Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMERIKSAAN DNA BAG1 TOXOPLASMA GONDII DALAM ORGAN HATI AYAM KAMPUNG DI PASAR DI SURABAYA Kusuma, Irwin Prijatna; Adrianto, Hebert; Agung, Purwakaning Purnomo; Yuwono, Victor Kurniawan; Handari, Saskia Dyah; Dion, Aldy; Nidom, Astria Novitasari
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.44155

Abstract

Manusia dapat terinfeksi oleh T. gondii terutama melalui konsumsi daging mentah/setengah matang yang mengandung kista jaringan T. gondii atau melalui konsumsi makanan dan/atau air yang terkontaminasi ookista. Ayam yang terinfeksi T. gondii dapat berpotensi menularkan T. gondii ke manusia melalui konsumsi daging. Penelitian ini memiliki tujuan melakukan pemeriksaan DNA BAG1 T. gondii dalam organ hati ayam kampung yang diperoleh dari pasar di Surabaya Barat. Metode penelitian dilakukan secara obrservasional di laboratorium. Organ hati ayam kampung diambil dari beberapa pasar tradisional di Surabaya Barat secara kuota sampling. Organ hati dianalisis menggunakan Polymerase chain reaction (PCR) dengan gen BAG1. Panjang produk PCR gen BAG1 adalah 470 bp. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dengan kategori kategori positif dan hasil negatif. Hasil pemeriksaan keberadaan parasit T. gondii dalam organ hati ayam kampung di Surabaya Barat melalui gen BAG1 adalah 50% sampel positif dan 50% sampel negatif. Perlu upaya skrining ayam yang dijual kepada konsumen dan penerapan PCR menggunakan gen BAG1 T. gondii dapat menjadi langkah awal untuk mencegah penyebaran infeksi toksoplasmosis kepada manusia.
Classification of Liver Cirrhosis Stages Using Gradient Boosting Classifier and Stratified K-Fold Cross Validation Purwakaning Purnomo Agung; Paul L Tahalele
Journal of Artificial Intelligence and Software Engineering Vol 6, No 2 (2026): Juni (OnProgress)
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jaise.v6i2.9157

Abstract

Sirosis hati merupakan manifestasi fibrosis lanjut yang berkontribusi signifikan terhadap mortalitas global. Stratifikasi stadium secara dini melalui intervensi komputasional menjadi krusial dalam menjustifikasi keputusan klinis secara non-invasif. Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan model klasifikasi stadium sirosis menggunakan Gradient Boosting Classifier (GBC) yang diintegrasikan dengan Stratified K-Fold Cross Validation. Dataset bersumber dari uji klinis Primary Biliary Cirrhosis (PBC) Mayo Clinic yang mencakup 418 rekam medis dan 16 fitur klinis. Protokol penelitian meliputi imputasi statistik, analisis fitur, dan binarisasi target antara stadium lanjut (Stage 4) serta kategori non-lanjut. Performa GBC dibandingkan dengan Logistic Regression dan Random Forest melalui skema validasi yang ketat. Hasil menunjukkan efektivitas GBC dengan raihan akurasi 93,55% dan AUC 0,9974, melampaui performa berbagai kerangka kerja deep learning dan ensemble terbaru dalam literatur. Analisis feature importance mengonfirmasi bahwa kadar Bilirubin, Copper, Albumin, dan Prothrombin merupakan prediktor dominan dalam menentukan progresivitas penyakit. Integrasi machine learning berbasis biomarker klinis ini terbukti mampu memberikan dukungan diagnostik dengan fidelitas tinggi serta menawarkan stabilitas prediksi yang lebih unggul bagi manajemen klinis sirosis hati.
Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa SMA terhadap Kesehatan Reproduksi setelah Edukasi Kesehatan Seksual di SMA Karang Turi Semarang Denys Putra Alim; Gladys Adipranoto; Rosalyn Devina Santoso; Dhea Medisika Hertanti; Debby Victoria Arief; Purwakaning Purnomo Agung
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.72-83

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi akibat keterbatasan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang tepat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa terhadap kesehatan reproduksi setelah diberikan edukasi kesehatan seksual di SMA Karang Turi Semarang. Pengabdian masyarakat ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan one post-test only. Responden berjumlah 70 siswa, terdiri dari 35 siswa laki-laki dan 35 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan reproduksi. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden berada pada kategori sedang hingga baik dengan nilai rerata 65,71 dan median 70, meskipun masih ditemukan miskonsepsi terkait penularan HIV dan rendahnya pengetahuan mengenai vaksinasi HPV. Sikap responden terhadap kesehatan reproduksi secara umum menunjukkan kecenderungan positif, terutama pada pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi dan pendidikan seksual sejak remaja. Namun demikian, perilaku pencegahan kesehatan reproduksi belum sepenuhnya optimal, terutama pada penggunaan kondom dan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin. Kesimpulannya, edukasi kesehatan seksual memberikan gambaran bahwa siswa memiliki pengetahuan yang cukup baik dan sikap yang positif, namun belum sepenuhnya diikuti oleh perilaku yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan edukasi kesehatan seksual yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mendorong perubahan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja.Adolescents are a vulnerable age group to reproductive health problems due to limited knowledge, attitudes, and appropriate behaviors. This community service activity aimed to describe students’ knowledge, attitudes, and behaviors regarding reproductive health after receiving sexual health education at SMA Karang Turi Semarang. This activity used a descriptive design with a one post-test only approach. A total of 70 students participated, consisting of 35 male and 35 female students. Data were collected using a questionnaire covering aspects of knowledge, attitudes, and reproductive health behaviors. The results showed that the respondents’ level of knowledge ranged from moderate to good, with a mean score of 65.71 and a median of 70. However, misconceptions regarding HIV transmission and low awareness of HPV vaccination were still identified. Overall, students’ attitudes toward reproductive health were generally positive, particularly regarding the importance of maintaining reproductive organ hygiene and the need for sexual education from adolescence. Nevertheless, preventive reproductive health behaviors were not yet optimal, especially in terms of condom use and routine reproductive health check-ups. In conclusion, sexual health education provides an overview that students have fairly good knowledge and positive attitudes; however, these are not yet fully reflected in optimal behaviors. Therefore, more comprehensive and sustainable sexual health education is needed to promote behavioral changes in adolescent reproductive health.
Enterocutaneous fistula et cause abdominal tuberculosis in community: An emergency diagnosis challenge Siusanto Hadi; Pieter David Adriaan Ferdinandus; Minarni Wartiningsih; Billy Daniel Messakh; Purwakaning Purnomo Agung; Cempaka Harsa Sekarputri; Vincent Aurelius Gonaldy
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 7 No. 11 (2025): Volume 7 Number 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v7i11.627

Abstract

Background: A fistula is defined as an abnormal connection that connects two hollow spaces of the body. Fistula are divided into two categories, internal and external. Abdominal TB can mimicks other diseases including Enterocutaneous fistula that occur due to chron’s disease, malignancy, typhoid or radiation exposure. Tuberculosis is a rare cause of enterocutaneous fistula increasing the needs of clinicians to diagnose TB in an emergency manner. Purpose: To assess clinical manifestation of enterocutaneous fistula in patient with abdominal tuberculosis, and to determine the best emergency diagnosis tools in the progress of diagnosing abdominal tuberculosis. Method: This literature review is guided by the PICOS framework, encompassing materials published from 2000 to 2024. Data were obtained from diverse sources such as PubMed Central, Google Scholar, Science Direct, Elsevier (SCOPUS), scientific journals, articles, and books. The analysis proceeded through three stages: data reduction, presentation, and formulation of conclusions. Studies fulfilling the inclusions criteria were selected. Results: Patient with TB could have enterocutaenous fistula as one of its clinical manifestations, therefore. This study concludes that multiplex PCR shows an outstanding result for its specificity making it highly effective in ruling out non-tubercular diseases with minimum false positive. Conclusion: Enterocutaneous fistula in intestinal tuberculosis often presents without clear thoracic imaging of pulmonary TB, complicating diagnosis. Abdominal TB's non-specific symptoms can mimic other diseases, making CT scans and ultrasonography useful, though not definitive. Laparoscopy, combined with histological examination, remains the most reliable diagnostic tool. Laboratory tests like ADA levels, PCR, and culture are essential in confirming the diagnosis. A diagnostic algorithm and early anti-tubercular therapy can help when test results are inconclusive.