Srihartati, Enik
Faculty Of Medicine, Universitas Muhammadiyah Surabaya

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Peran Hyaluronic Acid untuk Skin Rejuvenation Triastuti, Nenny; Srihartati, Enik; Primadina, Nova; Nabila, Iffah
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 1 No 2 (2024): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i02.23042

Abstract

Background: As you get older, some cells in the body experience a decrease in the amount of production, including hyaluronic acid. Hyaluronan or hyaluronic acid (HA) is a molecule involved in skin moisture. Skin that loses moisture easily becomes dehydrated and signs of aging appear. Moreover, extrinsic factors such as exposure to UV rays and changing weather conditions also affect the condition of the skin and cause damage to the skin's protective layer. Objective: to determine the role and effectiveness of hyaluronic acid for skin rejuvenation. Methods: Literature review with the title “The Role of Hyaluronic Acid for Skin Rejuvenation” is gain by systematic reviewing of some original research article journal and literature review using search engines such as Google Scholar, PubMed, Scopus, and Elsevier. Results: Hyaluronic Acid (HA) has a role in regulating various biological processes such as skin repair, wound healing, anti-inflammatory, tissue regeneration, and immunomodulation. HA filler injection is an effective therapy for skin rejuvenation because it hydrates, removes fine lines and signs of aging on the skin, and is used to shape facial anatomy according to the patient's wishes. Conclusion : Hyaluronic acid is proven to have effectiveness on skin rejuvenation.
HUBUNGAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN TERHADAP TERJADINYA PENDARAHAN POSTPARTUM DI RSI KALIANGET Riana, Riza Ela; Nursucahyo, Eko; Srihartati, Enik; Anas, Muhammad
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 1 No 2 (2024): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i02.23052

Abstract

Latar Belakang: Data WHO (2019) AKI sangat tinggi. Komplikasi utama yang menyebabkan kematian sekitar 75% diantaranya pendarahan yang cukup parah (sebagian besar terjadi saat pasca persalinan). Perdarahan postpartum adalah kehabisan darah lebih dari 500 ml melalui jalan lahir yang terjadi selama ataupun setelah kala III persalinan. Pendarahan postpartum primer terjadi di 24 jam pertama. Salah satu penyebab terjadinya pendarahan posrtpartum adalah anemia. Dampak negatif dari anemia yang tinggi seperti: hambatan dan gangguan pertumbuhan di sel otak maupun tubuh, kurangnya Hb didalam darah dapat mengurangi oksigen yang dibawa ke sel otak maupun tubuh. Ibu hamil yang anemia berisiko mengalami pendarahan postpartum. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara anemia dalam kehamilan terhadap pendarahan postpartum di RSI Kalianget. Metode: Penelitian ini menggunakan metode case control atau retrospective dengan teknik pengambilan sampel probability sampling dengan tipe simple random sampling pada ibu bersalin di RSI Kalianget Pada Tahun 2021-2022. Instrumen pengumpulan data menggunakan rekam medis dan analisis data menggunakan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil dari analisis bivariat dengan uji Mann-Whitney didapatkan bahwa anemia dalam kehamilan berhubungan dengan kejadian pendarahan postpartum (p-value = 0,001) di RSI Kalianget. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara anemia dalam kehamilan dengan terjadinya pendarahan postpartum.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan Remaja terhadap Retinol dalam Permasalahan Acne Vulgaris Zulfikri Firmansyah Prayitno Utomo; Nenny Triastuti; Yelvi Levani; Enik Srihartati
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 1 No 3 (2024): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v1i3.24775

Abstract

Acne vulgaris adalah gangguan inflamasi kronis yang menyerang terutama pada remaja dan dewasa muda yang disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan. Salah satu perawatan untuk penderita acne vulgaris adalah produk skincare dengan kandungan retinol. Tingkat pengetahuan remaja mengenai retinol dan acne vulgaris sangat berpengaruh terhadap pengobatan acne vulgaris dimana keterbatasan pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya dapat menimbulkan kesalahan dalam pengobatan. Tujuan: Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tingkat pengetahuan remaja mengenai retinol dalam mengurangi permasalahan acne vulgaris. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa/i SMPN 1 Ranuyoso dan SMAN 1 Klakah dengan total sampel sebanyak 91 orang. Pengujian dilakukan menggunakan uji chi square menggunakan SPSS versi 25. Hasil: Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja terhadap retinol terbanyak yaitu pada kategori baik dengan persentase 85,11%. Sedangkan tingkat keefektivitas retinol terhadap acne vulgaris adalah sebesar 96,7%. Pada uji chi square, penelitian ini menunjukkan tidak terdapat pengaruh tingkat pengetahuan remaja terhadap retinol dalam permasalahan acne vulgaris (p = 0,381). Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada tingkat pengetahuan remaja terhadap permasalahan acne vulgaris.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja dengan Ketepatan Pemilihan Produk Kosmetik Pemutih Kulit pada Siswi SMK di Kediri Mulki , Majda Laka Malikal; Triastuti , Nenny; Rahmawati , Yuli Wahyu; Srihartati , Enik
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 1 (2025): Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i1.25636

Abstract

Latar Belakang: Di Indonesia saat ini tidak sedikit masyarakat beranggapan bahwa perempuan cantik itu mereka yang berkulit putih seperti orang Korea. Obsesi berkulit putih membuat kalangan remaja putri menempuh berbagai macam cara agar kulitnya lebih putih daripada sebelumnya. Kepercayaan yang timbul bahwa orang yang berkulit putih itu cantik dan berkuasa mulai ada sejak penjajahan bangsa Eropa di Asia Selatan dan Asia Tenggara, karena suatu alasan yaitu ras kulit putih merupakan penguasa dan ras pribumi setempat merupakan jajahan. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan remaja dengan ketepatan pemilihan produk kosmetik pemutih kulit pada siswi SMK di Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan teknik pengambilan sampel Simple Random Sampling pada siswi SMK di Kediri. Hasil: Dari uji analisis menggunakan uji chi square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan ketepatan pemilihan produk dengan jumlah responden 62 orang, p value yang didapatkan adalah 0,00 taraf signifikansi (p<0,05) artinya terdapat hubungan antara variabel independent dan dependent. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan siswi dengan ketepatan pemilihan produk kosmetik pemutih kulit pada siswi SMK di Kediri. Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Ketepatan Pemilihan, Kosmetik Pemutih Kulit
Hubungan Pengetahuan dan Praktik Penggunaan Sunscreen dengan Kesehatan Kulit pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya Dwi Ayu Ramadhani, Dhiva; Srihartati, Enik; Ghufron, Musa; Triastuti, Nenny
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 3 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i3.28587

Abstract

Latar Belakang: Indonesia berada pada sekitar garis khatulistiwa sehingga mendapatkan paparan sinar matahari dengan intensitas tinggi, dari tiga lokasi yang dianggap mewakili suhu di Surabaya didapatkan rata-rata suhu pada angka 32,6 – 35,5oC. Sunscreen adalah kosmetik yang digunakan untuk mencegah dan meminimalisir efek samping atau bahaya paparan sinar UV. Di Indonesia persentase penderita kanker kulit sebesar 7% dan kanker kulit berada pada peringkat ketiga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan dan praktik penggunaan sunscreen dengan kesehatan kulit pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional desain cross sectional. Subjek penelitian ini merupakan mahasiswa angkatan 2021 hingga 2023 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya. Besar sampel minimal yang diperlukan adalah 76 responden. Pada realisasinya peneliti menyebarkan informed consent dan kuisioner, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling dan peneliti mendapatkan total sampel 80 responden. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman didapatkan sig. p 0,181 (>0,05) untuk korelasi pengetahuan terhadap praktik, sig. p. 0,215 (>0,05) terkait pengetahuan terhadap kesehatan kulit, dan sig. p. 0,001 (<0,05) pada praktik terhadap kesehatan kulit. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini menyatakan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap praktik dan kesehatan kulit, namun terdapat hubungan antara praktik penggunaan sunscreen terhadap kesehatan kulit responden.
Education As An Effort To Increase Public Awareness Of Leprosy Through The Health Promotion Program Of The Health Center, Dermatology Polyclinic, Muhammadiyah Hospital, Lamongan Enik Srihartati; Sofyan Azhari Dimya Putra; Aringga Yusuf Amrullah; Rosyinaafi Rudie Al Mahdi; Asra Zahra Asdi; Raisa Jehan Fawwazie; Qonita Aulianisa Isfahanni
DokTIn MEDIKA Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): Pebruary 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Leprosy remains a communicable disease that can cause permanent disability if not detected and treated early. Low community literacy about leprosy, particularly in primary health care settings such as Brondong Health Center, poses a major challenge. This community service program aimed to increase public awareness and knowledge regarding risk factors, signs and symptoms, and the importance of early detection of leprosy. Methods: The program applied a Service Learning (SL) approach, conducted directly at Brondong Health Center. Activities included interactive health education using presentations, educational videos, question-and-answer sessions, quizzes, and distribution of educational leaflets and posters. Evaluation was carried out using standardized pretest and posttest questionnaires. Result: The program showed an increase in participants’ knowledge scores, with the majority achieving at least a 50% improvement from pretest to posttest. Participants demonstrated higher awareness of leprosy symptoms and risk factors, as well as a positive response toward routine skin and nerve examinations. Conclusion: Community-based structured education through health promotion activities effectively improved public knowledge and awareness regarding leprosy. Such interventions play an important role in reducing delayed diagnosis and preventing disability in affected individuals. Keywords: Leprosy, Health Education, Community Awareness, Early Detection, Service Learning
PERAN HYALURONIC ACID UNTUK SKIN REJUVENATION Iffah Nabila; Enik Srihartati
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 2 (2023): Proceeding Series Fakultas Kedokteran
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ps.v1i2.18441

Abstract

 As you get older, some cells in the body experience a decrease in the amount of production, including hyaluronic acid. Hyaluronan or hyaluronic acid (HA) is a molecule involved in skin moisture. Skin that loses moisture easily becomes dehydrated and signs of aging appear. Moreover, extrinsic factors such as exposure to UV rays and changing weather conditions also affect the condition of the skin and cause damage to the skin's protective layer.  to determine the role and effectiveness of hyaluronic acid for skin rejuvenation.  Literature review with the tittle “The Role of Hyaluronic Acid for Skin Rejuvenation” is gain by systematic reviewing of some original research article journal and literature review using search engines such as Google Schoolar, PubMed, Scopus, and Elsevier. Hyaluronic Acid (HA) has a role in regulating various biological processes such as skin repair, wound healing, anti-inflammatory, tissue regeneration, and immunomodulation. HA filler injection is an effective therapy for skin rejuvenation because it hydrates, removes fine lines and signs of aging on the skin, and is used to shape facial anatomy according to the patient's wishes.  Hyaluronic acid is proven to have effectiveness on skin rejuvenation.  Keywords : Hyaluronic acid, filler, skin, rejuvenation
Diagnostic Utility Of Trichoscopy In Tinea Capitis A Systematic Review of Studies Using Mycological Confirmation Enik Srihartati
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 2 (2026): Proceeding Series LSPID UMSURA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i2.33429

Abstract

Background: Tinea capitis can mimic alopecia areata, seborrhoeic dermatitis, psoriasis and bacterial folliculitis. Mycological confirmation remains important, but potassium hydroxide microscopy is operator dependent and fungal culture may delay diagnosis. Trichoscopy enables rapid visualisation of characteristic hair-shaft and scalp abnormalities. Objective: To evaluate the diagnostic utility of trichoscopy in tinea capitis, including diagnostic accuracy, common signs and associations with dermatophyte species. Methods: Original human studies published from January 2016 to 27 July 2026 were identified through PubMed/MEDLINE, PubMed Central, publisher platforms and citation lists. Eligible studies assessed trichoscopy or scalp dermoscopy and incorporated potassium hydroxide microscopy, fungal culture and/or polymerase chain reaction. Findings were narratively synthesised because of heterogeneity. Results: Eight studies involving 640 participants were included. One prospective multicentre study reported 94% sensitivity, 83% specificity, 92% positive predictive value and 86% negative predictive value for at least one typical trichoscopic feature. Comma hairs, black dots, broken hairs and scaling were common. Reported species-associated patterns varied across geographic settings. Conclusion: Trichoscopy is a rapid adjunct for recognising tinea capitis and prioritising mycological testing. It should not replace potassium hydroxide microscopy or fungal culture, while species prediction remains insufficiently reliable for treatment decisions.