Arrayyan Alwan Sayyidina
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Pola Aksesibilitas Mahasiswa Pada Jam Sibuk Sebagai Penentuan Zona Prioritas Penguatan Angkutan Umum di Ruas Jalan Setiabudi Kota Bandung Arrayyan Alwan Sayyidina; Elis Lisnawati; Muhammad Syahmi Syihabudin; Nazhira Mahagiena Senjaya; Sypa Septiani; Lili Somantri; Tania Septi Anggraini
Jurnal Media Publikasi Terapan Transportasi Vol. 4 No. 2 (Agustus) (2026)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mitrans.v4n2.p577-590

Abstract

Ketergantungan masyarakat Kota Bandung dalam penggunaan kendaraan pribadi menjadi faktor utama dalam peningkatan volume kendaraan di beberapa ruas jalan. Terutama pada pusat kegiatan seperti kawasan perguruan tinggi yang tidak menggunakan sistem zonasi sehingga pengguna jalan cenderung berasal dari wilayah yang beragam. Disisi lain, fasilitas transportasi umum Kota Bandung masih belum memadai untuk merubah pola penggunaan kendaraan pribadi masyarakat. Tentunya perlu melakukan analisis lebih lanjut terkait ketersediaan transportasi umum dari Kota Bandung sebagai langkah awal dalam penanggulangan masalah tersebut. Dalam penelitian ini analisis dilakukan menggunakan pendekatan sistem informasi geografis yang menganalisis data statistik melalui visualisasi peta. Melalui pemetaan choropleth dan teknik isokron, ketersediaan transportasi umum di berbagai wilayah Kota Bandung berdasarkan waktu tempuh mahasiswa dapat teridentifikasi. Pola aksesibilitas mahasiswa pun perlu dianalisis menggunakan K-Means Clustering sebagai variabel tambahan dalam penentuan wilayah prioritas penguatan angkutan umum. Hasil pada penelitian ini menunjukkan dominasi penggunaan kendaraan pribadi sebesar 74,5%, yang mengindikasikan tingginya ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Waktu tempuh mahasiswa menuju kawasan kampus didominasi oleh durasi 15 - 45 menit pada pagi hari, namun cenderung mengalami peningkatan pada sore hari. Sedangkan waktu tempuh terlama konsisten dialami oleh mahasiswa yang berasal dari kecamatan gedebage yaitu > 6o menit.
Analisis Spasial-Temporal Hubungan Intensitas Cahaya Malam dan PDRB Provinsi Jawa Barat Tahun 2015–2024 Adelia Marsya Setiawan; Aisah Nurcahya; Arrayyan Alwan Sayyidina; Sypa Septiani; Lili Somantri; Achmad Fadhilah
Jurnal ENMAP (Environment and Mapping) Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/enmap.v7i1.110049

Abstract

West Java Province is one of the largest economic contributors in Indonesia and has experienced rapid urbanization and industrialization; however, Gross Regional Domestic Product, which is aggregated by administrative unit, cannot capture the spatial distribution of economic activity. This study aimed to analyze the spatio-temporal relationship between nighttime light intensity and Gross Regional Domestic Product across the regencies and cities of West Java from 2015 to 2024. The data comprised VIIRS Day/Night Band nighttime light imagery, Gross Regional Domestic Product at current prices from Statistics Indonesia, and administrative boundaries. The analysis employed Pearson correlation, classical assumption tests, simple linear regression, time series projection up to 2035, and K-Means clustering. The results showed that Gross Regional Domestic Product increased from IDR 1,535,012 billion in 2015 to IDR 2,836,439 billion in 2024, while nighttime light intensity rose by approximately 60% and followed a strong linear trend with a coefficient of determination of 0.9569. The projection indicated that Gross Regional Domestic Product would reach approximately IDR 4,251,519 billion in 2035. The cluster analysis revealed that the centre of economic activity strengthened in the northern corridor, namely Bekasi, Karawang, Bogor, and Cirebon, together with Greater Bandung, whereas the southern region remained in lower clusters. These findings suggest that nighttime light can serve as a complementary indicator for monitoring regional economic growth and spatial inequality, and that development policies should strengthen the connectivity of southern West Java.