Muhammad Arsyad Acha
Universitas Hasanuddin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Promosi Kesehatan Berbasis Budaya Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Pattoapakang, Kabupaten Takalar: Promosi Kesehatan Berbasis Budaya Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Pattopakang, Kabupaten Takalar Muhammad Arsyad Acha; Muhammad Syafar
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2508

Abstract

This community service program aimed to improve community knowledge and participation in environmental health through culturally based health promotion. The activity was conducted on November 1, 2025, in the working area of Pattoapakang Primary Health Center, Takalar Regency, as part of the 43rd Anniversary of the Faculty of Public Health, Hasanuddin University. Participants included health cadres, housewives, community leaders, and youth, totaling 50 individuals. The methods included culturally based health education, clean and healthy living behavior (PHBS) practice simulations, health cadre training, and evaluation using a pre-test and post-test design. The cultural approach integrated local Bugis-Makassar values—sipakatau (mutual respect), sipakalebbi (mutual honor), and sipakainge (mutual reminding)—into health promotion messages. The evaluation results showed an increase in participants’ knowledge, with the average score improving from 62 in the pre-test to 85 in the post-test. Community participation in environmental hygiene practices and collective activities also improved. The culturally based approach enhanced message acceptance as it aligned with local social values. This program demonstrates that culturally based health promotion is an effective community empowerment strategy and has the potential to support sustainable health behavior change. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan melalui pendekatan promosi kesehatan berbasis budaya lokal. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1 November 2025 di wilayah kerja Puskesmas Pattoapakang, Kabupaten Takalar, dalam rangka Dies Natalis ke-43 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Sasaran kegiatan meliputi kader kesehatan, ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, dan pemuda dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan berbasis kearifan lokal, simulasi praktik perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pelatihan kader kesehatan, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pendekatan kultural dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal masyarakat Bugis-Makassar, yaitu sipakatau (saling menghargai), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) sebagai media penyampaian pesan kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lingkungan dan PHBS, ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata nilai peserta dari 62 pada pre-test menjadi 85 pada post-test. Selain itu, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebersihan lingkungan dan praktik gotong royong. Pendekatan berbasis budaya terbukti meningkatkan penerimaan pesan kesehatan karena selaras dengan sistem nilai dan kebiasaan sosial masyarakat. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam promosi kesehatan merupakan strategi efektif dalam pemberdayaan masyarakat serta berpotensi menciptakan perubahan perilaku kesehatan yang lebih berkelanjutan. Model promosi kesehatan berbasis budaya lokal dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik sosial budaya yang serupa. 
Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah, Pencegahan Stunting, dan Pengendalian Hipertensi di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng: Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah, Pencegahan Stunting, dan Pengendalian Hipertensi di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng Muhammad Arsyad Acha; Shanti Riskiyani; Alya Muftia Rahma.Ss; Rismayana Rismayana; Langkar Diyang Fauzi Rachman
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2538

Abstract

This community service program aimed to empower the community in waste management, stunting prevention, and hypertension control through asset-based community development (ABCD) and human-centered design (HCD) approaches. The activity was conducted from January 5–19, 2026, in Cabenge Village, Soppeng Regency, involving 15–28 participants per session, including village officials, health cadres, community leaders, midwives, and residents. Methods included focus group discussions, asset mapping (six asset categories), root cause analysis using fishbone diagrams, and collaborative action plan development. Results indicated that the root cause of waste management problems was the absence of a community-based system with adequate facilities. Stunting was caused by low family knowledge and practices in child nutrition and care. Hypertension was caused by unhealthy lifestyles and low awareness of early detection. Asset mapping identified local potentials, including health cadres, posyandu, puskesmas, moringa and papaya plants, sphygmomanometers, and mutual cooperation traditions. The program concludes that integrating ABCD and HCD approaches effectively identifies root causes and maps local assets for sustainable health interventions. Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah, pencegahan stunting, dan pengendalian hipertensi melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Human-Centered Design (HCD). Kegiatan dilaksanakan 5–19 Januari 2026 di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng, dengan 15–28 peserta setiap pertemuan (aparat kelurahan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, bidan, warga). Metode: FGD, pemetaan aset (6 kategori), analisis fishbone, dan penyusunan rencana aksi. Hasil: akar masalah sampah adalah belum adanya sistem berbasis masyarakat; stunting disebabkan rendahnya pengetahuan gizi keluarga; hipertensi akibat gaya hidup tidak sehat. Pemetaan aset mengidentifikasi kader, posyandu, puskesmas, kelor, pepaya, tensimeter, dan gotong royong. Kegiatan menyimpulkan integrasi ABCD dan HCD efektif mengidentifikasi akar masalah dan memetakan aset lokal untuk intervensi berkelanjutan.
Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengendalian Hipertensi, Diabetes Melitus, dan Tuberkulosis di Kelurahan Pajalesang, Kabupaten Soppeng: Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengendalian Hipertensi, Diabetes Melitus, dan Tuberkulosis di Kelurahan Pajalesang, Kabupaten Soppeng Muhammad Arsyad Acha; Indra Fajarwati Ibnu; Pilsa Nurul Azisa; Zifora Mujahidah Fillah; Azizah Mei Lifa
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2539

Abstract

This community service program aimed to empower the community in the control of hypertension, diabetes mellitus, and tuberculosis through asset-based community development (ABCD) and human-centered design (HCD) approaches. The activity was conducted from January 5 to 19, 2026, in Pajalesang Village, Soppeng Regency, as part of Field Learning Practice (PBL) II of the Faculty of Public Health, Hasanuddin University. Participants included village officials, health cadres, community leaders, and residents, with 10–15 attendees per session. Methods included focus group discussions (FGD) for problem identification, asset mapping assistance (six asset categories), root cause analysis (RCA) workshops using fishbone diagrams, and collaborative action plan development. Results showed that the root cause of hypertension was a high-salt and high-fat diet reinforced by the socio-cultural environment and low early detection awareness. The root cause of diabetes mellitus was lack of physical activity and unbalanced dietary patterns. The root cause of tuberculosis was low health literacy about TB, non-adherence to treatment, and household environmental conditions that supported transmission. Asset mapping identified local potentials, including health cadres, posyandu, puskesmas, mutual cooperation values and siri'na pacce, schools, mosques, and medical devices (sphygmomanometers and blood glucose testing devices). The program concludes that integrating ABCD and HCD approaches effectively identifies root causes and maps local assets as a basis for sustainable health interventions.   Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam pengendalian hipertensi, diabetes melitus, dan tuberkulosis melalui pendekatan asset-based community development (ABCD) dan human-centered design (HCD). Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 5–19 Januari 2026 di Kelurahan Pajalesang, Kabupaten Soppeng, dalam rangka Praktik Belajar Lapangan (PBL) II Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Sasaran kegiatan meliputi aparat kelurahan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan warga dengan jumlah peserta 10–15 orang setiap pertemuan. Metode pelaksanaan meliputi Focus Group Discussion (FGD) identifikasi masalah, pendampingan pemetaan aset (enam kategori aset), workshop analisis akar masalah menggunakan Root Cause Analysis (RCA) dengan diagram fishbone, serta penyusunan rencana aksi bersama masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa akar masalah hipertensi adalah pola makan tinggi garam dan lemak yang diperkuat budaya lingkungan sosial serta rendahnya deteksi dini. Akar masalah diabetes melitus adalah kurangnya aktivitas fisik dan pola konsumsi tidak seimbang. Akar masalah tuberkulosis adalah rendahnya literasi kesehatan tentang TB, ketidakpatuhan pengobatan, serta kondisi lingkungan rumah yang mendukung penularan. Pemetaan aset mengidentifikasi potensi lokal meliputi kader kesehatan, posyandu, puskesmas, nilai gotong royong dan siri'na pacce, sekolah, masjid, serta alat kesehatan (tensimeter, alat cek gula darah). Kegiatan ini menyimpulkan bahwa integrasi pendekatan ABCD dan HCD efektif dalam mengidentifikasi akar masalah dan memetakan aset lokal sebagai dasar intervensi kesehatan yang berkelanjutan.
Local Wisdom-Based Occupational Safety Model for Traditional Fishermen in Makassar: Model Keselamatan Kerja Berbasis Kearifan Lokal pada Pekerja Tradisional Nelayan di Kota Makassar Muhammad Arsyad Acha; Shanti Riskiyani; Sudirman Nasir; Nasrah Nasrah; Rezky Chaeraty Syam
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2555

Abstract

This community service program aimed to develop a local wisdom-based occupational safety model for traditional fishermen in Untia Village, Biringkanaya District, Makassar City. The activity was conducted in February 2026, involving 60 active fishermen, community leaders, health cadres, and puskesmas officers. Methods included a survey on occupational safety knowledge and behavior (pre-test and post-test), Focus Group Discussions (FGDs), in-depth interviews, participatory observation, and a model development workshop. A cultural approach integrated local Bugis-Makassar values—sipakatau (mutual respect), sipakalebbi (mutual honor), and sipakainge (mutual reminding)—into modern safety messages. Results showed an increase in fishermen’s knowledge about occupational risks and personal protective equipment (PPE) use, with the mean score rising from 58 (pre-test) to 82 (post-test). Seventy-five percent of fishermen who had never used life jackets began wearing them after the mentoring. Local wisdom practices such as collective prayer before sailing, taboos against sailing on certain days, and mutual cooperation were maintained as complements to modern interventions. The program produced a local wisdom-based occupational safety model integrating cultural values, ecological knowledge, cadre capacity building, and policy advocacy. This model is expected to be replicable in other traditional fishing communities along the coast of South Sulawesi. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan model keselamatan kerja berbasis kearifan lokal pada pekerja tradisional nelayan di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Februari 2026 dengan melibatkan 60 nelayan aktif, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan petugas puskesmas. Metode yang digunakan meliputi survei pengetahuan dan perilaku keselamatan kerja (pre-test dan post-test), Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta lokakarya pengembangan model. Pendekatan kultural mengintegrasikan nilai-nilai lokal Bugis-Makassar, yaitu sipakatau (saling menghargai), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) ke dalam pesan-pesan keselamatan kerja modern. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan nelayan tentang risiko kecelakaan kerja dan penggunaan alat pelindung diri (APD) dari rata-rata skor 58 (pre-test) menjadi 82 (post-test). Sebanyak 75% nelayan yang sebelumnya tidak pernah menggunakan jaket pelampung mulai menggunakannya setelah pendampingan. Praktik kearifan lokal seperti ritual doa bersama sebelum melaut, tabu berlayar pada hari-hari tertentu, dan gotong royong tetap dipertahankan sebagai pelengkap intervensi modern. Kegiatan ini menghasilkan Model Keselamatan Kerja Berbasis Kearifan Lokal yang mengintegrasikan nilai budaya, kearifan ekologi, penguatan kapasitas kader, dan advokasi kebijakan. Model ini diharapkan dapat direplikasi pada komunitas nelayan tradisional lainnya di wilayah pesisir Sulawesi Selatan.