Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

STRENGTHENING THE EARLY CHILDHOOD LEARNING ECOSYSTEM THROUGH THE ESTABLISHMENT OF THE RUANG MASA DEPAN: A COMMUNITY-BASED COLLABORATIVE PROGRAM Minhatul Ma’arif; Inayatul Izzati Diana Yusuf; Siti Aminatul Zahro; Vanessa Reva Amalia; Lailaturrohmah Aulia; Sevti Noviyant; Encep Saefullah
International Journal of Engagement and Empowerment (IJE2) Vol. 6 No. 2 (2026): International Journal of Engagement and Empowerment
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ije2.v6i2.282

Abstract

The limited availability of community-based learning spaces that integrate character education, creativity, environmental awareness, and digital literacy remains a challenge in supporting sustainable early childhood learning. This community service program aimed to strengthen the early childhood learning ecosystem through the establishment of the ”ruang masa depan”, a collaborative learning environment involving schools, families, and the local community. The program was implemented on 25 July 2026 in Pasuluhan Village, Walantaka District, Serang City, Banten Province, using a Participatory Action Research (PAR) approach. Participants included 41 children, 20 university students, 2 lecturers, 8 village youth volunteers, early childhood education teachers, village officials, and community members. The implementation consisted of four stages: needs identification, establishment of the ruang masa depan, program implementation, and monitoring and evaluation. The ruang masa depan was developed into four learning zones: the mini cinema for environmental character education, the creativity zone for artistic and creative activities, the hope tree for strengthening children's motivation and aspirations, and the digital literacy zone for introducing age-appropriate digital reading and writing activities. The program successfully established a community-based learning centre that increased children's participation in contextual learning while strengthening collaboration among schools, families, universities, and the community. The ruang masa depan demonstrates the potential to serve as a sustainable community empowerment model that supports holistic early childhood development and can be replicated in other communities with similar characteristics.
Ruang Masa Depan: Membangun Ekosistem Pendidikan Karakter Anak Berbasis Film Edukatif dan Aktivitas Kreatif untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas di Desa Pasuluhan Minhatul Ma’arif; Inayatul Izzati Diana Yusuf; Siti Mardiyati; Sufrotun Diyah; Bagas; Hana Muliya
Prosiding Senapas Vol. 1 No. 1 (2026): Prosiding Senapas
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68321/x37hv682

Abstract

Anak membutuhkan lingkungan belajar yang positif untuk mengembangkan karakter, kreativitas, kemampuan berekspresi, dan orientasi terhadap masa depan. Kebutuhan tersebut semakin penting di tengah meningkatnya paparan film, video, dan konten digital yang belum seluruhnya mendukung perkembangan positif anak. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengembangkan “Ruang Masa Depan” sebagai ruang pendidikan karakter berbasis komunitas melalui integrasi film edukatif dan aktivitas kreatif di Desa Pasuluhan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan anak, mahasiswa KKM, guru, orang tua, pemuda, dan masyarakat melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perencanaan partisipatif, aksi, refleksi, dan tindak lanjut. Data diperoleh melalui observasi, diskusi reflektif, dokumentasi, dan analisis karya anak. Hasil menunjukkan keterlibatan anak yang tinggi, ditunjukkan oleh 92% anak memperhatikan pemutaran film, 88% mengikuti aktivitas kreatif, dan 81% berani menyampaikan pendapat. Penguatan nilai karakter menunjukkan capaian pada aspek kerja sama sebesar 90%, kejujuran 85%, dan kepedulian 83%. Aktivitas kreatif menghasilkan capaian 93% anak mampu menghasilkan karya gambar dan 89% mampu mengekspresikan cita-cita melalui “Pohon Masa Depan”. Hasil tersebut menunjukkan bahwa integrasi fil edukatif dan aktivitas kreatif mampu menyediakan ruang belajar yang partisipatif untuk memperkuat karakter, kreativitas, dan orientasi masa depan anak. Program juga memperkuat kolaborasi komunitas dan berkontribusi terhadap SDG 4, SDG 10, dan SDG 17.
Penguatan Keselamatan Rumah Tangga melalui Program SIGAP GAS (Siaga Mengantisipasi Bahaya Gas) di Desa Pasuluhan Sun’ah; Farhan Assani Suharno; Syamil Azzam; Didik Dzikrulloh; Adam Widiatna; Minhatul Ma’arif; Inayatul Izzati Diana Yusuf
Prosiding Senapas Vol. 1 No. 1 (2026): Prosiding Senapas
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68321/kwdq4n20

Abstract

Keselamatan rumah tangga merupakan salah satu prasyarat penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Sustainable Development Goal (SDG) 3: kehidupan sehat dan sejahtera. Namun, penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai sumber energi utama rumah tangga masih menyimpan risiko tinggi terhadap kebocoran gas yang dapat memicu kebakaran, ledakan, keracunan, hingga korban jiwa apabila tidak disertai dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi yang memadai. Rendahnya literasi masyarakat mengenai penggunaan LPG yang aman menjadikan risiko tersebut semakin besar, terutama di lingkungan permukiman padat. Di Desa Pasuluhan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, sebagian masyarakat belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai penyebab kebocoran gas, tanda-tanda awal kebocoran, langkah penanganan darurat, serta praktik penggunaan tabung LPG yang aman. Kondisi ini menunjukkan perlunya program edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran sekaligus membangun budaya keselamatan rumah tangga. Sebagai upaya preventif, dilaksanakan Program SIGAP GAS (Siaga Mengantisipasi Bahaya Gas) yang bertujuan memperkuat pengetahuan, sikap, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah serta menangani risiko kebocoran gas rumah tangga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perencanaan partisipatif, pelaksanaan edukasi dan simulasi penanganan kebocoran gas, serta evaluasi dan refleksi bersama masyarakat. Program melibatkan warga Desa Pasuluhan dengan dukungan pemerintah desa. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai penggunaan LPG yang aman, kemampuan mengenali potensi kebocoran gas, serta kesiapsiagaan dalam melakukan tindakan awal ketika terjadi keadaan darurat. Selain itu, program berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya budaya keselamatan rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan risiko bencana domestik. Dengan demikian, Program SIGAP GAS menjadi model edukasi preventif yang efektif dalam memperkuat keselamatan rumah tangga, meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi risiko kebocoran gas, serta mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Penguatan Kemandirian Kesehatan Masyarakat melalui Program Kebun Ajaib Berbasis Pemanfaatan Pekarangan Rumah di Desa Pasuluhan Amanda Deliana Rahayu; Nur Sella Agustin; Nadya Afriza Putri Ariyanik; Adam Al Bani; Rizki Sabiludin; Minhatul Ma’arif; Inayatul Izzati Diana Yusuf
Prosiding Senapas Vol. 1 No. 1 (2026): Prosiding Senapas
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68321/0ps5ft82

Abstract

Kesehatan masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goal (SDG) 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut adalah mengoptimalkan potensi sumber daya lokal melalui pemanfaatan pekarangan rumah sebagai media budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Selain menyediakan bahan herbal yang mudah diakses, pemanfaatan pekarangan juga berperan dalam membangun budaya hidup sehat dan meningkatkan kemandirian kesehatan keluarga. Namun, di Desa Pasuluhan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, sebagian besar pekarangan rumah masih belum dimanfaatkan secara optimal akibat rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat, jenis, dan teknik budidaya tanaman obat. Kondisi tersebut menyebabkan potensi sumber daya lokal belum mampu dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kesehatan keluarga. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, dilaksanakan Program Kebun Ajaib, yaitu program pemberdayaan masyarakat yang mengubah pekarangan rumah menjadi Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat kemandirian kesehatan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang meliputi identifikasi kebutuhan, perencanaan partisipatif, pelaksanaan edukasi dan penanaman TOGA, serta evaluasi dan refleksi bersama masyarakat. Program melibatkan 19 warga dengan dukungan Pemerintah Desa Pasuluhan. Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya Program Kebun Ajaib pada 10 pekarangan rumah warga dengan penanaman tujuh jenis tanaman obat, yaitu kumis kucing (Orthosiphon aristatus), jahe (Zingiber officinale), jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), kunyit (Curcuma longa), lengkuas (Alpinia galanga), serai (Cymbopogon citratus), dan kencur (Kaempferia galanga). Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman obat, mengoptimalkan pekarangan rumah menjadi kebun herbal keluarga, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan demikian, Program Kebun Ajaib menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang efektif dalam memperkuat kemandirian kesehatan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.