Ilham Utama Surya
Reproductive Health Division In Department Of Obstetrics And Gynecology Faculty Of Medicine Universitas Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Unmasking the Culprit: Successful Restoration of Menstrual Function in a Case of Secondary Amenorrhea Due to Tuberculous Endometritis Mimicking Polycystic Ovary Syndrome Riyan Hari Kurniawan; Muhammad Syauqi Mirza; Ilham Utama Surya; Muhammad Dwi Priangga; Cepi Teguh Pramayadi; Herbert Situmorang; Eka Rusdianto Gunardi
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 9 No. 9 (2025): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v9i9.1390

Abstract

Background: Secondary amenorrhea presents a significant diagnostic challenge in gynecology. While Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is a common cause, rare etiologies like tuberculous endometritis can be overlooked, especially in patients with features suggestive of PCOS. This phenomenon, known as diagnostic overshadowing, can lead to delayed diagnosis and irreversible reproductive consequences. Case presentation: A 35-year-old nulligravid woman with a diagnosis of Class I Obesity presented with a five-year history of secondary amenorrhea and a desire for fertility. Her clinical and initial ultrasonographic findings were suggestive of PCOS. However, persistent amenorrhea despite hormonal therapy prompted further investigation. Hysteroscopy revealed a fibrotic uterine cavity with micropolyps, and subsequent endometrial biopsy with histopathology, polymerase chain reaction (PCR), and culture confirmed a diagnosis of tuberculous endometritis. The patient was successfully treated with a six-month anti-tuberculosis regimen, cyclical progestin therapy, and a structured lifestyle modification program. Following treatment, she experienced a significant weight loss, resumption of regular menstrual cycles, and marked improvement in endometrial and ovarian ultrasound parameters. Conclusion: This case underscores the critical importance of a comprehensive diagnostic evaluation for secondary amenorrhea, including endometrial sampling, even when a common diagnosis like PCOS is suspected. It highlights the potential for tuberculous endometritis to mimic PCOS and demonstrates the efficacy of a multidisciplinary approach in restoring menstrual and potentially reproductive function. Clinicians in tuberculosis-endemic regions must maintain a high index of suspicion for this insidious pathology to prevent long-term morbidity.
Laporan Kasus Pilihan Kontrasepsi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komorbiditas Multisistem Surya, Ilham; Sumapraja, Kanadi; Pangestuti, Mugi Rahayu; Fatya, Atikah Isna; Tarigan, Tri Juli Edi
eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No. 3 - Desember 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23886/ejki.13.1169.1

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin selama kehamilan. Pengaturan jarak kehamilan melalui kontrasepsi merupakan langkah penting dalam mempersiapkan kehamilan berikutnya. Seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo dengan riwayat diabetes melitus tipe 2, nodul di ismus tiroid, kolelitiasis, hipertensi, serta sedang menyusui bayi berusia 1 bulan. Riwayat persalinan sebelumnya adalah bayi makrosomia yang dilahirkan melalui seksio sesarea. Pasien saat ini menggunakan insulin untuk regulasi gula darah dan mendapat terapi ursodeoxycholic acid untuk batu empedu. Metode kontrasepsi yang sesuai pada pasien ini adalah IUD tembaga serta kontrasepsi berbasis progestin saja, seperti IUD hormon, implan, pil, dan suntikan. Pemilihan kontrasepsi pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2 dan komorbiditas multisistem harus mempertimbangkan kondisi klinis, keamanan, serta efektivitas metode. IUD tembaga dan kontrasepsi progestin-only merupakan pilihan yang aman dan efektif.
Diagnosis and Management of Complex Genital Warts: Case Report Ilham Utama Surya; Eka Rusdianto Gunardi; Trisha Alya Rahmi; Dhifa Dwi Putra; Syauqi Mirza
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.888

Abstract

Introduction: This case reports a pregnancy complicated by condyloma acuminata with co-infection of HIV and tuberculosis (TB). Such a combination is rarely documented and presents significant clinical and therapeutic challenges. This case aims to demonstrate the effectiveness of a simple surgical approach in managing extensive condyloma acuminata during high-risk pregnancy.Case Presentation: A 24-year-old pregnant woman was diagnosed with condyloma acuminata along with confirmed HIV and TB co-infection. Electrocauterization was performed successfully, leading to complete lesion removal and significant improvement in wound healing, with no early recurrence observed. The pregnancy was planned to be delivered by cesarean section.Conclusion: This case demonstrates that, even with multiple comorbidities and a high-risk pregnancy, simple surgical treatments like electrocauterization can be both safe and effective. Early multidisciplinary intervention is crucial for achieving the best maternal outcomes.Diagnosis dan Penatalaksanaan Kondiloma Genital dengan Komplikasi: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Laporan kasus ini membahas kehamilan yang disertai komplikasi berupa kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan tuberkulosis (TB). Kombinasi tersebut jarang didokumentasikan dan menimbulkan tantangan klinis serta terapeutik yang signifikan. Kasus ini bertujuan untuk menunjukkan efektivitas pendekatan bedah sederhana dalam menangani kondiloma akuminata ekstensif pada kehamilan risiko tinggi.Presentasi Kasus: Seorang wanita hamil berusia 24 tahun didiagnosis menderita kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan TB terkonfirmasi. Tindakan elektrokauter berhasil dilakukan dengan hasil berupa pengangkatan lesi secara menyeluruh dan perbaikan yang nyata pada penyembuhan luka, tanpa adanya kekambuhan dini yang teramati. Kehamilan direncanakan untuk dilahirkan dengan operasi sesar.Kesimpulan: Kasus ini menegaskan bahwa dalam konteks komorbiditas multipel dan kehamilan risiko tinggi, penatalaksanaan bedah sederhana seperti elektrokauter dapat aman dan efektif. Intervensi multidisiplin sejak dini sangat penting untuk mencapai luaran maternal yang optimal.Kata kunci: HIV: Kehamilan; kondiloma akuminata; tuberkulosis
Strategies for Dealing with Anger from Qur’anic Perspective: A Narrative Ethics and Causal Factor Analysis of Prophet Moses’ Story: Strategi Menghadapi Kemarahan Perspektif Al-Qur’an: Analisis Narrative Ethics dan Causal Factor atas Kisah Nabi Musa Surya, Ilham; Hude, M. Darwis; Sarnoto, Ahmad Zain
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 7 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol7.iss2.art10

Abstract

Anger is a common emotional response that can become destructive when poorly managed. For Muslims, there is a need for anger-management strategies that are not only psychologically relevant but also grounded in Qur’anic values. This study aims to identify the causal factors underlying anger and formulate strategies for dealing with angry individuals based on the Qur’anic narrative of Prophet Moses. The study employs a qualitative textual analysis using the approaches of narrative ethics and causal factor analysis, focusing primarily on Q.S. al-A’râf (7): 150-154 and related verses concerning Prophet Moses’ anger following the Israelites’ worship of the golden calf. The analysis reveals seven causal factors associated with anger: the need for explanation, the tendency to generalize, the need for an enemy, the search for authority, unmet expectations, the avoidance of unpleasant underlying emotions, and the perception that important standards have been violated. Based on these factors, the study formulates seven dialogical strategies for dealing with anger: providing calming explanations, clarifying one’s identity to avoid being included in generalizations, demonstrating alignment rather than appearing as an enemy, acknowledging the angry person’s authority, restoring hope, addressing underlying primary emotions, and reaffirming important standards. These findings suggest that Qur’anic narratives can function not only as sources of moral guidance but also as a basis for developing emotional-intervention principles. Anger management, therefore, should not merely aim to suppress emotional expression but should help individuals understand the meanings, values, expectations, and underlying emotions that shape their anger and redirect them toward constructive responses. [Kemarahan merupakan respons emosional yang umum namun dapat menjadi destruktif apabila tidak dikelola dengan baik. Bagi umat Islam, diperlukan strategi pengelolaan kemarahan yang tidak hanya relevan secara psikologis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemarahan dan merumuskan strategi menghadapi individu yang sedang marah berdasarkan narasi Al-Qur’an tentang Nabi Musa. Penelitian ini menggunakan analisis tekstual kualitatif dengan pendekatan narrative ethics dan analisis causal factor, dengan fokus utama pada Q.S. al-A’râf (7): 150-154 dan ayat-ayat terkait mengenai kemarahan Nabi Musa setelah kaum Bani Israil menyembah anak sapi emas. Analisis menunjukkan tujuh faktor penyebab yang berkaitan dengan kemarahan, yaitu kebutuhan akan penjelasan, kecenderungan melakukan generalisasi, kebutuhan akan musuh, pencarian otoritas, harapan yang tidak terpenuhi, upaya menghindari emosi mendasar yang tidak menyenangkan, dan persepsi bahwa standar penting telah dilanggar. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, penelitian ini merumuskan tujuh strategi dialogis dalam menghadapi kemarahan, yaitu memberikan penjelasan yang menenangkan, memperjelas identitas agar tidak termasuk dalam generalisasi, menunjukkan keberpihakan agar tidak dipandang sebagai musuh, mengakui otoritas individu yang marah, memulihkan harapan, menyentuh emosi primer yang mendasari, dan menegaskan kembali standar-standar penting. Temuan ini menunjukkan bahwa narasi Al-Qur’an tidak hanya dapat berfungsi sebagai sumber pedoman moral, tetapi juga sebagai landasan untuk mengembangkan prinsip-prinsip intervensi emosional. Oleh karena itu, pengelolaan kemarahan tidak semestinya hanya bertujuan menekan ekspresi emosi, tetapi juga membantu individu memahami makna, nilai, harapan, dan emosi yang mendasari kemarahannya serta mengarahkannya pada respons yang konstruktif.]