Abdul Khalik
Universitas Wahid Hasyim Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMANFAATAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PENDIDIKAN MODERASI BERAGAMA Ummi Kulsum; Wiasih; Abdul Khalik; Ifada Retno Ekaningrum
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15270

Abstract

ABSTRACT The rapid development of Artificial Intelligence (AI) technology has brought significant transformation to the educational sector, including efforts to strengthen religious moderation in the digital era. This study aims to analyze the utilization of Artificial Intelligence in religious moderation education, identify its opportunities and challenges, and formulate an AI-based educational model that supports the reinforcement of religious moderation values. This research employs a qualitative approach using a library research method. Data were collected from various sources, including books, national and international scientific journals, research articles, policy documents, and relevant literature related to Artificial Intelligence, Islamic education, and religious moderation. Data analysis was conducted through content analysis involving identification, classification, interpretation, and conceptual synthesis. The findings reveal that Artificial Intelligence has significant potential to support religious moderation education through personalized learning, virtual tutoring systems, digital religious literacy enhancement, adaptive learning resources, and early detection of intolerant, radical, and misleading religious content. The utilization of AI can also improve the accessibility, effectiveness, and quality of religious moderation learning in accordance with the characteristics of the digital generation. However, its implementation faces several challenges, including algorithmic bias, contextual limitations, technological dependency, and issues related to ethics and data privacy. Therefore, the integration of AI in religious moderation education should be implemented comprehensively while maintaining the central role of teachers as facilitators in the internalization of religious values. This study proposes an integrative model of AI utilization that combines digital technology, religious literacy, and moderation-based education to foster a generation that is tolerant, inclusive, critical, and committed to harmonious religious life within a multicultural society.
Paradigma Transformatif Nusantara dalam Kurikulum PAI Madrasah Aliyah: Sintesis Teoretis atas Nilai Tawazun dan I'tidal Menghadapi Polarisasi Pendidikan Era Disrupsi Abdul Khalik; Mudzakkir Ali; Sari Hernawati
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1149

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi oleh eskalasi polarisasi pendidikan di era disrupsi yang mengancam stabilitas kritis-spiritual peserta didik di Madrasah Aliyah. Ketegangan antara model tradisionalis yang tekstual dan modernis yang mekanistik-birokratis memicu fragmentasi epistemologis dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam Penelitian ini bertujuan merumuskan Paradigma Transformatif Nusantara dalam kurikulum PAI Madrasah Aliyah melalui sintesis teoretis nilai tawazun (keseimbangan) dan i'tidal (keadilan/proporsionalitas). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain kepustakaan kritis (critical library research) yang diperkuat Analisis Wacana Kritis (CDA) model tiga dimensi Norman Fairclough (teks, praktik diskursif, dan praktik sosial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa operasionalisasi nilai tawazun mampu menjembatani dikotomi antara otoritas turats klasik dan literasi digital, sedangkan nilai i'tidal merekonstruksi bias kurikulum yang kognitif-informatif menuju praksis sosial-spiritual yang emansipatoris. Sintesis kedua nilai ini menghasilkan model kurikulum PAI transformatif yang menumbuhkan kesadaran kritis-global tanpa menegasikan identitas religius lokal Nusantara. Implikasi penelitian menegaskan bahwa kurikulum Madrasah Aliyah harus melampaui adaptasi teknis-birokratis dan memosisikan pendidikan Islam Nusantara sebagai subjek epistemologis aktif dalam mengarungi disrupsi global.
Transformasi Pendidikan Islam Melalui Teologi Mahabbah Berbasis Akhlak Karimah: Pengembangan Kurikulum Kesalehan Sosial di Era Degradasi Moral Abdul Khalik; Nur Cholid; Muhammad Ahsanul Husna
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1150

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh eskalasi degradasi moral di era digital dan globalisasi, yang mewujud dalam fenomena perundungan siber (cyberbullying), krisis identitas, dan merosotnya empati sosial di kalangan peserta didik. Fenomena ini menyingkap celah krusial dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) yang selama ini didominasi oleh bias kognitif-informatif serta penguatan aspek ritual-individual yang rigid, namun mengabaikan komitmen etis kolektif. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekonstruksi Kurikulum Kesalehan Sosial dengan memanfaatkan sintesis konseptual Teologi Mahabbah (Teologi Kasih Sayang) dan Akhlak Karimah sebagai kerangka pedagogis transformatif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain kepustakaan kritis (critical library research), penelitian ini menganalisis teks-teks sufistik klasik dan kurikulum pendidikan kontemporer melalui pembacaan dimensi teks, praktik diskursif, dan praksis sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teologi Mahabbah mampu merekonstruksi cara pandang keagamaan yang legalistik-defensif menjadi komitmen altruistik yang penuh empati terhadap kemanusiaan, sedangkan Akhlak Karimah menjadi manifestasi perilaku dari transformasi spiritual internal tersebut. Sintesis kedua konsep ini menghasilkan arsitektur Kurikulum Kesalehan Sosial yang merombak tujuan pendidikan, integrasi konten (mendialogkan tasawuf dengan ilmu sosial), metodologi pembelajaran yang humanis, serta asesmen autentik berbasis praksis. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa reformasi kurikulum PAI bukan sekadar adaptasi birokratis, melainkan sebuah reposisi epistemologis yang mendesak untuk menumbuhkan tanggung jawab sosial global tanpa menegasikan akar transendental-religius.