Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Skrining Fitokimia Dan Uji Daya Hambat Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Dan Kulit Batang Pohon Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) Terhadap Escherichia coli ATCC 25922 Dan Bacillus subtilis ATCC 6633 Yessica Nadeak; Risky Hadi Wibowo; Oky Hermansyah; Dwi Kurnia Putri; Afifah Fauziyyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1255

Abstract

Daun dan kulit batang angsana (Pterocarpus indicus Willd.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun dan kulit batang angsana dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis, serta mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak daun dan kulit batang angsana. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi 3,25%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 75% dengan kontrol positif Ciprofloxacin dan kontrol negatif DMSO 10%. Hasil uji menunjukkan ekstrak daun dan kulit batang angsana mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan B. subtilis. Konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli terdapat pada ekstrak daun pada konsentrasi 75% dengan zona hambat 10,76 mm katagori kuat dan pada B. subtilis yang paling efektif terdapat pada ekstrak kulit batang kosentrasi 75% dengan zona hambat 11,23 mm katagori kuat. Hasil analisis statistik dilakukan dengan uji analisis non-parametrik Kruskal-Wallis yang menunjukkan nilai signifikansi p<0,05 yang berarti terdapat pengaruh nyata variasi konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun dan kulit batang angsana berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Escherichia coli.
Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Batang dan Akar Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) Dalam Menghambat Pertumbuhan Escherichia coli ATCC 25922 dan Bacillus subtilis ATCC 6633 Siti Nurhaliza; Risky Hadi Wibowo; Dwi Kurnia Putri; Oky Hermansyah; Afifah Fauziyyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1258

Abstract

Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) merupakan tumbuhan mangrove yang mengandung metabolit sekunder dan digunakan sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak etanol batang dan akar jeruju dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli ATCC 25922 dan B. subtilis ATCC 6633, serta mengetahui kandungan metabolit sekunder pada ekstrak batang dan akar jeruju. Pembuatan ekstrak dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pengujian efektivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan variasi konsentrasi 3,25%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 75%, dengan 8 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang dan akar jeruju mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, dan triterpenoid. Ekstrak batang dan akar jeruju efektif menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan B. subtilis. Konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli terdapat pada ekstrak batang jeruju pada konsentrasi 75% dengan zona hambat 7,35 mm (kategori sedang), sedangkan pada bakteri B. subtilis yang paling efektif terdapat pada ekstrak akar jeruju pada konsentrasi 75% dengan zona hambat 3,96 mm (kategori lemah). Hasil analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi p<0,05 yang berarti terdapat pengaruh nyata variasi konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol batang dan akar jeruju memiliki efektivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli dan B. subtilis.
Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Lingkar Timur Cindy Ramadhona; Maria Eka Patri Yulianti; M. Farid; Dwi Kurnia Putri; Afifah Fauziyyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1305

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan global karena dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Salah satu faktor yang berperan penting dalam pengendalian tekanan darah adalah kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Lingkar Timur. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 102 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (66,7%), berusia 41–50 tahun (28,4%), menderita hipertensi selama 1 tahun (29,4%), berpendidikan SD (49,0%), dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (47,1%). Tingkat kepatuhan minum obat sebagian besar berada pada kategori tinggi (43,1%), sedangkan tekanan darah responden didominasi kategori hipertensi ringan (54,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value < 0,001 (α = 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. Semakin tinggi tingkat kepatuhan minum obat, semakin baik kontrol tekanan darah yang dicapai oleh pasien.
Analysis of adverse drug reactions in remdesivir therapy using the Naranjo Algorithm Afifah Fauziyyah; Rani Sauriasari; Ratika Rahmasari; Hindun Wilda Risni; Puji Astuti
Indonesian Journal of Health Science Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v6i1.2049

Abstract

Research on the safety of remdesivir in Indonesian subjects for COVID-19 therapy is still limited and has yielded different results. None of these studies have used the Naranjo algorithm to analyze the causality of remdesivir safety. This study aimed to evaluate the safety of remdesivir in patients with severe COVID-19. Data were collected using medical records of patients with severe COVID-19 at Cengkareng Regional Hospital, Indonesia. The study was conducted retrospectively with a cohort study design. Subjects consisted of the remdesivir group (n=80) and the non-remdesivir group (n=80). Adverse drug reactions (ADRs) were observed, and causality analysis of ADRs was performed using the Naranjo algorithm. The study found 10 ADRs experienced by patients during treatment. ADRs were more common in the remdesivir group than in the non-remdesivir group (58.8% vs 53.8%; p=0.633). Significant events with a high proportion in the remdesivir group were increased ALT (p=0.037) and lymphopenia (p=0.01). Hepatotoxic reactions associated with remdesivir use were associated with P-glycoprotein (P-gp) inhibitor interactions. Decreased lymphocyte counts were closely related to the clinical condition of the study subjects, namely patients with severe COVID-19, and this condition was associated with a poor prognosis. Increased blood triglycerides, lymphopenia, and decreased estimated glomerular filtration rate (eGFR) were categorized as probable. Meanwhile, nausea, melena, QT interval prolongation, increased ALT, increased AST, hyperuricemia, and neutrophilia were categorized as quite possible. The results of this study can be concluded that remdesivir causes liver dysfunction manifested by increased ALT values ​​and decreased lymphocyte counts, which worsen the condition of patients with severe COVID-19.