Ratih Aryani
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Jenis Polimer dalam Pengembangan Mucoadhesive-NLC untuk Intranasal Brain Delivery Aulia Nurfauziyah Islamiati; Sani Ega Priani; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 33 - 42
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24029

Abstract

Abstract. The highly selective blood-brain barrier (BBB) poses a major obstacle to brain drug delivery, and the intranasal route has emerged as a non-invasive approach capable of bypassing the BBB via the olfactory and trigeminal pathways. Combining nanostructured lipid carriers (NLC) with mucoadhesive polymers can prolong the residence time of the formulation on the nasal mucosa, although its physicochemical performance is strongly influenced by the type of polymer used. This study aims to examine the types of mucoadhesive polymers used in the development of mucoadhesive-NLC systems for intranasal brain delivery and their effect on physicochemical characteristics, using a Systematic Literature Review (SLR) of 22 reputable articles meeting the inclusion criteria. Results showed that natural polymers (chitosan, gellan gum, sodium hyaluronate) and synthetic polymers (HPMC, carbopol, poloxamer) produced NLC systems with particle sizes of 41.55-255 nm, PDI below 0.3; zeta potential of -39.3 to +41 mV, entrapment efficiency of 63.7-99.99%, and mucoadhesive strength varying according to polymer charge and binding mechanism. Cationic polymers such as chitosan enhanced mucoadhesion through electrostatic interaction with negatively charged mucus, while thermoreversible polymers such as poloxamer and gellan gum strengthened retention through in situ gel formation at physiological temperature. Overall, these findings confirm that the selection of polymer type is a critical factor determining the physicochemical characteristics of mucoadhesive-NLC systems for intranasal brain delivery. Abstrak. Blood-brain barrier (BBB) yang sangat selektif menjadi hambatan utama penghantaran obat ke otak, rute intranasal berkembang sebagai pendekatan non-invasif yang mampu melewati BBB melalui jalur olfaktorius dan trigeminal. Kombinasi nanostructured lipid carrier (NLC) dengan polimer mukoadhesif dapat memperpanjang waktu tinggal sediaan pada mukosa hidung, namun performa fisikokimianya sangat dipengaruhi oleh jenis polimer yang digunakan. Penelitian ini bertujuan mengkaji jenis-jenis polimer mukoadhesif dalam pengembangan sistem mukoadhesif-NLC untuk intranasal brain delivery serta pengaruhnya terhadap karakteristik fisikokimia melalui metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap 22 artikel bereputasi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa polimer alami (chitosan, gellan gum, sodium hyaluronate) dan polimer sintesis (HPMC, carbopol, poloxamer) menghasilkan sistem NLC dengan ukuran partikel 41,55-255 nm, PDI di bawah 0,3; zeta potensial -39,3 hingga +41 mV, efisiensi penjerapan 63,7-99,99%, serta kekuatan mukoadhesif yang bervariasi sesuai muatan dan mekanisme ikatan polimer. Polimer kationik seperti chitosan meningkatkan mukoadhesi melalui interaksi elektrostatik dengan mukus yang bermuatan negatif, sedangkan polimer termoreversibel seperti poloxamer dan gellan gum memperkuat retensi melalui pembentukan gel in situ pada suhu fisiologis. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa pemilihan jenis polimer merupakan faktor penting yang menentukan karakteristik fisikokimia sistem mukoadhesif-NLC untuk intranasal brain delivery.
Studi Literatur: Potensi Minyak Nabati sebagai Antiinflamasi Topikal pada Penyembuhan Luka Daffa Hanif Fadillah; Budi Prabowo Soewondo; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 79 - 86
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24488

Abstract

Abstract. Wound healing is a complex biological process involving hemostasis, inflammation, proliferation, and tissue remodeling. Excessive or prolonged inflammation may delay epithelialization, collagen formation, and tissue regeneration. Conventional topical therapies, including antiseptics and nonsteroidal anti-inflammatory drugs, may cause adverse effects with long-term use, encouraging the exploration of natural alternatives. This literature review aimed to evaluate the potential of vegetable oils as topical anti-inflammatory agents in wound healing. Literature was collected from PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and MDPI published between 2015 and 2026 using keywords related to vegetable oils, anti-inflammatory activity, topical application, and wound healing. The review included in vitro, in vivo, and clinical studies. Sesame oil, virgin coconut oil, olive oil, sunflower oil, and black seed oil were identified as the most frequently investigated oils. Their anti-inflammatory effects are associated with bioactive compounds such as sesamin, sesamol, oleuropein, hydroxytyrosol, lauric acid, linoleic acid, and thymoquinone. These compounds may modulate NF-κB signaling, reduce pro-inflammatory cytokines, inhibit COX-2 expression, and enhance collagen synthesis and angiogenesis. Current evidence suggests that vegetable oils have promising potential as supportive topical therapies for wound healing; however, further standardized clinical studies are required to determine optimal formulations and therapeutic concentrations. Abstrak. Penyembuhan luka merupakan proses biologis kompleks yang melibatkan fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan. Inflamasi yang berlebihan atau berkepanjangan dapat menghambat epitelisasi, pembentukan kolagen, dan regenerasi jaringan. Terapi topikal konvensional seperti antiseptik dan obat antiinflamasi nonsteroid dapat menimbulkan efek samping pada penggunaan jangka panjang sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Kajian literatur ini bertujuan mengevaluasi potensi minyak nabati sebagai agen antiinflamasi topikal pada penyembuhan luka. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan MDPI untuk artikel yang diterbitkan pada tahun 2015–2026 dengan kata kunci terkait minyak nabati, aktivitas antiinflamasi, aplikasi topikal, dan penyembuhan luka. Kajian mencakup penelitian in vitro, in vivo, dan klinis. Minyak wijen, virgin coconut oil, minyak zaitun, minyak bunga matahari, dan minyak jintan hitam merupakan minyak yang paling banyak diteliti. Aktivitas antiinflamasi minyak tersebut berkaitan dengan kandungan sesamin, sesamol, oleuropein, hidroksitirosol, asam laurat, asam linoleat, dan timoquinon. Senyawa-senyawa tersebut berpotensi memodulasi jalur NF-κB, menurunkan sitokin proinflamasi, menghambat ekspresi COX-2, serta meningkatkan sintesis kolagen dan angiogenesis. Berdasarkan bukti yang tersedia, minyak nabati berpotensi sebagai terapi topikal pendukung penyembuhan luka, namun masih diperlukan penelitian klinis terstandar untuk menentukan formulasi dan konsentrasi terapeutik yang optimal.
Formulasi dan Evaluasi Film Forming Solution Melatonin untuk Terapi Insomnia Alya Reiva Ramadhani Saybia; Purwaeni Purwaeni; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 191 - 200
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24641

Abstract

Abstract. This study aimed to formulate and evaluate a melatonin-loaded film-forming solution (FFS) as a transdermal drug delivery system and to determine its permeation profile and sedative effect through a clinical study. The formulations were prepared using different concentrations of polyvinyl alcohol (PVA) and polyethylene glycol (PEG) as the plasticizer. The prepared formulations were evaluated for organoleptic characteristics, pH, viscosity, drying time, tackiness, and stability. Permeation studies were carried out using a Franz diffusion cell with shed snake skin as the diffusion membrane. The sedative effect was evaluated in human subjects using a pre-test–post-test design based on the Insomnia Severity Index (ISI). All formulations met the required physical quality criteria, and Formula F1 was selected as the optimal formulation because it exhibited the most suitable viscosity and drying time. The permeation study indicated that melatonin showed low permeation across the membrane, while the clinical study demonstrated no statistically significant difference between the melatonin-treated group and the placebo group. Therefore, the melatonin-loaded film-forming solution has not yet shown sufficient potential as a non-invasive transdermal therapy for improving sleep quality. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sediaan Film Forming Solution (FFS) yang mengandung melatonin sebagai sistem penghantaran transdermal serta menguji kemampuan permeasi dan aktivitas sedatifnya menggunakan uji klinis. Sediaan diformulasikan dengan variasi konsentrasi polimer PVA dan plastisizer polietilen glikol, kemudian dievaluasi meliputi uji organoleptik, pH, viskositas, waktu pengeringan, kelengketan, dan stabilitas. Uji permeasi dilakukan menggunakan sel difusi Franz dengan membran kulit ular lepas, sedangkan uji aktivitas sedatif dilakukan pada subjek dengan metode pre-test dan post-test menggunakan Insomnia Severity Index (ISI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik, dengan formula F1 sebagai formula optimal berdasarkan viskositas dan waktu pengeringan  terbaik. Uji permeasi menunjukkan bahwa melatonin memiliki kemampuan permeabilitas yang rendah, sementara uji klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok zat aktif dengan kelompok plasebo. Dengan demikian, sediaan FFS melatonin belum berpotensi sebagai alternatif terapi non-invasif untuk membantu meningkatkan kualitas tidur.
Formulasi Sediaan Patch Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Tifana Indrafaina Al'munaf; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 201 - 208
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24679

Abstract

Abstract. A laceration is skin damage caused by sharp-object trauma and may lead to bleeding and infection. Sembung leaves (Blumea balsamifera L.) contain flavonoids with potential wound-healing activity. This study aimed to determine the optimal formulation of a patch containing ethanol extract of Sembung leaves and to evaluate its in vivo wound-healing efficacy. Patch optimization was performed using a trial-and-error method by varying HPMC and PVP concentrations. Formula 3, containing 2.25% HPMC and 0.75% PVP, was selected as the optimal base. The patch was round, blackish-green, homogeneous, had a characteristic extract aroma, moisture content of the patch (7.26% ± 0.2), weight uniformity (0.02 g ± 0.00), thickness (0.3 mm ± 0), fold resistance >200 times, and pH (6.37 ± 0.01).  Furthermore, the results of the 5% patch formula (F3C) showed the best efficacy in wound healing on the. Abstrak. Luka sayat merupakan kondisi terjadinya kerusakan jaringan kulit yang disebabkan oleh trauma benda tajam seperti pisau atau benda tajam lainnya, sehingga berisiko mengalami perdarahan dan infeksi. Daun sembung (Blume balsamifera L.) mengandung berbagai senyawa kimia aktif, salah satunya flavonoid yang berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka sayat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi terbaik sediaan patch yang mengandung ekstrak etanol daun sembung berdasarkan hasil evaluasi sediaan dan efektivitas penutupan luka secara in vivo. Optimasi formula sediaan patch dilakukan berdasarkan variasi konsentrasi HPMC dan PVP sebagai polimer. Formula optimal sediaan patch diperoleh pada formula 3 dengan kombinasi HPMC 2,25% dan PVP 0,75%, yang menghasilkan patch yang memenuhi persyaratan evaluasi, yaitu berbentuk lembaran persegi panjang, berwarna hijau kehitaman, beraroma khas ekstrak, homogen, dengan kadar air sebesar 7,26% ± 0,2, keseragaman bobot sebesar 0,02 g ± 0,00, ketebalan sebesar 0,3 mm ± 0, ketahanan lipatan >200 kali, dan pH sebesar 6,37 ± 0,01. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa sediaan patch dengan ekstrak 5% (F3C) memberikan hasil terbaik dengan penyembuhan luka pada hari ke-12.
Kajian Strategi Formulasi SNEDDS dan SMEED Ekstrak Jahe dan Senyawa Bioaktifnya Tri Awalani sapa'ati Gusti; Ratih Aryani; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy 209 - 216
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24718

Abstract

Abstract. Ginger (Zingiber officinale) extract and its bioactive compounds, such as 6-gingerol and 6-shogaol, have various pharmacological activities. However, their oral use is still hampered by low bioavailability. This study aims to analyze the formulation strategies of self-nanoemulsifying drug delivery systems (SNEDDS) and self-microemulsifying drug delivery systems (SMEDDS) to increase the bioavailability of ginger extract and its bioactive compounds. The study was conducted using a systematic literature review (SLR) method with secondary data sources obtained from PubMed, Scopus, Taylor & Francis, and Google Scholar for articles published in 2016-2026 according to inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively through the extraction of formulation components, preparation characteristics, and pharmacokinetic profiles. The study results showed that formulations based on long- and medium-chain triglyceride oil, nonionic surfactants (Tween 80 and Cremophor), and PEG 400 or propanediol cosurfactants were able to produce droplet sizes of 13.10–73.06 nm with a polydispersity index value of less than 0.5. The SMEDDS formulation was proven to increase pharmacokinetic parameters, one of which was the area under the curve (AUC) by approximately 5.7 – 6,6  times compared to the compound without formulation, indicating increased bioavailability of the compound. Thus, the delivery of SNEDDS and SMEDDS is an effective formulation strategy to increase the bioavailability of ginger extract and its bioactive compounds. Abstrak. Ekstrak jahe (Zingiber officinale) dan senyawa bioaktifnya, seperti 6-gingerol dan 6-shogaol, memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Namun, pemanfaatannya secara oral masih terkendala oleh bioavailabilitas yang rendah. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis strategi formulasi self-nanoemulsifying drug delivery system (SNEDDS) dan self-microemulsifying drug delivery system (SMEDDS) dalam meningkatkan bioavailabilitas ekstrak jahe dan senyawa bioaktifnya. Penelitian dilakukan menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan sumber data sekunder yang diperoleh dari PubMed, Scopus, Taylor & Francis, dan Google Scholar terhadap artikel yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026 sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif melalui ekstraksi komponen formulasi, karakteristik sediaan, serta profil farmakokinetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa formulasi berbasis minyak trigliserida rantai panjang maupun rantai menengah, surfaktan nonionik (Tween 80 dan Cremophor), serta kosurfaktan PEG 400 atau propanadiol mampu menghasilkan ukuran droplet 13,10–73,06 nm dengan nilai indeks polidispersitas kurang dari 0,5. Formulasi SMEDDS terbukti meningkatkan parameter farmakokinetika, salah satunya area under the curve (AUC) hingga sekitar 5,7–6,6 kali dibandingkan dengan senyawa tanpa formulasi, yang menunjukkan peningkatan bioavailabilitas senyawa. Dengan demikian, penghantaran menggunakan SNEDDS dan SMEDDS merupakan strategi formulasi yang efektif untuk meningkatkan bioavailabilitas ekstrak jahe dan senyawa bioaktifnya.
Formulasi Masker Hidrogel Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Netha Kusuma Dewi; Ratih Aryani; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 303 - 310
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24798

Abstract

Abstract. Premature aging is a skin disorder driven by elevated oxidative stress resulting from excessive free-radical exposure, particularly ultraviolet radiation, which progressively damages collagen structures and diminishes skin elasticity. Sembung leaf (Blumea balsamifera L.) has been reported to contain flavonoid compounds with notable antioxidant activity, making it a promising candidate as an active ingredient in topical cosmetic preparations. This study aimed to determine the optimum hydrogel mask formula containing ethanol extract of sembung leaf based on physical quality evaluation, and to assess its antioxidant activity through IC50 determination. Sembung leaf crude extract was obtained through a maceration process using 70% ethanol, resulting in an extraction rate of 17.708%. The hydrogel mask base was optimized by varying the concentrations of sodium alginate and xanthan gum across nine formulations, which were then evaluated. Formula 4 (3% sodium alginate, 0.5% xanthan gum) was identified as the optimum formulation. The hydrogel mask containing 5% sembung leaf ethanol extract yielded satisfactory results across all parameters: round shape, green color, characteristic odor, uniform homogeneity, pH 6.13-6.71, and an elasticity value of 39.36%. Antioxidant activity assessed by the DPPH method revealed an IC50 value of 331.558 ± 4.178 ppm, classified as very weak antioxidant activity. Abstrak. Penuaan dini merupakan permasalahan kulit yang dipicu oleh peningkatan stres oksidatif akibat paparan radikal bebas, khususnya sinar ultraviolet, yang dapat merusak struktur kolagen dan menurunkan elastisitas kulit. Daun sembung (Blumea balsamifera L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan kosmetik topikal. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula optimum masker hidrogel yang mengandung ekstrak etanol daun sembung berdasarkan hasil evaluasi dan mengetahui aktivitas antioksidannya berdasarkan nilai IC50. Simplisia daun sembung diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% dan diperoleh rendemen sebesar 17,708%. Optimasi basis masker hidrogel dilakukan melalui variasi konsentrasi natrium alginat dan xanthan gum pada sembilan formula, kemudian dievaluasi secara organoleptis, homogenitas, pH, daya elastisitas, dan penyusutan masker. Formula optimum yang terpilih adalah Formula 4 dengan komposisi natrium alginat 3% dan xanthan gum 0,5%. Evaluasi sediaan masker hidrogel yang mengandung ekstrak etanol daun sembung 5% menunjukkan hasil yang memenuhi persyaratan, yaitu berbentuk bulat, berwarna hijau, berbau khas, homogen, pH berkisar antara 6,13-6,71, dan daya elastisitas 39,36%. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan nilai IC50 sediaan masker hidrogel ekstrak etanol daun sembung sebesar 331,558 ± 4,178 ppm yang tergolong dalam kategori sangat lemah.
Uji Kelarutan Tretinoin pada Kandidat Minyak Sabrina Nur Diana; Hanifa Rahma; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 535 - 542
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25179

Abstract

Abstract. Describe Tretinoin is a topical retinoid widely used for the treatment of photoaging; however, its poor aqueous solubility and high susceptibility to light-induced degradation require an appropriate drug delivery system. One of the critical factors in nanoemulsion development is the selection of an oil phase with high drug solubilization capacity. This study aimed to evaluate the solubility of tretinoin in five candidate oils, namely grape seed oil, olive oil, argan oil, virgin coconut oil, and soybean oil, in order to determine the most suitable oil phase for nanoemulsion formulation. An experimental laboratory study was conducted using UV-Visible spectrophotometry. The maximum absorption wavelength of tretinoin in methanol was determined, followed by the preparation of a calibration curve at concentrations ranging from 2 to 6 µg/mL. Solubility testing was performed by incubating tretinoin in each candidate oil, followed by centrifugation and quantitative analysis of the dissolved drug using UV-Visible spectrophotometry. The maximum absorption wavelength of tretinoin was found to be 348.5 nm, while the calibration curve yielded the regression equation y = 0.0798x + 0.3766 with a correlation coefficient (R²) of 0.9455. The highest solubility was observed in grape seed oil (9.656 mg/mL), followed by virgin coconut oil (9.086 mg/mL), olive oil (8.895 mg/mL), soybean oil (6.880 mg/mL), and argan oil (6.154 mg/mL). These findings indicate that grape seed oil is the most suitable candidate oil phase for the development of tretinoin nanoemulsion formulations. Abstrak. Tretinoin merupakan retinoid topikal yang banyak digunakan dalam terapi photoaging, namun memiliki kelarutan yang rendah dalam air serta mudah mengalami degradasi akibat cahaya sehingga memerlukan sistem penghantaran yang sesuai. Salah satu faktor penting dalam pengembangan formulasi nanoemulsi adalah pemilihan fase minyak yang memiliki kemampuan melarutkan zat aktif secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelarutan tretinoin pada lima kandidat fase minyak, yaitu minyak biji anggur, minyak zaitun, minyak argan, minyak kelapa murni (virgin coconut oil), dan minyak kedelai, sehingga diperoleh fase minyak yang paling sesuai untuk pengembangan formulasi nanoemulsi. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan pada larutan tretinoin dalam metanol, kemudian dibuat kurva kalibrasi pada rentang konsentrasi 2–6 µg/mL. Uji kelarutan dilakukan dengan menginkubasi tretinoin dalam masing-masing kandidat minyak, diikuti proses sentrifugasi dan penetapan kadar tretinoin terlarut menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan panjang gelombang maksimum tretinoin sebesar 348,5 nm dengan persamaan regresi kurva kalibrasi y = 0,0798x + 0,3766 dan koefisien korelasi (R²) sebesar 0,9455. Nilai kelarutan tertinggi diperoleh pada minyak biji anggur (9,656 mg/mL), diikuti minyak kelapa murni (9,086 mg/mL), minyak zaitun (8,895 mg/mL), minyak kedelai (6,880 mg/mL), dan minyak argan (6,154 mg/mL). Berdasarkan hasil tersebut, minyak biji anggur dipilih sebagai kandidat fase minyak yang paling potensial untuk pengembangan formulasi nanoemulsi tretinoin.
Formulasi Floating Tablet Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sembung (Blumea balsamifera (L.) DC.) Chikita Ghaesyani Putri Rahim; Ratih Aryani; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 553 - 560
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25181

Abstract

Abstract. Blumea balsamifera (L.) DC. leaves have traditionally been prepared as a decoction to relieve gastric disorders. However, this dosage form provides an uncertain dose and a short gastric residence time. This study aimed to formulate and evaluate floating tablets containing ethanolic extract of Blumea balsamifera leaves and determine the optimum formulation. The tablets were prepared by the wet granulation method using xanthan gum and HPMC K100M at ratios of 3:1, 1:1, and 1:3. The formulations were evaluated for granule and tablet physical properties, floating lag time, floating time, swelling index, and flavonoid release. The formulation with a xanthan gum to HPMC K100M ratio of 1:3 (F3) exhibited the best physical and floating characteristics, with a floating lag time of 8.4 ± 1.63 seconds, a floating time of 70.6 ± 1.2 hours, and a swelling index of 199.18 ± 14.14%. After incorporation of 250 mg of the extract, the tablets met the required physical quality parameters and remained buoyant for 36 ± 0.63 hours. However, the floating lag time increased to 24 ± 0.63 minutes, and flavonoid release reached 90.34 ± 1.03% within the first five minutes, indicating a burst release profile rather than the intended controlled-release behavior. These findings demonstrate that the combination of xanthan gum and HPMC K100M effectively supports the floating properties of the tablets. Nevertheless, further formulation optimization is required to achieve a sustained-release profile. Abstrak. Daun sembung (Blumea balsamifera (L.) DC.) secara tradisional diolah menjadi rebusan untuk meredakan keluhan lambung, namun cara ini menghasilkan dosis yang tidak pasti dan waktu tinggal obat di lambung yang singkat. Penelitian ini bertujuan memformulasikan dan mengevaluasi floating tablet yang mengandung ekstrak etanol daun sembung serta menentukan formula terbaiknya. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah menggunakan kombinasi xanthan gum dan HPMC K100M dengan perbandingan 3:1, 1:1, dan 1:3, kemudian dievaluasi sifat fisik granul dan tablet, floating lag time, floating time, swelling index, serta pelepasan flavonoid. Formula dengan perbandingan 1:3 (F3) menghasilkan karakteristik fisik dan floating terbaik, dengan floating lag time 8,4 ± 1,63 detik, floating time 70,6 ± 1,2 jam, dan swelling index 199,18 ± 14,14%. Setelah diformulasikan dengan ekstrak 250 mg, tablet memenuhi persyaratan mutu fisik dan mampu mengapung selama 36 ± 0,63 jam. Namun, floating lag time meningkat menjadi 24 ± 0,63 menit dan pelepasan flavonoid mencapai 90,34 ± 1,03% dalam lima menit pertama, menunjukkan pola burst release dibandingkan pelepasan terkendali yang diharapkan. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi xanthan gum dan HPMC K100M mampu mendukung sifat mengapung tablet, namun optimasi formulasi lebih lanjut masih diperlukan untuk menghasilkan profil pelepasan lepas lambat.
Studi Literatur Potensi Ekstrak Jahe Merah sebagai Agen Antiinflamasi Jihram Achmad Fauzi Febrian; Budi Prabowo Soewondo; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 561 - 570
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25204

Abstract

Abstract. Inflammation is a physiological response to tissue injury or infection; however, prolonged inflammation contributes to the development of various chronic diseases. Long-term use of conventional anti-inflammatory drugs is associated with adverse effects, prompting the exploration of natural products as alternative therapeutic agents. Red ginger (Zingiber officinale var. rubrum) is a medicinal plant rich in bioactive compounds with promising anti-inflammatory properties. This study aimed to evaluate the potential of red ginger extract as an anti-inflammatory agent based on its phytochemical constituents, molecular mechanisms, and biological efficacy reported in previous studies. A literature review was conducted following the PRISMA guidelines by searching articles from PubMed, Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, Wiley Online Library, and Google Scholar. The collected data were analyzed using a narrative synthesis approach. The findings demonstrated that major bioactive compounds, including 6-gingerol, 6-shogaol, paradol, and zingerone, suppress inflammatory pathways such as NF-κB, MAPK, and PI3K/Akt, reduce the expression of COX-2, iNOS, TNF-α, IL-1β, and IL-6, and enhance antioxidant defense through the Nrf2/HO-1 pathway. Evidence from in vitro, in vivo, and clinical studies indicates that red ginger effectively attenuates inflammatory responses. Therefore, red ginger extract has considerable potential as a phytopharmaceutical candidate for anti-inflammatory therapy, although further extract standardization and clinical studies are required. Abstrak. Inflamasi merupakan respons fisiologis tubuh terhadap cedera atau infeksi, namun inflamasi yang berlangsung berkepanjangan dapat memicu berbagai penyakit kronis. Penggunaan obat antiinflamasi konvensional dalam jangka panjang diketahui berpotensi menimbulkan efek samping sehingga mendorong pengembangan bahan alam sebagai alternatif terapi. Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan tanaman obat yang kaya senyawa bioaktif dan berpotensi sebagai agen antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak jahe merah sebagai agen antiinflamasi berdasarkan kandungan fitokimia, mekanisme molekuler, serta efektivitasnya berdasarkan berbagai penelitian. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengacu pada pedoman PRISMA melalui penelusuran artikel dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, Wiley Online Library, dan Google Scholar. Data dianalisis menggunakan metode sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa senyawa utama jahe merah, seperti 6-gingerol, 6-shogaol, paradol, dan zingerone, mampu menghambat jalur NF-κB, MAPK, dan PI3K/Akt, menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, TNF-α, IL-1β, IL-6, serta meningkatkan aktivitas antioksidan melalui jalur Nrf2/HO-1. Berbagai penelitian in vitro, in vivo, dan uji klinis menunjukkan efektivitas jahe merah dalam menekan respons inflamasi. Dengan demikian, ekstrak jahe merah berpotensi dikembangkan sebagai kandidat fitofarmaka antiinflamasi, meskipun masih diperlukan standardisasi ekstrak dan uji klinis lebih lanjut.
Karakterisasi dan Identifikasi Minyak Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merry. & L.M.Perry) Ratna Ayu; Hanifa Rahma; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 853 - 860
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25870

Abstract

Abstract. Oral candidiasis is a fungal infection caused by Candida albicans. Clove oil (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) possesses antifungal activity with the potential for development as a pharmaceutical active ingredient. This study aimed to characterize the physical properties and identify the compounds present in clove oil (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Physical characterization revealed that the clove oil was a yellow liquid with a characteristic clove odor and a specific gravity of 1.0419 ± 0.0002 g/mL. Compound identification via GC-MS showed that the clove oil contained several components: eugenol (16.63%), β-caryophyllene (2.15%), bornyl chloride (1.24%), benzene, (1-pentylhexyl)- (3.09%), and benzene, (1-ethylphenyl)- (5.89%). Based on these results, clove oil contains eugenol as the primary active compound responsible for its antifungal activity. Abstrak. Kandidiasis oral merupakan infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida albicans. Minyak cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) memiliki aktivitas antijamur yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan aktif farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi fisik dan identifiasi senyawa yang terkandung pada minyak cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merry. & L.M.Perry) menggunakan Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GC-MS). Hasil karakterisasi fisik menunjukan bahwa minyak cengkeh berupa cairan berwarna kuning, bau khas cengkeh dan bobot jenis sebesar 1,0419 ± 0,0002 g/mL. Hasil identifikasi senyawa menggunakan Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GC-MS) menunjukan bahwa minyak cengkeh mengandung beberapa komponen, yaitu eugenol sebesar 16,63%, β-caryophyllene sebesar 2,15%, bornyl chloride sebesar 1,24%, benzene, (1-pentylhexyl)-) sebesar 3,09%, benzene, (1-ethylphenyl-) sebesar 5,89%. Berdasarkan hasil tersebut, minyak cengkeh mengandung eugenol sebagai senyawa aktif utama yang memiliki aktivitas antijamur.