Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Keefektifan Forced Air Warming Untuk Pencegahan Hipotermia Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea: Systematic Review Dian Nur Faizah; Vanessa Febri Meliana; Martyarini Budi Setyawati; Rahmaya Nova Handayani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.725

Abstract

Studi Systematic Review ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka operasi caesarean secara global, yang mencapai 21% dari total kelahiran menurut data WHO, dan di Indonesia sekitar 17–17,6%. Pasien yang menjalani operasi caesarean berisiko mengalami hipotermia, yang didefinisikan sebagai penurunan suhu inti tubuh di bawah 36°C. Faktor utama yang menyebabkan hipotermia meliputi efek anestesi, cairan infus yang tidak dipanaskan, paparan ruang operasi yang dingin, dan terbukanya rongga tubuh selama prosedur bedah. Hipotermia ini meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, perdarahan, infeksi, serta menurunkan kenyamanan dan kepuasan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas Forced Air Warming (FAW) dalam mencegah dan mengatasi hipotermia pada pasien post operasi sectio caesarea. Metode yang digunakan adalah systematic review berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan menggunakan basis data PubMed, Scopus, dan ProQuest, dengan batasan tahun publikasi 2019–2024 dan hanya studi berbahasa Inggris. Setelah proses screening dan penilaian kelayakan metodologi, diperoleh 7 artikel yang memenuhi kriteria untuk disertakan dalam sintesis data. Hasil sintesis menunjukkan bahwa Forced Air Warming (FAW) secara signifikan meningkatkan suhu inti maternal, mengurangi frekuensi shivering, dan meningkatkan kenyamanan termal. Mayoritas studi yang dianalisis merupakan Randomized Controlled Trials (RCT) yang memberikan bukti kausal yang kuat, sementara beberapa studi menggunakan desain kohort retrospektif untuk memberikan perspektif real-world. Analisis statistik yang digunakan meliputi uji t, Chi-kuadrat, ANOVA, dan model mixed-effects, dengan hasil yang menunjukkan p < 0,05 sebagai bukti perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulannya, Forced Air Warming terbukti efektif dalam manajemen hipotermia perioperatif pasien caesarean, dan dapat diintegrasikan sebagai bagian dari protokol standar untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien.
Gambaran Perilaku Caring Penata Anestesi Terhadap Pasien Dengan Tindakan Sectio Caesaria Di Rsud Lapangan Sawang Feryfiks Efa Manihing; Rahmaya Nova Handayani; Martyarini Budi
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.219

Abstract

Persalinan dengan Tindakan Sectio Caesarea (SC) semakin meningkat dalam 20 tahun terakhir, namun memiliki resiko komplikasi yang lebih tinggi dibanding dengan persalinan normal. Salah satu factor penting dalam menurunkan kecemasan pasien pre operasi adalah perilaku caring dari penata anestesi. Caring yang ditunjukan melalui kehadiran, komunikasi, penjelasan, dan empati, serta pemberian rasa aman dan nyaman dapat meningkatkan kepercayaan diri serta kesiapan pasien menghadapi operasi. Tujuan: Mengetahui gambaran perilaku caring penata anestesi terhadap pasien section caesarea di RSUD Lapangan Sawang. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan tekhnik purposive sampling pada 30 pasien section caesarea. Instrument yang digunakan berupa kuesioner perilaku caring berdasarkan teori Jean Watson (11 item, skala likert 1-5) serta observasi langsung. Data dianalisa secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, presentase, mean, median, modus dan standar deviasi. Hasil: Rerata total skor caring penata anestesi adalah 3,28 (kategori tinggi). Dimensi dengan skor tertinggi adalah rasa aman dan nyaman (mean 3,5) sedangkan dimensi terendah adalah penjelasan dan informasi (mean 3,0). Distribusi kategori menunjukan bahwa 26 pasien (86,7%) menilai caring penata anestesi pada kategori tinggi, 4 pasien (13,3%) kategori sedang dan tidak ada yang menilai rendah. Kesimpulan: Perilaku caring penata anestesi di RSUD Lapangan Sawang dinilai sudah optimal dan Sebagian besar pasien, khususnya dalam aspek memberikan rasa aman dan nyaman. Namun, aspek penjelasan dan informasi masih perlu ditingkatkan agar pasien memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai prosedur operasi dan anestesi.