Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi memberikan dampak signifikan terhadap keberlanjutan usaha peternakan sapi perah termasuk anggota peternak di KUD Kertajaya Kecamatan kandangan, Kabupaten Kediri. KUD Kertajaya sebagai salah satu pemasok susu terbesar di Jawa Timur turut mengalami penurunan produksi drastis dari 20 ton/hari menjadi 7 ton/hari selama wabah PMK. Untuk memutus rantai penularan telah dilakukan berbagai upaya penanganan antara lain pengobatan pada hewan terdampak, penyuluhan, pengendalian lalu lintas ternak, vaksinasi, serta penerapan biosecurity. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan upaya tersebut berdasarkan analisis usaha peternakan pada periode sebelum, selama, dan sesudah wabah PMK ditinjau dari perubahan produksi, kualitas, nilai penjualan susu, dan keuntungan usaha. Penelitian ini menggunakan deskritptif kuantitatif yang melibatkan 45 responden dari kelompok ternak yang terpilih yaitu Ringging Agung, Mulyorejo, dan Sidorejo dengan metode random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA, Kruskal–Wallis, serta uji lanjutan post hoc dan Mann–Whitney U test. Hasil menunjukkan bahwa produksi, nilai penjualan susu, dan keuntungan usaha mengalami penurunan signifikan selama wabah PMK (p<0,05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara periode sebelum dan sesudah wabah PMK (p>0,05), menunjukan adanya peningkatan pada periode sesudah wabah PMK. Sementara itu, kualitas susu yang meliputi berat jenis, kadar lemak, dan total solid tetap terjaga bahkan meningkat pada periode selama dan sesudah PMK (p<0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa upaya penanganan PMK yang dilakukan KUD Kertajaya efektif dalam memulihkan kondisi usaha peternakan.