Purwaeni Purwaeni
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Karakterisasi Fisik dan Analisis Senyawa dalam Minyak Rosemari (Rosmarinus officinalis) Aenun Kamalia Putri; Hanifa Rahma; Purwaeni Purwaeni
Bandung Conference Series: Pharmacy 163 - 170
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24621

Abstract

Abstract. Rosemary oil (Rosmarinus officinalis L.) is a volatile, lipophilic secondary metabolite that has been widely studied as a natural alternative for stimulating hair growth, mainly through its major constituent 1,8-cineole. Before being developed into a hair-growth preparation, the quality of the raw essential oil must first be verified to ensure compliance with pharmacopoeial standards. This study aimed to characterize rosemary oil obtained from PT. Eteris Nusantara through organoleptic testing, refractive index measurement, and chemical composition analysis using gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). The organoleptic test was carried out visually to observe color, odor, and clarity, while the refractive index was measured with a refractometer at 20°C. GC-MS analysis was performed at the Integrated Laboratory of Poltekkes Kemenkes Bandung and compared with the supplier's certificate of analysis (CoA). The results showed that the oil was a clear, colorless liquid with a characteristic camphor-like odor and a refractive index of 1.464, both complying with the European Pharmacopoeia (2019) requirements. GC-MS analysis identified 1,8-cineole (41.74%), camphor (14.28%), borneol (11.99%), α-pinene (6.59%), and camphene (0.83%) as the dominant compounds, generally consistent with the CoA, with minor deviations attributed to instrumental and storage factors. These research showed that the rosemary oil used met the required quality standards for further pharmaceutical formulation. Abstrak. Minyak rosemari (Rosmarinus officinalis L.) merupakan metabolit sekunder yang mudah menguap dan bersifat lipofilik, yang banyak dikaji sebagai alternatif alami untuk merangsang pertumbuhan rambut, terutama melalui kandungan utamanya, yaitu 1,8-sineol. Sebelum dikembangkan menjadi sediaan penumbuh rambut, mutu minyak atsiri sebagai bahan baku perlu dipastikan terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan farmakope. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi minyak rosemari yang diperoleh dari PT Eteris Nusantara melalui uji organoleptis, pengukuran indeks bias, dan analisis kandungan senyawa kimia menggunakan gas chromatography–mass spectrometry (GC-MS). Uji organoleptis dilakukan secara visual untuk mengamati warna, bau, dan kejernihan, sedangkan indeks bias diukur menggunakan refraktometer pada suhu 20 °C. Analisis GC-MS dilakukan di Laboratorium Terpadu Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung dan dibandingkan dengan sertifikat analisis (Certificate of Analysis/CoA) dari pemasok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak rosemari berbentuk cairan jernih, tidak berwarna, dengan bau khas kamfer, serta memiliki indeks bias sebesar 1,464, yang keduanya telah sesuai dengan persyaratan Farmakope Eropa (Council of Europe, 2019). Analisis GC-MS mengidentifikasi 1,8-sineol (41,74%), kamfer (14,28%), borneol (11,99%), α-pinen (6,59%), dan kamfen (0,83%) sebagai senyawa dominan, yang secara umum sesuai dengan CoA, dengan sedikit perbedaan yang diduga disebabkan oleh faktor instrumen dan penyimpanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak rosemari yang digunakan telah memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk formulasi sediaan farmasi lebih lanjut.
Potensi Antibakteri Ekstrak Umbi Bawang Tiwai terhadap Cutibacterium acnes Nazwa Nazhira Maharani; Purwaeni Purwaeni; Dadang Juanda
Bandung Conference Series: Pharmacy 183 - 190
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24635

Abstract

Abstract. Cutibacterium acnes plays a key role in the pathogenesis of acne vulgaris. The increasing prevalence of antibiotic resistance associated with acne treatment has encouraged the development of natural antibacterial agents as safer alternatives. One promising medicinal plant is the bulb of Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. which contains various secondary metabolites with antibacterial properties. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of the ethanolic extract of E. bulbosa bulbs against C. acnes. An experimental study was conducted, including sample preparation, simplicia preparation and characterization, phytochemical screening, extraction by maceration using 96% ethanol, thin-layer chromatography (TLC) analysis and antibacterial testing using the agar well diffusion method at extract concentrations of 10%, 15%, and 20%. Data were analyzed using a one-way ANOVA test. The ethanolic extract exhibited antibacterial activity against C. acnes, with mean inhibition zone diameters of 11.28 ± 0.45 mm, 12.79 ± 0.56 mm, and 13.41 ± 0.20 mm at concentrations of 10%, 15%, and 20%, respectively. Statistical analysis showed significant differences among the treatment groups (p < 0.05), with the 20% extract demonstrating the strongest antibacterial activity. These findings suggest that the ethanolic extract of E. bulbosa bulbs has potential as a natural antibacterial agent for acne therapy. Abstrak. Cutibacterium acnes merupakan bakteri yang berperan penting dalam patogenesis jerawat (acne vulgaris). Meningkatnya kejadian resistensi akibat penggunaan antibiotik dalam terapi jerawat mendorong pengembangan antibakteri alami sebagai alternatif yang lebih aman. Salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan adalah umbi bawang tiwai (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak etanol umbi bawang tiwai terhadap Cutibacterium acnes. Penelitian dilakukan secara eksperimental melalui tahapan penyiapan bahan, pembuatan dan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, pemantauan ekstrak menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT), serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran pada konsentrasi ekstrak 10%, 15%, dan 20%. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA. Ekstrak etanol umbi bawang tiwai menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% berturut-turut sebesar 11,28 ± 0,45 mm, 12,79 ± 0,56 mm, dan 13,41 ± 0,20 mm. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antarperlakuan (p < 0,05), dengan konsentrasi 20% menghasilkan aktivitas antibakteri paling optimal. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol umbi bawang tiwai berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami untuk terapi jerawat.
Formulasi dan Evaluasi Film Forming Solution Melatonin untuk Terapi Insomnia Alya Reiva Ramadhani Saybia; Purwaeni Purwaeni; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy 191 - 200
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24641

Abstract

Abstract. This study aimed to formulate and evaluate a melatonin-loaded film-forming solution (FFS) as a transdermal drug delivery system and to determine its permeation profile and sedative effect through a clinical study. The formulations were prepared using different concentrations of polyvinyl alcohol (PVA) and polyethylene glycol (PEG) as the plasticizer. The prepared formulations were evaluated for organoleptic characteristics, pH, viscosity, drying time, tackiness, and stability. Permeation studies were carried out using a Franz diffusion cell with shed snake skin as the diffusion membrane. The sedative effect was evaluated in human subjects using a pre-test–post-test design based on the Insomnia Severity Index (ISI). All formulations met the required physical quality criteria, and Formula F1 was selected as the optimal formulation because it exhibited the most suitable viscosity and drying time. The permeation study indicated that melatonin showed low permeation across the membrane, while the clinical study demonstrated no statistically significant difference between the melatonin-treated group and the placebo group. Therefore, the melatonin-loaded film-forming solution has not yet shown sufficient potential as a non-invasive transdermal therapy for improving sleep quality. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sediaan Film Forming Solution (FFS) yang mengandung melatonin sebagai sistem penghantaran transdermal serta menguji kemampuan permeasi dan aktivitas sedatifnya menggunakan uji klinis. Sediaan diformulasikan dengan variasi konsentrasi polimer PVA dan plastisizer polietilen glikol, kemudian dievaluasi meliputi uji organoleptik, pH, viskositas, waktu pengeringan, kelengketan, dan stabilitas. Uji permeasi dilakukan menggunakan sel difusi Franz dengan membran kulit ular lepas, sedangkan uji aktivitas sedatif dilakukan pada subjek dengan metode pre-test dan post-test menggunakan Insomnia Severity Index (ISI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik, dengan formula F1 sebagai formula optimal berdasarkan viskositas dan waktu pengeringan  terbaik. Uji permeasi menunjukkan bahwa melatonin memiliki kemampuan permeabilitas yang rendah, sementara uji klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok zat aktif dengan kelompok plasebo. Dengan demikian, sediaan FFS melatonin belum berpotensi sebagai alternatif terapi non-invasif untuk membantu meningkatkan kualitas tidur.
Karakterisasi Asam Salisilat dan Minyak Lavender (Lavandula angustifolia) Cici Dita Maryam; Hanifa Rahma; Purwaeni Purwaeni
Bandung Conference Series: Pharmacy 375 - 382
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24927

Abstract

Abstract. Salicylic acid is a compound widely used in topical formulations due to its keratolytic, comedolytic, and anti-inflammatory activities, while lavender oil (Lavandula angustifolia) contains bioactive compounds with potential antibacterial properties. This study aimed to characterize salicylic acid and lavender oil. The characterization of salicylic acid included organoleptic evaluation, determination of the maximum wavelength using UV-Visible spectrophotometry, and functional group analysis using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). The characterization of lavender oil included organoleptic evaluation, determination of refractive index and specific gravity, and compound identification using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). The results showed that salicylic acid was a white crystalline powder, odorless, with a maximum absorption wavelength of 301 nm and functional groups consistent with its chemical structure. Lavender oil was a clear, colorless liquid with a characteristic lavender odor, a refractive index of 1,454 ± 0,000, a specific gravity of 0,885 ± 0,009, and contains the compoundslinalool (31,19%), linalyl acetate (12,44%), terpinen-4-ol (2,82%), β-ocimene (3,51%), α-terpineol (1.42%), camphor (2,72%), 1,8-cineole (4,92%), geranyl acetate (5,74%), neryl acetate (2,31%), and limonene (8,81%). Abstrak. Asam salisilat merupakan senyawa yang banyak digunakan dalam sediaan topikal karena memiliki aktivitas keratolitik, komedolitik, dan antiinflamasi, sedangkan minyak lavender (Lavandula angustifolia) mengandung senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik asam salisilat dan minyak lavender. Karakteristik asam salisilat meliputi organoleptik, penentuan panjang gelombang maksimum menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dan analisis gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Karakterisasi minyak lavender meliputi organoleptik, penentuan indeks bias, bobot jenis, dan analisis kandungan senyawa menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil menunjukkan bahwa asam salisilat berbentuk serbuk hablur putih, tidak berbau dengan panjang gelombang maksimum 301 nm dan gugus fungsi yang sesuai dengan struktur kimianya. Minyak lavender berbentuk cairan jernih, tidak berwarna, berbau khas lavender dengan  indeks bias 1,454±0,000, bobot jenis 0,885±0,009, serta mengandung senyawa linalool (31,19%), linalil asetat (12,44%),  terpinen-4-ol (2,82%), β-ocimene (3,51%), α-terpineol (1,42%), camphor (2,72%), 1,8-cineole (4,92%), geranyl asetat (5,74%), neryl asetat (2,31%), limonene (8,81%).
Formulasi Face Mist Fraksi Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dan Uji Antioksidan Casilda Athaya Ruzaira; Purwaeni Purwaeni; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy 655 - 662
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25330

Abstract

Abstract. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) contain bioactive compounds with potential as antioxidants, making them suitable for development into a face mist. This study aimed to formulate a face mist preparation from the ethyl acetate fraction of moringa leaves that meets quality evaluation requirements, as well as to determine its antioxidant activity using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) method. The research was conducted through the preparation of simplicia, standardization of simplicia, extraction using the maceration method with 96% ethanol, fractionation via liquid-liquid extraction, formulation of face mist with ethyl acetate fraction concentrations of 0,1%(F1), 0,5%(F2), 1%(F3), quality evaluation of the preparations including organoleptic testing. homogeneity, pH, spray spreadability, and specific gravity, as well as antioxidant testing using the DPPH method with vitamin C as a comparator. The results showed that all formulas met the quality requirements for the preparation. The IC50 value of vitamin C was 4.08 ppm, while F1, F2, and F3 had IC50 values of 92,146 ppm; 80,4515 ppm; and 66,4109 ppm, respectively. All three formulas exhibited strong antioxidant activity, with F3 showing the highest antioxidant activity due to its lowest IC50 value. Based on the results, it can be concluded that the face mist formulated from the ethyl acetate fraction of moringa leaves was successfully developed, met the quality requirements for the preparation, and possessed strong antioxidant activity. Abstrak. Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan sehingga dapat dikembangkan menjadi face mist. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sediaan face mist fraksi etil asetat daun kelor yang memenuhi persyaratan evaluasi mutu serta mengetahui aktivitas antioksidannya menggunakan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH).Penelitian dilakukan melalui pembuatan simplisia, standarisasi simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, fraksinasi secara ekstraksi cair-cair, formulasi face mist dengan konsentrasi fraksi etil asetat 0,1% (F1), 0,5% (F2), dan 1% (F3), evaluasi mutu sediaan yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar senprot, dan bobot jenis serta pengujian antioksidan menggunakan metode DPPH dengan vitamin C sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu sediaan. Nilai IC50 Vitamin C sebesar 4,08 ppm, sedangkan F1, F2 dan F3 berturut turut sebesar 92,146 ppm; 80,4515 ppm; dan 66,4109 ppm. Ketiga formula memiliki aktivitas antioksidan kategori kuat, dengan F3 menunjukan aktivitas antioksidan paling tinggi karena memiliki nilai IC50 paling rendah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa face mist fraksi etil asetat daun kelor berhasil diformulasikan, memenuhi persyaratan mutu sediaan, dan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat.
Studi Literatur Penggunaan Peptida Sinyal dalam Kosmeseutikal sebagai Anti-aging Ghaitsa Azzahra Fitri; Dina Mulyanti; Purwaeni Purwaeni
Bandung Conference Series: Pharmacy 913 - 922
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26106

Abstract

Abstract. Skin aging is a complex biological process influenced by intrinsic and extrinsic factors, characterized by the appearance of wrinkles and a decline in skin elasticity, hydration, and firmness. Signal peptides are active ingredients currently undergoing extensive development due to their ability to regulate intercellular communication and stimulate skin tissue regeneration. This study aims to examine the characteristics, mechanism of action, dan evaluation parameters used to assess thhe effectiveness of signal peptides as anti-aging agents in cosmeceutical. This research employed a Systematic Literature Review method based on a PRISMA guidelines and the PICO framework. The findings indicate the signal peptides function by stimulating the synthesis of collagen, elastin, and other extracellular matrix components (ECM), there by contributing to improved skin structure wrinkle reduction, and enhanced skin elasticity and firmness. The most frequently used evaluation parameters include wrinkles, skin elasticity, hydration, transepidermal waterr loss (TEWL), and skin density. Overall, signal peptides show potential as effective anti-aging cosmeceutical ingredients for the development of evidence-based products. Abstrak. Penuaan kulit merupakan proses biologis kompleks yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik yang ditandai dengan munculnya kerutan, penurunan elastisitas kulit, berkurangnya hidrasi, serta menurunnya kekencangan kulit. Peptida sinyal merupakan salah satu bahan aktif yang saat ini banyak dikembangkan karena memiliki kemampuan untuk mengatur komunikasi antar sel serta menstimulasi regenerasi jaringan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik, mekanisme kerja, serta parameter evaluasi untuk menilai efektivitas peptida sinyal dalam kosmeseutikal sebagai agen anti-aging. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review berdasarkan pedoman PRISMA dengan kerangka PICO. Hasil kajian menunjukkan bahwa peptida sinyal bekerja dengan menstimulasi sintesis kolagen, elastin, dan komponen matriks ekstraseluler lainnya sehingga berkontribusi terhadap perbaikan struktur kulit, pengurangan kerutan, serta peningkatan elastisitas dan kekencangan kulit. Parameter evaluasi yang paling banyak digunakan meliputi kerutan, elastisitas kulit, hidrasi, TEWL, dan densitas kulit.  Secara keseluruhan, peptida sinyal memiliki potensi sebagai komponen bahan aktif kosmeseutikal anti-aging yang efektif dalam pengembangan produk berbasis bukti ilmiah.