Alya Kemala Shopianti Talipi
Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sehat Mental Dalam Berorganisasi: Psikoedukasi Burnout Dan Manajemen Waktu Bagi Siswa MAN 1 Kota Gorontalo Sri Ayu Mutmainah Kurniawati; Salahudin Liputo; Alya Kemala Shopianti Talipi; Andika Rahmad Saputra; Elsya Salsabila Lahati; Fahkriyanto Babunga; Mohammad Rifki Gani; Siti Nurhalisa Ntuu; Mohammmad Rizky Lumani
Jurnal Pengabdian Masyarakat IPTEKS Vol. 11 No. 2 (2025): PENGABDIAN MASYARAKAT IPTEKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kesehatan mental siswa pengurus organisasi di MAN 1 Kota Gorontalo melalui psikoedukasi burnout dan manajemen waktu. Siswa yang aktif dalam organisasi sekolah menghadapi tuntutan ganda antara akademik dan keorganisasian yang berpotensi menimbulkan kelelahan fisik maupun mental. Metode pelaksanaan kegiatan terdiri atas tiga tahap, yaitu persiapan melalui observasi dan wawancara, pelaksanaan psikoedukasi menggunakan ceramah interaktif, diskusi, studi kasus, dan ice breaking, serta evaluasi melalui refleksi dan pengamatan partisipasi siswa. Materi yang diberikan meliputi pemahaman burnout, faktor penyebab dan dampaknya, serta keterampilan praktis dalam manajemen waktu dan strategi coping stres. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa merespon kegiatan dengan antusias dan mengalami peningkatan pemahaman mengenai burnout serta pentingnya pengelolaan waktu yang efektif. Siswa juga mulai menyadari pentingnya keseimbangan antara kegiatan akademik, organisasi, dan kehidupan personal. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam mencegah burnout serta mendukung terciptanya lingkungan organisasi siswa yang lebih sehat dan berkelanjutan.
PERBANDINGAN PERSEPSI POLA ASUH PADA MAHASISWA GORONTALO DAN SULAWESI UTARA Zulkarnain Antu; Fendi Ntobuo; Alya Kemala Shopianti Talipi; Elma Tiara Anwar; Elsya Salsabila Lahati; Nazla Septiani Pahrun; Putri Syakirah Wira Ibrahim; Trifani Rifai; Meysi Kiki Lay Barreto Pinto
Elsia: Jurnal Psikologi Manusia Vol 5, No 1 (2026): Vol 5, No 1 (2026): April 2026
Publisher : program studi psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parenting studies in Indonesia often treat culture as a descriptive background rather than an empirically tested context. This study compared university students’ perceptions of authoritarian, authoritative, and permissive parenting across two regional-cultural backgrounds: Gorontalo and North Sulawesi. A cross-sectional quantitative comparative design was employed. Participants were 117 first-year students at Universitas Muhammadiyah Gorontalo, comprising 82 students from Gorontalo and 35 from North Sulawesi, recruited non-probabilistically according to predefined eligibility criteria. Data were collected using an adapted four-point Likert version of the Parental Authority Questionnaire. Item analysis retained 20 of the original 29 items, and the composite score yielded a Cronbach’s alpha of .841. Group comparisons were conducted separately for each parenting dimension using independent-samples t tests, supplemented by Hedges’ g effect sizes. No evidence of group differences emerged for authoritarian parenting, t(115) = −0.189, p = .850, g = −0.038; authoritative parenting, t(115) = −1.652, p = .101, g = −0.331; or permissive parenting, t(115) = −1.146, p = .254, g = −0.230. When scores were standardized by the number of items, authoritative parenting had the highest mean endorsement in both groups. These findings indicate converging perceptions of parenting within this university sample, but they do not establish cultural equivalence. Unequal group sizes, the use of regional origin as a proxy for culture, and the absence of measurement-invariance testing limit the interpretation and generalizability of the results. Future studies should employ multisite sampling, assess cultural identification directly, and establish construct comparability before testing mean differences.