Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Kekuatan Otot Tungkai terhadap Risiko Jatuh pada Lansia Siti Chumairah Anwar; Veni Fatmawati; Nindha Prabaningrum
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 22nd University Research Colloquium 2026: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan seseorang yang memasuki fase akhir kehidupan yang ditandai dengan melemahnya kondisi fisik dan berkurangnya kemampuan tubuh dalam merespon perubahan lingkungan secera efektif. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami berbagai perubahan fisiologis, termasuk penurunan kekuatan otot tungkai yang terjadi akibat berkurangnya massa dan kemampuan otot. Kekuatan otot tungkai berperan penting dalam menunjang kestabilan postur tubuh, kemampuan bergerak, serta fungsi aktivitas sehari-hari pada lansia. Melemahnya kekuatan otot tungkai dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh yang berdampak pada cedera fisik, berkurangnya tingkat kemandirian, serta penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu, kajian mengenai hubungan antara kekuatan otot tungkai dan risiko jatuh pada lansia menjadi penting sebagai dasar dalam upaya pencegahan serta penyusunan intervensi fisioterapi yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap risiko jatuh pada lansia di PCA Pajangan Bantul. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia yang tergabung dalam komunitas PCA Pajangan Bantul berjumlah 110 lansia. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 85 lansia yang diperoleh dengan Teknik purposive sampling. Kekuatan otot tungkai diukur menggunakan instrumen Five Times Sit to Stand Test (FTSTS), sedangkan risiko jatuh diukur menggunakan Morse Fall Scale (MFS). Uji Normalitas dengan Shapiro Walk didapat data tidak normal. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kekuatan otot tungkai dan risiko jatuh pada lansia (r = 0,666; p > 0,000). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penurunan kekuatan otot tungkai dengan peningkatann risiko jatuh pada lansia.
Perbedaan Pengaruh Latihan Isotonik Dan Latihan Isometrik Terhadap Penurunan Lingkar Perut Pada Remaja Putri Di Kota Yogyakarta Annisa Putri Ramadhani; Razany Fauziah Alboneh; Nindha Prabaningrum
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1233

Abstract

Obesitas sentral pada remaja putri merupakan salah satu masalah kesehatan yangditandai dengan peningkatan lingkar perut dan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakitmetabolik. Latihan isotonik dan latihan isometrik merupakan bentuk latihan yang dapat meningkatkanpengeluaran energi, memperkuat otot inti, serta membantu menurunkan lingkar perut. Namun,pengaruh kedua jenis latihan tersebut masih perlu dibandingkan. Tujuan: Mengetahui pengaruhlatihan isotonik dan latihan isometrik terhadap penurunan lingkar perut pada remaja putri sertamembandingkan pengaruh kedua jenis latihan tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan desainquasi experimental dengan rancangan pre-test and post-test two group design. Sampel penelitianberjumlah 36 remaja putri yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok latihan isotonik (n=18)dan kelompok latihan isometrik (n=18). Kelompok latihan isotonik diberikan intervensi sebanyak 3kali per minggu, sedangkan kelompok latihan isometrik diberikan intervensi sebanyak 5 kali perminggu selama 4 minggu. Pengukuran lingkar perut dilakukan sebelum dan sesudah intervensimenggunakan pita ukur (midline). Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk Test, Levene's Test,Wilcoxon Signed-Rank Test, serta Mann-Whitney U Test sesuai distribusi data. Hasil: Hasil penelitianmenunjukkan bahwa latihan isotonik maupun latihan isometrik memberikan pengaruh yang signifikanterhadap penurunan lingkar perut pada remaja putri (p<0,05). Namun, hasil uji perbandingan antarkelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan isotonik danlatihan isometrik terhadap penurunan lingkar perut (p>0,05). Kesimpulan: Latihan isotonik danlatihan isometrik sama-sama berpengaruh dalam menurunkan lingkar perut pada remaja putri, namuntidak terdapat perbedaan pengaruh yang bermakna di antara kedua jenis latihan tersebut. Kedua latihandapat dijadikan sebagai alternatif latihan untuk membantu menurunkan lingkar perut pada remajaputri.
Hubungan Durasi Penggunaan Gadget Dan Postur Terhadap Keluhan Nyeri Leher Pada Anak SMA Di MAN 1 Sleman Merche Claudhya; Nindha Prabaningrum; Wika Yuniarwati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1523

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan gadget pada remaja semakinmeningkat seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran digital.Penggunaan gadget dalam durasi yang lama serta postur tubuh yang kurang ergonomisdapat menyebabkan ketegangan otot leher dan berpotensi menimbulkan keluhan nyerileher. Hasil penelitian mengenai hubungan durasi penggunaan gadget dan posturterhadap keluhan nyeri leher masih menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Tujuanpenelitian: Mengetahui hubungan durasi penggunaan gadget dan postur terhadapkeluhan nyeri leher pada siswa MAN 1 Sleman. Metode: Penelitian ini menggunakandesain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitianberjumlah 86 siswa MAN 1 Sleman yang dipilih menggunakan teknik purposivesampling. Variabel penelitian meliputi durasi penggunaan gadget postur penggunaangadget, dan keluhan nyeri leher. Pengukuran postur dilakukan menggunakan aplikasiFisio Master dengan analisis Rapid Upper Limb Assessment (RULA), sedangkankeluhan nyeri leher diukur menggunakan Neck Disability Index (NDI). Analisis datamenggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkanbahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadgetdengan keluhan nyeri leher pada siswa MAN 1 Sleman dengan nilai p>0,05. Selainitu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara postur penggunaan gadget dengankeluhan nyeri leher dengan nilai p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa durasipenggunaan gadget dan postur penggunaan gadget tidak berhubungan secarasignifikan terhadap keluhan nyeri leher pada responden penelitian. Kesimpulan:.Tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan gadget dan postur penggunaangadget terhadap keluhan nyeri leher pada siswa MAN 1 Sleman. Keluhan nyeri leherpada siswa kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian,seperti aktivitas fisik, kebiasaan olahraga, kualitas istirahat, dan faktor ergonomilainnya. Saran: Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor-faktor lainyang memengaruhi keluhan nyeri leher pada remaja serta menggunakan jumlah sampelyang lebih besar agar hasil penelitian lebih optimal.
Perbedaan Pengaruh Mckenzie Exercise Dan Ischemic Compression Terhadap Myofascial Pain Syndrome Upper Trapezius Muscle Pada Pelajar SMA Debi Loren; Nindha Prabaningrum
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1421

Abstract

Penggunaan smartphone yang berlebihan dikalangan pelajar SMAdengan durasi rata-rata 5-11 jam perhari menyebabkan postur tubuh yang tidakergonomis, khususnya posisi kepala yang condong ke depan (forward head position).Kondisi ini memicu terbentuknya trigger point pada otot upper trapezius yangdikenal sebagai Myofascial Pain Syndrome (MPS). MPS dapat berdampak padapenurunan konsentrasi belajar, gangguan tidur dan penurunan prestasi akademikpelajar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruhMcKenzie Exercise dan Ischemic Compression terhadap penurunan nyeri MPS uppertrapezius muscle pada pelajar SMA. Metode: penelitian ini menggunakan desainquasi experimental dengan pendekatan pre-test dan post-test two group design.Jumlah sampel sebanyak 36 responden. Karakteristik responden didominasi olehlaki-laki (61,1%) dengan rentan usia 16-18 tahun dan durasi penggunaan smartphoneterbanyak 7-9 jam per hari (50%). Intervensi diberikan sebanyak 3 kali dalamseminggu selama 1 bulan. Pengukuran nyeri menggunakan instrumen VisualAnalogue Scale (VAS). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk mengujipengaruh dalam kelompok dan uji Mann Whitney untuk menguji perbedaan antarakelompok. Hasil: Hasil uji Wilcoxon pada kelompok I (McKenzie Exercise)menunjukkan nilai p = 0,001 dengan rerata penurunan nyeri sebesar 3,11 ± 0,900,sedangkan pada kelompok II (Ischemic Compression) diperoleh nilai p = 0,001dengan rerata penurunan nyeri sebesar 2,39 ± 0,698. Kedua intervensi terbuktiberpengaruh signifikan terhadap penurunan nyeri MPS upper trapezius. Hasil ujiMann Whitney menunjukkan nilai p = 0,020, yang berarti terdapat perbedaan yangsignifikan antara kedua kelompok intervensi. Kesimpulan: McKenzie Exerciseterbukti lebih efektif dibandingkan Ischemic Compression dalam menurunkan nyeriMPS upper trapezius muscle pada kelompok pelajar SMA, dibuktikan dengan reratapenurunan nyeri yang lebih besar pada kelompok McKenzie Exercise dibandingkankelompok Ischemic Compression.