Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Histochemical Testing and Microscopic Structure of Leea indica (Burm.f.) Merr. (Memaye) as a Medicinal Plant of the Besemah Tribe for Anti-infective and Degenerative Purposes in Lahat, South Sumatra Nina Tanzerina; Muti Elyani; Nita Aminasih; Endri Junaidi; Harmida Harmida
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 3 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i3.52914

Abstract

Leea indica (Burm.f.) Merr. (Memaye) is traditionally used by the Besemah Tribe in Lahat, South Sumatra, as a medicinal plant to treat infectious and degenerative diseases, including hepatitis, liver disorders, and warts. The utilization of this plant as an herbal remedy requires comprehensive information on its microscopic characteristics and secondary metabolite content. This research aimed to determine the classes of secondary metabolite compounds with anti-infective and anti-degenerative potential and their distribution in the vegetative organs of L. indica through histochemical testing, as well as to identify specific diagnostic fragments from microscopic observation of simplicia powder and stem maceration preparations. Histochemical tests were performed on fresh cross-sections of leaves, stems, and roots using specific reagents: Wagner's reagent for alkaloids (reddish-brown positive), 10% NaOH for flavonoids (yellow), 5% copper acetate for terpenoids (yellow to brownish), 10% FeCl₃ for phenols (greenish-black), and Lugol's iodine for tannins (black or purple). Microscopic observations were conducted on chloral hydrate-mounted simplicia powder and safranin-stained maceration preparations. Results showed that alkaloids, terpenoids, tannins, and phenols were distributed in all vegetative organs, while flavonoids were detected exclusively in leaves. Diagnostic fragments, including various crystal types (raphide, druse, rosette), trichomes (glandular, non-glandular, scale, and septate), and vascular elements (tracheae, tracheids, fibers, and xylem parenchyma), were identified across leaves, stems, and roots. Notably, scale trichomes and septate trichomes with basal sacs serve as specific diagnostic fragments for L. indica, providing reliable authentication markers for quality control in medicinal applications and future research.
Edukasi Biologi Sebagai Ilmu Hayati Terapan dalam Meningkatkan Pemahaman dan Minat Siswa Sma IT Raudhatul Ulum Ogan Ilir Laila Hanum Hanum; Hary Widjajanti; Indra Yustian; Arum Setiawan; Elisa Nurnawati; Singgih Tri Wardhana; Endri Junaidi; Yadi Oktariansyah; Yuniar Harvianti
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/8stcek83

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan minat siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) terhadap bidang Biologi melalui pendekatan berbasis konservasi dan bioteknologi. Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap ruang lingkup keilmuan Biologi serta terbatasnya informasi mengenai prospek karier lulusan Biologi. Kegiatan dilaksanakan di SMA IT Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Kabupaten Ogan Ilir, dengan metode sosialisasi, pemaparan materi, serta diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada seluruh parameter yang diukur, meliputi pengetahuan tentang jurusan Biologi, pemahaman ruang lingkup kajian, serta pemahaman peluang kerja lulusan. Selain itu, ketertarikan siswa untuk melanjutkan studi di bidang Biologi juga mengalami peningkatan setelah kegiatan berlangsung. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan aspek kognitif, tetapi juga mengubah persepsi siswa terhadap Biologi menjadi lebih aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi berbasis konservasi dan bioteknologi ini efektif dalam meningkatkan literasi sains serta minat siswa terhadap Biologi, sehingga berpotensi mendukung pengembangan sumber daya manusia yang peduli terhadap lingkungan dan berorientasi pada pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Pelatihan Pembuatan Teh Herbal dan Jamu Dari Daun Mangkokan (Polyscias Scutellaria) Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Degeneratif Salni Salni; Juswardi Juswardi; Muharni Muharni; Endri Junaidi; Mustafa Kamal; Singgih Triwardana
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Maret 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v5i2.656

Abstract

Penyakit degeneratif disebabkan oleh radikal bebas, radikal bebas dapat dihasilkan dari metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi dan akibat respon terhadap pengaruh dari luar tubuh, seperti asap rokok, polusi udara, radiasi, sinar ultraviolet (UV). Antioksidan berperan didalam mencegah stres oksidatif. Stres oksidatif sendiri berperan dalam patofisiologi terjadinya penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Oleh karena itu diperlukan antioksidan alami yang diperoleh dari tumbuhan yang berpotensi sebagai antioksidan alami yaitu daun Mangkokan (Polyscias scutellaria) dalam upaya pencegahan penyakit degeneratif”. Pengabdian masyarakat dilakukan Desa Tanjung Atap terletak di kecamatan Tanjung batu, Ogan Ilir. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini memberikan pendampingan dan pelatihan dengan memberdayakan para perempuan dalam pembuatan teh dan jamu daun mangkokan. Khalayak sasaran adalah ibu-ibu dan remaja putri, karena mereka yang sering menggunakan jamu dan teh tersebut. Kegiatan berupa penyuluhan, pelatihan dan evaluasi.
Perbandingan truss morfometrik Ikan Palau (Osteochilus vittatus, Valenciennes 1842) asal Sungai Kelekar Kabupaten Muara Enim dan Sungai Benuang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan Endri Junaidi; Ayu Marshanda; Muslim
Sriwijaya Bioscientia Vol 7 No 1 (2026)
Publisher : Biology Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24233/sribios.7.1.2026.557

Abstract

Truss morfometrik merupakan metode pengukuran ikan dengan menggunakan titik patokan yang berhubungan dan membentuk tubuh ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan morfometrik ikan palau (Osteochilus vittatus) asal Sungai Kelekar dan Sungai Benuang. Prosedur penelitian ini terdiri dari penentuan lokasi, pengukuran parameter lingkungan, pengambilan sampel, proses identifikasi ikan palau, pengukuran truss morfometrik dan meristik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan morfometrik O. vittatus asal Sungai Kelekar dan Sungai Benuang pada O. vittatus betina sebanyak 6 karakter dan 5 karakter untuk jantan. Terdapat juga perbedaan karakter meristik pada O.vittatus jantan dan betina dari kedua sungai tersebut. Rasio kelamin pada Sungai Kelekar menunjukkan bahwa jumlah ikan jantan yang tertangkap lebih besar dibandingkan ikan betina, sebaliknya pada Sungai Benuang jumlah ikan jantan yang tertangkap lebih sedikit dibandingkan ikan betina.
Desiminasi dan Demplot Domestikasi Ikan Belida Sumatera (Chitala hypselonotus) di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir Muslim Muslim; Ferdinand Hukama Taqwa; Henny Malini; Reshi Wahyuni; Selly Oktarina; Endri Junaidi
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JAMSI - Maret 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2479

Abstract

Ikan belida Sumatera (Chitala hypselonotus) merupakan salah satu spesies asli (native) perairan Indonesia. Di Indonesia spesies ikan belida ada empat yakni Chitala lopis, Chitala borneensis, Chitala hypselonotus, dan Notopterus notopterus. Di perairan umum Sumatera Selatan ditemukan tiga spesies yakni Chitala lopis, Chitala hypselonotus, dan Notopterus notopterus. Keempat spesies ikan belida dikenal dengan nama umum ikan belida. Ikan belida dimanfaatkan masyarakat Sumatera Selatan sebagai bahan baku pembuatan pempek dan kerupuk kemplang. Ikan belida bernilai ekonomi tinggi di Sumatera Selatan. Kebutuhan industri kuliner khas Sumatera Selatan semakin meningkat menyebabkan permintaan terhadap ikan ini makin meningkat. Produksi ikan belida mengandalkan hasil tangkapan dari alam liar, karena produksi dari hasil budidaya belum ada. Penangkapan berlebih dan juga kerusakan habitat menyebabkan penurunan populasi ikan belida di alam. Domestikasi adalah upaya menjinakan ikan liar kedalam lingkungan budidaya. Tahap awal domestikasi ikan belida sudah berhasil dilakukan. Ikan belida mampu bertahan hidup dan tumbuh dalam wadah budidaya khususnya dalam kolam terpal. Kegiatan ini merupakan penyebaran informasi hasil penelitian domestikasi ikan belida spesies Chitala hypselonotus tahap awal. Metode yang digunakan berupa penyuluhan, demplot, dan pendampingan. Kegiatan ini dilakukan di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Hasil kegiatan menunjukan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap ikan belida spesies Chitala hypselonotus makin meningkat. Masyarakat mengetahui bahwa ikan belida Sumatera (Chitala hypselonotus) adalah spesies yang dilindungi. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian ikan belida semakin meningkat. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Burai.