Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbedaan Pengaruh Brain Gym Dan Play Therapy Terhadap Kemampuan Motorik Kasar Anak Usia 5-6 Tahun Di TK ABA Mlangi Tasya Fadila Andriani Putri; Abdillah Choirul Chisholi; Nindha Prabaningrum
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.888

Abstract

Latar belakang: Keterlambatan motorik kasar pada anak merupakan permasalahan serius yang berdampak pada fungsi kognitif, koordinasi, dan prestasi akademik. Usia 5–6 tahun merupakan periode kritis yang memerlukan intervensi, karena keterlambatan yang tidak ditangani dapat menghambat perkembangan jangka panjang. Brain gym dan play therapy merupakan intervensi yang terbukti efektif dalam mendukung perkembangan motorik kasar anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengaruh brain gym dan play therapy terhadap  kemampuan motorik kasar anak usia 5–6 tahun. Metodologi  penelitian menggunakan metode quasi experimental dengan desain pre-test and post-test two group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan sampel 28 anak usia 5–6 tahun di TK Aba Mlangi yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 14 anak, dengan pertemuan 3 kali perminggu selama 4 minggu. Pengukuran kemampuan motorik kasar menggunakan test of gross motor development-2 (TGMD-2). Analisis data menggunakan paired sample t-test untuk kelompok I dan II, serta Independent Sample T-Test untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar kelompok. Hasil penelitian uji paired sample t-test kelompok brain gym menghasilkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti  intervensi berpengaruh terhadap kemampuan motorik kasar anak. Uji paired sample t-test kelompok play therapy menghasilkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti intervensi berpengaruh terhadap kemampuan motorik kasar anak. uji independent sample t-test menghasilkan nilai p = 0,725 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat perbedaan pengaruh antara brain gym dan play therapy. Kesimpulan tidak terdapat perbedaan pengaruh brain gym dan play therapy terhadap kemampuan motorik kasar anak usia 5–6 tahun TK ABA Mlangi.
Hubungan Kekuatan Otot Tungkai terhadap Risiko Jatuh pada Lansia Siti Chumairah Anwar; Veni Fatmawati; Nindha Prabaningrum
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 22nd University Research Colloquium 2026: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan seseorang yang memasuki fase akhir kehidupan yang ditandai dengan melemahnya kondisi fisik dan berkurangnya kemampuan tubuh dalam merespon perubahan lingkungan secera efektif. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami berbagai perubahan fisiologis, termasuk penurunan kekuatan otot tungkai yang terjadi akibat berkurangnya massa dan kemampuan otot. Kekuatan otot tungkai berperan penting dalam menunjang kestabilan postur tubuh, kemampuan bergerak, serta fungsi aktivitas sehari-hari pada lansia. Melemahnya kekuatan otot tungkai dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh yang berdampak pada cedera fisik, berkurangnya tingkat kemandirian, serta penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu, kajian mengenai hubungan antara kekuatan otot tungkai dan risiko jatuh pada lansia menjadi penting sebagai dasar dalam upaya pencegahan serta penyusunan intervensi fisioterapi yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap risiko jatuh pada lansia di PCA Pajangan Bantul. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia yang tergabung dalam komunitas PCA Pajangan Bantul berjumlah 110 lansia. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 85 lansia yang diperoleh dengan Teknik purposive sampling. Kekuatan otot tungkai diukur menggunakan instrumen Five Times Sit to Stand Test (FTSTS), sedangkan risiko jatuh diukur menggunakan Morse Fall Scale (MFS). Uji Normalitas dengan Shapiro Walk didapat data tidak normal. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kekuatan otot tungkai dan risiko jatuh pada lansia (r = 0,666; p > 0,000). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penurunan kekuatan otot tungkai dengan peningkatann risiko jatuh pada lansia.