p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JIMI
M. Adam Amiruddin
Universitas Indonesia Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Otonomi Daerah: Antara Harapan Kesejahteraan dan Realitas Regulasi Ince Abdullah Nashih’ Ulwan; A.Risal Riandi Arkam; Muhammad Jabbar; Anis Kari; M. Adam Amiruddin; Slamat Supriyadi; Abd. Rahman; Budiman; Moch Fadel Alfarizi; Fadel Muhammad Tauphan Ansar; Mari’e Muhammad
JURNAL ILMIAH MULTIDISIPLIN INDONESIA Vol. 1 No. 3 (2026): April-Juni
Publisher : Samudra Ilmu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otonomi daerah merupakan salah satu bagian penting dalam kebijakan reformasi. Kebijakan ini lahir dengan tujuan mulia yaitu untuk mendekatkan pelayanan public dan mempercepat kesejahteraan masyarakat lokal didaerah melalui pemberian kewenang kepada daerah untuk mengatur rumah tangganya masing-masing. Namun dalam realitanya, target kemakmuran tersebut seringkali berbenturan dengan tingginya standar regulasi serta seringnya terjadi tumpah tinding antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan yang terjadi antara tujuan kesejahteraan (das sollen) dan realitas regulasi (das Sein) dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normative dan pendekatan hukum perundang undangan (statute approach), serta pendekatan konseptual (Conceptual Approach) hasil penelitian menunjukkan bahwa ego sektoral terkadang terjadi ditingkat pemerintah pusat. Akibatnya, daerah kehilangan ruang untuk berinovasi yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi didaerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otonomi daerah tidak akan pernah berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat selama regulasi tidak menyentuh akar harmonisasi hukum. Rekomendasi pada studi ini yaitu perlunya mekanisme hukum terkait singkronisasi satu pintu yang ditunjang dengan penguatan pengawasan  preventif terhadap pembentukan regulasi dalam mendukung pembangunan daerah.
Analisis Wanprestasi dan Peralihan Hak Jual Beli Tanah Bersertifikat Elektronik Perspektif Hukum Perdata Suhartati; Asrul Aswar; A.Risal Riandi Arkam; Muhammmad Jabbar; Anis Kari; M. Adam Amiruddin; Slamat Supriyadi; Abd. Rahman; Budiman; Moch Fadel Alfarizi; Fadel Muhammad Tauphan Ansar; Mari’e Muhammad
JURNAL ILMIAH MULTIDISIPLIN INDONESIA Vol. 1 No. 4 (2026): Juli-September
Publisher : Samudra Ilmu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diera modernisasi saat ini perkembangan teknologi semakin canggih. Sistem digitalisasi kian merambah berbagai aspek kehidupan, salah satunya masuk dalam implementasi sertifikat tanah elektronik (Sertifikat- el) oleh kementerian ATR/BPN. Hal ini bertujuan untuk modernisasi administrasi sekaligus menekan kasus sengketa tanah. Namun, ditengah masa transisi dari sertifikat manual kedigital memicu sebuah permasalahan baru, khususnya terkait kepemilikan ganda (Overlapping). Penelitian bertujuan untuk menganalisis karakteristik wanprestasi dalam transaksi tanah yang beralih digital dan merumuskan mekanisme penyelesaian sengketa kepemilikan ganda antara pemegan sertifikat manual dan sertifikat elektronik berdasarkan perspektif hukum perdata. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridi normative dengan pendekatan Perundang undangan (Statute Approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanprestasi terjadi jika salah satu pihak gagal memenuhi prestasi akibat yuridis dalam proses konversi digital, seperti manipulasi data visual atau pengabaian asas iktikad baik. Dalam hal kepemilikan ganda, hukum perdata di Indonesia memberikan perlindungan melalui pengujian asas Prior In tempore potior in jure ( yang pertama memiliki hak, dia yang lebih kuat). Penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui jalur non litigasi (mediasi di ATR/BPD0 maupun litigasi di pengadilan negeri untuk menuntut pembatalan sertifikat cacat hukum serta ganti rugi atas dasar perbuatan melawan hokum (PMH) atau wanprestasi. Kesimpulannya, sertifikat manual tetap memiliki kekuatan pembuktian yang sah selama belum dikonversi secara valid, dan sinkronisasi data fisik serta data yuridis mutlak untuk menjamin kepastian hukum.