Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ROCK TYPING DAN ASOSIASI FASIES FORMASI MENGGALA, LAPANGAN “MANGGA SELASIH”, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH Putri, Shiva Alimadana; Abdurrokhim, .; Mohammad, Febriwan; Indrarto, Yohanes Brosko
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.64322

Abstract

Lapangan “Mangga Selasih” adalah lapangan penghasil hidrokarbon dari reservoir silisiklastik yang terletak di Cekungan Sumatra Tengah. Penelitian ini berfokus pada reservoir Formasi Menggala. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dalam penentuan litofasies, elektrofasies, dan fasies pengendapan, lalu analisis kuantitatif dalam penentuan karakteristik petrofisika dan rock type (RT). Tujuan penelitian ini adalah mengasosiasikan karakteristik petrofisika batuan dengan RT dan fasies pengendapan untuk karakterisasi reservoir dan memperkuat hubungan antara data petrofisika serta pemahaman geologi. Penelitian ini dilakukan pada 15 data sumur dengan 15 data log sumur, 3 data core, 12 data side wall core (SWC), dan data marker dengan sumur MS-05 sebagai sumur analisis. Berdasarkan analisis RT metode Hydraulic Flow Unit (HFU) dengan parameter Flow Zone Indicator (FZI), yaitu ratarata volume ruang yang dimiliki oleh suatu batuan reservoir yang dapat mengalirkan fluida melalui hubungan nilai porositas dan permeabilitas, Formasi Menggala memiliki 4 jenis RT dengan urutan terbaik ke terburuk, yaitu RT 1 bernilai FZI 19,64–22,75; RT 2 bernilai FZI 11,78–18,37; RT 3 bernilai FZI 6,1–11,26; dan RT 4 bernilai FZI 3,01–5,52. Formasi Menggala didominasi oleh RT 2 dengan nilai volume shale 0,01–0,5; PHIE 0,12-0,27 V/V; permeabilitas 773-5.263 mD. Formasi ini tersusun atas litologi sandstone, shally sandstone, sandy shale, dan shale. Pola elektrofasies teridentifikasi mencakup cylindrical berasosiasi dominan dengan RT 1 dan 2 di elemen fasies channel, sedangkan funnel, bell, dan symmetrical berasosiasi dominan dengan RT 3 dan 4 di elemen fasies floodplain dan tidal flat. Lingkungan pengendapan diinterpretasikan pada terestrial–transisi, yaitu elemen fasies fluvial channel, mid channel bar, dan floodplain membentuk asosiasi fasies fluvial serta elemen fasies estuary tidal channel, mixed flat, dan mud flat yang membentuk asosiasi fasies estuari dominasi pasang surut. Reservoir terbaik pada Formasi Menggala berjenis RT 1 berasosiasi dengan elemen fasies fluvial channel dengan litologi very coarse sandstone.Kata Kunci: Petrofisika, Rock Type, Litofasies, Elektrofa
Rekonstruksi Struktur Lipatan Endapan Vulkaniklastik Laut Dalam di Zona Antiklinorium Majalengka, Cekungan Bogor Darojat, Akmal Maulana; Abdurrokhim, .; Natasia, Nanda
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.63675

Abstract

Endapan vulkaniklastik laut dalam di Cekungan Bogor umumnya menunjukkan karakteristik litologi yang seragam, sehingga menyulitkan identifikasi penanda stratigrafi yang dapat diandalkan dalam menentukan urutan dan korelasi stratigrafinya. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi struktur lipatan endapan vulkaniklastik laut dalam di zona antiklinorium Majalengka, dengan menggunakan data biostratigrafi sebagai panduan untuk mendudukkan posisi stratifikasi batuan dengan benar. Analisis biostratigrafi dilakukan pada tiga buah sampel yang diperoleh dari beberapa lokasi di zona antiklinorium. Data biostratigrafi tersebut kemudian diintegrasikan dengan rekonstruksi penampang geologi berdasarkan persebaran data jurus dan kemiringan perlapisan batuan, guna menentukan posisi stratigrafi setiap perlapisan batuan secara lebih akurat dan dalam kerangka waktu geologi yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Anggota Bawah Formasi Cinambo dan Anggota Atas Formasi Cinambo, yang berumur Miosen Awal, serta Anggota Bawah Formasi Halang, yang berumur Miosen Tengah, terendapkan secara selaras dan mengalami perlipatan secara bersamaan akibat aktivitas tektonik kompresional pada kala Miosen Akhir. Meskipun demikian, di daerah penelitian ditemukan hubungan tidak selaras lokal antara Formasi Cinambo dan Formasi Halang, yang diduga merupakan hasil dari aktivitas sesar normal pasca-kompresi sebagai respons terhadap peluruhan tegangan (stress release) setelah fase kompresional utama. Struktur lipatan yang terbentuk akibat tektonik kompresional tersebut bersifat asimetris dan membentuk kompleks antiklinorium dengan perbedaan elevasi yang mencolok antar elemen struktural.
FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUGAMPING FORMASI KALIPUCANG DAERAH KARANGNUNGGAL, TASIKMALAYA JAWA BARAT Kotarumalos, Sitti Hafsa; Abdurrokhim, .; Sendjaja, Yoga A.
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 1 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.707 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas fasies batugamping dan lingkungan pengendapan Formasi Kalipucang berumur Miosen Tengah, dan tersingkap di Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pengelompokkan fasies batugamping ini berdasarkan pada tekstur batuan dan komposisi skeletal (bioclast). Fasies batugamping Formasi Kalipucang dapat dikelompokkan menjadi 7 fasies, yaitu: (1) batugamping packstone berkomposisi dominan alga, (2) batugamping rudstone, (3) batugamping packstone berkomposisi dominan foraminifera, (4) batugamping wackestone – packstone berkomposisi foraminifera, (5) batugamping grainstone berkomposisi alga, (6) batugamping grainstone berkomposisi foramifera, dan (7) batugamping packstone berkomposisi coral. Batugamping Formasi Kalipucang ini diinterpretasikan diendapkan dalam lingkungan foreslope–deep shelf margin and barrier– shelf lagoon pada sebuah paparan yang terisolasi dari endapan volkanik.Kata kunci: batugamping, fasies, lingkungan pengendapan, Formasi Kalipucang, Tasikmalaya, Jawa Barat
FORMASI PULAU BALANG PADA SUMBU LIPATAN SEPARI KOTA SAMARINDA Abdurrokhim, .; Helmi, Faisal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i3.67516

Abstract

Batuan sedimen berumur Neogen di Cekungan Kutei dicirikan oleh suksesi progradasi yang berkembang dalam berbagai tatanan lingkungan pengendapan, mulai dari turbidit laut dalam, endapan silisiklastik laut dangkal, dan batugamping hingga endapan fluvio-deltaik dan darat.Formasi Pulau Balang merupakan batuan sedimen tertua yang tersingkap di Antiklinorium Samarinda, di Kota Samarinda. Bersama dengan Formasi Balikpapan, kedua formasi tersebut mengikuti sumbu-sumbu lipatan, di mana Antiklin Separi merupakan salah satu lipatan diantaranya. Formasi Pulau Balang yang tersingkap dengan baik di sepanjang Antiklin Separi di Kota Samarinda, dicirikan oleh urut-urutan batuan yang didominasi oleh batulempung, dengan kadang-kadang perselingan dengan batupasir turbidit, endapan channel-fill, dan endapan slump.Asosiasi litofasies endapan laut dalam Formasi Pulau Balang dalam ini dapat dikelompokkan menjadi (1) laminasi batulempung, batulanau dan dan batupasir halus yang kadang-kadang berlapisan juga dengan batupasir turbidit, (2) endapan channel-fill, dan (3) endapan slump.Perlapisan tipis batulempung dan batupasir dicirikan oleh batulempung, batulanaudan batupasir berlapis tipis hingga sangat tipis. Batupasir berbutir halus hingga sangat halus, dengan ketebalan yang tidak konsisten secara lateral. Batupasir turbidit berbutir halus hingga kasar, dengan ketebalan 3–23 cm, berselang-seling atau berselang-seling dengan batulempung. Batupasir tersebut memiliki struktur sedimen sekuen Bouma, Ta, Tb, dan Tc. Batupasir berbutir kasar terkadang teramati di dalam lapisan batupasir ini, berukuran kasar, kadang kerikilan, dan menunjukkan kontak bagian bawah erosional. Endapan channel fill ini dicirikan oleh batupasir berbutir kasar berlapis tebal hingga sangat tebal, batupasir berbutir kasar kerikilan dengan kontak bagian bawah erosional, batulempung berselang-seling dengan batupasir dibawahnya tererosi oleh endapan channel ini. Geometri endapan channel fill berbentuk lentikular. Endapan slump dicirikan oleh soft sedimentary deformation dari perlapisan batulempung dan batupasir turbidit. Sebanyak 13 sampel batuan telah diambil secara sistematis untuk dianalisis kandungan fosil foraminifera planktonik dan bentoniknya. Terdapat 9 sampel yang berasal dari sisi timur Antiklin Separi, dan 5 sampel yang diambil dari sisi barat sumbu Antiklin. Dari fosil-fosil foraminifera tersebut, menunjukkan bahwa batuan sedimen Formasi Pulau Balang di sepanjang Antiklin Separi ini terbentuk selama N5 hingga N6, Burdigalian, Miosen Awal, dalam lingkungan laut dalam (batial).
TEKTONIK DAN ASPEK KEBENCANAAN DI PULAU SUMATRA Haryanto, Iyan; Irawati, .; Helmi, Faisal; Adhiperdana, Billy G.; Abdurrokhim, .; Natasia, Nanda; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i3.68147

Abstract

ABSTRAKStruktur geologi di Pulau Sumatra dilatarbelakangi oleh tumbukan lempeng miring antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Peristiwa tektonik ini menyebabkan terjadinya tegasan strike slip sehingga pola struktur yang terbentuk di pulau ini didominasi oleh sesar mendatar dan dua diantaranya bersifat regional yaitu Sesar Sumatra dan Sesar Mentawai. Berdasarkan latar belakang tektonik di atas, maka setiap struktur sesar yang memiliki pola yang sama dengan  kedua sesar regional di atas, selalu disimpulkan sebagai sesar mendatar juga.Data lapangan menunjukan tidak semua struktur sesar naik berada di dalam zona transpresional dari mendatar regional yang melengkung (bend fault) atau bergeser (steep over) seperti yang terjadi di daerah Bukit Garba, yaitu sesar-sesar naiknya terbentuk langsung oleh tektonik kompresi. Tektonik kompresi juga terjadi di daerah tinggian seperti prisma akresi  dan jalur orogenesa yang pembentukannya memerlukan gaya yang besar dan bersifat regional. Secara genetik peristiwa tektonik harus dilatarbelakangi oleh sistem tegasan kompresi dibandingkan strike slip. Namun demikian karena latar belakang tumbukan lempengnya bersifat miring, maka sebagian dari sesar-sesar naik di Pulau Sumatra bersifat oblik yaitu naik mendatar.Kata Kunci: bend fault, orogenesa, pop-up, strike slip, steep over, subduksi miring. ABSTRACTThe geological structure of Sumatra Island is constructed by the oblique collision of the Indo-Australian Plate with the Eurasian Plate. This tectonic occurrence induces strike-slip stresses, resulting in a structural pattern predominantly characterised by strike-slip faults, among which two are regional: the Sumatra Fault and the Mentawai Fault. Based on the aforementioned tectonic context, any fault structure exhibiting a similar pattern to these two regional faults is typically classified as a strike-slip fault.Field observations reveal that not all thrust fault structures are situated within transpressional zones of regionally curved (bend faults) or steepened (steep-over) faults, as observed in the Garba Hills area. These thrust faults are directly formed by compressional tectonics. Compressional tectonics are also active in areas of high elevation, such as accretionary prisms and orogenic zones, whose formation necessitates substantial forces and is of regional extent. Tectonic events, in a genetic sense, are primarily driven by a compressional stress system rather than strike-slip mechanisms. Nevertheless, due to the inclined nature of the plate collision background, some thrust faults on Sumatra Island are oblique, rising horizontally.Keywords: bend fault, orogenesis, pop-up, strike slip, steep over, oblique subduction.