Hasyim Haddade
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Wawasan Al-Qur’an Terkait Kemiskinan (Studi Tafsir Tematik) Ranya Fariha Nasaruddin; Rahmi Damis; Hasyim Haddade
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 4, No 1 (2026): August 2026
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poverty is a constant humanitarian problem spanning the history of human civilization. Despite the rapid development of modernization instruments and material progress, the distributive inequality of wealth continues to generate striking disparities. This study aims to formulate a comprehensive Quranic conception of poverty using the Tafsir Maudhu'i (thematic) approach. The focus of the study is directed at three main pillars: the semantic nature of poverty terms (specifically the term miskin), the causal factors of poverty, and the integrative solutions offered by the Quran. The results of the analysis show that the word miskin is rooted in the meaning of stillness or lack of movement (sakana), indicating an economic helplessness that leaves an individual "paralyzed" in meeting primary needs. The Quran views poverty not merely as a problem of material deprivation, but as a manifestation of structural inequality, personal laziness, and the neglect of moral-spiritual values. To address this problem, the Quran formulates a multi-dimensional approach that includes the optimization of financial obligations (zakat), the regulation of socio-religious sanctions (kafarat), the strengthening of communal solidarity (infaq, sedekah, fidyah), and a productive work ethos. The holistic implementation of Quranic insights is capable of transforming the socio-economic order toward justice oriented around maslahah (the public good).
Analisis Tafsir Lughawi terhadap Q.S. Al-A’rāf/7: 179 melalui Pendekatan Lafaz, I‘rāb, dan Balāgah: A Linguistic Exegetical Analysis of Q.S. Al-A‘rāf/7: 179: A Study of Lexical Meaning, I‘rāb, Balāghah, and Munāsabah Qarinah Qarinah; Muhammad Yahya; Hasyim Haddade
AL-QIBLAH: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab Vol. 5 No. 5 (2026): In progress
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/qiblah.v5i5.3306

Abstract

Surah Al-A‘rāf (7):179 describes the condition of humans and jinn who turn away from Allah’s guidance by neglecting the functions of the heart, eyes, and ears as the means of attaining divine guidance. The message of the verse is conveyed through a coherent linguistic structure, requiring an exegetical approach that examines not only its textual meaning but also its linguistic dimensions. This study aims to analyze the interpretation of Q.S. Al-A‘rāf (7):179 through the taḥlīlī method by examining its lexical expressions (lafẓ), grammatical structure (i‘rāb), textual coherence (munāsabah), and rhetorical features (balāghah). It also seeks to identify the reasons why humans and jinn are described as the inhabitants of Hell and to explore the lessons conveyed by the verse. This research employs a qualitative descriptive approach based on library research. Primary data were obtained from classical and contemporary Qur’anic commentaries, while secondary data were collected from relevant scholarly articles. Data were analyzed using the taḥlīlī method of Qur’anic exegesis. The findings reveal that the use of the preposition lām, the repetition of the structure wa lahum, the ism al-tafḍīl form in the word aḍallu, and the rhetorical device of tashbīh collectively construct a linguistic emphasis on the consequences of neglecting the God-given capacity for guidance. Consequently, humans and jinn become the inhabitants of Hell because they fail to utilize their hearts, eyes, and ears in responding to Allah’s guidance. Furthermore, the verse underscores the importance of purifying the heart and optimizing all human faculties in fulfilling the purpose of creation. This study contributes to the development of tafsīr lughawī studies and provides a basis for further research on the concept of misguidance in the Qur’an, particularly through a mawḍū‘ī study of the term aḍallu and its lexical derivatives.
Orang Fasik dalam QS Al-Baqarah Ayat 26-27: Analisis Tafsir Tahlili dan Relevansinya dalam Kehidupan Kontemporer Ramlan; Muhammad Yahya; Hasyim Haddade
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Pendidikan agama Islam (September)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep orang fasik dalam QS. Al-Baqarah ayat 26–27 melalui pendekatan tafsir tahlili serta mengkaji relevansinya dalam kehidupan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui kajian terhadap Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta berbagai sumber ilmiah yang berkaitan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep fasik tidak hanya bermakna keluar dari ketaatan kepada Allah, tetapi juga mencakup penyimpangan dalam aspek akidah, moral, sosial, dan nilai-nilai keagamaan. Perspektif tafsir kontemporer menunjukkan bahwa kefasikan tidak hanya dipahami sebagai persoalan individu, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Dalam konteks kehidupan modern, konsep fasik masih sangat relevan terhadap berbagai persoalan seperti krisis moral, korupsi, disintegrasi sosial, kerusakan lingkungan, dan penyebaran hoaks di era digital. Dengan demikian, konsep fasik dalam Al-Qur’an memiliki nilai teologis dan sosial yang tetap relevan sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan masa kini.
Konsep Halālan Ṭayyiban dalam Al-Qur’an: Kajian Tafsir Tahlili QS Al-Baqarah Ayat 168 Panca Sakti Kamal; Muhammad Yahya; Hasyim Haddade
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Pendidikan agama Islam (September)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep halālan ṭayyiban yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah ayat 168. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah metode tafsir tahlili, sebuah metode penafsiran yang menguraikan ayat demi ayat secara sistematis berdasarkan urutan mushaf dengan menelaah aspek kebahasaan (mufradāt), konteks turunnya ayat (asbābun nuzūl), korelasi ayat (munāsabah), serta pandangan para mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perintah mengonsumsi makanan yang halālan ṭayyiban diawali dengan seruan universal (Yā ayyuhā an-nās) yang ditujukan bagi seluruh umat manusia demi menjaga kemaslahatan bersama. Dimensi halāl merujuk pada pemenuhan aspek hukum syariat (baik zat maupun cara memperolehnya), sedangkan dimensi ṭayyib menekankan pada kualitas fisik dan gizi pangan, yakni bersih, sehat, aman, dan membawa manfaat bagi tubuh. Di era modern, konsep ini tidak hanya terbatas pada kepemilikan sertifikasi halal, melainkan menjadi standar kualitas holistik yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan industri pangan kompleks, rekayasa teknologi makanan, serta penyakit metabolik akibat pola konsumsi yang tidak sehat
Pendusta Agama Dalam QS Al-Ma’un Tiara Sani; Muhammad Yahya; Hasyim Haddade
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Pendidikan agama Islam (September)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep "pendusta agama" (mukadzdzib bid-din) sebagaimana termaktub dalam QS Al-Ma'un ayat 1-7 melalui pendekatan tafsir tahlili. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis penafsiran lafaz-lafaz kunci dalam surah tersebut, mengungkap korelasi antara kelalaian ibadah ritual dengan ketidakpedulian sosial, serta merumuskan hikmah yang relevan bagi pembentukan karakter muslim dalam konteks kontemporer. Metode yang digunakan adalah tafsir tahlili, Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS Al-Ma'un mendefinisikan pendusta agama bukan semata berdasarkan pengingkaran teologis, melainkan melalui tiga indikator perilaku utama: pertama, menghardik anak yatim dengan menolak hak haknya; kedua, enggan menganjurkan pemberian makan kepada orang miskin; dan ketiga, melaksanakan shalat secara lalai (sahun) disertai sikap riya' serta keengganan memberikan bantuan sederhana (al-ma'un). Novelty penelitian ini terletak pada analisis integratif antara aspek linguistik-tahlili dengan implikasi sosio-teologis surah tersebut, sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai karakter muslim ideal yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial
Misi Kerasulan Dalam Qs Al-Baqarah Ayat 151 Zakiyuddin Rahim; Hasyim Haddade; Muhammad Yahya
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Pendidikan agama Islam (September)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan dan makna QS. al-Baqarah ayat 151 serta menganalisis misi-misi kerasulan Nabi Muhammad saw. yang terkandung di dalamnya. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kedudukan kerasulan sebagai salah satu pilar utama dalam sistem keimanan Islam, sebagaimana ditegaskan bahwa Rasul diutus bukan hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi juga sebagai pembimbing dan pendidik umat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tahlili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. al-Baqarah ayat 151 memuat lima misi utama kerasulan, yaitu tilawah al-ayat (membacakan ayat-ayat Allah), tazkiyah (penyucian jiwa), ta'lim al-kitab (pengajaran Al-Qur'an), ta'lim al-hikmah (pengajaran hikmah), dan ta'lim ma lam yakunu ya'lamun (pengajaran ilmu yang belum diketahui). Kelima misi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu sistem pendidikan ilahi yang saling berkaitan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerasulan Nabi Muhammad saw. bersifat holistik, mencakup dimensi spiritual, intelektual, dan sosial, sehingga tetap relevan sebagai kerangka pendidikan Islam dalam kehidupan modern.