Mia Yasmina Andarini
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Penggunaan Hijab dengan Rambut Rontok (Effluvium) pada Mahasiswi FK UNISBA Nurul Aqila Lumongga; Deis Hikmawati; Mia Yasmina Andarini
Bandung Conference Series: Medical Science 273-282
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22153

Abstract

Abstract. Telogen effluvium (TE) is a non-scarring diffuse hair loss characterized by excessive shedding of telogen-phase hair exceeding 100 strands per day. Hair loss is a common complaint among women who wear the hijab. Prolonged hijab use is suspected to affect hair health through increased scalp humidity, excessive sebum production, and chronic mechanical stress, which may disrupt the hair growth cycle and trigger telogen effluvium. Female medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung are required to wear the hijab, making it important to evaluate its association with telogen effluvium. This study aimed to analyze the relationship between hijab use and the occurrence of telogen effluvium among female medical students from the 2022–2024 cohorts. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted involving 120 participants selected through simple random sampling. Data on hijab use and telogen effluvium were collected using structured questionnaires and analyzed using the chi-square test. The results showed that 72.5% of respondents used the hijab appropriately, and 55.8% experienced telogen effluvium. No significant association was found between hijab use and telogen effluvium (p = 0.86). In conclusion, hijab use was not significantly associated with telogen effluvium, although the prevalence of hair loss was relatively high. Abstrak. Telogen effluvium (TE) merupakan kerontokan rambut difus non-sikatriks yang ditandai dengan peningkatan rambut fase telogen yang rontok lebih dari 100 helai per hari. Kerontokan rambut sering dikeluhkan oleh wanita berhijab, di mana penggunaan hijab dalam jangka waktu lama diduga dapat memengaruhi kesehatan rambut melalui peningkatan kelembapan kulit kepala, produksi sebum berlebih, dan tekanan mekanis kronis. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung diwajibkan mengenakan hijab, sehingga penting untuk menilai hubungannya dengan kejadian telogen effluvium. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan penggunaan hijab dengan kejadian telogen effluvium pada mahasiswi angkatan 2022–2024. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 120 responden yang dipilih dengan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan 72,5% responden menggunakan hijab dengan benar dan 55,8% mengalami telogen effluvium. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan hijab dengan kejadian telogen effluvium (p = 0,86). Disimpulkan bahwa penggunaan hijab tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian telogen effluvium, meskipun prevalensi kerontokan rambut tergolong cukup tinggi
Karakteristik dan Patogenesis Penyakit Kusta Miftah Nur Syifa; Titik Respati; Mia Yasmina Andarini
Bandung Conference Series: Medical Science 1259-1266
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22543

Abstract

Abstract. Leprosy remains a public health problem due to its potential to cause permanent disability. This literature review aims to examine the epidemiological characteristics and pathogenesis of leprosy from a medical perspective. The study employed a literature review method by synthesizing information obtained from clinical textbooks, national guidelines, and scientific journal articles discussing Mycobacterium leprae. The findings indicate that leprosy is more commonly observed among males of productive age. Disease pathogenesis is strongly influenced by the host immune response, in which a predominant Th1 response is associated with paucibacillary leprosy, while a Th2-dominant response is related to multibacillary leprosy. A comprehensive understanding of the immunological mechanisms of leprosy is essential to support early diagnosis and the appropriate administration of Multidrug Therapy (MDT), thereby preventing disability and reducing the risk of transmission. Abstrak. Penyakit kusta hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena berisiko menimbulkan kecacatan yang bersifat permanen. Tinjauan Pustaka ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik epidemiologi serta proses terjadinya kusta, ditinjau dari sudut pandang medis. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan Pustaka dengan mengintegrasikan informasi yang bersumber dari buku teks klinis, pedoman nasional, serta artikel jurnal ilmiah yang membahas Mycobacterium leprae. Hasil kajian menunjukkan bahwa kusta lebih sering ditemukan pada laki-laki usia produktif. Proses terjadinya penyakit sangat dipengaruhi oleh respon imun tubuh, di mana dominasi respon Th1 berkaitan dengan kusta tipe paucibacillary, sedangkan respon Th2 berhubungan dengan tipe multibacillary. Pemahaman yang baik mengenai mekanisme imunologis kusta menjadi hal yang penting untuk mendukung diagnosis dini dan pemberian terapi Multidrug Therapy (MDT) secara tepat, sehingga dapat mencegah kecacatan dan menurunkan risiko penularan.
Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Dengan Kejadian Sifilis Yogi Zahary Ramdhan; Yani Triyan; Mia Yasmina Andarini; Rafdi Ahmed; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science 1335-1342
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22617

Abstract

Abstract. Syphilis in pregnancy remains a public health problem because it can cause various pregnancy complications, including congenital syphilis, preterm birth, and fetal death. Early detection through serological examination is an important step in preventing vertical transmission. This study aimed to describe the characteristics of pregnant women with syphilis. This research was a descriptive study. Data were obtained from medical records of pregnant women who underwent syphilis serological testing. The sampling technique used was total sampling, with a total of 130 pregnant women included. The variables analyzed consisted of age, education level, parity, and occupation. Data were presented in the form of frequency distributions and percentages. The results showed that most pregnant women were in the 20–35 year age group (84,6%), had secondary education (84,6%), were employed (60,8%), and had primiparous and multiparous parity in equal proportions (50% each). The conclusion of this study indicates that syphilis among pregnant women was predominantly found in those of reproductive age, with secondary education, employed status, and primiparous or multiparous parity. Therefore, strengthening routine screening and follow-up treatment for syphilis in pregnant women is necessary. Abstrak. Sifilis pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan, seperti sifilis kongenital, kelahiran prematur, hingga kematian janin. Deteksi dini melalui pemeriksaan serologis merupakan langkah penting dalam pencegahan penularan vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil dengan kejadian sifilis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis ibu hamil yang menjalani pemeriksaan serologis sifilis. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 130 ibu hamil. Variabel yang dianalisis meliputi usia, tingkat pendidikan, paritas, dan pekerjaan. Data disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu hamil berada pada kelompok usia 20–35 tahun (84,6%), memiliki tingkat pendidikan menengah (84,6%), bekerja (60,8%), serta memiliki paritas primipara dan multipara dengan proporsi yang sama (masing-masing 50%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian sifilis pada ibu hamil didominasi oleh usia reproduktif, pendidikan menengah, status bekerja, serta paritas primipara dan multipara, sehingga diperlukan penguatan skrining dan tindak lanjut pengobatan sifilis pada ibu hamil.
Perbandingan Emulgel Topikal dan Minyak Oral Ikan Gabus Dalam Penyembuhan Luka Ari Andrian; Anita Indriyanti; Mia Yasmina Andarini
Bandung Conference Series: Medical Science 1393-1400
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22661

Abstract

Abstract. Wound healing is a complex biological process that occurs through several phases, including hemostasis, inflammation, proliferation, and remodeling. Various wound therapies have been developed; however, they still face limitations related to relatively high costs and potential side effects. Snakehead fish (Channa striata) is known to contain albumin, essential amino acids, and omega-3 and omega-6 fatty acids, which play important roles in tissue regeneration and acceleration of wound healing. This study aimed to compare the effectiveness of Channa striata extract administered topically in the form of an emulgel and orally in the form of oil on wound size reduction and healing time in mice. This study was an in vivo experimental laboratory study using a completely randomized design. A total of 28 male Swiss Webster mice were divided into four groups: negative control, positive control (povidone iodine and maltodextrin), oral treatment group receiving snakehead fish extract oil at a dose of 1 g/kg body weight, and topical treatment group receiving Channa striata emulgel. Incisional wounds were created on the dorsal area of the mice, and wound size was measured daily for 14 days. Data were analyzed using a one-way ANOVA test. The results showed a significant difference among treatment groups (p < 0.05). Topical administration of Channa striata emulgel resulted in faster wound size reduction and shorter healing time compared to oral administration. Abstrak. Penyembuhan luka merupakan proses biologis yang kompleks dan berlangsung melalui beberapa fase, yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Berbagai terapi luka telah dikembangkan, namun masih menghadapi kendala berupa biaya yang relatif tinggi serta potensi efek samping. Ikan gabus (Channa striata) diketahui mengandung albumin, asam amino esensial, serta asam lemak omega-3 dan omega-6 yang berperan dalam regenerasi jaringan dan percepatan penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas ekstrak ikan gabus yang diberikan secara topikal dalam bentuk emulgel dan secara per oral dalam bentuk minyak terhadap penurunan ukuran luka dan waktu penyembuhan pada mencit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium in vivo dengan rancangan acak lengkap. Sebanyak 28 ekor mencit jantan galur Swiss Webster dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif (povidone iodine dan maltodekstrin), kelompok perlakuan per oral dengan minyak ekstrak ikan gabus dosis 1 g/kgBB, serta kelompok perlakuan topikal menggunakan emulgel ekstrak ikan gabus. Luka sayatan dibuat pada punggung mencit dan pengukuran ukuran luka dilakukan setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p < 0,05). Emulgel ekstrak ikan gabus memberikan penurunan ukuran luka dan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan pemberian per oral.