Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Keefektifan Forced Air Warming Untuk Pencegahan Hipotermia Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea: Systematic Review Dian Nur Faizah; Vanessa Febri Meliana; Martyarini Budi Setyawati; Rahmaya Nova Handayani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.725

Abstract

Studi Systematic Review ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka operasi caesarean secara global, yang mencapai 21% dari total kelahiran menurut data WHO, dan di Indonesia sekitar 17–17,6%. Pasien yang menjalani operasi caesarean berisiko mengalami hipotermia, yang didefinisikan sebagai penurunan suhu inti tubuh di bawah 36°C. Faktor utama yang menyebabkan hipotermia meliputi efek anestesi, cairan infus yang tidak dipanaskan, paparan ruang operasi yang dingin, dan terbukanya rongga tubuh selama prosedur bedah. Hipotermia ini meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, perdarahan, infeksi, serta menurunkan kenyamanan dan kepuasan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas Forced Air Warming (FAW) dalam mencegah dan mengatasi hipotermia pada pasien post operasi sectio caesarea. Metode yang digunakan adalah systematic review berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan menggunakan basis data PubMed, Scopus, dan ProQuest, dengan batasan tahun publikasi 2019–2024 dan hanya studi berbahasa Inggris. Setelah proses screening dan penilaian kelayakan metodologi, diperoleh 7 artikel yang memenuhi kriteria untuk disertakan dalam sintesis data. Hasil sintesis menunjukkan bahwa Forced Air Warming (FAW) secara signifikan meningkatkan suhu inti maternal, mengurangi frekuensi shivering, dan meningkatkan kenyamanan termal. Mayoritas studi yang dianalisis merupakan Randomized Controlled Trials (RCT) yang memberikan bukti kausal yang kuat, sementara beberapa studi menggunakan desain kohort retrospektif untuk memberikan perspektif real-world. Analisis statistik yang digunakan meliputi uji t, Chi-kuadrat, ANOVA, dan model mixed-effects, dengan hasil yang menunjukkan p < 0,05 sebagai bukti perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulannya, Forced Air Warming terbukti efektif dalam manajemen hipotermia perioperatif pasien caesarean, dan dapat diintegrasikan sebagai bagian dari protokol standar untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Gambaran Perilaku Caring Penata Anestesi Terhadap Pasien Dengan Tindakan Sectio Caesaria Di Rsud Lapangan Sawang Feryfiks Efa Manihing; Rahmaya Nova Handayani; Martyarini Budi
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.219

Abstract

Persalinan dengan Tindakan Sectio Caesarea (SC) semakin meningkat dalam 20 tahun terakhir, namun memiliki resiko komplikasi yang lebih tinggi dibanding dengan persalinan normal. Salah satu factor penting dalam menurunkan kecemasan pasien pre operasi adalah perilaku caring dari penata anestesi. Caring yang ditunjukan melalui kehadiran, komunikasi, penjelasan, dan empati, serta pemberian rasa aman dan nyaman dapat meningkatkan kepercayaan diri serta kesiapan pasien menghadapi operasi. Tujuan: Mengetahui gambaran perilaku caring penata anestesi terhadap pasien section caesarea di RSUD Lapangan Sawang. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan tekhnik purposive sampling pada 30 pasien section caesarea. Instrument yang digunakan berupa kuesioner perilaku caring berdasarkan teori Jean Watson (11 item, skala likert 1-5) serta observasi langsung. Data dianalisa secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, presentase, mean, median, modus dan standar deviasi. Hasil: Rerata total skor caring penata anestesi adalah 3,28 (kategori tinggi). Dimensi dengan skor tertinggi adalah rasa aman dan nyaman (mean 3,5) sedangkan dimensi terendah adalah penjelasan dan informasi (mean 3,0). Distribusi kategori menunjukan bahwa 26 pasien (86,7%) menilai caring penata anestesi pada kategori tinggi, 4 pasien (13,3%) kategori sedang dan tidak ada yang menilai rendah. Kesimpulan: Perilaku caring penata anestesi di RSUD Lapangan Sawang dinilai sudah optimal dan Sebagian besar pasien, khususnya dalam aspek memberikan rasa aman dan nyaman. Namun, aspek penjelasan dan informasi masih perlu ditingkatkan agar pasien memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai prosedur operasi dan anestesi.
Comparison of Mean Arterial Pressure (MAP) Values in Elderly Patients Undergoing Transurethral Resection of the Prostate (TURP) with Regional Anesthesia at Banjarnegara Islamic Hospital in 2023. Fhadilah Putri Syiva Alifa; Martyarini Budi Setyawati; Wilis Sukmaningtyas; Awal Tunis Yantoro
Viva Medika Vol 16 No 4 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i4.1175

Abstract

Basic Health Research (2017) stated that around 50% of men aged 50 years in Indonesia suffered from BPH (Benign Prostate Hyperplasia). One of the treatments for BPH is TURP (Transurethral Resection of the Prostate) using spinal anesthesia. A high degree of blockade (≥ T5) and elderly are the two main factors of complication causing changes in MAP (Mean Arterial Pressure) values ​​after spinal anesthesia, which is about 15.3 to 33%. MAP monitoring is very important because MAP describes the status of cerebral perfusion. The research purpose was to determine the comparison of MAP in each age group of the elderly undergoing TURP at Bajarnegara Islamic Hospital. The researcher applied a comparative analytic method with cross sectional approach. The research was conducted in March 2023 with 31 respondents. The samples were taken by using convenience sampling technique. The independent sample t test results showed (p = 0,870). Therefore, there were no significant differences of MAP in each age group of the elderly undergoing TURP at Bajarnegara Islamic Hospital.
Description of The Incident of Hypotension in Elderly Receiving Spinal Anesthesia at Cilacap Regional Hospital Dilla Ainun Nurjanah; Martyarini Budi Setyawati; Wilis Sukmaningtyas
Viva Medika Vol 16 No 4 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i4.1211

Abstract

Spinal anesthesia is a type of regional anesthesia performed by injecting local anesthetic drugs into the subarachnoid space which can cause hypotension with an incidence of 16% - 33%. Hypotension is a drop in systolic blood pressure below 90mmHg. Risk factors that can increase the incidence of hypotension in spinal anesthesia include age. In young adults, hypotension is usually less severe than the elderly with the same high spinal anesthesia. The purpose of this study was to determine the picture of hypotension events in the elderly who received spinal anesthesia techniques at the Central Surgical Installation of Cilacap Hospital. The design of this study is quantitative descriptive with sampling using convenience sampling techniques. The study was conducted in June 2023. The sample of this study was elderly >60 years old totaling 52 respondents. The results of this study showed the incidence of hypotension as many as 38 respondents (67.3%) and not hypotension 17 respondents (32.7%). This study shows that the elderly are one of the factors in the incidence of post-spinal anesthesia hypotension.
Usability and Acceptability of a Co-Designed Menstruation Tracker App for Indonesian Adolescent Girls Arlyana Hikmanti; Martyarini Budi Setyawati
Journal of Advanced Health Informatics Research Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Peneliti Teknologi Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59247/jahir.v4i1.407

Abstract

Background: Many adolescent girls experience limited access to accurate and age-appropriate menstrual health information, which may contribute to anxiety, stigma, and suboptimal menstrual hygiene practices. Existing menstrual tracking applications are often designed for adult users and may not address adolescent needs in local cultural contexts. Objective: This study evaluated the perceived usability and acceptability of Srikandi Sehat, a co-designed menstruation tracker application for Indonesian adolescent girls. Method: A prospective usability evaluation was conducted among 151 adolescent girls aged 13-18 years who used the application during three menstrual cycles. The application was developed through a co-design process involving adolescent users and health workers. Data were collected using electronic questionnaires on menstrual knowledge, technology-related attitudes, and application usability. Descriptive statistics and Spearman correlation analyses were used because knowledge and usability scores were not normally distributed. Results: The modified usability scale showed a mean total score of 133.35 out of 160 (SD 19.72), indicating favorable perceived usability within the scoring framework used in this study. Participants reported that the application was easy to navigate, visually understandable, age-appropriate, and useful for recording menstrual cycles and symptoms. Attitude toward menstrual health showed a stronger association with usability (rho approximately 0.53, p < 0.001) than knowledge (rho approximately 0.21, p = 0.010). These findings indicate association rather than causation. Conclusion: Srikandi Sehat was perceived as usable and acceptable by participating adolescent girls. Further studies should validate the adapted instruments, include objective usage analytics, and evaluate educational or behavioral outcomes using controlled and longer-term designs.
Monitoring Skala Nyeri Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Di RST TK.III 04.06.01 Wijayakusuma Shayuqi Aziz; Martyarini Budi Setyawati; Made Suandika
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1284

Abstract

Nyeri pasca operasi sectio caesarea merupakan salah satu masalah yang sering dialami pasien setelah tindakan pembedahan dan dapat menghambat proses pemulihan apabila tidak dilakukan pemantauan secara berkala. Monitoring nyeri menggunakan instrumen yang terstandar penting dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan kondisi pasien serta menentukan intervensi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan monitoring skala nyeri pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi di RST TK.III 04.06.01 Wijayakusuma. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian berjumlah 69 pasien post sectio caesarea dengan teknik total sampling sehingga seluruh populasi dijadikan sampel. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) pada 4 jam, 12 jam, dan 24 jam pasca operasi. Analisis data menggunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi, persentase, serta nilai rerata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 26–35 tahun (65,2%), memiliki status G1P0A0 (29,0%), berpendidikan SMA (60,9%), dan seluruhnya menggunakan Regivel Bupivacaine sebagai obat spinal anestesi. Rata-rata skala nyeri mengalami penurunan dari 5,09 pada 4 jam pasca operasi menjadi 3,90 pada 12 jam dan 2,19 pada 24 jam pasca operasi. Hasil tersebut menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri secara bertahap selama masa observasi, sehingga monitoring nyeri secara berkala menggunakan NRS dapat membantu mengevaluasi kondisi pasien dan mendukung efektivitas manajemen nyeri pada pasien post sectio caesarea dengan spinal anestesi.