Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan Siswa-Siswi Melalui Media Audio Visual Dalam Penerapan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Munawarah; Bagus Rahmat Santoso; Rifa'atul Mahmudah; M.Sobirin Mohtar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1316

Abstract

Latar Belakang: Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segeramelalui Bantuan Hidup Dasar (BHD). Siswa-siswi sebagai bagian dari masyarakat memiliki peluang untukmenjadi penolong pertama saat terjadi keadaan darurat, namun pengetahuan mengenai Bantuan Hidup Dasar(BHD) masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi tentang BHD, salah satunya melalui media audio visual. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipeningkatan pengetahuan siswa-siswi melalui media audio visual dalam Penerapan Bantuan Hidup Dasar(BHD). Metode: Penelitian ini menggunakan desain Pre-Experimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 67 siswa-siswi yang dipilih menggunakan teknik proportionaterandom sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas danreliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi melalui media audio visual sebagianbesar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori kurang sebanyak 49 orang (73,1%), sedangkan 18 orang(26,9%) responden berada pada kategori cukup. Setelah diberikan edukasi, seluruh responden memiliki tingkatpengetahuan kategori baik (100,0%). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,001 (p <0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan edukasi media audio visual terhadap tingkat pengetahuan siswa-siswi mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD). Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah edukasi melaluimedia audio visual efektif dalam meningkatkan tingkat pengetahuan siswa-siswi mengenai Bantuan Hidup Dasar(BHD).
Analisis Perbedaan Pengkajian Greek Stroke Score Dan System Stroke Score Dave Dan Djoenaidi Dalam Penentuan Diagnosa Keperawatan Pada Pasien Stroke Di IGD Krisdayanti; M.Sobirin Mohtar; Muhammad Riduansyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1439

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian yangmembutuhkan penanganan segera di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kecepatan prosespengkajian berperan penting dalam mendukung ketepatan penentuan diagnosis keperawatan,sehingga diperlukan instrumen pengkajian yang efektif dan efisien.Tujuan: Menganalisis perbedaan penggunaan Greek Stroke Score dan System Stroke Score Davedan Djoenaidi dalam penentuan diagnosis keperawatan pada pasien stroke di IGD.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan pra experiment dengan desain komparatifstudy menggunakan post-test only (the one-shot case study). Sampel terdiri atas 30 respondenyang dipilih menggunakan teknik accidental sampling dan dibagi menjadi dua kelompok,masing-masing berjumlah 15 responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji IndependentSample t-test dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05).Hasil: Rerata durasi pengkajian menggunakan Greek Stroke Score mencapai 144,00 menit,sedangkan System Stroke Score Dave dan Djoenaidi sebesar 14,93 menit. Rerata waktupenentuan diagnosis keperawatan masing-masing adalah 159,46 menit dan 27,20 menit. UjiIndependent Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada durasipengkajian maupun penentuan diagnosis keperawatan (p = 0,001).Simpulan: Terdapat perbedaan signifikan antara Greek Stroke Score dan System Stroke ScoreDave dan Djoenaidi dalam penentuan diagnosis keperawatan pada pasien stroke di IGD. SystemStroke Score Dave dan Djoenaidi lebih efisien karena mampu mempercepat proses pengkajianserta penetapan diagnosis keperawatan dibandingkan Greek Stroke Score.
Penerapan Head Up 300 Terhadap Stabilitasi Hemodinamik Pada Pasien Intracerebral Hemorrhage Rahmawati; Muhammad Riduansyah; M.Sobirin Mohtar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1299

Abstract

Intracerebral Hemorrhage (ICH) merupakan salah satu jenis stroke hemoragikyang terjadi akibat perdarahan pada parenkim otak sehingga dapat meningkatkan tekananintrakranial, menurunkan perfusi serebral, serta menyebabkan gangguan hemodinamik.Ketidakstabilan hemodinamik dapat memperburuk kerusakan otak sekunder dan meningkatkanmorbiditas maupun mortalitas.Tujuan: Mengetahui penerapan terapi posisi Head Up 30° terhadap stabilisasi hemodinamikpada pasien Intracerebral Hemorrhage (ICH).Metode: Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan One GroupPretest-Posttest Design. Sampel berjumlah 20 pasien ICH yang dirawat di Stroke Center danAlexandri 3 RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin pada Juli 2026. Teknik pengambilansampel menggunakan total sampling. Intervensi berupa posisi Head Up 30° dan pengukurantekanan darah, MAP, SpO₂, RR, dan HR sebelum dan sesudah intervensi. Analisismenggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan α=0,05.Hasil: Terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah sistolik (p=0,000), MAP (p=0,001), danSpO₂ (p=0,006). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah diastolik (p=0,064),RR (p=0,848), dan HR (p=0,849). Rerata sistolik menurun dari 157,85 menjadi 147,10 mmHg,MAP dari 115,95 menjadi 108,70 mmHg, sedangkan SpO₂ meningkat dari 96,30% menjadi97,45%.Kesimpulan: Penerapan terapi posisi Head Up 30° berpengaruh terhadap stabilisasi beberapaparameter hemodinamik pasien ICH, terutama tekanan darah sistolik, MAP, dan SpO₂.Intervensi ini dapat digunakan sebagai salah satu tindakan keperawatan nonfarmakologispendukung dalam perawatan pasien ICH.
Analisis Durasi Kesiapan Ruang Inap Terhadap Length Of Stay Pasien Gawat di IGD Muhammad Fahmi; Bagus Rahmat Santoso; M.Sobirin Mohtar; Eirene E M Gaghauna
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1590

Abstract

Kesiapan ruang rawat inap merupakan salah satu faktor yangmemengaruhi Length Of Stay (LOS). Durasi kesiapan ruang inap, yakni waktu sejak pasiendirekomendasikan rawat inap hingga dipindahkan. Indikator mengevaluasi lama tunggupasien di IGD adalah LOS, yang mencerminkan efektifitas dan efisiensi alur penangananpasien. Kesiapan ruang yang belum memenuhi standar, seperti kepadatan ruangan danketersediaan ruang, dapat memperpanjang LOS. Oleh karena itu, optimalisasi pelayanandan efisiensi alur transfer pasien perlu dilakukan.Tujuan: Menganalisis hubungan durasi kesiapan ruang inap dengan length of stay pasiendi IGD RSUD Ulin.Metode: Metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan prospektif. Sampel penelitian 77pasien triase merah dan kuning yang dirawat di IGD dan dipindahkan ke ruang inap.Pengambilan sampel dengan teknik accidental sampling, menggunakan instrumen lembarobservasi, dan dianalisis menggunakan uji mann-whitney.Hasil: Uji statistik didapatkan hasil nilai signifikan p=0,000, menunjukkan terdapathubungan durasi kesiapan ruang inap dengan LOS. Mayoritas (72,7%) memiliki LOS 6hingga 24 jam, dengan rata-rata durasi kesiapan ruang inap 132 menit (2,2 Jam).Simpulan: Kesiapan ruang inap berperan penting dalam menurunkan angka LOS,sehingga perlu adanya peningkatan kecepatan dalam kesiapan dan pemindahan pasien.Semakin lama durasi kesiapan ruang inap, maka semakin panjang waktu pasien berada diIGD.
Efektivitas pengkajian European Stroke Scale dan Guy’s Hospital Stroke dalam perolehan diagnosis keperawatan aktual Priadi Priadi; M.Sobirin Mohtar; Muhammad Riduansyah; Onieqie Ayu Dhea Manto
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1465

Abstract

Pelayanan pasien stroke di IGD yang diberikan oleh perawat dan diharuskan melakukannya secara cepat dan efektif. Hal ini bisa dicapai dengan adanya instrumen pengkajian yang tepat. Namun, dengan banyaknya model pengkajian stroke yang memiliki karakteristik tersendiri, perawat masih ragu untuk menentukan manakah yang lebih efektif dalam menentukan suatu diagnosis keperawatan, yaitu European Stroke Scale (ESS) dan Guy's Hospital Stroke Score (GHSS). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektivitas pengkajian European Stroke Scale (ess), dan Guy's Hospital Stroke Score (GHSS) dalam durasi pengkajian dan durasi perolehan diagnosis keperawatan pasien stroke di IGD. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan pra-eksperimen one-shot case study (posttest-only design). dan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, instrumen yang digunakan: lembar observasi (ESS) dan (GHSS), stopwatch, SDKI, uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan rata-rata perbedaan durasi pengkajian (ESS) adalah 21,47 Menit dan (GHSS) adalah sebesar 10,67 menit. Berdasarkan hasil uji statistik, nilai p = 0,000 (< 0,05), yang artinya ada perbedaan, sedangkan perbedaan rata-rata durasi perolehan diagnosis keperawatan (ESS) adalah 21,2 menit dan (GHSS) adalah sebesar 16,4 menit. Berdasarkan uji statistik diketahui nilai Sig. Sebesar P = 0,001 (<0,05), yang artinya ada perbedaan. Simpulan dalam penelitian ini yaitu penggunaan metode pengkajian (ESS) lebih kompatibel digunakan pada saat kegawatdaruratan karena metode pengkajiannya yang sederhana dan cepat, sedangkan pengkajian (GHSS) cukup memakan waktu sehingga pengkajian ini akan lebih mudah jika dilakukan oleh 2 orang perawat.