I Komang Agusjaya Mataram
Poltekkes Kemenkes Denpasar, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Perbedaan Karakteristik Organoleptik, Kadar Serat Dan Antioksidan Klepon Berdasarkan Penambahan Pure Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Ni Made Puja Anggita; Anak Agung Nanak Antarini; I Komang Agusjaya Mataram
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i1.890

Abstract

Klepon pure kulit buah naga merah merupakan salah inovasi pangan tradisional yang dibuat dengan memanfaatkan kulit buah naga merah sebagai sumber serat dan antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik organoleptik, kadar serat dan antioksidan klepon berdasarkan penambahan pure kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Jenis penelitian yaitu metode eksperimental yang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu penambahan pure kulit buah naga merah sebesar P1 (30%), P2 (35%), P3 (40%), P4 (45%), P5 (50%). Hasil perlakuan menghasilkan perbedaan nyata pada warna, aroma, tekstur, rasa, penerimaan keseluruhan, mutu warna dan mutu tekstur. Perlakuan ini juga berpengaruh pada kadar serat dan kapasitas antioksidan. Perlakuan terbaik pada klepon dengan penambahan pure kulit buah naga merah 50% dari berat tepung ketan (P5) paling disukai dari segi warna, aroma, tekstur, rasa, penerimaan keseluruhan, dengan warna merah muda terang dan tekstur kenyal dengan kadar serat sebesar 6,45% dan kapasitas antioksidan 697,20 mg GAE/L. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan pure kulit buah naga merah dalam pembuatan klepon berpotensi menjadi alternatif inovatif untuk menghasilkan pangan fungsional dengan kandungan gizi yang lebih baik sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomis kulit buah naga merah.
Hubungan Pola Konsumsi Karbohidrat Dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Kediri III Kabupaten Tabanan Putu Jasmine Jacinda Pramita; Gusti Ayu Dewi Kusumayanti; I Komang Agusjaya Mataram
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i1.891

Abstract

Pola konsumsi karbohidrat yang buruk dan aktivitas fisik yang rendah merupakan faktor risiko utama ketidakstabilan glikemik pada penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe II. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi karbohidrat (jenis, jumlah, frekuensi) dan aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah pada penderita DM tipe II di Puskesmas Kediri III, Kabupaten Tabanan. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional terhadap 45 sampel yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui formulir FFQ dan kuesioner GPAQ, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Mayoritas sampel mengonsumsi jenis karbohidrat yang beragam (57,8%), namun memiliki jumlah konsumsi berlebih (71,1%) dan frekuensi sering (42,2%). Sebagian besar sampel (51,1%) melakukan aktivitas fisik kategori sedang. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi karbohidrat (p < 0,05) dan aktivitas fisik (p < 0,05) dengan kadar glukosa darah pada penderita DM tipe II. Ada hubungan antara pola konsumsi karbohidrat dan aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah. Penderita DM tipe II disarankan untuk mengatur pola makan, terutama dalam pemilihan jenis dan jumlah karbohidrat, serta meningkatkan aktivitas fisik secara teratur untuk menjaga kestabilan kadar glukosa darah. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian kadar glukosa darah pada penderita DM tipe II dapat ditingkatkan melalui edukasi gizi yang berfokus pada pengaturan jenis, jumlah, dan frekuensi konsumsi karbohidrat serta peningkatan aktivitas fisik secara teratur sebagai bagian dari upaya pencegahan komplikasi diabetes.
Pengaruh Lama Pengolahan dengan Air Fryer terhadap Mutu Organoleptik, Kadar Protein dan Kapasitas Antioksidan pada Tempe Bacem Ni Putu Putri Kusuma Dewi; Badrut Tamam; I Komang Agusjaya Mataram
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i2.896

Abstract

Tempe merupakan pangan tradisional Indonesia yang kaya protein dan senyawa antioksidan. Tempe dapat diolah menjadi tempe bacem dengan cita rasa khas yang dipengaruhi oleh proses pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengolahan dengan air fryer terhadap mutu organoleptik, kadar protein, dan kapasitas antioksidan pada tempe bacem. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari lima perlakuan waktu pengolahan, yaitu 12 menit (P1), 15 menit (P2), 18 menit (P3), 21 menit (P4), dan 24 menit (P5) pada suhu 180°C dengan tiga kali ulangan. Uji organoleptik dilakukan oleh 30 panelis semi terlatih meliputi uji hedonik terhadap warna, rasa, aroma, tekstur, dan penerimaan keseluruhan serta uji mutu hedonik terhadap warna dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengolahan memberikan pengaruh nyata terhadap mutu organoleptik dan kadar protein, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kapasitas antioksidan. Kadar protein tempe bacem berkisar antara 13,9101%bb hingga 19,8944%bb, sedangkan kapasitas antioksidan berkisar antara 836,50 mg GAE/L hingga 879,80 mg GAE/L. Perlakuan terbaik diperoleh pada P5 berdasarkan tingkat penerimaan panelis dan hasil analisis objektif. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa lama pengolahan menggunakan air fryer berpengaruh terhadap mutu organoleptik dan kadar protein, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kapasitas antioksidan tempe bacem. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengolahan tempe bacem menggunakan air fryer selama 24 menit pada suhu 180°C dapat dijadikan alternatif pengolahan untuk menghasilkan produk dengan tingkat penerimaan yang baik serta mempertahankan kandungan protein dan kapasitas antioksidan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai acuan bagi masyarakat maupun pengembangan produk pangan berbasis tempe.
Pengaruh Pemberian Edukasi Tentang Anemia Terhadap Tingkat Konsumsi Zat Besi (Fe) Asam Folat Vitamin B12 dan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri di SMA Negeri 1 Sukawati I Dewa Ayu Mas Ari Sinta; I Gusti Agung Ari Widarti; I Komang Agusjaya Mataram
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i1.900

Abstract

Masalah kesehatan berupa anemia di kalangan remaja putri erat kaitannya dengan minimnya asupan zat besi (Fe), vitamin B12, dan asam folat. Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi dampak edukasi anemia terhadap kadar hemoglobin serta tingkat konsumsi ketiga nutrisi tersebut. Melalui pendekatan pra-eksperimental dengan model one group pretest-posttest, riset ini melibatkan 55 remaja putri yang terindikasi anemia (Hb <12 g/dL). Data asupan nutrisi dikumpulkan lewat wawancara berbasis kuesioner SQ-FFQ, sedangkan data hemoglobin diperoleh dari Puskesmas I Sukawati (sebelum intervensi) dan pengukuran langsung (setelah intervensi). Berdasarkan uji paired sample t-test, intervensi edukasi terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan konsumsi zat besi (p=0,016), asam folat (p=0,018), dan vitamin B12 (p=0,027). Kendati demikian, kadar hemoglobin tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p=0,159). Dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi efektif memperbaiki pola konsumsi zat gizi mikro, namun belum cukup untuk menaikkan kadar hemoglobin dalam durasi dua minggu. Hal ini mengimplikasikan bahwa edukasi tentang anemia dapat dijadikan strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan konsumsi zat besi, asam folat, dan vitamin B12 pada remaja putri, sehingga perlu diterapkan secara berkelanjutan dan dikombinasikan dengan intervensi lain guna mendukung peningkatan kadar hemoglobin serta pencegahan anemia. Studi berikutnya disarankan melibatkan kelompok kontrol, mengintensifkan frekuensi edukasi, serta memisahkan waktu pelaksanaan pretest dan posttest.
Hubungan Pola Asuh dan Pola Makan dengan Status Gizi pada Anak Usia 12-24 Bulan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Lewoleba Kabupaten Lembata Provinsi NTT Maria Magdalena Palang; I Gusti Agung Ari Widarti; I Komang Agusjaya Mataram
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i2.949

Abstract

Masa Di Indonesia pada tahun 2024, prevalensi stunting sebesar 19,8%, di Provinsi NTT sebesar 37% dan Kabupaten Lembata sebesar 25,7%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pola makan dengan status gizi pada anak usia 12-24 bulan. Penelitian di lakukan di tiga kelurahan wilayah kerja Puskesmas UPTD Puskesmas Lewoleba, menggunakan pendekatan Cross Sectional, dengan jumlah sampel sebanyak 66 anak usia 6-24 bulan. Data pola asuh dikumpulkan dengan metode wawancara dan data pola makan dikumpulkan dengan metode recall 24 jam dan FFQ, selanjutnya diolah menggunakan uji chi square. Pola asuh orangtua dengan kategori baik sebesar 45,5%, pola makan anak kategori kurang sebesar 54,5% dan status gizi (stunting) ditemukan sebesar 54,5%. Ada hubungan Pola asuh orangtua dengan pola makan anak,demikian juga antara pola makan  dan status gizi anak berhubungan secara bermakna (p-<0,001). Pola asuh orangtua dan pola makan merupakan variabel terkuat yang mempengaruhi status gizi pada anak. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah orangtua mengatur pola asuh dan pola makan anak dengan memperhatikan waktu pemberian makan, kebersihan anak, makanan dan lingkungan sekitar. Selain itu perlu adanya edukasi/penyuluhan secara berkelanjutan tentang pola asuh dan gizi seimbang.
Status Stunting Berdasarkan Dukungan Keluarga dan Riwayat Pemberian ASI pada Anak Usia 6-36 Bulan di Desa Abang Karangasem Ni Nengah Dita Dwivandesi; I Gusti Agung Ari Widarti; I Komang Agusjaya Mataram
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i2.965

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis ditandai dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur kurang dari -2 SD. Stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya riwayat pemberian ASI dan dukungan keluarga. Dukungan keluarga memiliki peran penting dalam keberhasilan praktik menyusui, yang pada akhirnya berdampak pada status gizi anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan riwayat pemberian ASI dengan status stunting pada anak usia 6–36 bulan di Desa Abang, Karangasem. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan tabel silang, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan Riwayat ASI (p < 0,002), serta terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat pemberian ASI dengan status stunting (p < 0,001). Anak yang tidak mendapatkan dukungan keluarga yang baik dan memiliki riwayat pemberian ASI yang tidak sesuai cenderung lebih berisiko mengalami stunting. Kesimpulan penelitian ini adalah dukungan keluarga dan riwayat pemberian ASI memiliki peranan penting terhadap kejadian stunting pada anak usia 6–36 bulan. Diharapkan keluarga dapat mendukung pemberian ASI secara optimal sebagai upaya pencegahan stunting pada anak