Halusinasi, terutama halusinasi pendengaran yang memiliki prevalensi 70–80% pada pasien dengan gangguan psikotik, merupakan gejala yang sering ditemukan pada pasien skizoafektif dan dapat mengganggu fungsi sosial, perilaku, serta kualitas hidup. Manajemen halusinasi merupakan intervensi keperawatan penting untuk membantu pasien mengontrol gejala yang dialami. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan art therapy sebagai intervensi keperawatan pendukung dalam membantu pasien mengontrol halusinasi pendengaran dan penglihatan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan laporan kasus pada seorang pasien perempuan usia 26 tahun dengan diagnosis skizoafektif tipe manik yang dirawat di rumah sakit jiwa selama delapan hari. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan status mental, dan telaah rekam medis. Intervensi yang diberikan meliputi teknik menghardik, kepatuhan minum obat, bercakap-cakap dengan orang lain, serta art therapy berupa menggambar dan mewarnai. Hasil menunjukkan penurunan frekuensi halusinasi, peningkatan kemampuan mengenali dan mengontrol halusinasi secara mandiri, berkurangnya perilaku berbicara dan tertawa sendiri, serta peningkatan keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari. Kombinasi intervensi generalis dan art therapy membantu meningkatkan orientasi realitas, regulasi emosi, dan kemampuan koping. Penerapan manajemen halusinasi berpengaruh dalam membantu pasien mengontrol halusinasi dan mendukung proses pemulihan. Perawat jiwa disarankan mengintegrasikan art therapy sebagai intervensi pendukung dalam manajemen halusinasi.