Fevi Padhila
Universitas Bina Bangsa

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Hydrotherapy dengan Campuran Garam terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Ade Komariah; Riki Ukhtul Fitri; Rastia Ningsih; Fevi Padhila; Rachmad Aprilio; Nova Listya Wahananingtyas
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.8

Abstract

Hipertensi atau yang di kenal dengan istilah the silent killer merupakan penyakit yang mematikan, penyakit ini dapat menyerang siapa saja. Hipertensi biasa di sebabkan oleh kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. Hipertensi merupakan keadaan perubahan dimana tekanan darah meningkat secara kronis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hydrotherapy dengan campuran garam terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi desa kubangsari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen dengan desain pra eksprement dengan rancangan one group pretest posttest. Penelitian ini tidak memiliki kelompok pembandingan (kontrol), tetapi terlebih dahulu dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan menguji perubahan - perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program) yang di lakukan selama 1 minggu dengan frekuensi pemberian intervensi 1x sehari. Pengumpulan data dilakukan denggan mengukukur tekanan darah menggunakan alat tensimeter dan data di uji menggunakan uji Wilcoxon (Signed Ranks Test).Hasil penelitian di ketahui hydrotherapy dengan campuran garam dijelaskan bahwa dua puluh responden setelah dilakukan rendam kaki dengan campuran garam mengalami penurunan tekanan darah dengan presentase 100%. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh hydrotherapy dengan campuran garam di desa kubangsari.
Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif Reni Muhka; Sari Wulan Asih; Risnadhia Risnadhia; Fevi Padhila; Marista Fiana
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.19

Abstract

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif tanpa makanan atau minuman lain selama enam bulan pertama kehidupan sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi. Namun, di berbagai daerah, termasuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tingkat pemberian ASI eksklusif masih belum sesuai dengan target yang diharapkan. Salah satu faktor yang diduga berhubungan erat dengan praktik pemberian ASI eksklusif adalah tingkat pendidikan ibu. Studi ini bertujuan untuk menilai hubungan antara pendidikan ibu dan praktik memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang berumur di bawah enam bulan di area Puskesmas Jetis, Yogyakarta. Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel yang digunakan terdiri dari 30 ibu yang memiliki anak berusia antara 0 hingga 24 bulan, dan pemilihannya dilakukan dengan purposive sampling. Pendidikan ibu ditetapkan sebagai variabel independen, sementara praktik pemberian ASI eksklusif berfungsi sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Kuesioner berisi pertanyaan tentang tingkat pendidikan ibu dan pola pemberian ASI eksklusif pada bayi. Pengolahan data dilakukan dengan uji statistik chi-square. Sebagian besar responden memiliki gelar sarjana (63,3%), dan sekitar 70% dari mereka memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif (p = 0,0036). Ibu yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, khususnya yang lulus dari perguruan tinggi, cenderung lebih sering memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang memiliki pendidikan menengah atau kurang. Tingkat pendidikan ibu memiliki hubungan yang signifikan terhadap praktik pemberian ASI eksklusif. Semakin tinggi pendidikan ibu, semakin besar kemungkinan pemberian ASI eksklusif dilakukan.
Manajemen Perawatan Pasien Diabetes Mellitus dengan Resiko Neuropati Perifer : A Case Study Fevi Padhila; Nova Listya Wahananingtyas; Reni Muhka; Risnadhia Risnadhia; Rachmad Aprilio
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 1 (2026): Februari 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i1.1388

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia sehingga menyebabkan neuropati perifer. Neuropati perifer ditandai dengan penurunan sensasi protektif pada ekstremitas bawah sehingga meningkatkan gangguan integritas kulit, ulkus diabetik, hingga amputasi. Menurut WHO, jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia diperkirakan akan melebihi 21 juta jiwa pada tahun 2030. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan risiko neuropati perifer dalam upaya mencegah cedera dan mempertahankan integritas kulit. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan. Subjek penelitian adalah seorang pasien laki-laki berusia 58 tahun dengan diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 dan risiko neuropati perifer. Pengumpulan data didapatkan dengan menerapkan prinsip etik tindakan keperawatan yaitu confidentiality dengan anamnesa, klasifikasi data, perencanaan, implemantasi, observasi, dan dokumentasi. Hasil Interevensi pemeriksaan tes monofilamen pad Tn. A menunjukkan penurunan sensasi pada 4 dari 10 titik, mengindikasikan gangguan fungsi saraf perifer. Hiperglikemia yang tidak terkontrol (GDS 265 mg/dL dan HbA1c 9,2%) menjadi faktor terjadinya kerusakan saraf. Pasien menunjukkan perilaku manajemen kesehatan yang tidak efektif.
Perbandingan Lama Rawat Inap Pasien di Rumah Sakit Syariah dan Non Syariah Risnadhia Risnadhia; Reni Muhka; Fevi Padhila; Rachmad Aprilio; Nova Listya Wahananingtyas
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 1 (2026): Februari 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i1.1482

Abstract

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang bergerak dibidang kesehatan perorangan. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama islam. Hal ini menyebabkan meningkatnya pertumbuhan Rumah Sakit Islam meningkat. Dengan adanya peningkatan tersebut maka MUI membentuk fatwa terkait Rumah Sakit Islam Syariah pada fatwa MUI No 107/DSNMUI/X/2016 yang mengatur tentang syarat dan kriteria Rumah Sakit Islam Syariah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingan Lama rawat inap pasien di Rumah Sakit Islam Syariah dan Non Syariah. Penelitian ini adalah penelitian kuantitative deskriptif. Responden penelitian adalah data Rekam Medis pasien dengan diagnosis appenditomi di Rumah Sakit Syariah dan Non Syariah pada tahun 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu rekam medis di rumah sakit syariah dan non syariah pada tahun 2019. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis Univariat untuk melihat lama rawat inap pasien dan Analisis bivariat dilakukan dengan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan uji kolmogorov-smirnov dengan hasil nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) yang dapat diartikan data tidak terdistribusi normal dan Uji homogenitas menggunakan uji levene dengan hasil signifikansi 0,118 (p>0,05) yang berarti data homogen. Dari hasil uji normalitas dan uji homogenitas maka uji yang digunakan adalah uji Mann Whitney test. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik responden di kedua Rumah Sakit perempuan dengan mayoritas kelas III dengan rata rata lama rawat inap selama 2.31 dan 2.51. Berdasarkan uji mannwhitney beda mean kedua rumah sakit adalah 0.2 dengan nilai pvalue sebesar 0.29. Apabila dilihat dari beda mean maka Rumah Sakit Syariah cenderung lebih cepat dalam proses penyembuhan. Namun apabila dilihat dari uji mann-whitney maka tidak ada nilai yang signifikan antara lama rawat inap di Rumah Sakit Syariah dan Non Syariah.
Comparison of the Effectiveness of Octenidine Dihydrochloride and Povidone-Iodine Antiseptics on Post-Circumcision Wound Healing Time Muhammad Ardi Putrawardana; Ketut Holifah; Muhammad Alghifari Budiman; Fevi Padhila; Ratna Esmayanti; Herry Octa Winarto
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i1.1729

Abstract

Circumcision is a minor surgical procedure that results in an acute incision wound and requires optimal care to prevent infection and accelerate epithelialization. Povidone-iodine has long been used as a standard antiseptic, but has been reported to have potential cytotoxicity against fibroblast cells. Octenidine dihydrochloride is an alternative antiseptic with high antimicrobial efficacy and better biocompatibility. This study aims to compare the effectiveness of both antiseptics on post-circumcision wound healing time. The study used a prospective parallel randomized controlled trial (RCT) design at the Darul Khitan Clinic in Bogor City with 34 pediatric patients randomized into two groups (n = 17). The intervention group received octenidine dihydrochloride, while the control group received povidone-iodine. Wound healing was assessed on days 3 and 7 using the WINNER Scale. Data were collected through direct observation and wound assessment by trained healthcare personnel using a standardized observation form. The data were analyzed using an independent t-test (p<0.05). The results showed that the mean wound healing score of the octenidine group was higher than that of povidone-iodine (9.59±1.37 vs 7.29±1.96) with a significant difference (p<0.001; 95% CI -3.482 to -1.106). It was concluded that octenidine dihydrochloride was more effective in accelerating post-circumcision wound healing than povidone-iodine and could be considered as a more optimal antiseptic choice in clinical practice.