Surya Farid Sathotho
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ABSURDITY IN PUTU WIJAYA’S SHORT PLAY Sathotho, Surya Farid
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 18, No 2: September, 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v18i2.4458

Abstract

Short play known as Drama Pendek (Drapen) is the latest form of Putu Wijaya's work. The play only ranges from two to twelve pages. From the number of pages, it is assumed that the drapen performance will only last five to ten minutes. Although only a short duration, Putu Wijaya is consistent with the aesthetic concept of terror. This concept, if traced further, is a derivative of the concept of the theater of the absurd. To see the possibility of performing the drapen, an analysis of the structure and texture of randomly selected drapes will be carried out. The analysis is carried out with a theoretical approach that sees the terror in the structure and texture in a drafted text. It is hoped that the results will show whether the short play meets the rules of dramaturgy to be performed on stage Key words: Short play, Theater of the Absurd, Putu Wijaya
“ARKANTI”: KONVENSI TEATER PANGGUNG DALAM PERTUNJUKAN VIRTUAL TEATER KOMA Sathotho, Surya Farid
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 2 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i2.10

Abstract

ABSTRACT The current study aims to prove the conventions of stage theater in the virtual performance of “Arkanti” by Teater Koma. Virtual performances were conducted by Teater Koma to continue producing art works during the Covid-19 pandemic. Conventions of realism theater are used to further observe stage idioms in the performance. An understanding of technical matters in a theatrical performance is also considered which include acting patterns, scenes, staging, wardrobe, make-up, and lighting. The elements are analyzed to see how they differ from films. Virtual performance of “Arkanti” is used as a research sample with the consideration that as a virtual performance produced by Teater Koma, it may represent various types of widespread online theater performances during the pandemic time of Covid-19. The results of the study demonstrate that the performance texture of “Arkanti” tends to be similar with theatrical performance on stage. The style of acting, stage layout, and lighting design show the concept of the stage performance. The use of camera as an intermediate medium is not intended to remove stage imagery.  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan konvensi teater panggung dalam pertunjukan virtual “Arkanti” oleh Teater Koma. Pertunjukan virtual dilakukan oleh Teater Koma untuk tetap berkarya selama masa pandemi Covid-19. Konvensi teater realisme dipergunakan untuk melihat lebih lanjut idiom-idiom panggung dalam pementasan dimaksud. Pemahaman tentang hal-hal yang bersifat teknis dalam sebuah pertunjukan teater juga dipergunakan sebagai pertimbangan, di antaranya pola pemeranan, pengadeganan, tata pentas, tata busana, tata rias maupun tata cahaya. Unsur-unsur tersebut dicermati untuk memperlihatkan perbedaannya dengan film. Pementasan virtual “Arkanti” digunakan sebagai sampel penelitian dengan pertimbangan bahwa pertunjukan virtual produksi Teater Koma dapat mewakili berbagai jenis pertunjukan teater secara daring yang marak selama masa Pandemi Covid-19. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tekstur pementasan “Arkanti” memiliki kecenderungan sebagaimana sebuah pementasan teater di atas panggung. Gaya berperan, tata panggung dan tata cahaya menunjukkan konsep pertunjukan di atas panggung. Penggunaan kamera sebagai media perantara tidak dimaksudkan untuk menghilangkan citra panggung.
The Impact of Digital Technology on Various Traditional Theaters: An Examination of the Sociology of Arts Sahid, Nur; Syafii, A.S. Hardy; Sathotho, Surya Farid; Yuliadi, Koes; Purwanto, Purwanto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol. 25 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v25i2.24730

Abstract

The advancement of digital technology has engendered substantial transformations across various dimensions of life, particularly within the realm of traditional performing arts. In Indonesia, traditional art forms such as ketoprak, drama gong, and wayang purwa are currently undergoing significant changes in terms of production, presentation, and consumption in the digital age. This article explores the effects of digitization on these three art forms through the lens of Janet Wolff’s sociology of art framework. According to Wolff’s perspective, artworks are perceived as the outcome of the interplay among diverse social, economic, and cultural factors, with digital technology playing a crucial role in redefining the modern landscape of performing arts. The research findings indicate that digitalization facilitates the expansion of engagement with global audiences while simultaneously preserving local cultural values. Nevertheless, challenges manifest in the form of cultural gentrification, which threatens the erosion of indigenous aspects of tradition. Furthermore, this article offers recommendations for artists to harness technology in order to produce relevant artworks in the context of globalization, without compromising their cultural identity. 
Wiwitan Sebagai Pergelaran Budaya Dalam Tinjauan Ekofeminisme Sathotho, Surya Farid
Dance and Theatre Review Vol 6, No 2: November 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v6i2.11062

Abstract

Penelitian ini melakukan analisis wiwitan di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sebagai pergelaran budaya. Tradisi Wiwitan secara umum merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada Dewi                   Sri yang merupakan dewi padi. Sejarah turunnya ajaran wiwitan dimulai dari cerita rakyat Dewi Sri yang datang ke Tanah Jawa saat mengalami paceklik. Mereka memohon kepada Tuhan untuk diberikan rezeki dan terbebas dari bencana yang saat itu melanda. Wiwitan merupakan bentuk upacara yang berupa selamatan atau kenduri dan dilaksanakan sebelum melakukan panen. Menarik untuk dilihat mengapa pada masa sekarang ritual ini tetap dilakukan oleh sebagian petani meski dengan cara yang sederhana. Pada ritual tersebut terdapat unsur-unsur pertunjukan. Metode penelitian kualitatif memiliki beberapa keunggulan, yaitu: penyesuaian metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan peneliti, menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, serta lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola- pola nilai yang dihadapi. Sebagai sebuah kegiatan yang mengandung unsur pertunjukan, maka kajian dari sudut pandang teater sangat memungkinkan. Ada keterkaitan antara teater dan ritual sehingga mengkaji sebuah ritual dengan pendekatan teater ataupun sebaliknya sangat memungkinkan dengan menggunakan pemahaman pergelaran budaya atau cultural performance. Sosok Dewi Sri sebagai dewi padi yang dipuja petani memperlihatkan konsep Kosmologi Jawa terhadap Perempuan. Adanya unsur laki-laki dan perempuan dalam bentuk-bentuk ritual memperlihatkan bahwa kajian ekofeminisme bisa dilakukan pada ritual. Konsep ekofeminisme membahas bagaimana menyetarakan antara perempuan dan bumi serta hubunganya dengan laki-laki dalam budaya patriarki. Kata kunci: wiwitan, pergelaran budaya, ritual, ekofeminisme
Ragam Dan Makna Kinesik Dalam Pertunjukan Kintir Sutradara Ibed Surgana Yuga Arisona, Nanang; Sathotho, Surya Farid
Dance and Theatre Review Vol 6, No 1: May 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v6i1.7925

Abstract

Penelitian tentang aspek kinesik ini bertujuan untuk mengkaji ragam gerak dan maknanya dalam pertunjukan Kintir oleh Kelompok Seni Teku Yogyakarta. Analisis ragam gerak meliputi gaya gerak dan gesture para tokoh. Analisis makna gerak meliputi analisis gerak ilustrasi,  bahasa isyarat, ekspresi emosi, dan ekspresi karakter gerak. Analisis ragam gerak dilakukan dengan melakukan identifikasi terhadap bentuk, gaya, dan motif gerak yang dilakukan para pemain. Sedangkan analisis semiotik digunakan untuk menemukan makna kelindan gerak sepanjang pertunjukan berlangsung dengan mengambil segmentasi kinesik yang terdapat dalam tiga belas sistem tanda yang digagas Tedeus Kowzan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat tiga ragam gerak yang memiliki perbedaan karakteristik, yaitu gerak realisik, gerak stilistik, dan gerak ikonik. Adapun analisis makna sistem kinesik menghasikan representasi tentang keagungan, keambiguan sikap, dan kekerasan terhadap anak-anak. Kata Kunci: Ragam, makna, kinesik, Kintir,