in an interactive, reflective, and applicative manner through text reading, meaning explanation, discussion, and teachers’ moral guidance. The main adab values internalized include the practice of knowledge, sincerity, time discipline, respect for teachers, and an increase in students’ voluntary worship. The novelty of this study lies in strengthening an adab-based educational model rooted in classical Islamic texts that is systematically integrated into a modern tahfidz pesantren. The implications of this research suggest that turath-based adab education can serve as a policy reference for strengthening character education in Islamic educational institutions and pesantren.