Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rancangan Model Manajemen Strategis Wakaf Produktif di Pesantren Al-Qur'an Daarus Shofwah Sofwan Manaf; Ahmad Bayhaqi; Ahmad Gabriel
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11829

Abstract

Wakaf produktif merupakan instrumen keuangan sosial Islam yang berpotensi menopang kemandirian finansial pesantren, namun optimalisasinya masih terkendala minimnya kapasitas manajerial dan bisnis nazhir. Artikel ini bertujuan merancang model manajemen strategis pengembangan wakaf produktif bagi Pesantren Al-Qur'an Daarus Shofwah dengan merujuk pada dua praktik terbaik, yaitu Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (YBW UII) dan Pondok Pesantren Darunnajah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus yang memadukan kajian pustaka, wawancara mendalam dengan pimpinan dan pengelola unit usaha, serta analisis SWOT berbasis triangulasi data lapangan. Hasil kajian menunjukkan Daarus Shofwah masih bergantung pada syahriah santri untuk 99% kebutuhan operasional, dengan defisit struktural sekitar Rp50 juta per bulan pascapandemi. Pesantren ini memiliki lahan wakaf bersertifikat seluas 4.000 m² dari total 11.000 m² lahan yayasan serta unit usaha rintisan (kantin, koperasi, laundry, kolam renang) yang seluruh hasilnya kembali untuk operasional pondok. Keberhasilan wakaf produktif pada kedua lembaga benchmark ditentukan oleh empat pilar: legalitas dan profesionalisme nazhir, diversifikasi portofolio aset, reinvestasi surplus untuk misi pendidikan, serta akuntabilitas tata kelola. Berdasarkan sintesis tersebut, model yang diusulkan mencakup empat tahap: percepatan legalitas nazhir, konversi lahan idle dan unit usaha rintisan menjadi badan usaha semi-korporat, pengembangan wakaf uang digital dan aset bergerak, serta penguatan tata kelola bertahap sesuai skala kelembagaan. Model ini menawarkan kerangka adaptasi wakaf produktif yang proporsional bagi pesantren skala kecil-menengah, melengkapi literatur yang selama ini didominasi kajian lembaga wakaf berskala besar.
Integrasi Dakwah-Bisnis dan Kemandirian Ekonomi Pesantren: Sintesis Social Enterprise dan Dakwah-preneurship Ahmad Gabriel; Samiyono Samiyono; Ari Supriyatno; Andriyanto Andriyanto; Ramadhan Aditya Pratama
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11240

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua menghadapi tekanan ganda, yaitu tuntutan berdiri sendiri secara finansial di tengah pasar modern, sekaligus kewajiban menjaga identitas dakwah yang asli. Ketergantungan mayoritas pesantren pada satu sumber pembiayaan membuat lembaga ini rapuh terhadap gejolak ekonomi makro, sementara unit usaha yang dijalankan tanpa bingkai nilai yang kuat berisiko menggeser orientasi dakwah menjadi sekadar siasat komersial. Penelitian ini bertujuan menyusun landasan filosofis bagi integrasi dakwah-bisnis dalam konteks kemandirian ekonomi pesantren. Metode yang dipakai adalah studi literatur integratif (integrative literature review), sebuah pendekatan yang berakar pada tradisi penelitian kualitatif karena menyintesiskan sumber yang beragam secara naratif dan terstruktur, dengan Pondok Pesantren Darunnajah sebagai kasus ilustratif yang bersumber dari dokumen dan publikasi sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi dakwah-bisnis bukan sekadar siasat ekonomi, melainkan wujud maqashid al-syariah yang menjaga agama dan harta dalam satu wadah kelembagaan. Pijakan teoretisnya disusun melalui sintesis triadik antara Social Enterprise Theory, Islamic Social Business, dan Dakwah-preneurship. Kasus Darunnajah memperlihatkan bahwa korporatisasi wakaf produktif, koperasi pesantren sebagai social enterprise lokal, dan integrasi unit usaha dengan pendidikan santri mampu menopang kemandirian ekonomi tanpa kehilangan misi dakwah. Tata kelola yang transparan menjadi prasyarat agar aktivitas ekonomi tidak tergelincir ke mission drift. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keseimbangan empat kuadran nilai, yakni spiritual, sosial, ekonomi, dan tata kelola, merupakan kunci keberlanjutan model integrasi dakwah-bisnis pesantren, sekaligus menjadi rujukan konseptual bagi pimpinan pesantren dan pengambil kebijakan dalam merancang model integrasi yang bertanggung jawab.