Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pelatihan Teknik Komunikasi Total bagi Guru dan Orang Tua dalam Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunagrahita Ringan di SLBN Pembina Kupang Markus Sampe; Rista Apriliya Devi
Jurnal Abdi Masyarakat dan Pemberdayaan Inovatif Vol 1 No 2 (2025)
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/jampi.v1i2.216

Abstract

The language skills of children with mild intellectual disabilities often experience obstacles due to limitations in intellectual function and social adaptation. One approach that can help the communication process of children with mild intellectual disabilities is the total communication technique, which is a method that combines various forms of communication such as verbal, nonverbal, sign language, visual, and body language. This community service activity aims to improve the understanding and skills of teachers and parents in implementing total communication techniques to support the language development of children with mild intellectual disabilities at SLBN Pembina Kupang. This activity was carried out for three days and involved 15 teachers and 20 parents of students. The implementation method included interactive lectures, demonstrations of total communication techniques, practical simulations in the context of everyday life, as well as mentoring and evaluation sessions. The results of the activity showed an increase in the average understanding of participants from 56% to 85% based on the pretest and posttest. In addition, participants showed better practical skills in using simple sign language, facial expressions, and visual aids. Teachers felt more confident in delivering lessons to students, while parents felt more able to establish meaningful communication with their children. This activity has a positive impact and can be replicated in other schools with similar conditions
Pendampingan Guru SD dalam Mengembangkan Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Literasi Kritis di UPTD SDI Sikumana 3 Markus Sampe; Taty R. Koroh; Habibi Musa; Monica Bellandina Abolla
Jurnal Abdi Masyarakat dan Pemberdayaan Inovatif Vol 2 No 1 (2026)
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/jampi.v2i1.560

Abstract

Indonesian language learning in elementary schools aims not only to improve reading and writing skills but also to foster critical thinking and in-depth literacy skills. Critical literacy enables students to systematically analyze, evaluate, and express opinions based on the texts they read. This study aims to assist teachers at SDI Sikumana 3 in developing critical literacy-based Indonesian language learning to improve the quality of teaching and students' literacy skills. The method used was Community Service (PkM) with a participatory approach. Activities were carried out through workshops, direct classroom mentoring, and evaluation of learning planning and implementation. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed descriptively qualitatively. The results of the activities showed an increase in teachers' understanding of the concept of critical literacy, their ability to design literacy-based learning activities, and the application of critical reading and reflective writing strategies in the classroom. Teachers were able to facilitate students' questions, analyze information, and express opinions in writing and orally. This activity also encouraged the creation of a literacy culture in schools, including the use of storybooks, digital media, and group discussions. Based on these findings, critical literacy-based teacher mentoring effectively improves the quality of Indonesian language learning at the elementary school level. Recommendations from this activity include the need for sustainable programs, school management support, and the integration of critical literacy into the elementary school curriculum to ensure more contextual, critical, and creative learning.
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL ROLE PLAY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TENTANG STRUKTUR CERITA DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V UPTD SD INPRES LILIBA Sonia Adelin Ludji; Fembriani Fembriani; Markus Sampe; Labu Djuli
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 2 (2026): Vol. 6 No. 2 Edisi Mei 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i2.4750

Abstract

Penelitian dengan judul “Pengaruh Penggunaan Model Role play Terhadap Hasil Belajar Siswa Tentang Struktur Cerita Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V UPTD SD Inpres Liliba ”, dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa dalam memahami struktur cerita siswa kelas V UPTD SD Inpres Liliba, yang disebabkan oleh pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan kurang melibatkan keaktifan siswa. Hal ini berdampak pada rendahnya pemahaman siswa terhadap unsur unsur cerita serta kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari model pembelajaran role play terhadap hasil belajar siswa pada materi struktur cerita. Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dengan desain pre-experimental berbentuk one group pretest- posttest design. Subjek penelitian adalah siswa kelas V UPTD SD Inpres Liliba yang berjumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes (pretest dan posttest), observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran role playing mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara efektif. Pada tahap awal (pretest), nilai rata-rata siswa masih berada pada angka 71,29 kemudian mengalami peningkatan pada tahap posttest menjadi 83,21 Hal ini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan setelah diberikan perlakuan. Berdasarkan hasil uji hipotesis, signifikansi sebesar 0,001 < 0,05, H0 ditolak dan Ha diterima.
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA PADA SISWA SEKOLAH DASAR. Markus Sampe; Maxsel Koro; Jimy Dethan; Marchel Riwu; Kurniayu T.R.A Ratu; Ernawati Therik
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15230

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran diferensiasi berbasis kebutuhan siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pelayanan pendidikan yang mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan, minat, gaya belajar, dan kebutuhan peserta didik dalam lingkungan sekolah inklusif. Pembelajaran diferensiasi menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu guru menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, aktif, dan berpusat pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian meliputi guru dan siswa pada sekolah dasar inklusif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran diferensiasi berbasis kebutuhan siswa mampu meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan belajar, terciptanya suasana pembelajaran yang lebih kondusif, meningkatnya interaksi antara guru dan siswa, serta adanya penyesuaian strategi pembelajaran sesuai kebutuhan individu siswa. Guru memberikan variasi dalam materi, metode, media, dan penilaian sehingga seluruh siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus, dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran diferensiasi berbasis kebutuhan siswa memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran inklusif di sekolah. Oleh karena itu, guru disarankan untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi secara berkelanjutan agar kebutuhan belajar setiap siswa dapat terpenuhi dengan baik.
MODEL PEMBELAJARAN DIFERENSIASI BERBASIS KEBUTUHAN SISWA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN INKLUSIF Markus Sampe; Maxsel Koro; Jimy Dethan; Marchel Riwu; Kurniayu T.R.A Ratu; Ernawati Therik
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran diferensiasi berbasis kebutuhan siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pelayanan pendidikan yang mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan, minat, gaya belajar, dan kebutuhan peserta didik dalam lingkungan sekolah inklusif. Pembelajaran diferensiasi menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu guru menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, aktif, dan berpusat pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian meliputi guru dan siswa pada sekolah dasar inklusif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran diferensiasi berbasis kebutuhan siswa mampu meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan belajar, terciptanya suasana pembelajaran yang lebih kondusif, meningkatnya interaksi antara guru dan siswa, serta adanya penyesuaian strategi pembelajaran sesuai kebutuhan individu siswa. Guru memberikan variasi dalam materi, metode, media, dan penilaian sehingga seluruh siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus, dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran diferensiasi berbasis kebutuhan siswa memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran inklusif di sekolah. Oleh karena itu, guru disarankan untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi secara berkelanjutan agar kebutuhan belajar setiap siswa dapat terpenuhi dengan baik.