Devita Larasati Tupen
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dalam Mewujudkan Pembangunan Partisipatif: Studi di Kabupaten Sleman Devita Larasati Tupen; Fadhia Chalisha Adzzahra; Intan Ayu Kusuma Dewi; Fatkhuri Fatkhuri; Gema Pertiwi
Jurnal Politik dan Pemerintahan Daerah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jppd.v7i2.259

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of the implementation of the Village Development Planning Meeting (Musrenbangdes) in Sleman Regency in realizing participatory development. Using a qualitative method based on literature review, the study examines the implementation of Musrenbangdes through a policy implementation approach, community participation theory, and the concept of participatory development. The analysis was conducted by examining the dynamics of the deliberation process, the involvement of actors, and the extent to which the Musrenbangdes mechanism was able to accommodate the aspirations of residents in village planning. The results of the study show that Musrenbangdes is quite effective in terms of transparency, information dissemination, and aspiration absorption, especially in villages with strong apparatus capacity and good use of information technology. In addition, most of the community's proposals were successfully integrated into planning documents such as the RKPDes and RPJMDes. However, the quality of meaningful participation still faces structural obstacles, including the dominance of local elites in the deliberation process, disparities in community capacity and literacy, and the weak role of the Village Consultative Body (BPD) in carrying out its representative and supervisory functions. Variations in effectiveness between villages are also influenced by social characteristics, local culture, leadership quality, and the ability of village facilitators to create an equitable discussion space. Overall, the study confirms that Musrenbangdes has a strategic role in strengthening participatory development in Sleman, but institutional capacity building, consistent transparency, strengthened oversight, and improved deliberation quality are needed to make the village planning process more inclusive, responsive, and accountable.
Dinamika Peluang Politik dan Inovasi Taktis pada Kampanye digital tolakruupilkada2024 Devita Larasati Tupen; Princess Ngozi Chika; Aniqotul Ummah
All Fields of Science Journal Liaison Academia and Sosiety Vol. 1 No. 1: Maret 2026
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58939/afosj-las.v1i1.1303

Abstract

Perkembangan demokrasi Indonesia pada satu dekade terakhir menunjukkan transformasi signifikan menuju kontestasi politik berbasis teknologi digital Kampanye TolakRUUPilkada2024 menjadi salah satu contoh menonjol bagaimana aktivisme digital muncul sebagai respons terhadap upaya revisi Undang Undang Pilkada yang dinilai berpotensi melemahkan demokrasi lokal dan mengabaikan prinsip partisipasi publik Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika gerakan sosial digital tersebut dengan menekankan bagaimana peluang politik strategi mobilisasi dan struktur ruang digital berinteraksi dalam menekan proses legislasi yang dianggap elitis Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis melalui studi kasus Data dikumpulkan melalui penelusuran dokumen kebijakan laporan lembaga terkait demokrasi publikasi akademik statistik partisipasi politik serta pemberitaan media Analisis dilakukan menggunakan teknik reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan berbasis kerangka teori Political Opportunity Structure dan Resource Mobilization Theory Temuan menunjukkan bahwa gerakan TolakRUUPilkada2024 berhasil menciptakan tekanan publik melalui pemanfaatan taktik digital seperti hashtag activism kolaborasi lintas platform serta keterlibatan influencer untuk memperluas jangkauan isu Kampanye ini memperkuat identitas kolektif prodemokrasi dan meningkatkan kesadaran politik generasi muda Namun demikian gerakan ini juga menghadapi sejumlah keterbatasan seperti risiko slacktivism bias representasi digital serta tantangan polarisasi dan disinformasi yang dipicu algoritma media sosial Dengan demikian kampanye digital terbukti memiliki potensi besar dalam memperkuat partisipasi warga dan akuntabilitas politik namun efektivitas jangka panjangnya tetap bergantung pada kemampuan untuk mengintegrasikan mobilisasi daring dengan advokasi formal guna mencapai perubahan kebijakan yang substansial dan berkelanjutan