Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Dan Kerentanan Abrasi Pantai Terhadap Garis Pantai Painan Sumatera Barat Fadila, Fadila; Susanti, Yuli; Akbarullah, Akbarullah; Kamal, Eni; Razak, Abdul; Prarikeslan, Widya
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah pesisir Painan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat termasuk suatu daerah yang mempunyai potensi sumber daya laut tinggi namun menghadapi tekanan lingkungan akibat abrasi pantai. Fenomena abrasi menyebabkan mundurnya garis pantai yang berdampak pada kerusakan fisik, ekologis, dan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perubahan garis pantai serta tingkat kerentanan kepada abrasi di wilayah pesisir Painan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif serta analisis spasial yang bergantung pada teknologi penginderaan jauh serta Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil dari analisis memperlihatkan bahwa di beberapa lokasi di pesisir, terutama di daerah Painan Timur dan Painan Selatan, garis pantai telah berubah sejauh 5-20 meter. Faktor alam seperti gelombang laut, arus sejajar pantai, dan pasang surut, serta faktor manusia seperti alih fungsi lahan, penebangan vegetasi pantai, dan pembangunan pemukiman di dekat pantai, bertanggung jawab atas perubahan ini. Wilayah pesisir Painan diklasifikasikan sebagai memiliki tingkat kerentanan abrasi tinggi hingga sangat tinggi, yang berdampak besar pada infrastruktur, ekosistem pantai, dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini merekomendasikan rehabilitasi vegetasi pantai melalui penanaman cemara laut dan mangrove, penerapan zona sempadan pantai setidaknya 100 meter, dan pengelolaan pesisir berbasis kerentanan. Ini akan menjaga lingkungan dan kesejahteraan penduduk pesisir Painan.
The Food and Water Hygiene as Critical Determinants Of Diarrheal Disease: An Epidemiological and Environmental Health Risk Assessment in Payakumbuh City, Indonesia Anisa, Lisa; Akbarullah, Akbarullah; Barlian, Eri; Yuniarti, Elsa; Handayuni, Linda; Ridha, Mhd
Science and Environmental Journal for Postgraduate Vol. 7 No. 2 (2025): Science and Environmental Journals for Postgraduate (SENJOp)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diarrheal disease remains a persistent public health challenge in Indonesian municipalities despite substantial improvements in basic sanitation infrastructure. This comprehensive review synthesizes epidemiological data, microbiological water quality assessments, and environmental health risk factors to elucidate the complex pathways linking water safety, sanitation practices, and disease incidence. Examining municipal surveillance data from Payakumbuh City, West Sumatra (2020–2024), we document a 24.3% reduction in reported diarrheal cases concurrent with modest improvements in municipal water quality metrics. However, critical sanitation vulnerabilities persist, with 10.8% of households maintaining reliance on microbiologically contaminated wells (mean E. coli: 3,367 CFU/100mL), and 65.2% of septic tank systems never receiving professional emptying. Spatial risk mapping reveals that 85.1% of municipal subdistricts face high-to-very-high wastewater management hazards despite 78.4% coverage by piped water systems. This investigation demonstrates that the discrepancy between aggregate infrastructure coverage and micro-level sanitation quality represents the principal challenge in tropical urban settings. Targeted interventions addressing critical gaps in septage management, household-level water treatment, and behavioral hygiene transformation are necessary to accelerate disease reduction. The integration of Environmental Health Risk Assessment (EHRA) methodologies with epidemiological surveillance provides an evidence framework for prioritizing resource allocation in resource-limited settings.