Dina Mulyanti
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Studi Literatur Perbandingan Metode Isolasi Peroksidase Tanaman untuk Biosensor Kanker Paru Adi Ahmad Mulyana; Dina Mulyanti; Dadang Juanda
Bandung Conference Series: Pharmacy 255 - 264
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24756

Abstract

Abstract. Lung cancer is the leading cause of cancer-related mortality worldwide, emphasizing the need for sensitive and accurate early detection methods. Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) is widely used for detecting lung cancer biomarkers by employing horseradish peroxidase (HRP) as an enzyme label. However, the availability of HRP depends on Armoracia rusticana, a plant cultivated mainly in subtropical regions, encouraging the search for alternative plant-derived peroxidases. This study aimed to compare isolation and purification methods of plant peroxidases based on enzyme activity recovery, specific activity, and purification fold to evaluate their potential as alternative HRP for biosensor applications in early lung cancer detection. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA guidelines using PubMed, ScienceDirect, and Springer Nature Link databases. Ten articles met the inclusion criteria and were analyzed. The results showed that the Three-Phase Partitioning (TPP) method achieved the highest enzyme activity recovery (159%), while sequential ion-exchange and gel filtration chromatography produced the highest purification fold (230-fold). The highest specific activity (13,136 U/mg) was reported for ginger (Zingiber officinale) peroxidase. These findings indicate that TPP is the most effective method for preserving enzyme activity, whereas sequential chromatography produces highly purified peroxidase with strong potential as an alternative HRP for ELISA-based biosensors. Abstrak.. Kanker paru merupakan penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia sehingga diperlukan metode deteksi dini yang sensitif. Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) merupakan salah satu metode yang banyak digunakan dalam deteksi biomarker kanker paru dengan memanfaatkan horseradish peroxidase (HRP) sebagai enzim penanda. Namun, ketersediaan HRP masih bergantung pada tanaman horseradish (Armoracia rusticana) yang dibudidayakan di wilayah subtropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode isolasi dan pemurnian enzim peroksidase dari berbagai tanaman berdasarkan parameter rendemen, aktivitas enzim , dan faktor pemurnian sebagai kandidat alternatif HRP dalam aplikasi biosensor dan sistem ELISA. Penelitian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) mengikuti pedoman PRISMA. Literatur diperoleh dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Springer Nature Link, diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Three Phase Partitioning (TPP) menghasilkan rendemen aktivitas enzim tertinggi sebesar 159%, sedangkan kombinasi kromatografi pertukaran ion dan gel filtrasi menghasilkan faktor pemurnian tertinggi sebesar 230 kali. Aktivitas spesifik tertinggi dilaporkan pada peroksidase jahe (Zingiber officinale) sebesar 13,136 U/mg. Berdasarkan hasil tersebut, metode TPP merupakan pendekatan terbaik untuk mempertahankan rendemen aktivitas enzim, sedangkan metode pemurnian bertingkat yang melibatkan DEAE-Sepharose, CM-Sepharose, dan Sephacryl S-200 pada peroksidase jahe terbukti menghasilkan aktivitas spesifik tertinggi sebagai kandidat alternatif HRP.
Formulasi In Situ Gel Oral Ekstrak Brokoli dan Aktivitas Antibakterinya Halfi Zahra Azkiya; Dina Mulyanti; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 449 - 458
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25083

Abstract

Abstract. Dental caries remains a prevalent oral health problem, with Streptococcus mutans playing an important role through acid production and biofilm formation. This study evaluated the antibacterial activity of broccoli (Brassica oleracea var. italica) extract against S. mutans and developed a pharmaceutically stable oral in situ gel. Broccoli was extracted by maceration with 70% ethanol. The extract was subjected to phytochemical screening, qualitative sulforaphane identification by HPLC, and agar well diffusion testing at concentrations of 3.75, 7.5, 15, 30, 40, and 50%. The oral in situ gel was optimized using poloxamer 407 and carbomer 940 and evaluated for organoleptic properties, pH, density, viscosity, gelation temperature, gelation time, and thermodynamic stability. The extract contained alkaloids, flavonoids, phenols, tannins, saponins, and steroids, with an HPLC peak at 5.19 min indicating sulforaphane. Antibacterial activity appeared at 40% (1.85 mm) and reached 7.3 mm at 50%. Formula F2 containing 15% poloxamer 407 and 0.1% carbomer 940 showed suitable physical properties and remained stable during heating-cooling and freeze-thaw tests. The results support broccoli extract as a potential natural active ingredient for oral in situ gel development. Abstrak. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut dengan Streptococcus mutans sebagai salah satu bakteri utama melalui produksi asam dan pembentukan biofilm. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak brokoli (Brassica oleracea var. italica) terhadap S. mutans serta mengembangkan formulasi in situ gel oral yang stabil secara farmasetika. Brokoli diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 70%, dilanjutkan skrining fitokimia, identifikasi kualitatif sulforaphane dengan HPLC, dan uji antibakteri metode difusi sumuran pada konsentrasi 3,75; 7,5; 15; 30; 40; dan 50%. Sediaan dioptimasi menggunakan poloxamer 407 dan carbomer 940, kemudian dievaluasi secara fisik dan stabilitas termodinamika. Ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, saponin, dan steroid serta menunjukkan puncak HPLC pada waktu retensi 5,19 menit yang mengindikasikan sulforaphane. Aktivitas antibakteri mulai tampak pada konsentrasi 40% dengan zona hambat 1,85 mm dan mencapai 7,3 mm pada konsentrasi 50%. Formula F2 dengan poloxamer 407 15% dan carbomer 940 0,1% menunjukkan karakteristik fisik yang sesuai serta stabil pada uji heating-cooling dan freeze-thaw. Ekstrak brokoli berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif alami dalam sediaan in situ gel oral.
Variasi Kadar Albumin Ikan Gabus (Channa striata) : Kajian Sistematis Literatur Zhahra Fauzhia Yusup; Vinda Maharani Patricia; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy 763 - 770
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25697

Abstract

Abstract. Snakehead fish (Channa striata) has potential as a natural albumin source for medical and nutraceutical purposes; however, reported albumin levels show wide variations. This Systematic Literature Review was conducted following PRISMA 2020 guidelines through searches in PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar until July 31, 2026. From 8 articles meeting the inclusion criteria, albumin levels were reported in various units and calculation bases. In studies using percentage units (n=5), albumin levels ranged from 0.73% to 21.09%, while other studies reported in mg/g (107.28 mg/g) and mg/10g (226 mg/10g) with different calculation bases, making these figures not directly comparable. Centrifugation was the most dominant method (five articles) but showed the widest disparities due to differences in pre-centrifugation protocols. Fractionation (Cohn Process) reported the highest level (21.09%), while steaming yielded the lowest (0.73%) due to thermal denaturation. Critical factors affecting albumin levels include solvent type and pH, thermal treatment, determination methods (Biuret, Bradford-BSA, Lowry, Kjeldahl), and the use of BSA standard which may cause bias due to molecular weight differences with snakehead fish albumin. Level variations more reflect methodological differences than technical superiority of a method. Future studies are recommended to report at minimum the type and concentration of solvent, sample-solvent ratio, pH, temperature and duration, centrifugation parameters in ×g units, determination method and standard used, as well as units and calculation basis explicitly. Abstrak. Ikan gabus (Channa striata) berpotensi sebagai sumber albumin alami untuk keperluan medis dan nutraseutikal, namun kadar albumin yang dilaporkan menunjukkan variasi sangat luas. Systematic Literature Review ini dilakukan mengikuti pedoman PRISMA 2020 melalui pencarian pada PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar hingga 31 Juli 2026. Dari 8 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, kadar albumin dilaporkan dalam berbagai satuan dan basis perhitungan. Pada studi yang menggunakan satuan persen (n=5), kadar albumin berkisar antara 0,73% hingga 21,09%, sementara studi lain melaporkan dalam satuan mg/g (107,28 mg/g) dan mg/10g (226 mg/10g) dengan basis perhitungan yang berbeda-beda, sehingga angka-angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung. Metode sentrifugasi paling dominan (lima artikel) namun menunjukkan disparitas terlebar akibat perbedaan protokol pra-sentrifugasi. Fraksinasi (Cohn Process) melaporkan kadar tertinggi (21,09%), sedangkan pengukusan terendah (0,73%) akibat denaturasi termal. Faktor kritis yang memengaruhi kadar albumin meliputi jenis pelarut dan pH, perlakuan termal, metode penetapan kadar (Biuret, Bradford-BSA, Lowry, Kjeldahl), serta penggunaan standar BSA yang berpotensi bias karena perbedaan berat molekul dengan albumin ikan gabus. Variasi kadar lebih mencerminkan perbedaan metodologis daripada keunggulan teknis suatu metode. Penelitian selanjutnya disarankan melaporkan secara minimum jenis dan konsentrasi pelarut, rasio sampel-pelarut, pH, suhu dan durasi, parameter sentrifugasi dalam satuan ×g, metode penetapan kadar dan standar yang digunakan, serta satuan dan basis perhitungan secara eksplisit.
Studi Literatur Penggunaan Peptida Sinyal dalam Kosmeseutikal sebagai Anti-aging Ghaitsa Azzahra Fitri; Dina Mulyanti; Purwaeni Purwaeni
Bandung Conference Series: Pharmacy 913 - 922
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26106

Abstract

Abstract. Skin aging is a complex biological process influenced by intrinsic and extrinsic factors, characterized by the appearance of wrinkles and a decline in skin elasticity, hydration, and firmness. Signal peptides are active ingredients currently undergoing extensive development due to their ability to regulate intercellular communication and stimulate skin tissue regeneration. This study aims to examine the characteristics, mechanism of action, dan evaluation parameters used to assess thhe effectiveness of signal peptides as anti-aging agents in cosmeceutical. This research employed a Systematic Literature Review method based on a PRISMA guidelines and the PICO framework. The findings indicate the signal peptides function by stimulating the synthesis of collagen, elastin, and other extracellular matrix components (ECM), there by contributing to improved skin structure wrinkle reduction, and enhanced skin elasticity and firmness. The most frequently used evaluation parameters include wrinkles, skin elasticity, hydration, transepidermal waterr loss (TEWL), and skin density. Overall, signal peptides show potential as effective anti-aging cosmeceutical ingredients for the development of evidence-based products. Abstrak. Penuaan kulit merupakan proses biologis kompleks yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik yang ditandai dengan munculnya kerutan, penurunan elastisitas kulit, berkurangnya hidrasi, serta menurunnya kekencangan kulit. Peptida sinyal merupakan salah satu bahan aktif yang saat ini banyak dikembangkan karena memiliki kemampuan untuk mengatur komunikasi antar sel serta menstimulasi regenerasi jaringan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik, mekanisme kerja, serta parameter evaluasi untuk menilai efektivitas peptida sinyal dalam kosmeseutikal sebagai agen anti-aging. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review berdasarkan pedoman PRISMA dengan kerangka PICO. Hasil kajian menunjukkan bahwa peptida sinyal bekerja dengan menstimulasi sintesis kolagen, elastin, dan komponen matriks ekstraseluler lainnya sehingga berkontribusi terhadap perbaikan struktur kulit, pengurangan kerutan, serta peningkatan elastisitas dan kekencangan kulit. Parameter evaluasi yang paling banyak digunakan meliputi kerutan, elastisitas kulit, hidrasi, TEWL, dan densitas kulit.  Secara keseluruhan, peptida sinyal memiliki potensi sebagai komponen bahan aktif kosmeseutikal anti-aging yang efektif dalam pengembangan produk berbasis bukti ilmiah.
Formulasi Granul Serbuk Bawang Putih (Allium sativum L.) Frisca Fadhilah Amelia Nugraha; Gita Cahya Eka Darma; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy 975 - 984
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26308

Abstract

Abstract. Garlic (Allium sativum L.) is known to possess antibacterial activity, making it a promising active ingredient for pharmaceutical formulations. However, garlic powder has relatively fine particle size, which increases interparticle cohesion and results in poor flow properties. Therefore, a granulation process is required to improve the physical characteristics of the powder and produce granules with improved physical properties. This study aimed to formulate garlic powder granules using the wet granulation method with various concentrations of polyvinylpyrrolidone (PVP) as a binder to obtain the optimum formulation based on the evaluation results. Five formulations containing 1, 2, 3, 4, and 5% PVP were prepared and evaluated for organoleptic properties, moisture content, flow rate, angle of repose, Carr's Index, Hausner ratio, and stability. The results showed that Formula 5 containing 5% PVP was the optimum garlic powder granule formulation based on the evaluation results. Abstrak. Bawang putih (Allium sativum L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif dalam sediaan farmasi. Namun, serbuk bawang putih memiliki ukuran partikel yang relatif halus sehingga meningkatkan kohesi antarpartikel dan menyebabkan sifat alir kurang baik. Oleh karena itu, diperlukan proses granulasi untuk memperbaiki karakteristik fisik serbuk sehingga diperoleh granul dengan karakteristik fisik yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan memformulasikan granul serbuk bawang putih menggunakan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi polivinilpirolidon (PVP) sebagai bahan pengikat untuk memperoleh formula terbaik berdasarkan hasil evaluasi sediaan. Granul diformulasikan dalam lima formula dengan variasi konsentrasi PVP 1, 2, 3, 4, dan 5%, kemudian dievaluasi berdasarkan parameter organoleptik, kadar air, laju alir, sudut diam, Carr's Index, rasio Hausner, dan stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formula 5 dengan konsentrasi PVP 5% merupakan formula granul serbuk bawang putih terbaik berdasarkan hasil evaluasi sediaan.