Ayi Sobarna
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penggunaan Media Tangram untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis Anak Usia Dini Rosi Mila Sari; Ayi Sobarna
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 69-78
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.20716

Abstract

Abstract. This research was motivated by the inability of early childhood to think logically, such as classifying shapes based on colour, size and shape, grouping similar shapes, and sorting objects from smallest to largest. The purpose of this research was to determine the logical thinking ability of early childhood using tangram media. This research uses the classroom action research method. The data collection techniques used are documentation, interviews, observation and tests. The data analysis techniques used are qualitative and quantitative data. To enhance the logical thinking ability of young children, tangram media was used. Before using tangram media, a pre-cycle was conducted, with an average pre-cycle score of 49. This was followed by cycle I with an average score of 66.30, cycle II with 79.70, and cycle III with 87.20. The results of the paired sample t-test also showed that the pre-cycle and cycle I were significant (sig. 0.019 < 0.05, Cycle I and Cycle II sig. 0.000 < 0.05, Cycle II and Cycle III sig. 0.011 < 0.05. Based on this, it can be concluded that Ha is accepted and Ho is rejected. Therefore, it can be concluded that the use of tangram media is effective in improving the logical thinking skills of young children at Raudhatul Athfal Manbaul Huda. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan berpikir logis anak usia dini seperti mengklasifikasikan bentuk berdasarkan warna, ukuran dan bentuk, mengelompokkan bentuk yang sama atau sejenis dan mengurutkan benda dari paling terkecil ke paling besar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan berpikir logis anak usia dini dengan menggunakan media tangram. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dokumentasi, wawancara, observasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis anak usia dini yaitu menggunakan media tangram. sebelum menggunakan media tangram, dilakukan pra siklus, hasil nilai rata rata pra siklus sebesar 49, setelah itu dilakukan siklus I dengan nilai rata-rata 66.30, siklus II 79,70 dan siklus III 87,20 dan dapat dilihat juga dari hasil uji t paired sampel t test, pra siklus dan siklus I sig. 0,019 < 0,05, siklus I dan siklus II sig. 0,000 < 0,05 , siklus II dan siklus III sig. 0,011 < 0,05. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media tangram efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis anak usia dini di Raudhatul Athfal Manbaul Huda.
Dari Adaptasi ke Internalisasi: Implementasi MPLS di Pendidikan Anak Usia Dini Rinka Alifa; Ayi Sobarna; Arif Hakim
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 145-152
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21238

Abstract

Abstract. The transition period from home to school is a critical phase that significantly influences a child's educational journey. The School Environment Introduction Program (MPLS) is designed as an intervention to facilitate this process, yet in-depth and holistic research examining its implementation remains limited. This study aims to comprehensively analyze the planning, implementation, and outcomes of the MPLS program in developing the adaptation skills of new students at a Raudhatul Athfal (RA). Using a qualitative approach with a case study method, data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews with the principal and teachers, and document analysis at RA Al-Khoer, Bandung. Data validity was tested using source and technique triangulation. The findings identify three typologies of student adaptation: (1) fast and smooth adaptation, (2) gradual adaptation with intensive support, and (3) adaptation as a corrective emotional experience for students with negative school histories. The program's success is rooted in planning that builds an "ecological bridge" (mesosystem) between home and school, and a flexible, responsive implementation that effectively serves as pedagogical scaffolding and fulfills children's basic psychological needs for relatedness, competence, and autonomy. An effective MPLS program not only facilitates adaptation but can also function as a therapeutic intervention that repairs a child's perception of school and fosters internal motivation to learn. Abstrak. Masa transisi dari rumah ke sekolah merupakan periode kritis yang sangat memengaruhi perjalanan pendidikan anak. Program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dirancang sebagai intervensi untuk memfasilitasi proses ini, namun penelitian yang mengkaji proses implementasinya secara mendalam dan holistik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif proses perencanaan, pelaksanaan, dan hasil dari program MPLS dalam membangun kemampuan adaptasi peserta didik baru di sebuah Raudhatul Athfal (RA). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah dan guru, serta analisis dokumen di RA Al-Khoer, Bandung. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tipologi adaptasi siswa: (1) adaptasi cepat dan mulus, (2) adaptasi bertahap dengan dukungan intensif, dan (3) adaptasi sebagai pengalaman emosional korektif bagi siswa dengan riwayat sekolah negatif. Keberhasilan program ini berakar pada perencanaan yang membangun "jembatan ekologis" (mesosistem) antara rumah dan sekolah, serta pelaksanaan yang fleksibel dan responsif, yang secara efektif berfungsi sebagai perancah (scaffolding) pedagogis dan memenuhi kebutuhan psikologis dasar anak akan keterhubungan, kompetensi, dan otonomi. Program MPLS yang efektif tidak hanya memfasilitasi adaptasi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai intervensi terapeutik yang memperbaiki persepsi anak terhadap sekolah dan menumbuhkan motivasi internal untuk belajar.
Analisis Strategi Guru dalam Penggunaan Ice Breaking untuk Meningkatkan Konsentrasi Anak Usia 5-6 Tahun Siti Ammirahmaini; Ayi Sobarna; Dedih Surana
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 159-166
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21436

Abstract

Abstract. At the age of 5 to 6 years, concentration skills are a crucial factor influencing a child's success in learning. In reality, many young children, especially those aged 5 to 6, still have difficulty maintaining concentration during learning activities. This study aims to determine teachers' strategies for improving the concentration of children aged 5 to 6 through ice-breaking activities. This study used qualitative research with descriptive analytical methods. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The subjects were class B teachers, the principal, and 10 students aged 5 to 6. The results showed that teachers at RA At-Thoharoh used various types of ice-breaking activities, such as rhythmic clapping, movements and songs, and simple games to improve the concentration of children aged 5 to 6. The implementation procedure was carried out in stages, including observing the child's condition, selecting appropriate activities, providing examples, actively involving the child, and evaluating the child's responses. Ice-breaking has been proven effective in improving focus, learning readiness, and engagement in learning. However, not all children respond optimally. Some children still require a personalized approach, especially when facing environmental distractions or having special needs. Teachers address these challenges through flexible strategies and support from the school. Abstrak. Pada usia 5 sampai 6 tahun, kemampuan konsentrasi menjadi salah satu aspek krusial yang memengaruhi keberhasilan anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Kenyataannya masih banyak anak usia dini terkhususnya usia 5 sampai 6 tahun yang mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasinya selama kegiatan belajar berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru dalam meningkatkan konsentrasi anak usia 5 sampai 6 tahun melalui kegiatan ice breaking. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru kelas kelompok B, kepala sekolah, dan 10 orang anak didik usia 5 sampai 6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di RA At-Thoharoh menggunakan berbagai jenis ice breaking seperti tepuk ritmis, gerak dan lagu, serta permainan sederhana untuk meningkatkan konsentrasi anak usia 5 sampai 6 tahun. Prosedur pelaksanaan dilakukan secara bertahap, meliputi pengamatan kondisi anak, pemilihan kegiatan yang sesuai, pemberian contoh, pelibatan aktif anak, hingga evaluasi berdasarkan respons. Ice breaking terbukti efektif dalam meningkatkan fokus, kesiapan belajar, dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Namun, tidak semua anak merespons secara optimal. Beberapa anak masih membutuhkan pendekatan personal, terutama saat menghadapi gangguan lingkungan atau memiliki kebutuhan khusus. Guru mengatasi tantangan tersebut melalui strategi yang fleksibel dan dukungan dari sekolah.