Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakteristik Pendidik Al-Qur'an Dalam Perspektif Qs. Al-Baqarah Ayat 129: Analisis Tafsir Tarbawy Ahmad Najib Komarudin; Suci Dwi Kurniasih; Badruzzaman M. Yunus; Endi Suhendi
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11970

Abstract

Latar Belakang: Pendidikan Al-Qur'an memiliki posisi sentral dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berpegang teguh pada nilai-nilai ilahiyah. Namun, masih banyak ditemukan kesenjangan antara idealitas peran pendidik Al-Qur'an dengan realitas di lapangan, khususnya dalam hal kompetensi pedagogis, spiritual, dan moral. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pendidik Al-Qur'an yang ideal berdasarkan perspektif QS. Al-Baqarah ayat 129 dengan pendekatan tafsir tarbawy (pendidikan). Metode: Penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhu'i (tematik) dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya QS. Al-Baqarah: 129, serta didukung oleh penafsiran dari kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer seperti Tafsir al-Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Misbah, serta kajian hadits dan literatur pendidikan Islam kontemporer. Hasil: Penelitian menemukan bahwa QS. Al-Baqarah: 129 mengandung empat dimensi utama tugas Rasul sebagai pendidik: tilawah (membacakan ayat-ayat Allah), ta'lim al-kitab (mengajarkan Al-Qur'an), ta'lim al-hikmah (mengajarkan hikmah), dan tazkiyah (mensucikan jiwa). Dari empat dimensi ini, ditemukan dua belas karakteristik pendidik Al-Qur'an yang ideal: (1) Ahlul Qur'an, (2) Rabbani, (3) Ikhlas, (4) Menguasai tajwid dan qira'at, (5) Berakhlak mulia, (6) Sabar, (7) Tawadhu', (8) Memahami psikologi peserta didik, (9) Zuhud, (10) Istiqamah, (11) Memiliki sanad keilmuan, dan (12) Menjadi murabbi. Kesimpulan: Pendidik Al-Qur'an yang ideal adalah sosok yang mengintegrasikan kompetensi spiritual, intelektual, pedagogis, dan moral secara holistik, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai mu'allim, murabbi, dan muzakki sekaligus.
Pengembangan Kecerdasan Kinestetik Anak Usia Dini Melalui Pendekatan Partisipatif Di PAUD Pelangi dan MDTA Manba'ul Huda Ahmad Najib Komarudin; Suci Dwi Kurniasih; Akhmad Roziqin; Ulfah Ulfah
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11974

Abstract

Latar Belakang: Kecerdasan kinestetik merupakan salah satu dimensi fundamental dalam perkembangan anak usia dini karena berkaitan dengan kemampuan mengendalikan gerak tubuh, koordinasi, keseimbangan, serta ekspresi diri. Namun, pengembangan kecerdasan kinestetik di wilayah perdesaan sering kali belum memperoleh perhatian optimal akibat keterbatasan literasi, sarana, dan infrastruktur pendidikan. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program stimulasi kecerdasan kinestetik melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) di PAUD Pelangi dan MDTA Manba'ul Huda, Desa Sukawangi, Kabupaten Garut. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka PAR yang melibatkan mahasiswa PIAUD STIT Qurrota A'yun sebagai fasilitator. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam untuk mengidentifikasi perkembangan kemampuan kinestetik anak selama pelaksanaan program. Hasil: Intervensi melalui senam irama, permainan tradisional Sunda seperti Engklek, Oray-orayan, dan Ucing Galah, serta integrasi gerakan shalat menunjukkan peningkatan koordinasi motorik, keseimbangan, kelenturan gerak, dan regulasi emosi anak. Temuan juga menunjukkan adanya keterkaitan antara frekuensi partisipasi dalam aktivitas kinestetik dengan peningkatan kemampuan motorik kasar dan halus. Aktivitas berbasis budaya lokal mampu menciptakan proses stimulasi yang menarik, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan anak. Kesimpulan: Stimulasi kecerdasan kinestetik yang mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai religius efektif dalam mengoptimalkan perkembangan motorik anak usia dini. Namun, keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan dan pendampingan orang tua, khususnya untuk mengurangi stigma negatif terhadap anak yang aktif secara fisik