Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GERTAK BSK: Gerakan Serentak Stop Batu Saluran Kemih melalui Edukasi Digital di SMA Pasundan 2 Cimahi Budi Rustandi; Theophylia Melisa Manumara; Agnia Fauziah; Nagia Nuramadani; Salwa Nurul Samsy; Kania Azzahra; Desi Trisnawati; Giska Pebrianti; Verawati Verawati; Sarah Nur Awaliah; Fitri Mawardiani
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/kf1svg96

Abstract

Batu Saluran Kemih (BSK) atau urolitiasis merupakan kondisi terbentuknya batu pada saluran kemih, meliputi ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Batu umumnya tersusun atas kalsium oksalat atau kalsium fosfat, meskipun dapat pula berasal dari asam urat, struvit, dan sistin. Penyakit ini telah dikenal sejak zaman kuno dan masih menjadi masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan hingga saat ini. Gejala utama yang muncul ketika batu memasuki ureter adalah nyeri akut yang mendadak dan hebat. Selain menimbulkan ketidaknyamanan, kekambuhan batu saluran kemih dapat meningkatkan risiko komplikasi, angka kematian, serta biaya pengobatan. Prevalensi di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 170.000 kasus baru setiap tahun dengan prevalensi mencapai 2–15% dari populasi. Faktor risiko terjadinya urolitiasis antara lain kurang konsumsi air putih, pola makan tinggi garam dan protein, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, obesitas, serta gaya hidup sedentari. Perubahan gaya hidup modern menyebabkan risiko penyakit ini mulai meningkat pada usia remaja sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan sejak dini. Kegiatan pendidikan kesehatan berbasis digital dilaksanakan pada siswa SMA Pasundan 2 Cimahi menggunakan media PowerPoint, leaflet, poster kesehatan, dan kuis interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa mengenai pengertian, faktor risiko, gejala, dan pencegahan urolitiasis. Selain itu, siswa menjadi lebih sadar untuk menerapkan pola hidup sehat seperti meningkatkan konsumsi air putih, menjaga pola makan, dan rutin beraktivitas fisik. Pendidikan kesehatan interaktif berbasis digital terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan remaja terkait pencegahan urolitiasis
PREVALENSI DAN DETERMINAN KECEMASAN PADA REMAJA: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS Nopi Yulandari; Fauziyyah Zull Heryanto; Nagia Nuramadani; Winda Hermawati; Agnia Fauziah; Rida Octavia Butar Butar; Verawati Verawati; Fitri Mawardiani; Azkia Azzahra; Novia Syifa Nurhaliza; Dina Audina Uswatun Hasanah; Anggia Ropik; Maulidina Puji Apriliani; Enur Atni; Juwita Lestari; Revalani Ayu Purti; Silvia Dwi Rahayu; Desi Trisnawati; Kania Azzahra; Giska Pebrianti; Deni Purnama; Meysa Maulida; Teguh Akbar Dwiyanto
Jurnal Media Informatika Vol. 7 No. 4 (2026): Edisi Juli - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jumin.v7i4.8918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi dan determinan kecemasan pada remaja melalui tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah narrative review dengan menganalisis sepuluh artikel ilmiah yang diperoleh dari Google Scholar dalam rentang tahun 2021–2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa kecemasan pada remaja memiliki prevalensi yang cukup tinggi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi konsep diri negatif, ketidakmampuan mengelola emosi, serta ketakutan terhadap masa depan. Sementara itu, faktor eksternal meliputi tekanan akademik, pengalaman bullying, perubahan lingkungan sosial, kurangnya dukungan keluarga, serta dampak pandemi COVID-19. Berbagai intervensi seperti positive self-talk, teknik relaksasi deep breathing, terapi suportif, strategi koping adaptif, serta pendekatan spiritual terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan mental remaja. Kesimpulannya, kecemasan pada remaja merupakan masalah kompleks yang memerlukan pendekatan multidimensional melalui upaya promotif, preventif, dan intervensi berbasis psikologis serta spiritual secara berkelanjutan.