Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PEMETAAN BUDAYA DI KAWASAN PEDESAAN: STUDI KASUS DESA GIRITENGAH, BOROBUDUR Fatimah, Titin; Solikhah, Nafiah; Jayanti, Theresia Budi; Indrawati, Klara Puspa
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v2i2.3008

Abstract

Indonesia's cultural diversity is an extraordinary potential that needs to be maintained and preserved. Cultural mapping is an effort to document the cultural potential that exists in an area both urban and rural. This research focuses on the mapping process in rural areas in the Borobudur Area, one of the 10 priority tourist destinations established by the Ministry of Tourism. The tourism trend that is developing in Borobudur now is not only focused on the temple, but also to explore the surrounding villages, thus demanding the readiness of each village for the development of sustainable rural tourism. This study aims to find a cultural mapping method that is suitable for rural conditions, by doing a case study in one of the villages in the Borobudur area, which is Giritengah Village, identifying and mapping the cultural potential of the village, so that it can be used as a basis for developing sustainable village tourism planning. This study uses qualitative method with participatory approach. Data was collected through field observations, interviews with community leaders and local residents, literature studies, and Focus Group Discussions. The result of the study shows that cultural mapping in rural areas still follows the steps of standard cultural mapping procedures, however, in the implementation it was adjusted to the conditions of the local community, especially their culture and local wisdom.Keywords: cultural mapping; rural; Giritengah; Borobudur Keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia merupakan potensi luar biasa yang perlu dijaga dan dilestarikan. Pemetaan budaya merupakan salah satu upaya untuk mendokumentasikan potensi budaya yang ada di suatu tempat/kawasan baik perkotaan maupun pedesaan. Penelitian ini fokus pada proses pemetaan di kawasan pedesaan di Kawasan Borobudur, salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata. Tren wisata yang berkembang di Borobudur saat ini adalah tidak hanya fokus ke candinya, tapi mulai merambah ke desa-desa sekitarnya, sehingga menuntut kesiapan setiap desa untuk pengembangan pariwisata pedesaan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan metode pemetaan budaya yang cocok dengan kondisi pedesaan, dengan mengambil studi kasus di salah satu desa di Kawasan Borobudur yakni Desa Giritengah, mengidentifikasi dan memetakan potensi budaya yang dimiliki desa tersebut, sehingga bisa dijadikan dasar untuk penyusunan perancanaan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable village tourism planning). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan partisipatif. Perolehan data dilakukan melalui observasi lapangan, interview terhadap tokoh masyarakat dan warga setempat, studi literatur, dan Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemetaan budaya di kawasan pedesaan tetap mengikuti langkah-langkah prosedur baku pemetaan budaya, namun dalam pelaksanaan di lapangan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, terutama budaya dan kearifan lokalnya.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN ARKADE DAN IMPLEMENTASI GSB NOL DI JAKARTA BARAT Theresia Budi Jayanti; Irene Syona Darmady; Danang Priatmodjo
ATRIUM: Jurnal Arsitektur Vol. 6 No. 2 (2020): ATRIUM: Jurnal Arsitektur
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/atrium.v6i2.119

Abstract

Title: Identification of Arcade Utilization and Implementation of Zero Setbacks in West Jakarta Perda No. 1 - 2014 about Jakarta’s Zoning Regulation mentioned about guidance which control building setback, streets, and right of way; in the way to achieve well-ordered cityscape in terms of urban design and architecture. However, there are unclear statement about area characterized with arcade and zero setbacks. In actual condition, there is location dominated by zero setbacks appearance based on necessary needs. This issue trigerred visual cluttering in cityscape. Based on that condition, this study tried to understand and identify location in administrative West Jakarta area which indicate arcade and zero setbacks due to its affected aspects. Site observation and mapping used as a method to finding data and analyze the process to get overall trend and tendency. Findings about this study represent such condition wtih incontinuity pattern about arcade and zero setbacks in some area or corridor. Proposal about spatial planning in conclusion of this study role as suggestion to evaluate the regulation.
CITRA KOTA SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA KOTA JUWANA Theresia Budi Jayanti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.2062

Abstract

Juwana merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kota Juwana berada di jalur utama Pantura (Pantai Utara Jawa) menghubungkan Kota Pati dan Kota Rembang. Posisi ini dinilai strategis karena menghubungkan jalur mobilitas, transportasi serta perekonomian di wilayah Jawa sebelah Timur (Surabaya) dengan wilayah Jawa sebelah Barat (Jakarta) dan Tengah (Semarang). Disamping hal tersebut diatas, komoditas unggulan seperti hasil tangkapan ikan dari laut dan pengolahannya juga dimiliki Juwana. Industri kuningan juga merupakan faktor penggerak perekonomian di Kota Juwana. Potensi-potensi tersebut diatas tidak didukung dengan adanya identitas kota yang jelas, sehingga citra kota Juwana sebagai salah satu destinasi wisata dirasa belum kuat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui citra kota Juwana sehingga dapat digunakan sebagai strategi pengembangan wisata Kota Juwana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategy grounded theoryresearch. Pembahasan dilakukan melalui analisis potensi fisik maupun non fisik, serta analisis elemen pembentuk citra kota Juwana. Hasil yang didapat berupa citra Kota Juwana sebagai heritage city;untuk kemudian dapat digunakan sebagai strategi pengembangan Kota Juwana.
PEMBUATAN DESAIN RAMBU LALU LINTAS UNTUK MENGOPTIMALISASI PERILAKU TERTIB PENGGUNA JALAN DI TUBAGUS ANGKE, JAKARTA BARAT Margaretha Sandi; Theresia Budi Jayanti
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1284.269 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i2.7245

Abstract

Pelanggaran yang terjadi pada infrastruktur transportasi beragam, dari parkir liar kendaraan pada tepi jalan raya yang mengganggu alur pedestrian, atau perilaku pengemudi yang menghiraukan signage rambu-rambu lalu lintas, sering terjadi pada kota Jakarta. Dari berbagai ketidaktertiban lalu lintas yang terjadi dapat menimbulkan efek keberlanjutan, satu kasus diantaranya ialah perilaku pengemudi kendaraan yang cenderung berhenti pada zona zebra cross, atau bahkan sudah melewati jauh dari zona tersebut pada perhentian lampu merah. Persimpangan jalan Tubagus Angke merupakan salah satu persimpangan yang padat, banyak dilalui kendaraan berbagai jenis (angkot, mobil pribadi, sepeda, pejalan kaki, pedagang dengan gerobak, dll). Pada persimpangan Tubagus Angke ini juga banyak terjadi pelanggaran terutama di area sekitar lampu pemberhentian dan zebra cross, sehingga sering terjadi kecelakaan. Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, tim pelaksana berusaha untuk memberikan solusi dalam mengoptimalkan perilaku tertib masyarakat di perempatan jalan melalui instalasi desain optimalisasi rambu lalu lintas (khususnya zebra cross). Melalui pembuatan desain zebra cross ini, diharapkan para pengguna jalan mempunyai kesadaran akan fungsi zebra cross dan tertib terhadap lampu lalu lintas, terutama pada saat posisi berhenti di persimpangan jalan. Kegiatan pengabdian ini terbagi menjadi 2 tahapan dalam satu rangkaian kegiatan. Pada tahap perencanaan meliputi survey awal, pengukuran, penggambaran serta dokumentasi. Sehingga menghasilkan gambar kerja skalatis yang sudah disesuaikan dengan kondisi real lokasi. Tahap pelaksanaan dilaksanakan melalui pemasangan materi desain pada lokasi. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan setelah pemasangan desain zebra cross, terjadi peningkatan perilaku tertib pengguna jalan, khususnya di perempatan jalan pada saat lampu merah menyala.
DESAIN MEJA BERKEBUN UNTUK ANAK PENYANDANG CEREBRAL PALSY DI YAYASAN SAYAP IBU CABANG BANTEN Irene Syona Darmady; Theresia Budi Jayanti; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v5i2.20278

Abstract

Humans as individuals always tend to be able to meet their needs in an effort to improve the quality of their lives. However, not every individual has this ability. In “different” conditions, basic needs fulfillment to achieve a better life becomes a big challenge for people with disabilities, especially children with cerebral palsy (CP). CP children have limitations to do basic activities (eating, walking, lying down) independently. Thus children with special needs require services from the closest people or special facilities assistance. Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Banten is an inclusive care and education facility for children with special needs. In order to develop learning and therapy programs for children with special needs, YSI built an additional non-class facility called Sensory Garden. Children can do such sensory and motoric activities; for example, planting, and recognizing the texture of natural materials in the Sensory Garden. Since Sensory Garden launched, there are no additional facilities that can support children with CP and wheelchairs doing gardening activities. YSI has limitations related to design and procurement. The gardening table became a proposal from the author to support gardening in the Sensory Garden. With the existence of a gardening table, it is expected that children with special needs such as CP can perform sensory and fine motor activities such as planting, and holding objects with the help of a table; in a way to support good posture and make it easier for companions. Qualitative methods and design methods are used to propose designs and produce gardening table prototypes ABSTRAK: Manusia sebagai seorang individu senantiasa berusaha untuk mampu memenuhi kebutuhan sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Namun tidak setiap individu memiliki kemampuan tersebut. Pada kondisi yang “berbeda”, memenuhi kebutuhan guna mencapai hidup yang lebih baik menjadi suatu tantangan yang besar bagi penyandang disabilitas, khususnya anak dengan kondisi cerebral palsy (CP). Keterbatasan yang dimiliki anak CP mengakibatkan anak kesulitan melakukan aktivitas dasar (makan, berjalan, berbaring) secara mandiri sehingga digolongkan sebagai anak dengan kebutuhan khusus dan membutuhkan pelayanan dari orang terdekat maupun bantuan fasilitas khusus. Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Banten merupakan fasilitas perawatan dan pendidikan yang inklusif. Dalam rangka mengembangkan program belajar dan terapi bagi anak berkebutuhan khusus YSI membangun sebuah fasilitas tambahan non kelas berupa Kebun Sensori. Aktivitas yang dilakukan anak di Kebun Sensori umumnya berupa stimulasi sensorik dan motorik, misal menanam, mengenal tekstur material alam, dsb. Sejauh Kebun Sensori dibangun belum terdapat fasilitas tambahan yang dapat menunjang; anak-anak masih melakukan aktivitas di kursi roda. Dibutuhkan sebuah alat bantu yang dapat digunakan untuk berkebun oleh anak berkursi roda, dimana YSI mengalami keterbatasan terkait desain dan pengadaan. Meja berkebun menjadi sebuah usulan dari penulis untuk menunjang aktivitas dan menjadi perangkat penunjang di Kebun Sensori. Dengan keberadaan meja berkebun diharapkan anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti CP dapat melakukan kegiatan sensorik dan motorik halus seperti menanam, memegang obyek dengan bantuan meja; guna mendukung postur yang baik dan memudahkan pendamping. Metode kualitatif dan metode tahapan perancangan digunakan untuk mengusulkan desain dan menghasilkan prototipe meja berkebun.
PENERAPAN ASPEK HEALING ENVIRONMENT PADA DESAIN RUMAH SAKIT DARURAT BENCANA Theresia Budi Jayanti; Irene Syona Darmady
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i2.22771

Abstract

The COVID-19 pandemic is also known as worldwide epidemic disease, the public is already familiar with it. The pandemic label on a disease triggers the government to prepare plans and possibly take emergency procedures to protect society. Due to insufficient emergency procedures, so it has an impact on the capacity of hospitals, which has filled its capacity and resulted in a lack of inpatient facilities. Not only pandemic, when a natural disaster occurs, it also causes infrastructure damage in the area that experiences it, so that other alternative places are needed, such as an emergency hospital and additional inpatient rooms. Besides, patients who are affected by the disaster experience trauma and stress because of the events that occurred, which can hinder the patient's recovery. Based on this, attention to patient psychology through a healing environment aspect approach is needed, considering that patients spend more time in the inpatient rooms. This study discusses the application of healing environment to emergency mobile hospital design so that it can help accelerate patient healing. This research uses qualitative methods with case studies and variabels related to psychological and architectural aspects. The result of this research is an emergency mobile hospital design that can accelerate the patient's healing process. The design results focus on inpatient rooms with an approach of form, material, structure, color, layout and the application of healing environment aspects in the inpatient rooms. Keywords: emergency mobile hospital, healing environment, hospital facilities Abstrak Pandemi COVID-19 disebut juga sebagai wabah penyakit mendunia yang sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat. Label pandemi pada suatu penyakit memicu pemerintah untuk mengaktifkan rencana kesiapsiagaan dan mungkin mengambil prosedur darurat untuk melindungi masyarakat. Dikarenakan prosedur keadaan darurat tidak cukup, sehingga berdampak pada kapasitas rumah sakit yang sudah memenuhi kapasitasnya dan mengakibatkan kurangnya fasilitas ruang rawat inap. Tidak hanya pandemi, pada saat terjadi bencana alam juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di daerah yang mengalaminya, sehingga diperlukan tempat alternatif lainnya seperti rumah sakit darurat dan ruang rawat inap tambahan. Selain itu pasien yang terkena musibah mengalami trauma dan stress karena peristiwa yang terjadi, sehingga dapat menghambat kesembuhan pasien. Berdasarkan hal tersebut, perhatian terhadap psikologi pasien melalui pendekatan aspek healing environment sangat diperlukan. Mengingat pasien lebih banyak menghabiskan waktunya didalam ruang rawat inap. Tulisan ini membahas penerapan healing environment terhadap desain rumah sakit darurat bencana sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan pasien. Studi menggunakan metode kualitatif dengan variabel penelitian terkait aspek psikologi dan aspek arsitektur. Hasil penelitian berupa arahan aspek desain rumah sakit darurat bencana yang dapat mempercepat proses penyembuhan pasien. Arahan aspek desain berfokus pada ruang rawat inap dengan pendekatan bentuk, material, struktur, warna, organisasi ruang serta penerapan aspek healing environment pada ruang rawat inap.
AKTIVITAS KOMERSIAL SEBAGAI BENTUK ADAPTASI DAN INISIASI RUANG KEWIRAUSAHAAN DI LINGKUNGAN PERUMAHAN. STUDI KASUS: KELAPA GADING TIMUR Irene Syona Darmady; Theresia Budi Jayanti; Agnatasya Listianti Mustaram
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 1 (2024): PAWON: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/pawon.v8i1.5313

Abstract

Pertumbuhan angka penduduk yang meningkat pesat beriringan dengan pembangunan suatu wilayah. Hal ini dapat dilihat secara nyata dari pertumbuhan kota metropolitan seperti DKI Jakarta. Pembangunan suatu kota diinisiasikan oleh pemerintah maupun pengembang. Pembangunan ini difokuskan untuk memfasilitasi penduduk dan menjamin kesejahteraan penduduk. Namun, upaya pemerintah dan pengembang sendiri masih meliki kekurangan sehingga penduduk secara aktif harus mampu beradaptasi dengan dinamika pertumbuhan kota metropolitan itu sendiri. Upaya yang dilakukan penduduk secara sadar adalah dengan memanfaatkan ruang kota sebagai komoditas. Salah satu ruang yang paling sering dianggap sebagai komoditi hingga dialih fungsikan oleh penduduk adalah lahan dengan fungsi hunian. Konversi fungsi dan bercampur dengan aktivitas komersial dalam lahan yang sama kerap kali terjadi. Tanah dianggap menjadi bentuk aktualisasi diri dari ruang atau tempat yang dimanfaatkan untuk kegiatan yang memiliki nilai komersialisasi lebih tinggi. Kelapa Gading Timur merupakan objek studi nyata yang banyak mengalihfungsikan lahan hunian menjadi komersial dengan bentuk aktivitas usaha sektor makanan. Kumpulan aktivitas komersial makanan pada lahan hunian tersebut membentuk sebuah pola khusus pada ruang kota. Kini terlihat status dan perananannya menjadi sebuah aktivitas pendukung bagi perumahan di kawasan Kelapa Gading Timur. Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis aktivitas komersial sebagai hasil dari perubahan fungsi lahan hunian di kawasan Kelapa Gading Timur. Metode obsevasi lapangan, kategorisasi tipe digunakan untuk memahami kondisi dan karakteristik pola perubahan.
PENERAPAN TATA LETAK DAN SIRKULASI TERHADAP AKSESIBILITAS LANSIA PADA PANTI WERDHA DI JAKARTA BARAT Andrea Fuardi; Gloxinia Chintianto; George Nathan Lee; Theresia Budi Jayanti
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/wp86ak59

Abstract

Peningkatan populasi lansia di Indonesia menuntut perhatian serius terhadap kualitas hidup mereka, terutama dalam hal lingkungan tempat tinggal. Namun nyatanya, banyak panti werdha yang belum memperhatikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan tata letak dan sirkulasi terhadap aksesibilitas lansia di panti werdha, difokuskan pada analisis mendalam terhadap pentingnya tata letak dan sirkulasi pada aksesibilitas lansia di Wisma Sahabat Baru, Jakarta Barat. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi berbagai kendala fisik yang dihadapi lansia dalam beraktivitas sehari-hari akibat desain ruang yang kurang memadai. Data dikumpulkan menggunakan teknik observasi, survei, wawancara, dan studi literatur untuk mendapatkan konsep dan teori tentang psikologi dan arsitektur. Manfaat penelitian diharapkan menambah pengetahuan baru bagi peneliti maupun masyarakat dan sebagai masukan kepada pihak pengelola panti werdha. Hasil penelitian menemukan bahwa tata letak dan sirkulasi pada aksesibilitas lansia di Panti Wredha sangat diperlukan. Sejumlah aspek dalam tata letak dan sirkulasi yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan aksesibilitas lansia, adalah lebar lorong yang sempit, kurangnya pegangan tangan di area yang diperlukan, dan ketidaksesuaian ketinggian permukaan lantai. Kondisi-kondisi ini secara signifikan menghambat mobilitas lansia, meningkatkan risiko jatuh, dan mengurangi tingkat kemandirian mereka. Selain itu, penelitian ini juga menemukan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung interaksi sosial antar penghuni. Penelitian ini memberikan rekomendasi konkret untuk perbaikan, antara lain pelebaran lorong, penambahan pegangan tangan di sepanjang koridor dan tangga, serta penyediaan ramp yang sesuai dengan standar aksesibilitas. Dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut, diharapkan Wisma Sahabat Baru dapat menjadi contoh bagi panti werdha lainnya dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah lansia. Lebih lanjut, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang desain lingkungan yang berpusat pada pengguna, khususnya lansia.
MEWARNAI PERJALANAN MASUK: RANCANGAN ULANG KORIDOR DI TKK SANG TIMUR JAKARTA BARAT Samuel Chandra; Bryan Nathaniel; Alvina Daniella Susanto; Theresia Budi Jayanti; Harsiti
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/d12awc93

Abstract

Masa awal pertumbuhan merupakan fase penting dalam membentuk pemikiran dan kreativitas anak, di mana lingkungan sekitar, termasuk elemen fisik dan arsitektural, memainkan peran besar. Lingkungan pendidikan harus mampu mendukung perkembangan kreativitas anak, namun banyak taman kanak-kanak belum menyediakan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan psikologis dan karakteristik anak. Penelitian ini bertujuan menerapkan aspek psikologi arsitektur pada taman kanak-kanak untuk menciptakan ruang yang mendukung kreativitas dan pertumbuhan anak. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan, khususnya dalam psikologi arsitektur, dengan menyoroti hubungan desain lingkungan fisik dan perkembangan psikologis anak. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi untuk desain ruang pendidikan anak usia dini. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi langsung dan studi literatur. Data dianalisis secara deskriptif analitis untuk mengidentifikasi tata ruang yang sesuai dengan karakteristik anak. Penelitian ini mengevaluasi fasilitas dan desain lingkungan di Taman Kanak-Kanak Sang Timur, yang secara umum dinilai memadai namun memiliki kekurangan, terutama di koridor utama. Koridor yang panjang, kurang berwarna, dan monoton memberikan kesan tidak nyaman bagi anak, khususnya yang baru pertama kali masuk. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti merekomendasikan desain seperti pola lantai interaktif untuk daya tarik visual, atap transparan untuk pencahayaan alami, tanaman hias untuk suasana segar, dan dinding dengan warna cerah. Implementasi rekomendasi ini diharapkan menciptakan lingkungan taman kanak-kanak yang lebih menarik, mendukung kreativitas, dan meningkatkan kenyamanan serta perkembangan psikologis anak.
PENERAPAN PSIKOLOGI ARSITEKTUR TERHADAP PERILAKU ANAK PADA RUANG BELAJAR SEKOLAH PRESCHOOL Velia Amanda; Amelia Niken Permata Sari; Pipih Murtapiah; Theresia Budi Jayanti; Harsiti
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/s4mh4h07

Abstract

Dalam perancangan arsitektur selain aspek fungsional, teknikal, dan estetika, perlu memperhatikan aspek psikologi, sehingga dapat membentuk psikologi individu. Preschool merupakan sekolah untuk anak usia 3-6 tahun program ini dirancang untuk anak mempersiapkan pendidikan sejak usia dini. Penerapan psikologi arsitektur yang menciptakan ruangan harmonis, aman, dan nyaman serta menghubungkan karakteristik anak dengan lingkungannya dapat merancang preschool yang baik. Penggunaan prinsip yang memperhatikan interaksi manusia dengan lingkungan, kenyamanan aktivitas, nilai estetika, dan perilaku pengguna, mampu mendukung pertumbuhan anak secara optimal. Kenyataannya saat ini, kebanyakan Sekolah preschool memiliki sarana dan fasilitas yang sangat terbatas, ruang belajar belum memperhatikan penataan ruangan sesuai karakteristik. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan aspek psikologi arsitektur yang memperhatikan interaksi antara manusia dengan lingkungannya, sehingga desain sekolah preschool dapat menciptakan lingkungan yang harmonis, nyaman, aman, menyenangkan, dan mendukung pertumbuhan anak secara optimal. Manfaat penelitian diharapkan memperkaya ilmu pengetahuan dan melengkapi kepustakaan yang jarang diteliti dalam bidang arsitektur. Penelitian menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan dengan teknik observasi, survei, dan studi literatur. Analisis data menggunakan deskriptif analitis yang mendeskripsikan teori dan data hasil temuan kemudian dianalisis secara kualitatif sehingga didapatkan karakteristik anak usia dini, karakteristik fasilitas sekolah preschool yang baik dan penataan ruangan sesuai karakteristik. Hasil penelitian menemukan bahwa pendekatan aspek psikologi arsitektur yang diterapkan meliputi pencahayaan yang cukup dan merata di ruangan kelas, serta penataan meja dan kursi yang memudahkan sirkulasi anak beraktivitas. Pendekatan ini membuat lingkungan belajar yang harmonis, nyaman, aman, menyenangkan, dan mendukung perkembangan anak secara optimal. Sedangkan aspek arsitektur yang mendukung kenyamanan dan keamanan ruang belajar sekolah preschool adalah warna, bentuk furniture, material yang digunakan, dan suhu udara.