Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Profil Hemodinamik Pasien Sectio Caesarea yang Mengalami Kejadian Hipotensi Intra Anestesi Spinal Nanda Aisyia Pontoh; Martyarini Budi Setyawati; Fauziah Hanum Nur Adriyani
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 2 (2024): April 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i2.2240

Abstract

Anestesi spinal adalah teknik anestesi yang sering digunakan pada operasi sectio caesarea dibandingkan dengan anestesi lainnya. Meskipun demikian, penggunaan anestesi spinal mempunyai efek samping berupa hipotensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil hemodinamik pasien sectio caesarea yang mengalami kejadian hipotensi intra anestesi spinal di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedirman Kebumen. Penelitian ini merupakan jenis studi kuantitatif yang menerapkan metode deskriptif. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan cross-sectional dalam desain penelitiannya. Penelitian ini melibatkan 46 responden yang dipilih sebagai sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Uji univariat dipakai untuk analisis data. Pengumpulan data menggunakan bedside monitor dan lembar observasi untuk mencatat hasil monitoring hemodinamiknya. Hasil Penelitian didapatkan bahwa usia terbanyak pada responden yaitu usia 31,15 tahun, Indeks Masa tubuh yang paling dominan yaitu obesitas IMT ≥ 27 sebanyak 17 responden (37.0%). Kejadian hipotensi terhadap pasien sectio caesarea intra anestesi spinal yang paling dominan mengalami hipotensi terdapat pada menit ke-10 sebanyak 37 responden dengan presentase (80.4%), terdapat 29 orang mengalami hipotensi ringan dengan presentase (63.0%). Hemodinamik pasien sectio caesarea yang mengalami kejadian hipotensi intra anestesi spinal terdapat perubahan hemodinamik antara pre anestesi dan intra anestesi pada menit ke-5, 10, dan 15 dimana perubahan TDS yaitu sebesar 7.54 mmHg. TDD sebesar 6.11 mmHg. MAP sebesar 6.54 mmHg. HR sebesar 5.27 x/menit. RR sebesar -0.07 x/menit. Dan SpO2 sebesar 0.09 %.
Gambaran Waktu Munculnya Peristaltik Usus pada Pasien dengan Post General Anestesi di Rumah Sakit Umum Ghina Sa'adah Hasibuan; Martyarini Budi Setyawati; Fauziah Hanum Nur Adriyani
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 2 (2024): April 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i2.2241

Abstract

Pasien dengan general anestesi berdampak pada penurunan peristaltik karena Penggunaan anestesi umum saat operasi dapat sementara menghentikan peristaltik. Cepatnya pemulihan peristaltik usus menjadi sangat penting, sehingga pasien dapat segera menghentikan puasa dan memulai menerima nutrisi yang diperlukan untuk menggantikan sel-sel yang telah hilang selama operasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui waktu munculnya peristaltik usus terhadap pasien dengan post general anestesi di Rumah Sakit Umum Emanuel Banjarnegara. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 65 pasien dengan tehnik yang digunakan yaitu purposive sampling. Analisa data mengunakan uji univariat. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dan stetoskop. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa waktu munculnya peristaltik usus berdasarkan karakteristik yang paling dominan adalah pada usia 21 tahun, 23 tahun,42 tahun dan 50 tahun, dengan jenis kelamin laki-laki 13 responden, dengan jenis pembedahan mayor 25 responden, dan lama operasi ±60 menit 24 responden, menggunakan obat anestesi hipnotik, analgetik dan relaksasi sebanyak 23 responden. Waktu munculnya peristaltik usus terhadap pasien dengan post general anestesi di Rumah Sakit Umum Emanuel Banjarnegara yang paling dominan yaitu pada waktu ±90 menit dengan nilai mean 93.23 menit.
Gambaran Komplikasi Pasca Pembedahan dengan Teknik Anestesi Spinal di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedirman Kebumen Krisdayanti; Martyarini Budi; Roro Lintang Suryani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.208

Abstract

Latar belakang : jumlah tindakan pembedahan terus meningkat secara global setiap tahunnya. Anestesi spinal merupakan salah satu teknik yang umum digunakan, terutama pada pembedahan tubuh bagian bawah. Meski efektif, teknik ini memiliki risiko komplikasi pascaoperasi, seperti hipotensi, hipotermi, shivering, mual muntah pascaoperasi (PONV), bradikardi, dan sakit kepala akibat tusukan duramater (PDPH). Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan komplikasi yang terjadi pasca pembedahan dengan teknik anestesi spinal di RSUD Dr. Soedirman Kebumen. Metode: desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada Februari 2025 dengan jumlah responden sebanyak 105 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, dengan penilaian menggunakan monitor, termometer, dan lembar observasi. Analisis dilakukan secara univariat dan disajikan dalam distribusi frekuensi. Hasil : hasil penelitian menunjukkan bahwa komplikasi terbanyak adalah hipotensi (41%), diikuti PONV (37,1%), shivering (36,2%), dan hipotermi (22,9%). Komplikasi lainnya yaitu bradikardi (13,3%) dan PDPH (11,4%). Kesimpulan : penelitian ini menunjukkan bahwa komplikasi pasca anestesi spinal masih sering ditemukan, terutama berupa hipotensi, PONV, dan shivering. Oleh karena itu, pemantauan ketat selama fase pemulihan sangat penting untuk mencegah risiko yang lebih serius dan meningkatkan keselamatan pasien.
Hubungan Hipotensi Dengan Kejadian Intraoperative Nausea And Vomiting (IONV) Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Anestesi Spinal Di RSUD Pandega Pangandaran Achmad Alfan Asyrofi; Martyarini Budi Setyawati; Roro Lintang Suryani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.237

Abstract

Hipotensi yang terjadi pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal beresiko menyebabkan mual dan muntah yang disebabkan pengurangan aliran darah ke batang otak dan pengaruh pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipotensi dengan kejadian intraoperative nausea and vomiting (IONV) pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal di Rsud Pandega Pangandaran. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 93 pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal di RSUD Pandega Pangandaran. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara hipotensi dan IONV. Dari 93 pasien, sebanyak 50 responden (53,8%) berusia 26–35 tahun dan 44 responden (47,3%) memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori Obesitas Tingkat I (25–29,9). Sebanyak 59 pasien (63,4%) mengalami hipotensi dan 24 pasien (25,8%) mengalami IONV. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara hipotensi dan kejadian IONV (p = 0,019 atau <0,05). Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan antara kejadian hipotensi dengan mual dan muntah intraoperatif (IONV) pada pasien Sectio Caesarea dengan anestesi spinal. Temuan ini menekankan pentingnya penatalaksanaan hipotensi untuk mencegah IONV.
Gambaran Cost Of Anesthesia Berdasarkan Jenis Anestesi, Jenis Pembedahan Dan Durasi Pembedahan Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedirman Kebumen Kinara Ayu Armonica; Martyarini Budi Setyawati; Roro Lintang Suryani; Kevin Al Kautsar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.265

Abstract

Biaya anestesi merupakan salah satu komponen utama dalam operasional rumah sakit, teruntuk prosedur bedah, sehingga pengelolaannya penting untuk meningkatkan efisiensi layanan dan menjaga kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengidentifiksi komponen berdasarkan jenis anestesi yang digunakan (general anestesi, regional anestesi, dan lokal anestesi), jenis pembedahan (ringan, sedang, dan besar), dan durasi operasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Sampel terdiri dari 326 tindakan anestesi selama Februari 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya anestesi tertinggi terjadi pada pembedahan besar dengan GA (ETT) dan durasi >120 menit (Rp3.296.605,54), sedangkan biaya terendah pada pembedahan ringan dengan lokal anestesi dan durasi <60 menit (Rp395.997,00). Total biaya anestesi selama satu bulan mencapai Rp480.393.769,48. Biaya anestesi tergantung oleh jenis anestesi, jenis pembedahan, durasi operasi, dan faktor-faktor yag mempengaruhi biaya anestesi lainnya.
Perbedaan Hemodinamik Pada Pemberian Cairan Koloid Dan Kristaloid Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Rahmi Arilia Gunawan; Dwi Novitasari; Martyarini Budi Setyawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.283

Abstract

Cairan intravena seperti kristaloid dan koloid digunakan sebagai terapi awal untuk mencegah dan mengatasi gangguan hemodinamik, namun efektivitas keduanya masih menjadi perdebatan. Tujuan: Mengetahui perbedaan hemodinamik pada pemberian cairan koloid dan kristaloid terhadap tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD), dan frekuensi nadi pada pasien post Sectio Caesarea dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan komparatif. Sampel terdiri dari 120 pasien yang menjalani Sectio Caesarea dengan anestesi spinal, dibagi menjadi dua kelompok: kelompok kristaloid dan kelompok koloid. Data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Hasil: Rata-rata TDS pada kelompok kristaloid adalah 118,53 mmHg dan pada kelompok koloid 118,15 mmHg dengan nilai p = 0,215 (tidak signifikan). Rata-rata TDD pada kelompok kristaloid adalah 67,10 mmHg dan pada kelompok koloid 63,90 mmHg, p = 0,027 (signifikan). Frekuensi nadi kelompok kristaloid adalah 75,25 kali/menit, sedangkan kelompok koloid 79,12 kali/menit, p = 0,013 (signifikan). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan pada tekanan darah diastolik dan frekuensi nadi antara pemberian cairan koloid dan kristaloid. Kristaloid lebih efektif dalam mempertahankan tekanan diastolik, sedangkan koloid cenderung meningkatkan frekuensi nadi. Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada tekanan darah sistolik.
Gambaran Kejadian Menggigil Pada Pasien Post Anestesi Spinal Di Ruang Instalasi Bedah Sentral RS Bhayangkara Ruwa Jurai Bandar Lampung A. Zulkifli; Danang Tri Yudono; Martyarini Budi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.337

Abstract

Menggigil merupakan komplikasi umum pasca anestesi spinal yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, peningkatan kebutuhan oksigen, dan risiko kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kejadian menggigil pada pasien post anestesi spinal berdasarkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), dan lama operasi. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di IBS RS Bhayangkara Ruwa Jurai Bandar Lampung pada April 2025 dengan 97 responden melalui teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi Crossley & Mahajan Shivering Scale. Hasil menunjukkan kejadian menggigil paling banyak terjadi pada pasien usia lanjut, perempuan, IMT rendah, dan durasi operasi 60 menit. Derajat menggigil terbanyak adalah derajat 1 dan 2. Faktor usia, jenis kelamin, IMT, dan lama operasi berpengaruh terhadap kejadian menggigil. Hasil ini dapat menjadi dasar penyusunan SOP penanganan menggigil di ruang operasi.
Keefektifan Forced Air Warming untuk Mengatasi Hipotermia Perioperatif: Systematic Review Vanessa Febri Meliana; Dian Nur Fauziah; Martyarini Budi Setyawati; Rahmaya Nova Handayani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21824

Abstract

ABSTRACT Perioperative hypothermia is a common problem in patients undergoing surgery and can increase the risk of complications. One possible non-pharmacological measure is the use of Forced Air Warming. This intervention is recommended as an effective strategy for managing perioperative hypothermia. This study aimed to provide strong and up-to-date scientific evidence regarding the effectiveness of using Forced Air Warming in preventing and treating perioperative hypothermia. The method used was a systematic review using the PICOTS approach and a search of articles in three databases: PubMed, Scopus, and ProQuest, as well as using PRISMA. A total of 12 articles met the inclusion and exclusion criteria, and their eligibility met the threshold assessed using the JBI Critical Appraisal. The results of this study indicate that Forced Air Warming can treated perioperative hypothermia, reduced the incidence of hypothermia, and maintained perioperative patient body temperature. Comparisons of Forced Air Warming with resistive heating methods have shown varying results. The used of Forced Air Warming is an effective strategy in addressing perioperative hypothermia and temperature monitoring must be carried out continuously to maximize effectiveness and potential side effects. Keywords: Forced Air Warming, Hypothermia, Perioperative  ABSTRAK Hipotermia perioperatif merupakan masalah umum yang sering terjadi pada pasien yang menjalani pembedahan, dan dapat meningkatkan risiko komplikasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan tindakan non-farmakoetapi, yaitu penggunaan Forced Air Warming. Intervensi ini direkomendasikan sebagai strategi yang efektif dalam mengatasi hipotermia perioperatif. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan bukti ilmiah yang kuat dan terkini terkait keefektifan penggunaan Forced Air Warming dalam mencegah dan mengatasi hipotermia perioperatif.Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematis dengan menggunakan pendekatan PICOTS dan melakukan pencarian artikel pada tiga basis data, yaitu PubMed, Scopus, ProQuest, serta menggunakan prisma. Sebanyak 12 artikel memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, serta kelayakannya telah memenuhi ambang batas yang dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Forced Air Warming dapat mengaasi hipotermia perioperatif, menurunkan angka kejadian hipotermia, dan mempertahankan suhu tubuh pasien perioperatif. Perbandingan Forced Air Warming dengan metode pemanasan resistif menunjukkan hasil yang bervariasi. Penggunaan Forced Air Warming merupakan strategi yang efektif dalam mengatasi hipotermia perioperatif dan pemantauan suhu harus tetap dilakukan secara kontinu untuk memaksimalkan efektivitas dan potensi efek samping. Kata Kunci: Forced Air Warming, Hipotermia, Perioperatif