Anger is a common emotional response that can become destructive when poorly managed. For Muslims, there is a need for anger-management strategies that are not only psychologically relevant but also grounded in Qur’anic values. This study aims to identify the causal factors underlying anger and formulate strategies for dealing with angry individuals based on the Qur’anic narrative of Prophet Moses. The study employs a qualitative textual analysis using the approaches of narrative ethics and causal factor analysis, focusing primarily on Q.S. al-A’râf (7): 150-154 and related verses concerning Prophet Moses’ anger following the Israelites’ worship of the golden calf. The analysis reveals seven causal factors associated with anger: the need for explanation, the tendency to generalize, the need for an enemy, the search for authority, unmet expectations, the avoidance of unpleasant underlying emotions, and the perception that important standards have been violated. Based on these factors, the study formulates seven dialogical strategies for dealing with anger: providing calming explanations, clarifying one’s identity to avoid being included in generalizations, demonstrating alignment rather than appearing as an enemy, acknowledging the angry person’s authority, restoring hope, addressing underlying primary emotions, and reaffirming important standards. These findings suggest that Qur’anic narratives can function not only as sources of moral guidance but also as a basis for developing emotional-intervention principles. Anger management, therefore, should not merely aim to suppress emotional expression but should help individuals understand the meanings, values, expectations, and underlying emotions that shape their anger and redirect them toward constructive responses. [Kemarahan merupakan respons emosional yang umum namun dapat menjadi destruktif apabila tidak dikelola dengan baik. Bagi umat Islam, diperlukan strategi pengelolaan kemarahan yang tidak hanya relevan secara psikologis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemarahan dan merumuskan strategi menghadapi individu yang sedang marah berdasarkan narasi Al-Qur’an tentang Nabi Musa. Penelitian ini menggunakan analisis tekstual kualitatif dengan pendekatan narrative ethics dan analisis causal factor, dengan fokus utama pada Q.S. al-A’râf (7): 150-154 dan ayat-ayat terkait mengenai kemarahan Nabi Musa setelah kaum Bani Israil menyembah anak sapi emas. Analisis menunjukkan tujuh faktor penyebab yang berkaitan dengan kemarahan, yaitu kebutuhan akan penjelasan, kecenderungan melakukan generalisasi, kebutuhan akan musuh, pencarian otoritas, harapan yang tidak terpenuhi, upaya menghindari emosi mendasar yang tidak menyenangkan, dan persepsi bahwa standar penting telah dilanggar. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, penelitian ini merumuskan tujuh strategi dialogis dalam menghadapi kemarahan, yaitu memberikan penjelasan yang menenangkan, memperjelas identitas agar tidak termasuk dalam generalisasi, menunjukkan keberpihakan agar tidak dipandang sebagai musuh, mengakui otoritas individu yang marah, memulihkan harapan, menyentuh emosi primer yang mendasari, dan menegaskan kembali standar-standar penting. Temuan ini menunjukkan bahwa narasi Al-Qur’an tidak hanya dapat berfungsi sebagai sumber pedoman moral, tetapi juga sebagai landasan untuk mengembangkan prinsip-prinsip intervensi emosional. Oleh karena itu, pengelolaan kemarahan tidak semestinya hanya bertujuan menekan ekspresi emosi, tetapi juga membantu individu memahami makna, nilai, harapan, dan emosi yang mendasari kemarahannya serta mengarahkannya pada respons yang konstruktif.]