Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SANTRI-SERVICE CENTER : PELATIHAN STANDAR OPERASIONAL PELAYANAN DAN HOSPITALITY BAGI PENGURUS PONDOK PESANTREN Candra Mochamad Surya; Ade Ismail Fahmi; Abdul Fatah; Agus Jaenal; Siti Aminah
ALAINA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): ALAINA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Cendekia Citra Gemilang Scholar Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/alaina.v3i2.1174

Abstract

Pondok pesantren di era modern dituntut untuk mengelola tata kelola pelayanan secara profesional tanpa mengikis nilai-nilai keislaman. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan konsep Santri-Service Center berbasis hospitality spiritual guna meningkatkan kualitas pelayanan publik di lembaga pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang dikombinasikan dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Pendampingan dilaksanakan selama dua bulan di Pondok Pesantren Daarul Hufaz, Kecamatan Batujaya, Karawang, dengan melibatkan 25 orang pengurus santri dan staf tata usaha sebagai subjek dampingan aktif. Tahapan PAR diterapkan secara sistematis meliputi pemetaan aset (Discovery), perumusan visi layanan (Dream), penyusunan draf Standar Operasional Prosedur/SOP (Design), pelaksanaan workshop dan roleplay hospitality (Destiny), serta evaluasi dan pembentukan Local Champions (Documentation). Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya pranata baru berupa unit Santri-Service Center, terkonfigurasinya layanan WhatsApp Business terpadu, serta tersedianya empat dokumen SOP Pelayanan Utama. Kegiatan ini juga berhasil mengubah perilaku pengurus menjadi lebih responsif, ramah, dan profesional, serta melahirkan kepemimpinan lokal penanggung jawab mutu layanan. Implikasi dari kegiatan ini membuktikan bahwa integrasi manajemen pelayanan modern ke dalam budaya pesantren mampu memangkas kesenjangan komunikasi, meningkatkan kepuasan wali santri, dan memperkuat citra positif pesantren. Model pendampingan ini dapat menjadi acuan strategis bagi transformasi tata kelola pelayanan pada lembaga pendidikan Islam berbasis keagamaan lainnya.
PENDAMPINGAN PENYUSUNAN MODUL AJAR IPS BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Meilia Prehartanti; Rahman Tanjung; Abdul Fatah; Hasan Al Banna; Ahmad Riyadi
ALAINA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): ALAINA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Cendekia Citra Gemilang Scholar Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/alaina.v3i2.1187

Abstract

Tuntutan Kurikulum Merdeka dalam menginternalisasi nilai budaya lokal di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) sering kali terhambat oleh keterbatasan kompetensi pedagogik guru dan tingginya ketergantungan pada buku teks komersial. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menguatkan kompetensi pedagogik guru MI melalui pendampingan penyusunan modul ajar IPS berbasis kearifan lokal. Pendampingan ini menerapkan metode Asset-Based Community Development (ABCD) melalui lima tahapan terintegrasi, yaitu pemetaan aset (discovery), perumusan visi (dream), perencanaan aksi (design), eksekusi pendampingan klinis (destiny/delivery), serta evaluasi (monitoring). Kegiatan ini melibatkan 30 guru IPS MI di Kecamatan Karawang Timur sebagai subjek pendampingan utama yang berlangsung secara intensif selama tiga bulan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi pedagogik guru yang signifikan, ditunjukkan oleh rerata N-Gain Score sebesar 0,70 (kategori tinggi) serta terwujudnya modul ajar IPS yang memenuhi kriteria sangat kontekstual (skor 3,65 dari skala 4). Selain itu, pendekatan ABCD berhasil mendorong lahirnya pranata baru berupa Tim Pengembang Modul Ajar KKG MI dan penguatan peran local leaders di tingkat madrasah. Implikasi dari kegiatan ini menegaskan bahwa pemberdayaan berbasis potensi komunitas tidak hanya menyelesaikan krisis bahan ajar kontekstual secara praktis, melainkan juga mentransformasi kemandirian profesionalisme guru serta memperkokoh pelestarian kearifan lokal melalui jalur pendidikan formal secara berkelanjutan.