Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Evaluation of Physical Parameter Environment in the Hemodialysis Unit Based on Hospital Environmental Health Standards Ukik Agustina; Adelia Rahma Fadila; Vina Febrianita; Veinadaracantika Nur Anwar; Viola Az Zahra; Juniar Ayu Langen Sari
Open Access Health Scientific Journal Vol. 7 No. 2 (2026): August 2026
Publisher : Griya Eka Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55700/oahsj.v7i2.247

Abstract

Background:The physical environmental quality of a hemodialysis unit plays an important role in supporting safe and comfortable healthcare services, as well as preventing and controlling infections. This study aimed to evaluate the physical environmental parameters of the hemodialysis unit based on the Environmental Health Quality Standards (SBMKL), in accordance with Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 2 of 2023.Methods: This study employed a quantitative descriptive design to evaluate the physical environmental conditions of the treatment and isolation rooms in the hemodialysis unit. The parameters measured included air temperature, relative humidity, lighting, noise levels, Air Changes per Hour (ACH), and air pressure using calibrated instruments. The data were analyzed descriptively by comparing the measurement results with the Environmental Health Quality Standards (SBMKL).Results: The results showed that the mean air temperatures in the treatment and isolation rooms were 26.3°C and 26.5°C, respectively; relative humidity was 61.1% and 59.3%; lighting intensity was 262.8 lux and 273.2 lux; noise levels were 63.4 dB and 58.0 dB; Air Changes per Hour (ACH) were 21.6 and 19.5 times/hour; and air pressure was 1.5 Pa in both rooms. The lighting and ACH parameters met the applicable standards at all measurement points (100%), whereas air pressure did not meet the standard at any measurement point (0%). Relative humidity and noise levels showed higher compliance in the isolation room than in the treatment room. However, air temperature did not meet the applicable standards in either room.Conclusion: Based on results the concluded that quality environment physical hemodialysis unit Not yet fully fulfill SBMKL. Evaluation integrated all physical parameters required as indicator performance HVAC system for support quality service, prevention infection, and safety patient.
The Influence of Client Design Demands on Sleep Quality of Architectural Consultant Office Employees(Case Study: at Pt Narendra Karya) Alfina Hafidhoh; Ema Mayasari; Ali Sodik; Ukik Agustina
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.260

Abstract

Client design demands are one of the most common work demands faced by employees in architectural consulting firms. Design diversity, frequent changes in requirements, stringent quality control, and deadline pressures can increase mental stress and potentially impact employee sleep quality. This study aimed to explore the relationship between client design demands and sleep quality among employees at the PT Narendra Karya Architectural Consulting Firm. The methodology employed was a quantitative, observational, and analytical design with a cross-sectional approach. The sample size for this study was 33 employees, selected using a total sampling method. Information regarding client design demands was obtained through a questionnaire developed based on the Job Demands-Resources (JD-R) framework, while the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) was used to measure sleep quality. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis using the Spearman Rank test, and multivariate analysis using logistic regression. The findings indicated a significant relationship between client design demands and employee sleep quality (p = 0.021). The Exp(B) value of 1.621 indicates that increasing client design demands increases the likelihood of sleep quality problems. The results of this study indicate that the greater the design demands faced by employees, the higher the risk of their sleep quality declining. Therefore, companies should implement more planned workload management by setting achievable work targets, systematically organizing design revision processes, and efficiently managing deadlines to maintain employee health and sleep quality.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Keterampilan Penanganan Pestisida pada Petani Nanas (Studi Kasus: Desa Manggis Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri) Viola Az Zahra; Ukik Agustina
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.284

Abstract

Penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko paparan pestisida dan gangguan kesehatan pada petani. Pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang dapat memengaruhi keterampilan petani dalam melakukan penanganan pestisida secara aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap dengan keterampilan penanganan pestisida pada petani nanas di Desa Manggis, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 133 petani nanas yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner sikap, dan lembar observasi keterampilan. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 116 orang (87,2%), sikap cukup sebanyak 89 orang (66,9%), dan keterampilan tidak terampil sebanyak 80 orang (60,2%). Pada responden berpengetahuan baik, 53 orang (45,7%) terampil dan 63 orang (54,3%) tidak terampil. Berdasarkan sikap, 29 orang (65,9%) dengan sikap positif terampil, sedangkan pada sikap cukup hanya 24 orang (27,0%) yang terampil. Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap dengan keterampilan penanganan pestisida (p < 0,05). Peningkatan keterampilan perlu didukung edukasi aplikatif, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan berkelanjutan.
Hubungan Komponen Sanitasi Lapak Pedagang dengan Kepadatan Populasi Lalat di Pasar Setono Betek Kota Kediri Maria Dwika Natalia; Ukik Agustina
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.287

Abstract

Pasar tradisional menghasilkan limbah organik yang berpotensi mendukung keberadaan lalat sebagai vektor mekanis berbagai penyakit, sehingga kondisi sanitasi lapak perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan komponen sanitasi lapak pedagang dengan kepadatan populasi lalat di Pasar Setono Betek Kota Kediri. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 122 lapak yang dipilih melalui proportional random sampling. Data sanitasi diperoleh melalui observasi menggunakan lembar checklist yang mencakup tempat penjualan, air bersih, saluran pembuangan air limbah, pengendalian vektor, dan pengelolaan sampah. Kepadatan lalat diukur menggunakan fly grill dan dianalisis dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa 99 lapak (81,1%) memiliki kepadatan lalat rendah, 15 lapak (12,3%) sedang, dan 8 lapak (6,6%) tinggi. Terdapat hubungan signifikan antara tempat penjualan, saluran pembuangan air limbah, pengendalian vektor, dan pengelolaan sampah dengan kepadatan populasi lalat (p<0,001). Komponen air bersih tidak dapat dianalisis secara statistik karena seluruh lapak tidak memenuhi persyaratan. Disimpulkan bahwa perbaikan sanitasi secara terpadu diperlukan untuk mendukung pengendalian lalat dan menciptakan lingkungan pasar yang sehat.