Wahyu Endang Setyowati
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Islam Sultan Agung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis peran senam otak terhadap fungsi kognitif lansia: A literature review Juwari Juwari; Iwan Ardian; Iskim Luthfa; Wahyu Endang Setyowati
Hik Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1013

Abstract

Background: The elderly are an age group vulnerable to cognitive decline due to degenerative processes. Impaired cognitive function can impact quality of life, independence, and the risk of dementia. One non-pharmacological intervention considered effective in maintaining and improving cognitive function in the elderly is brain gym, which combines simple physical movements with mental stimulation. Purpose: To analyze the role of brain gym on cognitive function in the elderly. Method: Literature review research of scientific articles through research journal databases and internet searches related to the role of brain gymnastics on cognitive function in the elderly for the period 2018 to 2025. The literature review process begins with topic selection, followed by a study search through Google Scholar, PubMed, Scopus, and EBSCO sites, with the search keywords "Brain Gym", OR "Brain Gym" AND "Cognitive Function", OR "cognitive" AND "Elderly". The selection of article eligibility is carried out systematically following the PRISMA format, including the stages of identification, screening, and selection of articles for further analysis. Results: An analysis based on a review of 10 articles shows that brain gymnastics has an impact on improving cognitive function in the elderly. Brain gymnastics is effective when performed at least once a week for 15 minutes over a period of 6 weeks or more. This duration can improve blood flow and oxygen supply to organs, especially the brain, resulting in improved concentration and cognitive function. Conclusion: Increased physical activity such as aerobics, strength training, or brain gymnastics has been shown to significantly impact cognitive function. Performing gymnastics for at least 15 minutes once a week within 6 weeks can improve cognitive function in the elderly and provide health benefits, including increased alertness, concentration, and memory. Suggestion: It is hoped that brain gymnastics will become a mandatory program for the elderly in community health centers throughout Indonesia to support the quality of life of the increasing number of elderly. Furthermore, community health centers can also serve as educational centers for families and caregivers about the importance of maintaining brain health in old age.   Keywords: Brain Gymnastics; Cognitive Function; Elderly.   Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif akibat proses degeneratif. Fungsi kognitif yang terganggu dapat berdampak pada kualitas hidup, kemandirian, serta risiko terjadinya demensia. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dinilai efektif dalam mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif lansia adalah senam otak (brain gym), yang menggabungkan gerakan fisik sederhana dengan stimulasi mental Tujuan: Untuk menganalisis peran senam otak terhadap fungsi kognitif lansia. Metode: Penelitian literature review artikel ilmiah melalui database jurnal penelitian, pencarian di internet terkait dengan peran senam otak terhadap fungsi kognitif pada lansia dalam rentang waktu 2018 hingga 2025. Proses literature review dimulai dengan pemilihan topik, dilanjutkan dengan penelusuran studi melalui situs Google Scholar, PubMed, Scopus dan EBSCO, menggunakan kata kunci dalam pencarian adalah “Senam Otak”,OR ”Brain Gym” AND ”Fungsi Kognitif” OR “cognitive”AND “Lansia” OR “Elderly”. Seleksi kelayakan artikel dilakukan secara sistematis mengikuti format PRISMA, mencakup tahap identifikasi, penyaringan, dan pemilihan artikel untuk analisis lebih lanjut. Hasil: Analisis berdasar telaah pada 10 artikel menunjukkan bahwa, senam otak memiliki pengaruh terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia, senam otak efektif dilakukan minimal 1 kali dalam seminggu dengan durasi 15 menit dalam jangka waktu 6 minggu atau lebih dengan durasi ini dapat melancarkan aliran dan volume pasukan darah yang membawa oksigen ke organ tubuh terutama otak, sehingga terjadi peningkatan konsentrasi dan fungsi kognitif. Simpulan: Peningkatan aktivitas fisik, seperti aerobik, latihan kekuatan, atau senam otak telah telah terbukti signifikan memiliki hubungan dengan fungsi kognitif. Senam selama minimal 15 menit dengan durasi 1 minggu sekali dalam 6 minggu dapat terjadi peningkatan fungsi kognitif pada lansia dan memperoleh manfaat kesehatan antara lain dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan memori. Saran: Diharapkan agar senam otak dijadikan program wajib bagi para lansia di puskesmas di seluruh Indonesia sebagai upaya mendukung kualitas hidup lansia yang semakin meningkat jumlahnya. Selain itu, puskesmas juga dapat berperan sebagai pusat edukasi bagi keluarga dan caregiver tentang pentingnya menjaga kesehatan otak pada usia lanjut.   Kata Kunci: Fungsi Kognitif; Lansia; Senam Otak.
Analisis hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian stunting: A literature review Harno Harno; Iwan Ardian; Wahyu Endang Setyowati; Iskim Luthfa
Hik Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1014

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional problem that impacts children's physical growth and cognitive development and contributes to increased long-term morbidity and mortality. Determinants such as parental knowledge, especially maternal knowledge, and family support play a crucial role in stunting prevention. Purpose: To analyze the relationship between knowledge and family support levels and stunting incidence. Method: This study employed a literature review design approach using searchable databases including Scopus, PubMed, EBSCO, and Science Direct. The search was conducted in May 2025. Article inclusion criteria included articles published between 2019 and 2025 that discussed the relationship between knowledge and family support and stunting incidence, in both English and Indonesian. The search terms used were "Stunting" AND "Knowledge" OR "Knowledge" AND "Family Support" OR "Family Support" AND "Baby" OR "Baby" OR "Children". Results: Analysis based on a review of 12 articles showed a significant relationship between maternal knowledge and family support and stunting prevention. Interventions that include nutrition education, family involvement, and support from health workers have proven effective in reducing the prevalence of stunting. Conclusion: Adequate knowledge and strong family support are crucial factors in reducing the prevalence of stunting. Therefore, educational interventions and family empowerment need to be prioritized in a holistic and sustainable stunting prevention strategy.   Keywords: Family; Knowledge; Stunting; Support.   Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas jangka panjang. Faktor-faktor determinan seperti pengetahuan orang tua, terutama ibu, dan dukungan keluarga memegang peranan penting dalam pencegahan stunting. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian stunting. Metode: Penelitian ini melakukan pendekatan desain literature review dengan databased pencarian yaitu Scopus, PubMed, EBSCO, dan Science Direct, pencarian dilakukan bulan Mei 2025. Kriteria inklusi artikel yakni, artikel yang terbit pada tahun 2019-2025, membahas terkait hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian stunting, bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Kata kunci dalam pencarian adalah “Stunting” AND ”Pengetahuan” OR “Knowledge” AND ”Dukungan Keluarga” OR “Family support”AND “Balita” OR “Toddler” OR “Children”. Hasil: Analisis berdasar telaah pada 12 artikel menunjukkan bahwa hubungan signifikan antara pengetahuan ibu serta dukungan keluarga dengan pencegahan stunting. Intervensi yang melibatkan edukasi gizi, keterlibatan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan terbukti efektif dalam menurunkan prevalensi stunting. Simpulan: Pengetahuan yang memadai dan dukungan keluarga yang kuat merupakan faktor penting dalam menurunkan prevalensi stunting. Oleh karena itu, intervensi edukatif dan pemberdayaan keluarga perlu menjadi prioritas dalam strategi pencegahan stunting secara holistik dan berkelanjutan.   Kata Kunci: Dukungan; Keluarga; Pengetahuan; Stunting.
Analisis faktor prediktor kepatuhan dalam menjalani pengobatan pasien hipertensi: A literature review Rasyid Ardan Alghozali; Dwi Heppy Rochmawati; Wahyu Endang Setyowati; Iskim Luthfa
Hik Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1304

Abstract

Background: Adherence is crucial for people with hypertension because it offers significant potential for effective hypertension control through various therapies. Purpose: To explore factors influencing medication adherence in hypertensive patients. Method: This literature review included 10 articles retrieved from databases such as Scopus, PubMed, Web of Science, and Science Direct. The keywords used were hypertension, medication adherence, factors influencing adherence, and family support published between 2021 and 2025. Furthermore, this literature focused on several factors: predisposing, reinforcing, and supporting factors. Results: Based on the review of 10 articles, it was found that factors influencing hypertension medication adherence include knowledge, motivation, family support, access to healthcare services, and the role of healthcare professionals. Conclusion: Hypertension medication adherence is influenced by several factors, including predisposing factors (knowledge, motivation), reinforcing (family support), and supporting factors (access to healthcare services and the role of healthcare professionals). Therefore, it is important to consider these factors when developing strategies to improve adherence to hypertension medication.   Keywords: Adherence; Hypertension; Patients; Predictors; Treatment.   Pendahuluan: Kepatuhan merupakan hal yang sangat penting bagi penderita hipertensi karena merupakan potensi besar untuk pengendalian hipertensi melalui berbagai terapi yang dilakukan, sehingga pengendalian tersebut menjadi efektif. Tujuan: Untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien dengan hipertensi. Metode: Studi literature review terhadap 10 artikel yang diperoleh dari database seperti Scopus, Pubmed, Web of Science, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan yakni, hipertensi, kepatuhan pengobatan, faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan, dan dukungan keluarga yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2025. Selain itu, literature ini fokus pada beberapa faktor yaitu predisposing, reinforcing, dan enabling. Hasil: Berdasarkan review terhadap 10 artikel, diketahui bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan hipertensi, meliputi pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, akses pelayanan kesehatan, dan peran tenaga kesehatan. Simpulan: Kepatuhan pengobatan hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk predisposing factors (pengetahuan, motivasi), reinforcing (dukungan keluarga), dan enabling (akses pelayanan kesehatan dan peran tenaga kesehatan). Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam mengembangkan strategi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Kepatuhan; Pasien; Pengobatan; Prediktor.
Terapi pijat punggung elektrik sebagai intervensi non-farmakologis untuk nyeri punggung pada pasien pasca percutaneous coronary intervention (PCI) Tri Wahyuni; Wahyu Endang Setyowati; Dwi Heppy Rochmawati
Hik Vol. 20 No. 3 (2026): Volume 20 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i3.2677

Abstract

Background: Back pain is a common complaint in patients after percutaneous coronary intervention (PCI), particularly during the immobilization period following PCI using transfemoral access. Purpose: To analyze the effect of electric back massage therapy on back pain intensity in post-PCI patients. Method: This quasi-experimental study used a pretest-posttest control group design and was conducted in the cardiac ward of Kariadi Hospital, Semarang. The study involved 66 post-PCI patients. Participants were divided into an experimental group (n=33) and a control group (n=33). Pain intensity was measured using a Numeric Rating Scale (NRS). The experimental group received electric back massage therapy using an OTTO Klasse electric massager applied to the thoraco-lumbar area while the patient was in a supine position for 20 minutes during the immobilization period, while the control group received standard care. Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests. Results: The mean pain score in the experimental group decreased significantly from 6.93 to 2.06 (p<0.001), while no significant decrease was observed in the control group. A significant difference in post-intervention pain scores was found between the groups (p<0.001). Conclusion: Electric back massage therapy is effective in reducing back pain intensity in post-PCI patients and can be implemented as a safe and practical non-pharmacological nursing intervention.   Keywords: Back Pain; Electric Back Massage; Non-Pharmacological Therapy; Percutaneous Coronary Intervention (PCI).   Pendahuluan: Nyeri punggung merupakan keluhan umum pasien setelah tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI), khususnya selama periode imobilisasi setelah PCI yang menggunakan akses trans femoral. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh terapi pijat punggung elektrik terhadap intensitas nyeri punggung pada pasien pasca PCI. Metode: Studi kuasi-eksperimental ini menggunakan desain kelompok kontrol pretest-posttest dan dilakukan di bangsal jantung Rumah Sakit Kariadi, Semarang. Studi ini melibatkan 66 pasien pasca PCI, Partisipan dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=33) dan kelompok kontrol (n=33). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Kelompok eksperimen menerima terapi pijat punggung elektrik menggunakan alat pijat elektrik OTTO Klasse yang diaplikasikan pada area torako-lumbal saat pasien dalam posisi telentang selama 20 menit selama periode imobilisasi, sedangkan kelompok kontrol menerima perawatan standar. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Skor nyeri rata-rata pada kelompok eksperimen menurun secara signifikan dari 6.93 menjadi 2.06 (p<0.001), sedangkan tidak ada penurunan signifikan yang diamati pada kelompok kontrol. Perbedaan signifikan dalam skor nyeri pasca-intervensi ditemukan antara kelompok (p<0.001). Simpulan: Terapi pijat punggung elektrik efektif dalam mengurangi intensitas nyeri punggung pada pasien pasca PCI dan dapat diterapkan sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis yang aman dan praktis.   Kata Kunci: Nyeri Punggung; Percutaneous Coronary Intervention (PCI); Pijat Punggung Elektrik; Terapi Non-Farmakologis.